December 31, 2020

#ReviewNovelStorial 'Jangan Dengarkan Cerita Ini' karya Ruwi Meita


Di ujung kampung kami, ada istal tua milik salah satu penduduk. Kendati di pinggir jalan, letaknya cukup terpencil. Pinggiran lainnya di jalan menanjak itu adalah hutan-hutan lebat—gelap, rapat, dan tak tersentuh. Kendati ramai saat siang hari, daerah itu adalah yang menakutkan setiap setelah matahari tenggelam.

 

Ada sebuah cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, secara turun-temurun. Katanya—setiap tengah malam—kerap ada seorang perempuan berdiri di depan istal, sambil menyusu bayi merahnya, sepeti tengah menunggu seseorang. Barangkali sang suami yang mati di medan saat masa-masa gerilya. Menariknya, ia hanya menampakkan diri pada pria-pria menikah yang pulang larut, semacam mencari tahu apakah pria itu adalah yang ditunggu-tunggunya selama ini.


“Jangan pernah menoleh ketika dia melambai, atau memanggil,” seorang bapak tua pernah berkata demikian, “jika tidak, dia akan merampas hidupmu—merusak hubungan keluargamu, lalu mengambilmu sebagai miliknya.”

 

Hingga kini sebagian dari masyarakat tua kami masih memercayai legenda tersebut, sebagian yang muda mulai memiliki kepercayaan yang pudar—berbanding lurus dengan pudarnya legenda tentang perempuan istal yang tergerus zaman. Rupa kampung kami yang yang rindang dan damai, kini menjelma perumahan padat yang terik.
 

Legenda urban memang kerap membuat bulu kuduk berdiri, sesuai dengan definisinya sebagai an often lurid story atau cerita yang umumnya menyeramkan dari Merriam-Webster. Cerita-cerita ini biasanya berkembang dari desas-desus yang tersebar luas dari mulut ke mulut, lantas dianggap benar. Beberapa kalangan percaya jika legenda urban hanya sebatas cerita lama, berasal dari kesalahan interpretasi manusia terhadap rasa takutnya sendiri. Namun, eksistensi makhluk tak kasat mata tak pernah dinafikan dalam budaya manapun di seluruh dunia. Bagaimana jika legenda urban benar-benar nyata?

 


Legenda urban adalah hal yang lumrah di Indonesia. Setiap sudut dari bagiannya yang sangat luas, ada banyak legenda urban yang berkembang. Sebagian menjadi besar karena sejalan dengan budaya populer, sebagian lagi hilang tersapu perkembangan. Salah satu daerah yang kaya akan legenda urban adalah Jawa dan Bali, dan salah satu yang cukup menarik perhatian diceritakan dengan sangat luwes dalam novela Jangan Dengarkan Cerita Ini! karya Ruwi Meita.


 

#ReviewNovelStorial

"JANGAN DENGARKAN CERITA INI!"

 

JANGAN DENGARKAN CERITA INI (baca di sini) adalah salah satu novela premium yang bisa diakses pada storial.co. Merupakan pemenang premis terbaik dalam Kompetisi Menulis Cerita Urban Legend yang berakhir November lalu, tidak heran jika Jangan Dengarkan Cerita Ini masuk ke dalam Cerita Pilihan Minggu Ini. Novela bergenre Horror ini ditulis oleh Ruwi Meita—penulis yang sudah malang melintang di dunia fiksi Indonesia—dan mendapatkan sambutan hangat dari pembaca setianya.
 

Adalah cerita tentang Miya—atau Sumiya—seorang gadis apatis yang tidak ingin terikat dengan kehidupan orang lain, atau tepatnya dengan masalah hidup orang lain. Kehidupan Miya sedikit lebih damai ketika dia berhasil menjauh dari hal-hal tersebut. Namun, semuanya berubah ketika Wulan—rekan kerjanya—meminta Miya mengunjungi Ninik sekalian mengambil dokumen digital terkait pekerjaannya. Miya tidak pernah mengambil pusing masalah orang lain—seperti ketika ia hendak diserempet oleh seorang pengendara motor. Akan tetapi apa yang terjadi di rumah Ninik saat itu adalah masalah yang lain—masalah yang berbeda dan besar, dan mengusik serta mengerikan.
 

Miya melihat dengan kepalanya sendiri. Dia melihat dengan jelas bagaimana Ninik yang lembut pagi itu tidak mengenakan atasan, melainkan cipratan darah dari leher suaminya yang koyak dan tidak bernafas. Ninik tampak sangat berbeda, dari suaranya pun dari tampilannya yang menyerupai jelmaan iblis. Miya geragapan dan shock, apakah ia sedang menyaksikan prosesi pembunuhan, atau menyaksikan bagaimana jiwa manusia kerasukan dan membinasakan sesamanya?
 

Kehidupan Miya pun berubah semenjak saat itu. Dia yang masa bodoh tidak lagi mampu membatasi gerak dari kehidupan orang lain. Masalah itu mempertemukannya dengan Ong—pria asing berdada bidang penuh tato—yang membawanya menelusuri bagian paling menyeramkan dari legenda urban tentang iblis-iblis yang memperbudak manusia dan menyedot hidupnya.

 


Setidaknya ada lima unsur penting dalam sebuah fiksi berdasar pada teori. Unsur-unsur ini diberi nama  unsur intrinsik dan menjadi bagian dari jiwa sebuah fiksi—jiwa yang menentukan rupa dan sifatnya di hadapan para pembaca.

 

TEMA

 

Tema besar dari Jangan Dengar Cerita Ini adalah legenda urban yang banyak terjadi di Indonesia, berkaitan dengan perjanjian darah antara manusia yang rakus nan putus asa dengan para makhluk-makhluk tak kasat mata. Lantas, Miya yang tersenggol dalam kasus luar biasa ini berusaha untuk menelusuri seluk beluknya demi mengakhiri penderitaan orang-orang yang menjadi tumbal.
 

TOKOH
 

Miya atau Sumiya adalah tokoh utama dari Jangan Dengarkan Cerita Ini. Seluruh alur yang ada berputar di sekitar Miya. Intervensi tokoh lain yang cukup besar dan berpengaruh berasal dari Kirjani, Ong, Wulan, dan Ninik. Beberapa tokoh minor yang muncul di beberapa bagian adalah Yudha, Bambang aka Kim Seon Ho, serta Pak Sande.
 

ALUR

 

Alur maju adalah apa yang tampak ketika membaca Jangan Dengarkan Cerita Ini. Alur ini membuat perjalanan Miya dan Ong menjadi lebih dinamis. Adapun kilas balik berupa narasi maupun dialog tentang peristiwa lampau muncul sebagai lem perekat peristiwa terkini. Semisal, cerita tentang Nadine yang menjadi motif bagi Ong untuk menelusuri jalur perjanjian darah antara Yudha dan para dedemit.

 

LATAR
 

Ada beberapa latar dari Jangan Dengarkan Cerita Ini, meliputi kota-kota dan daerah lainnya di sekitar Jawa dan Bali. Namun, latar yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap cerita adalah kompleks Pura Dalem Suka Merta. Dari tempat inilah konflik cerita yang dikemas dalam Jangan Dengarkan Cerita Ini berawal dan berakhir.
 

AMANAT

 

Miya dan Ong pernah membahas tentang apa itu kehidupan yang normal. Definisi dari hidup secara normal bisa jadi berbeda bagi setiap orang. Akan tetapi, bukankah hidup dengan normal selalu menjadi pilihan yang paling tepat selama itu tidak membuat siapa pun bersekutu dengan makhluk tak kasat mata dan membahayakan banyak jiwa manusia?


 

Tidak salah rupanya ketika juri kompetisi menunjuk Jangan Dengarkan Cerita Ini sebagai novela dengan premis terbaik. Premis yang disuguhkan terasa baru bagi saya, dan dikembangkan menjadi potongan-potongan cerita yang saling tertaut dan membuat pembaca larut. Kendati pada bab-bab awal, saya cukup kesulitan mengikuti dan terus menerus menebak ke mana arah dari cerita ini. Menuju bagian komplikasi, cerita jadi sangat menghanyutkan—terutama ketika tokoh Ong muncul dan menjadi semacam guide untuk Miya. Bagian resolusi sungguh epik dan tidak terduga.

 

Secara vibe, cerita ini mengingatkan saya pada pada Petir dan Akar milik Dee, terasa nostalgic sekali. Namun tentu saja Miya dan Ong memiliki semestanya sendiri. Semesta yang dibangun dari karakteristik mereka yang berapi-api. Karakter ini tampak menjadi paradoks jika dibandingkan dengan kisah pilu mereka di masa lalu. Namun, kenahasan hidup memang kerap menjadi motif paling kuat untuk mengubah seseorang menjadi protagonis dalam sebuah fantasi, bukan?

 

Saya suka sekali dengan interaksi antara Miya dan Ong, dan bagaimana keduanya menjadi sekutu—berdiskusi tentang apa yang harus mereka lakukan, mencoba memecahkan permasalahan yang menghadang, serta bersekongkol mendorong Bambang aka Kim Seon Ho masuk ke dalam rencana bulus mereka. Perkembangan hubungan mereka tampak sekali dari sepasang orang asing yang terpaksa berinteraksi karena memiliki kesamaan visi menjadi sekutu lalu saling peduli.

 

Bagian lain yang saya suka dari novela ini adalah bagaimana penulis meracik dunia tak kasat mata dan dunia nyata. Tokoh-tokoh mistisnya, atribut-atribut mereka, serta praktik dinamisme yang menjadi jembatannya dengan para manusia. Kepercayaan yang berkembang sudah tentu tidak bisa dinafikan, berada dekat namun antara ada dan tiada.
 

Hanya saja, novela ini masih terasa kasar, semacam belum matang seluruhnya namun terpaksa dihidangkan karena mencapai batas waktu. Dengan dua tiga kali revisi—dengan kemampuan penulisnya yang sudah mumpuni—saya yakin novel ini akan lebih terasa berbeda.


Jangan Dengarkan Cerita Ini adalah novela bertema legenda urban yang memiliki potensi besar untuk bersaing dengan novela pemenang lainnya. Novela ini sangat disarankan untuk dibaca oleh mereka yang menyukai novel-novel horor dengan kearifan lokal, sentuhan budaya, serta ringan dan bisa dibaca dalam sekali-dua kali duduk.

 

Ada lima novela serupa lainnya yang harus kamu baca, novela-novela ini sudah pasti memiliki keistimewaannya masing-masing karena merupakan novela pilihan pada Kompetisi Menulis Cerita Urban Legend. Di antara mereka ada nama Eve Shi dan Ari Keling yang novel-novelnya sudah banyak mendapatkan pembaca.


 
Saya sempat aktif di platform storial.co pada awal-awal kemunculannya. Banyak menulis dan berinteraksi dengan sesama penulis kreatif dari seluruh Indonesia, bahkan mengikuti berbagai kompetisi dan event menulis. Rasanya seru sekali. Hanya saja beberapa tahun terakhir saya disibukkan oleh pekerjaan, jadi hanya sempat membaca beberapa judul novel dan cerpen saja dalam beberapa bulan tertentu. Padahal di storial.co, banyak sekali novel-novel dan kumpulan cerpen bagus berbagai genre dari berbagai kalangan penulis.

 

Dulu, cara favorit saya membaca novel di Storial.co adalah via web browser pada ponsel Android. Cara ini sangat mudah dan ringkas. Saya bisa melakukannya di mana saja selama baterai dan internet ponsel terpenuhi. Bahkan setiap menunggu kereta, saya sering mengakses laman storial.co untuk membaca cerita atau membalas beberapa komentar pembaca. Akses storial.co via komputer lipat biasanya saya lakukan ketika akan mengunggah cerita dan merevisinya.


Namun saat ini, cara favorit saya membaca novel di storial.co adalah via aplikasi. Aplikasi Storial.co - Berbagi Cerita sudah bisa diunduh dari Play Store sejak 24 Februari 2016. Aplikasi ini mendapatkan banyak sekali perkembangan sejak pertama kali diluncurkan hingga saat ini menjadi aplikasi yang ramah pengguna dan nggak ribet.


Alasan #GenerasiBacaOnline

Harus Baca di Aplikasi Storial!


RINGKAS DIAKSES

Membaca novel via aplikasi itu mudah dan ringkas banget. Kamu tidak perlu membuka web browser dan ketak-ketik alamat url. Cukup buat pintasan aplikasi storial di layar utama ponsel. Jika ingin membaca novel, klik saja langsung pintasan aplikasi tersebut dan wallaa... kamu bisa melanjutkan bacaan yang tertunda atau membaca novel-novel yang tampil di halaman depan.

 

TAMPILAN YANG USER FRIENDLY

Tampilan aplikasi storial itu user friendly banget. Di beranda sudah tersedia ikon-ikon pintasan yang bisa membawa kamu pada halaman yang ingin dibuka, semisal beranda, koleksi cerita, dinding, profile, hingga pintasan langsung menuju halaman menulis. Selain itu, tampilan dari halaman-halaman novel yang dibaca pun enak banget buat dipandang lama-lama. Selain karena proporsinya sesuai, penggunaan font-nya juga pas banget di mata pembaca.


KEMUDAHAN DALAM PEMBELIAN STORIAL COIN

Nah, ini sih yang paling bikin saya kesengsem sama aktivitas membaca storial via aplikasi, yaitu kemudahan untuk membeli storial coin secara langsung dengan lebih banyak pilihan pembayaran. Seperti halnya ketika membaca novel premium Jangan Dengarkan Cerita Ini. Sebagai novela premium, tentu saja ada sebagian bab yang harus dibeli dengan storial coin jika ingin dibaca.

 


Duh, ketika akses via komputer lipat saya bingung mau beli storial coin dengan cara bagaimana karena hanya ada dua pilihan pembayaran, yaitu kartu kredit dan transfer bank. Namun pada aplikasinya, ada lebih banyak pilihan pembayaran. Salah satunya yang ngemudahin banget adalah pembayaran via gopay. Tinggal klik sana sini, langsung deh storial coin terisi untuk membeli bab premium.


Untuk saat ini, Storial.co adalah satu-satunya aplikasi membaca cerita yang saya punya. Saya sempat menginstall dan aktif di plarform sejenis lainnya, namun tidak pernah ada yang benar-benar membuat saya betah selain Storial.co. Barangkali karena Storial.co adalah platform menulis pertama yang saya benar-benar jajal. Cheos-salang atau cinta pertama memang yang paling susah untuk dilupakan.


Bagaimana, sudah membaca berapa bab cerita hari ini di Storial.co?


5 comments:

  1. wah noted ah, aku baru tahu aplikasi storial.co nih, keren juga pembayaran bisa melalui gopay. makin partis. lumayan baut ngisi waktu luang di tengah pandemi ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak cerita menarik di storial, bagus banget buat bahan bacaan selama pandemi. mana aplikasinya user friendly banget.

      Delete
  2. Mantul pak review-nya ,aku jadi tahu ada apk storial ,nanti coba download deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuy download, Mas. Bagus banget buat naikin minat baca.

      Delete

Follow Us @soratemplates