Aplikasi Mobile Masa Kini, Bentuk Atensi yang Paling Masuk di Hati

 

Hari ketika episode terakhir START UP tayang tampaknya cocok nih dijadikan sebagai hari patah hati internasional, terkhusus untuk #timJiPyeong seperti saya. Ada banyak yang tidak memuaskan dari karakter yang sejak episode awal menarik perhatian ini. Bagaimana tidak, Han Ji Pyeong memiliki background story yang kuat. Perannya terhadap kehidupan Seo Dal Mi pun besar dan berarti. Namun, lahir sebagai second lead membuatnya tidak bisa leluasa seperti si first lead.

 

Kendati demikian, terlepas dari polemik dua kubu #timJiPyeong dan #timDoSan, START UP adalah salah satu drama terbaik sepanjang tahun 2020. Drama ini mendapatkan sambutan yang meriah dari penggemar internasional. Tidak heran, sebab drama yang dipenuhi dengan bintang-bintang hallyuwave ini tidak hanya menyajikan romansa yang manisnya melebihi senyum Bae Suzy, melainkan juga mengangkat tema yang anak milenial banget. Ya nggak, sih?

 

Hari gini siapa sih yang tidak mudeng dengan istilah start up atau perusahaan rintisan. Istilah ini oleh startups.co.uk diartikan sebagai a new, emerging business atau perusahaan baru yang sedang berkembang—tampaknya cukup dekat dengan kehidupan generasi milenial dan gen-Z. Salah satu penyebabnya barangkali karena 1 dari 3 milenial memilih untuk bekerja pada start up dari pada korporasi biasa, seperti yang diutarakan valuer.id dalam Why Millennials are Choosing Startups over Corporations. Selain itu, posisi generasi milenial dan gen-z yang digital native membuat mereka akrab dengan produk-produk start up seperti aplikasi-aplikasi mobile masa kini.

 

Salah satu produk start up dalam START UP adalah NoonGil. Pada dasanyar NoonGil adalah sebuah model Artificial Intelligence. Aplikasi mobile ini menggabungkan teknologi rekognisi gambar dan pemprosesan suara, ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup para tuna netra. Mendapatkan respons yang positif dari dunia, si anjing pemandu digital ini awalnya diperuntukkan nenek Dal Mi yang mengalami penurunan fungsi indera penglihatan.

 

Duh, atensi Dal Mi dan Do San untuk halmeoni menyentuh sekali, ya!

 

Sesuatu yang diciptakan dari hati memang pada umumnya akan berbalas hati, bahkan lebih banyak hati. Memiliki level yang lebih tinggi dari bunga atau cokelat, NoonGil juga menjadi bentuk perhatian Do San untuk kebahagiaan hidup Dal Mi. Kerennya bisa dibilang jika aplikasi mobile masa kini adalah bukti atensi yang paling masuk di hati.

 


Hampir setahun dikerangkeng oleh pandemi, kebijakan PSBB dan physical distancing menjadi bahasan yang selalu hangat. Diam di rumah adalah tren baru dan kebutuhan untuk tetap terhubung dengan banyak hal adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung.

 

Kangen pacar, harus belanja bulanan, tugas sebagai pendidik yang tidak bisa diabaikan, serta kepentingan anak-anak terhadap pendidikan. Hal-hal tersebut yang biasa tersalurkan dengan mudah memaksa kita untuk lebih akrab dengan teknologi dan penggunaan aplikasi mobile. Awal-awal rasanya menyulitkan banget, banyak koordinasi yang berantakan, tapi barangkali beginilah rupa masa depan.

 

Santitarn Sathirathaigroup chief economist, SEA—dilansir CNBC Indonesia menyebutkan bahwa pandemi ini di satu sisi memberikan energi positif sebagai akselerator hebat dalam mempercepat transformasi digital di wilayah Asia Tenggara. Penggunaan teknologi khususnya berbagai macam aplikasi meningkat. Bahkan dalam WEF Youth Survey 2020 menyajikan data bahwa sebanyak 42% responden dari 7000 milenial di seluruh Asia Tenggara mengatakan jika mereka menggunakan satu aplikasi mobile baru yang belum pernah digunakan sebelumnya pada masa pandemi. Lebih lanjut, ada empat aplikasi mobile utama yang banyak digunakan, yakni sebagai berikut.


 
Media sosial memiliki sejarah yang panjang. Kemunculannya disinyalir semasa dengan awal mula pertumbuhan internet pada abad ke-19. Ada pun sosial media pertama yang tercatat berbentuk BBS atau Bulletin Board Syatem pada tahun 1978. Keberadaan BBS menjadi tonggak pertama terciptanya sebuah komunitas maya. Didorong dengan berbagai penemuan yang membuat teknologi semakin canggih, sosial media lainnya mulai bermunculan seperti UserNet pada tahun 1979, Six Degrees pada tahun 1997, Blogger dan Livejournal pada tahun 1999. Memasuki abad 21, berbagai jenis media sosial tumbuh dalam berbagai jenis rupa dan fungsi.


Jauh sebelum pandemi, aplikasi mobile dari media sosial sudah banyak digunakan untuk berkomunikasi. Baik itu yang bersifat pribadi seperti whatsapp dan telegram, maupun yang publik seperti facebook, twitter, instagram, serta tiktok. YouGov dalam laporan risetnya mengungkapkan jika terjadi kenaikan sebesar 38% pada penggunaan aplikasi sosial media selama pandemi. Hal ini merupakan risiko dari diberlakukannya jaga jarak di mana masyarakat tidak diperkenankan untuk berkumpul demi menghindari penularan virus COVID-19.
 

 

Window shopping yang biasa dilakukan sambil jalan di mall atau supermarket kini tidak bisa lagi dilakukan, atau hunting bahan makanan segar di pasar tradisional. Walhasil, berbelanja kebutuhan sehari-hari dilakukan dengan pencet sana sini pada aplikasi belanja daring. Selain menawarkan efisiensi—duduk nyaman tidak perlu macet-macetan—, mayoritas marketplace memberikan fasilitas yang sulit ditolak seperti voucher diskon dan gratis ongkir.

 

 Duh, makin menjadi-jadi deh ini hasrat berbelanja saya!

 


 

Efek PSBB yang menelurkan kebijakan work from home membuat berbagai meeting atau pertemuan resmi harus dilakukan via aplikasi—termasuk seminar (webinar), upacara kelulusan bahkan wisuda. Dunia pendidikan juga tidak luput dari penggunaan aplikasi ini karena belajar tatap muka masih dipertentangkan. Mau tidak mau para pendidik—termasuk saya—dan para wali harus meningkatkan kompetensi mereka dalam penggunaan aplikasi ini.

 


Selain lima aplikasi video conference tersebut, ada aplikasi-aplikasi lain yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk tujuan yang sama yakni bertemu secara daring lewat layanan video. Aplikasi tersebut adalah whatsapp dan instragram live serta facebook. Periscope dengan twitter juga bisa menjadi andalan. Begitu juga dengan fitur livestreaming dalam aplikasi youtube. Namun untuk tujuan resmi dan komunikasi dua arah yang efektif, lima aplikasi tersebut adalah pilihan yang paling tepat.

 

 

Kendati Adaptasi Kebiasaan Baru mulai digalakkan, bidang pendidikan menjadi ranah yang paling lambat membuka diri. Bukan karena enggan, melainkan karena perlunya pengkajian yang komprehensif mengenai keselamatan bersama. Tidak main-main, budaya tatap muka akan mengumpulkan ratusan hingga ribuan jiwa dalam satu tempat yang sama untuk waktu yang lama. Cukup riskan, bukan?

 

Dengan demikian, penggunaan aplikasi belajar daring masih menjadi andalan.

 

Ada banyak aplikasi yang kerap digunakan sebagai sarana belajar selama pandemi—berdasar pada pengalaman pribadi sebagai seorang pendidik. Mulai dari aplikasi-aplikasi khusus belajar sepeti Edmodo dan Google Classroom hingga penggunaan aplikasi tatap muka daring seperti Google Meet dan Zoom. Sayangnya, ada banyak kendala yang muncul pada praktiknya.

 

Kendala yang paling mencolok adalah penyediaan sarana serta tidak ratanya skill setiap siswa dan wali dalam bidang teknologi. Ada kelompok yang sudah mumpuni dan terpenuhi, ada lebih banyak kelompok yang bahkan cara mengunduh aplikasi via play store saja masih gagu. Hal ini kerap menimbulkan kecemasan sendiri bagi saya, terutama menjelang akhir semester.

 

Apalagi, kondisi siswa dan wali pada tiap wilayah dan sekolah tentu saja berbeda. Mereka yang tinggal di pusat kota dan daerah sudah pasti memiliki karakteristik kognitif yang berbeda. Kerap kali ketika berkomunikasi dengan anak-anak atau para wali, saya mendapati nada-nada lelah yang sama. Pertanyaan semacam; ‘Pak, kapan sekolah?’ dan kesah tentang sulitnya seirama dengan perkembangan zaman menjadi pengganjal suksesi belajar.

 

Sebagai bentuk atensi terhadap para penerus bangsa, kerap saya berpikir untuk menciptakan aplikasi belajar daring khusus untuk anak-anak daerah yang ingin belajar dengan fokus. Namun rasanya seperti jauh panggang dari api, basic saya pada dunia programming bisa dibilang tidak banyak.

 


Bagi Seo Dal Mi—seorang lulusan SMA—menjadi CEO dari sebuah start up barangkali adalah mimpi besar. Tapi memangnya kenapa, bermimpi itu tidak dipungut biaya alias gratis. Jika ingin mewujudkannya, maka bayaran paling benar adalah dengan tetap belajar dan berusaha keras.

 

Saya juga memutuskan untuk memegang mimpi ini—membuat aplikasi belajar yang ramah pengguna bagi anak-anak daerah. Sementara bahan belajar banyak tersedia, tidak ada yang tidak bisa dipelajari, apalagi jika proses belajar tersebut dilakukan dengan mengambil kursus di Dumet School.

 


 

Dumet School adalah sebuah lembaga kursus yang berdiri sejak tahun 2007. Lembaga ini ikut mencerdaskan anak bangsa di bidang pendidikan teknologi, khususnya pengembangan website, digital marketing, desain grafis, dan tentu saja pembuatan mobile apps. Berpengalaman selama tiga belas tahun, sudah ada sekitar 8000 lulusan dari Dumet School. Dan mereka berasal dari berbagai kalangan, seperti pelajar sekolah, akademisi, CEO (pemilik bisnis), hingga staf-staf profesional tertentu. Kepercayaan mereka tampaknya berbanding lurus dengan kualitas layanan dan pengajaran yang diberikan oleh Dumet School. Sudah deh, tidak perlu dipertanyakan lagi soal itu mah.

 

 

Belajar membuat aplikasi mobile di Dumet School terbilang cukup mudah. Dalam praktiknya, setiap orang yang melamar akan dibimbing oleh 1 instruktur profesional.  Tanpa banyak mendengarkan teori, para siswa akan langsung terjun secara bertahap dalam pembuatan mobile apps untuk Android and iOS. Pembuatan aplikasi tersebut menggunakan Angular dan Ionic Framework. Wah, seru banget kan, ini?

 


 

Lantas, apa saja fasilitas yang bisa didapatkan jika kita ikut kelas belajar membuat mobile apps di Dumet School?

 

1. Ada setidaknya 7 kelas pembelajaran yang bisa diikuti oleh siswa, yakni kelas HTML & CSS, Bootstrap, PHP & MySQL, Javascript, Ionic Fundamental, dan Ionic Advances.

 

2. Akses belajar tanpa batas. Ini artinya siswa bisa belajar sepuasnya di Dumet School, bahkan sampai benar-benar bisa menghasilkan karya.

 

3.  Akses Bebas dan Gratis ke iLab. Apalagi di masa pandemi, fasilitas iLab ini membantu sekali untuk belajar d rumah. Siswa bisa mengakses sistem pembelajaran ini di mana saja dan kapan saja.

 

4. Pelayanan terbaik dari Dumet School bisa Anda cicipi baik dari segi fasilitas maupun lingkungan dan budaya belajar yang mendukung untuk berkreasi membuat Aplikasi Mobile.

 

5. Sertifikat mobile apps dengan nomor DIKNAS.

 

Dari alasan-alasan dan fasilitas serta keuntungan yang bisa didapatkan jika belajar membuat Mobile Apps di Dumet School, tampaknya tidak ada lagi alasan untuk ragu. Di tambah, banyaknya lulusan Dumet School dari berbagai instansi di Indonesia serta pemberian sertifikat Mobile Apps dari Dinas Pendidikan membuktikan jika Dumet School bukan tempat kursus abal-abal.

 

 

Biaya tiga paket kursus di Dumet School memang terhitung besar, tapi ini sebanding dengan pelayanan seumur hidup dan keuntungan lain yang ditawarkan oleh lembaga tersebut. Namun, tentu nilai ini tidak akan seberapa jika dibandingkan dengan banyaknya pihak yang akan mendapatkan manfaat setelah kita berhasil membuat aplikasi, terutama aplikasi pendidikan untuk anak-anak daerah. Itu sih terhitung masuk ke dalam bentuk atensi yang paling masuk di hati.

 

Jika masih ragu dengan pelayanan dari Dumet School, kenapa tidak mencoba kelas gratisnya atau nikmati promo bulanan yang pasti menggiurkan banget. Dengan mengikuti kelas gratis, kita akan mencoba menikmati pelayanan yang ada. BURUAN DAFTAAR!





--------------

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog DUMET SCHOOL

Beberapa gambar vector yang digunakan merupakan karya open-source yang diunduh dari situs freepik.com

2 comments:

  1. Ayo mas kalau sudah punya aplikasi buat belajar bisa saya dan para murid pakai buat belajar hehe... Mantap mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak dasar yang harus dipelajari terlebih dahulu nih, hehe. semoga di depan nanti ada kesempatan buat ngembangin aplikasi pembelajaran.

      Delete