Eksotisme Papua; Alam Surgawi dalam Pangkuan Adat yang Luhur



SELEPAS MELAKSANAKAN LATSAR akhir tahun lalu, saya terpikir untuk menghadiahi diri sendiri atas pencapaian selama satu tahun ke belakang. Mencoba pengalaman baru menjadi solo backpacking kayaknya menyenangkan, apalagi jika destinasinya adalah kota Surabaya. Banyak hal yang bisa dieksplorasi di sana; tempat-tempat menarik, orang-orang baru, serta budaya-budayanya yang adiluhung. Rasanya pasti bakal nyenengin banget!

Sayangnya, rencana hanya sebatas rencana. Pandemi membuat saya tetap berdiam diri di rumah. Banyak rencana yang harus di reschedule kembali karena masyarakat perlu menerapkan physical distancing. Nggak kebayang, kan, jalan-jalan dalam kondisi mencekam karena penyebaran virus seperti ini. Bahkan jika beberapa bulan kemudian suasana mulai kondusif, saya tidak terpikir untuk bepergian ke kota-kota besar yang padat penduduk. Oleh karena itulah di sela-sela #dirumahaja dan #workfromhome, meninjau ulang rencana berlibur dan memilih-milih kembali destinasi wisata menjadi apa yang saya lakukan.


 

Berlibur ke tempat-tempat yang menyajikan wisata alam kayaknya pilihan yang tepat. Selain bisa meminimalkan kontak dengan sesama manusia, berwisata alam itu banyak sekali manfaatnya bagi kita. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan—yang juga terkenal berkat hutan hujan tropisnya yang luas—punya banyak sekali potensi wisata alam yang patut dijajal. Di sisi paling timur, terdapat daratan Papua destinasi wisata hijau yang kaya akan potensi-potensi tersebut.


"JADI, KENAPA KITA TIDAK LIBURAN KE PAPUA SAJA?"


Papua adalah pulau terbeeeesar di Indonesia. Pulau ini mencakup dua wilayah provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat. Karena terletak cukup jauh dari episentrum pemerintahan, saya terbilang tidak begitu akrab dengan tanah kelahiran Denias ini. Meski begitu, saya tahu pasti bahwa pulau ini adalah mutiara bagi Indonesia, bahkan dunia! Sebab Papualah penyumbang kekayaan hayati terbesar bagi negeri setelah hutan hujan di Sumatera dan Kalimantan merosot luasnya secara signifikan.


Karena itulah, Papua menjadi pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai destinasi wisata alam. Tidak cukup sebagai tempat wisata alam konvensional, tanah Papua harus menjadi pusat dari destinasi ekowisata. Benar, EKOWISATA!

_
APA ITU EKOWISATA?
 Lalu, apa bedanya wisata alam biasa dengan ekowisata?

EKOWISATA atau ECOTOURISM adalah kegiatan pariwisata seperti pada umumnya. Hanya saja, kegiatan ini lebih ramah dan cinta lingkungan. Paham, kan, maksudnya? Jadi, jika pada kegiatan wisata konvensional kita bisa berlibur secara bebas di alam;

1) MENGGUNAKAN transportasi yang menghabiskan banyak lahan hijau untuk bandara/stasiun; 2) MENGINAP di hotel bintang lima dengan berbagai fasilitas yang menguras banyak sumber daya, dan; 3) BEBAS berkeliaran tanpa itinerary

—maka tidak dengan ecotourism, sebab jenis wisata yang satu ini menuntut;

 1) PARA pengelola dan pengunjungnya untuk menikmati alam apa adanya; tak ada pesawat, kereta, apalagi motor di tempat wisata; 2) MENGINAP cukup di rumah-rumah warga yang dijadikan homestay atau vila, serta; 3) AKTIVITAS wisata mengikuti jadwal dari tour guide yang sudah diperhitungkan dampaknya bagi alam.


KONSEP BACK TO NATURE  ITU SANGAT SERU, LHO!


Karena dengan konsep tersebut, ada hubungan saling menguntungkan antara para pelaku pariwisata (pengelola dan pengunjung) dengan mother earth.  Pas sekali, kan, dengan falsafah hidup masyarakat Papua yang menganggap alam (terutama hutan) sebagai Mama. Kita tinggal bersama Mama, mendapatkan suplai kebutuhan primer dari Mama, bahkan bersedih pun larinya ke Mama. Masa tega sih bersenang-senang di tempat Mama tapi malah merusaknya seperti wisata alam konvensional lainnya? Tidak sampai di sana, konsep ekowisata juga memiliki banyak manfaat besar lainnya, lho.


MENJAGA KELANGSUNGAN HIDUP HUTAN PAPUA

Jargon dan kampanye saja kadang tidak cukup untuk menjaga kelangsungan hidup hutan di Indonesia. Perlu adanya upaya praktis yang santuy alias tidak teoritis, agar nilai-nilai cinta lingkungan bisa ditelan bulat-bulat oleh masyarakat. Menjadikan Papua sebagai tempat wisata hijau dengan usungan konsep ekowisata tentu akan mengikat masyarakat luas, pengelola, dan pengunjung dengan komitmen implisit untuk sama-sama menghargai alam.

Lantas, kebutuhan para pengunjung terhadap alam yang asri, indah, dan otentik akan mendorong upaya pelestarian kekayaan-kekayaan hayati di dalamnya. Para penikmat ekowisata ini tidak hanya dari dalam negeri lho, tapi juga dari seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, masyarakat dan para pengelola memiliki kepentingan atau alasan yang lebih konkret untuk menjaga hutan dari illegal logging atau pemburuan satwa endemik secara liar. Berbicara tentang illegal logging, itu adalah salah satu penyebab deforestasi yang sangat mengerikan terjadi di Indonesia, termasuk Papua. Untuk mengetahui berbagai perkembangan terkini tentang alam Papua, kamu bisa mengeceknya di website EcoNusa.



MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT LOKAL/ADAT 

Ekowisata umumnya berupaya keras untuk membatasi faktor-faktor penunjang pariwisata yang akan memberikan dampak buruk terhadap alam. Dengan demikian, masyarakat adat atau lokal bisa diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan harian para wisatawan. Semisal, menjadikan rumahnya sebagai homestay seperti di Raja Ampat alih-alih membangun hotel. Mereka juga bisa turut memperkenalkan olahan makanan lokal, adat istiadat, dan tentu saja souvenir khas!

Dengan demikian, perekonomian masyarakat Papua akan ikut terdongkrak sebanyak wisatasan yang berkunjung. Coba bandingkan jika konsep ekoturisme tidak digunakan. Pelan-pelan, masyarakat lokal akan tergusur karena pariwisata akan dimonopoli oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki modal besar untuk membangun hotel berbintang, restoran mewah, bahkan pusat perbelanjaan. Papua akan sebatas menjadi nama bagi sebuah pusat pariwisata, bukan identitas masyarakat yang mendiaminya.


 WAHANA EDUKASI TENTANG URGENSI ALAM BAGI MANUSIA

Tujuan ekowisata tidak hanya sekadar untuk mencari kesenangan. Oleh karena itu, ketika terlibat dalam wisata dengan konsep demikian, umumnya akan ada kegiatan mengedukasi. Edukasi dilakukan baik untuk wisatawan maupun masyarakat sekitar mengenai urgensi alam bagi manusia. Tidak hanya sebatas itu, bahkan biasanya ada beberapa pengelola yang akan mengajak pengunjungnya untuk terlibat langsung dalam upaya konservasi. Ini sih seru banget!

Salah upaya konservasi yang bisa diikuti oleh wisatawan terletak di kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Ada pun satwa yang coba dilindungi eksistensinya adalah penyu belimbing. Ada banyak penyu yang kerap bertelur di kabupaten Tambrauw, sayangnya telur-telur mereka kerap dimangsa oleh babi hutan. Uniknya, salah satu upaya konservasi yang dilakukan—sebagaimana tertulis dalam ECONUSA—adalah dengan memburu babi hutan. Kendati merupakan hama, babi adalah sumber makanan yang lezat baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara yang datang berkunjung.

* * *

Tahun ini barangkali adalah saat yang tepat bagi kita untuk sejenak mengubah kiblat pariwisata dari urban tourism menjadi ecotourism. Ayolah kita berlibur ke Papua destinasi wisata hijau yang semlohai itu. Saya punya banyak sekali destinasi wisata impian jika diperkenankan untuk berlibur ke pulau Cenderawasih tersebut.



Tempat pertama di Papua yang bikin saya penasaran adalah kampung ekowisata Malagufuk. Kampung ini terletak sejauh 1 jam 30 menit perjalanan mobil dari pusat kabupaten Sorong. Rasanya tidak cukup dikenal oleh masyarakat awam Indonesia, namun siapa sangka jika ikon pariwisata kabupaten Sorong ini tersohor di antara wisatawan-wisatawan mancanegara. Tidak heran, pengunjungnya juga mayoritas ya orang-orang luar negeri, terutama mereka yang mengagumi keindahan alam Papua.

Sebagai ikon wisata, kampung ini benar-benar menerapkan konsep ecotourism, lho! Misalnya nih, tak ada kendaraan bermotor yang bebas masuk ke area perkampungan. Ada pun dari jalan utama, kita harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer membelah area hutan. Widih, padahal, kan, itinerary-nya belum mulai nih tapi kita sudah diajak menjelajahi hutan Sorong. Gimana nggak seru coba? Lantas bagaimana dengan penginapan? Ada rumah-rumah masyarakat lokal yang bisa dijadikan homestay atau sewa saja vila-vila khas Papua yang dibangun khusus untuk wisatawan.



.
Seharian membaur dengan orang asli Papua adalah hal pertama yang ingin saya lakukan, sembari mempelajari budaya dan kecintaan mereka yang besar terhadap alam. Masyarakat adat nih biasanya punya kebajikan yang lebih membumi terhadap alam dan hutan—satu hal yang perlu dipelajari oleh masyarakat perkotaan. Setelah itu, tentu saja birdwatching burung-burung endemik hutan Klasow dengan panduan pemandu setempat. Ada baaaanyak sekali jenis burung surgawi yang bisa diamati—juga jenis-jenis satwa langka lainnya.


Merupakan salah satu gugus pulau di kabupaten Raja Ampat, wisatawan bisa menjangkaunya menggunakan perahu boat. Pulau ini bisa dibilang terpencil, tapi tahu nggak sih kalau fasilitasnya sudah terhitung baik? Ada banyak vila berdiri di pesisir, di sekitar pantai dengan air jernih dan sekumpulan terumbu karang serta fauna-fauna bahari yang cantik selayaknya Manta Rays! Duh, haram banget nggak sih kalau sampai dilewatkan begitu saja? Oleh karena itulah, pulau Manyaifun menjadi destinasi wisata kedua yang kudu banget saya kunjungin.

.
Selain bisa menikmati romantisme pesisir pantai, saya juga ingin bertemu dengan masyarakat lokal kampung Manyaifu—meminta mereka mengajak saya menjelajahi hutan sagu pasti menyenangkan sekali. Di pulau ini, pohon sagu adalah komoditas utama. Pohon ini memberikan manfaat yang banyak sekali bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya baik sebagai sumber pangan, pendukung pembangunan papan, hingga barang-barang sekunder seperti tikar dan souvenir. Kreativitas masyarakat Manyaifun memang tidak terbatas, ya, semoga pemerintah cukup peka untuk memberikan pengajaran tentang manajerial agar potensi tersebut bisa dikembangkan secara optimal.


Meski banyak sekali tempat yang ingin saya kunjungi, perjalanan diakhiri di Kabupaten Kaimana. Di kabupaten ini, ada upacara adat yang dilakukan secara berkala oleh pemerintah dan masyarakatnya. Dan saya ingin sekali terlibat—atau setidaknya bisa menghadiri. Upacara adat tersebut bernama Sinara dan kerap dilaksanakan di kampung Kambala—kampung pesisir dengan kekayaan bahari yang luar biasa.

Upacara Sinara memegang peranan penting terhadap kepercayaan masyarakat adat dalam kaitannya dengan pengelolaan alam. Pada upacara ini, masyarakat Papua memanjatkan syukur yang besar terhadap tete-nene atas anugerah berupa tanah Papua yang gembur dan lautnya yang makmur. Selain itu, upacara ini juga kerap dijadikan sebagai ritual meminta izin kepada leluhur agar masyarakat bisa mengambil manfaat dari alam. Mereka—seperti dijelaskan dalam ECONUSA—menganggap alam dan sumber daya di dalamnya sebagai titipan, bukan sesuatu yang dimiliki sepenuhnya.



.
Ideologi masyarakat lokal Papua memang sangat agung, saya harus mempelajarinya. Bahkan, jauh sebelum konsep ekowisata dibangun oleh pengalaman masyarakat Kenya di Afrika, masyarakat Papua sudah paham bagaimana caranya hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkannya dengan wajar. Pemahaman itu mereka bangun dari aturan yang terdapat dalam adat Sasi. Nah, upacara Sinara ini biasanya dilaksanakan pada masa Buka Sasi. Wah, seru banget ya bisa ikut melaut bersama nelayan lokal ketika masa Buka Sasi. Bayangkan berapa banyak olahan laut yang bisa saya nikmati!
.
_
ADA YANG SUDAH TAHU APA ITU ADAT SASI?


.
Jadi, Sasi itu adalah adat turun-temurun dari nenek moyang yang mengajarkan masyarakat Kaimana untuk mengontrol eksploitasi mereka terhadap sumber daya alam, terutama hasil laut. Adat ini sangat mengikat, namun juga dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sudah paham bagaimana caranya menyeimbangkan kebutuhan mereka dan pentingnya upaya konservasi alam. Ini merupakan buah pikiran yang genius. Tidak heran jika konsep ekowisata mudah sekali merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan mereka.
.

.
Benar, konsep ekowisata sebenarnya bukan hal yang baru. Banyak lokasi wisata alam di dunia yang menggunakan konsep ini. Tidak lain ditujukan sebagai upaya memanfaatkan alam sebagai tempat hiburan sekaligus melakukan konservasi bersama wisatawan yang berkunjung.

.
Hari ini, pandemi mulai meluas dan semakin mengerikan. Saya bahkan tidak bisa dengan bebas keluar rumah bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk liburan. Rasanya sudah tidak sabar untuk memiliki kehidupan yang normal selayaknya dahulu—dan tentu saja mencari waktu-waktu yang pas untuk mengunjungi Papua! Serius sih, Papua ini destinasi wisata hijau yang bisa diandalkan. Papua destinasi wisata hijau terbaik!

Jadi setelah pandemi ini berakhir, saya berjanji untuk mencintai alam dengan lebih layak. Kesampingkan terlebih dahulu keinginan untuk berlibur di kota-kota besar. Berilah kesempatan bagi tubuhmu untuk tertidur di tengah belaian angin segar dari pegunungan atau di atas ombang-ambing gelombang kecil lautan. Biarkan telingamu dipenuhi oleh sesak suara burung-burung berkicau dan gesekan ranting serta daun pepohonan alih-alih ramai suara kendaraan. Ciumlah wangi alam yang memabukkan, nikmati pemandangan mereka yang mendamaikan. Kita pantas untuk merasakan ketenangan dan hidup jauh dari kecemasan.

YUK, KITA LIBURAN KE PAPUA!
---



ARTIKEL INI DIIKUTSERTAKAN DALAM KOMPETISI;
WONDERFUL PAPUA BLOG COMPETITION
OLEH BLOGGER PEREMPUAN DAN ECONUSA





CATATAN PENULIS
1- ECONUSA menjadi sumber data dan gambar utama dalam penulisan artikel ini,
2- Icon untuk infografis merupakan free-use picture yang diadaptasi dari Icons8.com dan Freepik.com,
3- Artikel dan Infografis sepenuhnya merupakan buah karya penulis.

Post a Comment

14 Comments

  1. Menarik banget banyak informasi yang komplit menikmati asrinya papua dan mendapatkan pengetahuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas apresiasinya, saya masih belajar bikin artikel yang menarik.

      Delete
  2. Ya Allah blognya tertata, pasti menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, terima kasih akhirnya rapi juga.
      saya aminkan, hehe

      Delete
  3. Asyik bangeett, wishlist tahun ini pengen jalan2 ke papua uhuhu. semoga pandemi ini segera berlalu yaaa. dan semoga pula menang, bagus ulasannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga wishlistnya tercapai, mbak. Papua emang destinasi wisata hijau terbaik!
      Saya masih belajar bikin konten yang baik, nih. Semoga memuaskan.

      Delete
  4. Papua memang surga dunia, semoga tercapai mimpimu yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, banyak banget lokasi-lokasi yang bagus di sana.
      semoga mimpi kita semua tercapai tahun ini. :)

      Delete
  5. Ini dia ..., permata hitam yang menurutku sebentar lagi akan masuk sebagai destinasi salah satu wisata unggulan yang dimiliki Indonesia melengkapi daftar lokasi2 wisata keren lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Semoga kepopulerannya sepadan dengan upaya pengelolaan yang semakin menguntungkan masyarakat lokal Papua. Sebab merekalah yang paling berhak mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut.

      Delete
  6. Begitu-begitu, papua sebenernya asoy juga ya ;')

    ReplyDelete
  7. Gak kebayang deh kalau bisa berkunjung ke Papua. Pasti seru sekali karena bisa melihat langsung keindahan alam yang jarang di temui di bagian manapun di Indonesia. Terlebih di Raja Ampatnya dengan surga bawah lautnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai bagian dari coral triangle, jelas alam bawah lautnya Raja Ampat (dan Papua) itu emang surga banget. Layak dikunjungi, Mas.

      Delete