Tips Lulus SKB – Pengalaman Mengikuti Seleksi CPNS 2018


PERTENGAHAN TAHUN 2018 LALU saya berhasil diwisuda. Perihal pekerjaan selepas lulus sebetulnya bukan masalah besar, kendati cukup membuat otak saya gatal setiap mengingatnya. Posisinya sewaktu itu masih menulis untuk beberapa proyek lepas yang sangat saya nikmati prosesnya. Bagaimana tidak, hanya dengan rebahan saja pundi-pundi uang bisa terkumpul di dalam rekening. Meski besaran nominalnya memang tidak stabil dan tentu saja tak ada jaminan untuk jangka panjang.

Oleh karena itu saya juga rajin mengajukan lamaran-lamaran baik secara daring maupun luring. Saya tidak berharap banyak lamaran daring saya membuahkan hasil, jadi tidak berekspektasi terlalu tinggi. Di sisi lain, tempat kerja teman kuliah kakak saya memberikan tawaran pekerjaan yang cukup menarik. Jadi saya kembali membuat berkas lamaran, sempat diwawancara secara singkat, lalu diminta menunggu barang dua atau tiga bulan. Pembicaraan mengenai situasi bekerja nanti bagaimana saya artikan sebagai ungkapan diterima secara implisit.

Hanya saja selama masa menunggu, pemberitaan mengenai pembukaan seleksi CPNS mencuat di berbagai situs dan media sosial. Tidak ingin kehilangan momentum karena rasanya kehidupan kampus masih hangat sekali, saya memberanikan diri untuk melakukan pendaftaran. Bukan karena iseng atau coba-coba, harapan besar bisa lulus seleksi adalah apa yang kerap kami doakan setelah beribadah. Siapa yang tidak mau memiliki pekerjaan stabil dengan jenang karier yang menjanjikan?

. TES ADMINISTRASI
 
Pendaftaran seleksi CPNS 2018 adalah seleksi berkas. Berkas-berkas yang digunakan umumnya berkaitan dengan identitas personal dan latar belakang pendidikan. Karena baru lulus kuliah, berkas-berkas itu masih hangat di tangan saya. Baru saja saya sentuh dan cermati dengan perasaan bangga. Tak menyangka akan secepat itu berguna. Kabar baiknya, setelah menunggu masa verifikasi saya dinyatakan lulus tes administrasi dan bisa mengikuti dua seleksi lanjutan.

. TES SKD (SELEKSI KOMPETENSI DASAR)

Sambil menunggu jadwal muncul, saya dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan; masuk kerja setelah cukup lama menunggu atau fokus mengikuti seleksi CPNS. Saya yang nekat akhirnya menahan tawaran kerja semula dan memutuskan untuk terus mengambil proyek menulis lepas sembari mempelajari bahan seleksi kompetensi dasar. Saya berusaha untuk menyimpan takdir yang seharusnya saya songsong di tempat kerja baru dan memilih untuk menjalin takdir lain di ranah CPNS. Padahal lulus SKD saja belum tentu.

Karena komitmen itulah saya tidak ingin main-main dengan seleksi kali ini. Mengingat kecerdasan saya yang hanya rata-rata, saya mengimbanginya dengan usaha. Di sela-sela pengerjaan proyek menulis, saya ambil waktu beberapa menit untuk mengerjakan soal-soal CPNS. Saya kumpulkan mereka dari beberapa situs internet. Sedikit terlihat ambisius, tapi saya mengerjakan proses tersebut dengan lapang dada. Tak ada tekanan yang berlebihan, saya berusaha untuk menyeimbangkan segala harapan dengan berbagai jenis kemungkinan, yang terburuk sekali pun.

Hingga waktu seleksi datang. Saya yang lebih hafal jalanan di Bandung sedikit gagu ketika harus melakukan perjalanan sendiri di kota kelahiran. Merasa sedikit tanpa arahan. Terima kasih untuk menteri pendidikan dan dedikasinya dalam pengembangan sistem transportasi daring, saya jadi tidak begitu kesulitan. Walhasil, saya bisa datang tepat waktu bahkan jauh sebelum jadwal tes saya dimulai. Mempelajari situasi dan berupaya untuk mengikuti segala peraturan yang ada. Dengan demikian, tak akan ada banyak hal yang mendistraksi pikiran selama mengerjakan soal-soal. Begitu hasil tes muncul di layar komputer, saya baru bisa bernapas lega karena mendapati nilai yang cukup untuk dinyatakan lulus. Beruntungnya, pengumuman resmi juga berkata demikian.

. TES SKB (SELEKSI KOMPETENSI BIDANG)

Ini bisa dibilang merupakan tes yang paling menentukan. Sebagai puncak dari seleksi penerimaan CPNS, saya cukup grogi juga. Jadi sebelum jadwal tes resmi muncul, saya sedikit melonggarkan aktivitas proyek menulis dan memberikan perhatian lebih pada materi-materi tes SKB yang saya punya. Hanya saja, mirisnya, semua materi tes SKB yang saya pelajar tak satu pun muncul. Hahaha.

Jadilah saya merasa kurang persiapan selama mengikuti SKB. Sementara itu, saya agak kurang berkenan harus melakukan sesuatu yang tidak direncanakan dengan baik. Jadi nothing to lose saja, menjawab semampunya tanpa menyerah begitu saja. Jika semisalnya saya kembali pada masa sebelum tes, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yakni sebagai berikut.


Sejak kecil saya terbiasa mendapatkan apa yang saya mau dengan mengupayakannya terlebih dahulu. Saya tidak begitu akrab dengan fairy tale dan tongkat ajaib yang bisa mengabulkan semua hal dengan mudah—tanpa usaha. Hujan yang turun saja melewati siklus yang panjang, bagaimana tidak dengan takdir yang menyangkut banyak nyawa dan nasib-nasibnya semacam seleksi CPNS. Ada pun ketika lulus merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. Tetap ada bagian-bagian yang perlu diperankan manusia.

Begitu juga ketika saya ingin lulus SKB, berpikir realistis adalah hal yang pertama kali saya lakukan. Apa yang harus saya lakukan jika ingin lulus, apa saja yang harus saya persiapkan, dan bagaimana caranya. Membuat komitmen adalah semacam menandatangani surat bermaterai dengan diri sendiri. Saya kerap mengingat, tak banyak yang bisa melampaui SKD dan ikut serta dalam SKB maka jangan sia-siakan kesempatan yang sudah tersaji di depan mata. Bersyukur tidak cukup dengan mengucap hamdalah dan rajin memuji Tuhan, langkah yang paling konkret adalah menjalani anugerah itu dengan benar dan total.


Maka dari itu untuk menunjukkan rasa bersyukur yang paling konkret, saya berupaya untuk mempelajari materi tes SKB—kendati tak ada yang benar-benar tahu tipe materi yang muncul. Namun, materi-materi tersebut tak jauh berbeda dengan tipe-tipe soal ujian komprehensif ketika belajar di universitas. Benar, namanya juga kompetensi bidang maka tak akan ada pertanyaan-pertanyaan bidang studi/profesi lain harus dikerjakan. Karena saya berada di ranah pendidikan bahasa, maka tentu saja pertanyaan-pertanyaan terkait kebahasaan yang akan muncul.

Hanya saja ketika masa persiapan, saya lebih asyik mendedahkan isi peraturan menteri dan presiden serta tetek bengeknya. Kendati berkaitan dengan profesi yang saya arah, tak satu pun pertanyaan terkait hal tersebut yang muncul. Baru sadar saya sudah termakan hoaks.  Positifnya, saya jadi hafal pasal-pasal serta ayat yang menunjang pekerjaan saya di lapangan, negatifnya sekarang saya lupa lagi.


Lagi, hidup tidak akan susah ketika kamu melakukan sesuatu berdasarkan aturan yang ada. Jadi sepedamu tidak akan terserempet mobil atau truk ketika berputar di jalan raya, karena kamu berada di lajur yang seharusnya. Maka begitu juga ketika akan melakukan tes SKB—patuhi peraturan; datang sesuai dengan jadwal, gunakan pakaian serta atribut yang sesuai, simpan gawai dan benda lain yang tidak diperlukan, lalu tertiblah mengantre dan mengerjakan tes. Maka tak akan ada banyak hal yang mendistraksi pikiran. Selamat, kamu bisa mengerjakan tes dengan fokus dan tenang.


Adalah kunci dari setiap kali saya melakukan sesuatu. Ditambah dengan persiapan yang matang dan penguasaan materi yang cukup, maka tak ada alasan untuk tidak percaya dengan kemampuan diri sendiri. Fokus dan tenanglah dalam mencermati satu persatu pertanyaan yang muncul di layar komputer. Jangan hiraukan orang-orang di sekitar. Selama waktu sudah diperhitungkan dengan kecepatan menjawab soal, maka semuanya terkendali. Jika goyah ketika menemukan soal yang sulit, abaikan saja dulu. Berikan perhatian pada soal-soal yang lebih mudah, sisanya silakan pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dengan baik di sisa waktu yang ada.


Ada sistem integrasi yang digunakan dalam akumulasi nilai SKD dan SKB. Hasil integrasi ini kelak akan menjadi nilai akhir yang menentukan apakah saya akan lulus seleksi atau harus mencoba lagi tahun depan. Bersyukur di percobaan seleksi yang pertama, saya bisa lulus. Jadi tidak perlu lagi berdebar-debar memperhitungkan nilai dan menunggu pengumuman resmi.

Memperhitungkan nilai integrasi saya lakukan setelah selesai mengikuti tes SKB, tapi bisa juga kamu melakukannya sebelum tes SKB. Tidak lain merupakan langkah realistis untuk memperhitungkan probabilitas. Dengan demikian, kamu bisa tahu berapa banyak soal SKB yang harus diisi dengan benar dan berapa toleransi terhadap jawaban-jawaban yang salah. Tinggal tentukan saja besarnya 40% dari nilai SKD, dengan demikian kamu bisa mengira-ngira butuh nilai SKB setinggi apa agar besaran 60% cukup untuk membuat kamu berada di zona aman.

Banyak situs yang membantu dalam pengintegrasian nilai ini, sebelum hasil akhir muncul secara resmi. Tapi jangan andalkan perhitungan sendiri, sebab ada beberapa kondisi yang membuat nilai hasil integrasi seseorang bisa naik dengan signifikan—penggunaan sertifikat pendidikan untuk guru misalnya.


Maka dari itu, jangan lupa untuk berserah diri di hadapan yang Maha Kuasa. Ketika peran-peran signifikan manusia sudah diperhitungkan dan dilaksanakan dengan baik oleh pribadi, biarkan sisanya Tuhan menilai apakah ini sudah waktunya atau belum. Selesai menjalani semua tes ini dan memperhitungkan nilai SKB sendiri (dan tentu saja nilai SKB saingan satu formasi) saya melihat harapan muncul begitu besar. Tapi semuanya baru perhitungan manusia yang tidak memiliki daya lebih dari keputusan Yang di Atas. Jangan lupa untuk terus berdoa dan mengharapkan yang terbaik. Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha, tapi waktu iya. Sudah waktunya atau belum waktunya adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Waktu tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

Pengumuman hasil seleksi diunggah tepat sore hari pada tanggal 31 Desember 2018, sebelum bunyi terompet dan kembang api berkejaran di angkasa. Saya masih ingat momen itu. Saya yang lelah menulis sedari pagi, begitu terkejut mendapati nama diri berderet di urutan pertama. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika bunga cantik tumbuh dari batang yang dirawat dengan baik. Rasanya semacam berhasil mendarat dari paralayang yang mendebarkan, rasanya seperti sudah sampai di garis finis. Padahal ketika kaki menjejak di tanah, semuanya baru permulaan saja. Saya telat memperhitungkan bahwa selama satu tahun ke depan akan menghadapi deretan-deretan pengalaman yang menyenangkan, juga mengharukan.

Post a Comment

2 Comments

  1. Selamat malam kak.sy stepanus. apakah materi seleksi kompetensi bidang diambil dari latar belakang pendidikan yang dipersyaratkan dalam formasi tersebut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, materi SKB itu sesuai dengan bidang studi/profesi yang disasar.

      Delete