Rencana-Rencana Kematian Finch - All the Bright Places, Jennifer Niven


"Irama penderitaan telah dimulai."—Cesare Pavese.
Aku.
        berkeping
   keping

FINCH SEDANG BERTANYA-TANYA apakah ini hari yang tepat baginya untuk mati, termasuk ketika entah bagaimana kakinya bisa berdiri di atas langkan menara lonceng sekolah siang itu. Matanya mengamati lantai beton jauh di bawah dan teman-temannya yang mulai berhamburan pulang. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari keberadaan siswa lelaki di semester dua tahun senior itu, termasuk seorang gadis yang tak pernah Finch pikir akan berdiri di tempat yang sama dengannya—Violet Markey.

Keduanya tak asing satu sama lain namun tidak berarti cukup akrab untuk bersama. Finch dikenal sebagai siswa aneh dan bermasalah sementara Violet adalah siswi populer dengan lingkar pertemanan yang setara. Keduanya seperti langkan dan lantai beton, seperti langit dan bumi. Tak ada yang benar-benar tahu siapa yang menolong siapa dari upaya bunuh diri mereka saat itu, tapi keduanya tahu mereka saling membutuhkan untuk tetap menjadi diri sendiri—untuk tetap hidup.

Setelah menderita trauma pasca kematian Eleanor sang kakak, Violet banyak berubah. Dia dirundung perasaan bersalah dan tak berguna, tidak lagi mampu menulis dan berkendara, serta kehilangan alasan untuk tetap hidup. Kebersamaannya dengan Finch pada tugas Geografi dengan mengunjungi tempat-tempat yang terang di Indiana entah bagaimana berhasil memberikan harapan hidup pada Violet—Membuatnya mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Sayangnya, saat dunia Violet mulai berkembang, dunia milik Finch menyempit.

KERESAHAN FINCH

Tak ada yang mau tahu alasan Theodore Finch berdiri di langkan siang itu, tak ada satu pun. Lingkungannya tetap melabeli Finch dengan aneh kendati dia menyimpan rasa sakit yang sebenar-benarnya. “Kenyataannya aku memang sakit, tapi bukan jenis sakit yang mudah dijelaskan seperti flu. Menurut pengalamanku, orang-orang jauh lebih simpati bila mereka melihat kau menderita, dan entah untuk ke berapa juta kali dalam hidupku aku berharap terserang campak atau cacar atau penyakit lain yang gampang dipahami hanya demi memudahkan aku dan juga mereka.

Gangguan mental atau psikologi memang bukan jenis penyakit yang mudah dipahami, sekentara apa pun gejalanya tampak pada seseorang, akan butuh diagnosis yang panjang dan hati-hati dari ahli. Sayangnya, kondisi tersebut diperburuk dengan kenyataan bahwa kepedulian masyarakat terhadap masalah mental seseorang sangatlah minim—bahkan nihil. Kondisi yang berseberangan inilah yang menjadi dasar pengembangan konflik dan alur ALL THE BRIGHT PLACES.

Bukan tanpa alasan Jennifer Niven mengangkat masalah kesehatan mental di dalam novel debutnya pada genre Young Adult. Orang-orang terdekatnya tak sedikit yang menjadi penyintas—sang kakek dan seorang pria yang dicintainya. Sayangnya, mereka harus menjadi bukti dari fakta bahwa ada setidaknya satu orang yang tewas bunuh diri setiap 40 detik karena menderita gangguan mental.

UNTUK FINCH-FINCH LAIN
YANG TERJEBAK DALAM LABEL

Dengan menulis ALL THE BRIGHT PLACES, Niven ingin masyarakat yang lebih waras untuk memangkas habis rantai iblis itu. “Aku berharap buku ini menginspirasi perbincangan tentang kesehatan mental remaja. Kita perlu membuat masyarakat merasa cukup aman untuk datang dan berkata, ‘Aku punya masalah, aku butuh bantuan.’ Jika kita tidak berbicara tentang bunuh diri dan depresi atau penyakit mental, bagaimana kita mengharapkan seseorang untuk keluar mencari bantuan ketika mereka sangat membutuhkannya?” ujarnya pada THE GUARDIAN. “Aku ingin pembaca tahu bahwa bantuan ada di luar sana, bahwa itu akan menjadi lebih baik, bahwa masa sekolah menengah tidak selamanya, dan bahwa hidup itu panjang, luas, serta penuh dengan berbagai kemungkinan.”

Membaca ALL THE BRIGHT PLACES  sangat menguras emosi. Penggunaan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama membuat pembaca benar-benar dibawa ke dalam benak seorang penyintas. Niven dengan latar belakang hubungannya dengan seorang penyintas benar-benar mampu mendeskripsikan kondisi kejiwaan Finch dan Violet dengan rinci dan dapat dipercaya tanpa terjebak narasi teoritis yang banyak muncul pada novel serupa. Tidak heran jika novel ini banyak mendapatkan apresiasi dan penghargaan.

Kendati merupakan novel yang gelap, tidak lantas membuat ALL THE BRIGHT PLACES menjadi cerita yang berlinangan air mata setiap saat. Selayaknya Finch yang didiagnosis menderita penyakit mental, tidak selamanya lelaki itu menjadi aneh sesuai persepsi lingkungannya. Finch serupa dengan tempat-tempat terang yang mereka kunjungi di Indiana, percaya atau tidak sejelek apa pun itu tetap menjadi tempat yang indah bagi beberapa orang.

Finch dengan segala kepribadian yang muncul darinya dari waktu ke waktu menyimpan kecerdasan yang tidak dimiliki oleh orang banyak; Finch mampu menciptakan serangkaian kalimat indah dari deretan diksi acak lalu memberinya melodi, Finch gemar membaca dan tahu banyak hal termasuk kutipan-kutipan dari penulis terkenal seperti Virginia Wolf hingga Cesare Pavese; Finch membuat rencana perjalanan mengunjungi tempat-tempat terang di Indiana dengan matang; Finch menolong Violet kembali menjadi dirinya sendiri. Hanya saja, Finch begitu terobsesi dengan kematian dan cara-cara bunuh diri—lompat dari ketinggian, menenggak pil tidur di luar dosis yang disarankan, hingga menenggelamkan diri dan tidak pernah muncul di permukaan.

Jennifer Niven mengakhiri kisah Theodore Finch dengan membuatnya tak tertolong serupa mayoritas penyintas di lingkungannya—atau di lingkungan kita semua—dampak dari kesadaran yang nihil dari masyarakat mengenai gangguan mental. Akhir cerita yang diberikannya pada Finch semacam gugatan pada masyarakat yang waras semacam; sampai kapan semua hal buruk ini harus dibiarkan terjadi?

Kendati tak benar-benar memahami bidang psikologis, dengan tidak memberikan label pada penyintas gangguan mental adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh masyarakat awam. Serupa Finch yang sangat mencemaskan label—begitu juga dengan para penyintas yang hidup di mana pun. Berhentilah menunjukkan justifikasi egoismemu pada mereka yang tampak berbeda. Sebab mereka tidak melakukan apa-apa pada orang lain kecuali dilahirkan dengan otak dan jalinan saraf yang berbeda.

source; bookdepository.com (edited)

Post a Comment

0 Comments