A Person's VOICE is Like a Fingerprint [K-drama Review]


Andai jadwal saya tidak lowong karena client sedang recovery dari kecelakaannya minggu lalu, barangkali saya tidak akan menemukan Lee Ha Na dalam Running Man senin kemarin. Perempuan yang lahir pada tahun 1982 ini memang sudah menarik hati sejak kemunculannya dalam Voice dan Voice 2—dua drama asal negeri ginseng yang saya tamatkan bulan lalu meski keduanya tayang di tahun yang berbeda. Setelah itu, saya selalu menunggu kehadirannya di berbagai reality show.

Saya kerap tertarik oleh tokoh perempuan dengan karakteristik yang berbeda dari kebanyakan. Tujuh tahun silam misalnya, menemukan keeleganan IU yang berhasil bermetamorfosis dari belenggu obesitas dalam Dream High. Dua tahun kemudian, saya terpincut dengan kualitas akting Kim So Hyun dan kenahasan hidupnya sebagai anak seorang pembunuh yang mengalami pelecehan seksual dalam Missing You.

Tahun ini, saya senang bisa berkenalan dengan karya-karya Lee Ha Na dan kemampuan voice profiling-nya yang mumpuni dalam layar televisi. Saya merasa memiliki sesuatu yang patut dinanti-nantikan. Termasuk, apakah kelak di musim ketiga aktris yang pernah menyabet kusala dalam Special Short Drama Actress pada pergelaran 2015 KBS Drama Awards ini ikut andil atau tidak.

Berbeda dengan musim pertama yang berakhir dengan memuaskan, musim kedua drama Voice memang memiliki akhir yang menggantung. Entah direncanakan seperti itu atau bagian dari impromtu. Satu hal yang pasti, cliffhanger ending ini mendapat sambutan tidak puas dari banyak penonton, termasuk saya. Tidak heran jika perbincangan hangat dan asumsi mengenai bagaimana kelanjutan dari peristiwa genting tersebut ramai dibahas di Soompi. Sayangnya, butuh waktu satu tahun untuk mengetahui satu detik saja kelanjutan dari peristiwa genting yang dialami oleh Kang Center.


Sederhananya, drama ini berkisah tentang kehidupan seorang polisi wanita bernama Kang Kwon Jo yang memiliki kemampuan psycho-acoustics yang tinggi. Pada season pertama, Kang Center yang menjadi kepala bagian Call Center kepolisian terseret dalam kasus pembunuhan istri rekan sesama polisinya bernama Moo Ji Hyuk. Peristiwa tragis tersebut memicu efek domino yang merenggut nyawa ayahnya. Setelah melewati berbagai momen, keduanya memutuskan untuk bekerja sama dalam menuntaskan kasus tersebut dengan bantuan tim Golden Time.

Keberhasilan tim Golden Time mengantar Kwon Jo untuk menjadi bagian dari Call Center kepolisian wilayah lain. Dipicu oleh pembunuhan terhadap rekannya di tim Golden Time terdahulu, Kwon Jo bertemu dengan anggota polisi yang dicap sebagai pembunuh bernama Do Kang Wo. Keduanya saling dukung dalam menuntaskan keresahan ulah pembunuh psikopat dengan jaringan luas yang telah melayangkan banyak nyawa tidak bersalah.

Yep, Voice bukanlah drama romantis.

Saya lupa kapan terakhir kali menikmati drama genre romance. Terhitung sejak awal tahun ini, saya sedang nyaman menonton drama-drama kriminal besutan OCN. Jika kamu penonton drama romance, tampaknya Voice bukan drama yang bisa membuat kamu betah menonton lama-lama. Beda jika kamu bisa menikmati genre crime dengan deretan kasus pembunuhan dan darah di mana-mana, maka Voice dan Voice 2 sangat saya rekomendasikan.


Salah satu hal yang membedakan Voice dari drama kriminal kebanyakan adalah karakteristik tokoh utamanya yang diperankan oleh Lee Ha Na. Tokoh ini cukup menarik perhatian karena kemampuannya yang berada di atas manusia rata-rata sebagai seorang voice profiler. Kemampuan tersebut dilebur dengan latar belakang cerita tragis sebagai anak piatu yang menjadi yatim karena ayahnya tewas dalam pembunuhan sadis.

Menariknya, Kwon Jo atau Kang Center bisa menjadikan pengalaman tragis tersebut sebagai dasar kepeduliannya terhadap orang lain. Dibalik ambisi personalnya untuk mengurai kasus pembunuhan sang Ayah, Kang Center mampu mengendalikan pikiran warasnya untuk menjalankan kewajiban sebagai petugas kepolisian dengan benar. Termasuk, menarik Ji Hyuk yang lama berada di posisi seberang untuk meningkatkan kualitas tim Golden Time. Pada musim kedua, Kang Center berani  bertaruh dengan kondisi psikologis Kang Wo yang terlibat dalam pembunuhan misterius terhadap seorang anak Jepang berpuluh tahun yang lalu.

Deretan kasus yang disajkan dalam dua musim Voice sangat menarik dan mindblowing. Tidak hanya menyajikan pembunuhan-pembunuhan yang tragis, ada banyak deretan misteri yang kuakan faktanya kerap bikin saya overwhelming. Saya merasa tidak hanya dipertontonkan sebuah laga, tapi juga diajak berpikir dan menelurusi setiap kasusnya secara langsung.
Kang Center dibentuk sangat ideal untuk seorang protagonis dengan profesi utama sebagai penegak hukum. Dia tidak hanya menonjol karena kemampuan psycho-acoustics yang tinggi, melainkan juga karena kematangan psikologisnya dalam menyelesaikan berbagai kasus hanya dalam 10 menit atau dalam rentang golden time. Membuatnya banyak dicintai tidak hanya oleh rekan dan bawahannya di kantor kepolisian, melainkan juga oleh penonton setianya.

Karena kecintaan itu pulalah yang membuat Voice 2 berakhir dengan cukup banyak protes, terutama tentang kepastian Lee Ha Na mengambil peran sebagai Kwon Jo di musim ketiga atau tidak. Namun jika menilik pada cara kerja kehidupan nyata, tidak selamanya seorang baik akan terus hidup dengan baik. Mereka selayaknya manusia akan mengalami masa berada di bawah gilasan roda. Bisa jadi, akhir musim ke dua dari Voice adalah akhir dari kiprah Kang Center.

Saya belum tahu apa akan terus mengikuti Voice jika Lee Ha Na berhenti menjadi Kang Center dan kasus dilemparkan pada tokoh Kang Wo. Bagi saya, Voice adalah Kang Center. Namun, siapa tahu jika perisitiwa pada akhir musim kedua hanya perpanjangan tangan Produser dan segenap kru dibalik layar untuk menarik lebih banyak penonton. Mereka menyimpan Kang Center dalam kotak misteri bernama Schrödinger sebab tahu cara kerja otak manusia yang rela mati penasaran dalam permainan tebak-tebakan.


Berminggu-minggu terlepas dari hype Kang Center, saya senang bisa menemukannya kembali di Running Man. Lee Ha Na bermain taktis dan penuh perhitungan sesuai dengan karakter Kang Center dalam drama Voice. Bedanya, dia mengusung namanya sendiri sebagai seorang aktris. Ternyata menyenangkan sekali bisa melihat orang yang saya suka menjadi dirinya sendiri, melepaskan diri dari belenggu peran tertentu, dan menikmati petikan nada Ddu Du Ddu Du.


Post a Comment

0 Comments