Menyoal Kesucian Seks Maria - Sebelas Menit, Paulo Coelho


Aku tida membeli cintamu, tapi kau pernah bilang kau tahu segalanya tentang seks. Tolong ajari aku!
 
PAULO COELHO BUKAN PILIHAN SAYA bulan ini, tapi jodoh memang sesuatu yang tidak bisa ditebak. Begitu juga dengan bacaan, sebuah kebiasaan buruk sebenarnya karena beberapa buku yang saya persiapkan sebagai reading list bulan ini malah terlantar. Saya sudah lama ingin mengenal karya-karya penulis Brasil ini tapi selalu terhalang oleh beberapa kendala, terutama pada kegemaran saya membaca novel-novel ringan bergenre Young Adult. Mengingat karya-karya Paulo Coelho saya rasa bukan makanan yang bisa dilahap sekali suap.

Meski pilihan untuk membaca Sebelas Menit bukan sebuah kebetulan, diniatkan untuk mengikuti tantangan membaca bulan Januari komunitas Goodreads Indonesia juga karena Sebelas Menit adalah satu-satunya novel Paulo Coelho yang bisa saya temukan. Miris.

Ada banyak hal yang mengejutkan ketika membaca Sebelas Menit karena saya tidak memiliki gambaran tentang isi novel ini sebelumnya, hanya bisik-bisik dari seorang teman bahwa isu yang diangkat bukan sesuatu yang akrab. Selebihnya, kejutan-kejutan itu membuat saya merasa kecanduan pada Paulo Coelho.

Membaca Sebelas Menit seperti mendengar cerita seorang tua yang bijaksana—entah kenapa hal itu yang pertama kali muncul di dalam kepala saya—atau semacam dongeng sebelum tidur; ini bukan tentang apa isi Sebelas Menit tapi bagaimana Paulo Coelho menceritakannya. Pelan-pelan, berperasaan dan penuh perenungan. Oleh karena itu, novel ini cocok untuk tipe pembaca yang nyaman dengan pace cerita yang lambat. Dan menurut saya—pace yang lambat ini menjadi semacam nilai positif karena dengan begitu, banyak hal yang bisa diamati dan dipahami lebih dalam.

COPACABANA DI TEPI JALAN RUE DE BARNE
 
Sebelas Menit dalam konteks novel ini menjurus pada rata-rata waktu yang digunakan oleh manusia dalam berhubungan seks, sangat berkaitan dengan profesi Maria sebagai seorang pekerja seks komersial. Meski menyinggung kehidupan seks tokoh utamanya, Sebelas Menit tidak serta-merta menjadi novel yang erotis. Jangan sandingkan dengan novel-novel bergenre erotica yang sudah menjamur, saya tidak merasa keduanya memiliki kesamaan yang cukup untuk dibilang sejenis. Jika mau dibandingkan pun, Sebelas Menit adalah Copacabana di tepi jalanan Rue de Barne sementara novel erotica adalah rumah-rumah bordir kelas bawah.

Rue de Barne - source; tdg.ch/
Sisi seksualitas Maria memang ditelanjangi dalam novel ini, dari pertama kali dia mengenal lawan jenis, rasa penasarannya terhadap seks sampai pada tahap perempuan berusia dua puluh tahun itu membuat keputusan untuk menjadi pekerja seks komersial. Namun perjalanan tersebut tidak hanya menyajikan perubahan secara fisik pada diri Maria, tetapi juga perubahan sudut pandangnya terhadap seks. Kemudian muncullah pemahaman di dalam dirinya mengenai apa yang disebut the sacred sex—kesucian seks—yang membuatnya berpikir untuk meninggalkan praktik prostitusi yang selama ini dilakoninya. Pemahaman-pemahaman tersebut didapatkannya dari rutin membaca buku dan perenungan-perenungan yang ditulisnya dalam buku harian. Menuju akhir cerita, kemunculan karakter pria bernama Ralf memberinya percepatan pemahaman; kesucian seks akan didapat dari dua manusia yang melakukannya karena cinta, bukan karena uang ataupun nafsu.

Dilihat dari sudut pandang manapun, seks bukan merupakan hal yang jauh dari kehidupan manusia tapi entah kenapa menjadi semacam tabu jika diperbincangkan. Mirisnya, minim perbincangan soal seks membuat hal itu menjadi sesuatu yang memberikan konotasi negatif. Saya merasa tidak memiliki kompetensi dalam perbincangan mengenai seks sebenarnya, tapi saya yakin pemikiran-pemikiran yang terarah mengenai hal tersebut bisa memberikan semacam pencerahan.

Hal ini dapat dilihat dari bagaimana seks pada masa kini telah menjadi berita buruk dalam berbagai pemberitaan—atau barangkali juga bisik-bisik dari rumah tetangga; seks bebas, seks di bawah umur, legalisasi tempat-tempat prostitusi dan maraknya situs-situs pornografi yang menjadi salah satu pemicu fakta-fakta sebelumnya terjadi. Sementara itu informasi-informasi mengenai seks yang sehat pun kadang menjadi hal yang simpan-saja-untuk-sendiri bagi beberapa kalangan, sebab saya merasa seks bukan perilaku instingtif yang bisa dipahami sendiri. Inilah fungsi keberadaan perbincangan soal seks yang terarah, sekaligus upaya untuk mengembalikan seks pada kesucian yang sesungguhnya.

WHAT IS THE SACRED SEX?
 
Karena sedikit dilatarbelakangi oleh pemahaman agama kristiani, Sebelas Menit menjelaskan bagaimana seks yang suci dalam agama yang mayoritas dianut oleh negara sepak bola tersebut, tentu dengan cara pandang agamanya. Kemudian saya berpikir bahwa pemahaman seks adalah ritual yang suci itu pun diamini oleh banyak agama dan tradisi—dengan caranya masing-masing. Islam misalnya, menempatkan seks menjadi salah satu bagian dari pernikahan yang menggenapkan agama. Beberapa tradisi kebudayaan di daerah mengharuskan para pria untuk belajar seks, keberadaan Nyi Gowok pada masa lalu di daerah Jawa misalnya. Di beberapa tempat yang menjunjung tinggi kebebasan seperti layaknya Amerika menaruh seks atas nama cinta, seperti halnya yang menjadi poin utama Sebelas Menit.

Correct Me If I am Wrong!

Kembali pada Sebelas Menit, saya suka bagaimana Paulo Coelho menggiring pemahaman pembaca pada hakikat seks sebagai sesuatu yang suci lewat perjalanan hidup Maria. Terlebih pada bagian Maria menuangkan berbagai pemikirannya ke dalam buku harian. Fakta dalam cerita bahwa Maria memiliki niat untuk menuliskan kembali petualangan seksnya ke dalam sebuah novel berjudul Sebelas Menit membuat kepala saya tergelitik. Siapa narator dalam novel ini, apakah Paulo Coelho atau Paulo Coelho dengan menggunakan voice Maria? Itu salah satu hal yang membuat saya berpikir sampai selesai membaca, juga tentang kekecewaan saya pada pilihan Maria untuk kembali pada Ralf.

Saya melihat Maria mengalami banyak perubahan dalam hidupnya, terutama pada sisi psikologis; dari gadis desa dengan beribu rasa penasaran dan naif menjadi perempuan tangguh, cerdas dan berprinsip. Setelah semua hal yang dilaluinya itu, rasanya sayang kembali mengikatkan diri pada sebuah hubungan. Namun hal ini malah menguatkan cerita perihal bagaimana cinta begitu berperan dalam pengultusan seks dan alasan manusia memilih jalan hidupnya masing-masing. Maria berhak merdeka, tapi memilih untuk kembali juga sebuah kemerdekaan.

Di sisi lain, cerita soal Heidi—si pustakawati, teman bicara Maria—di bagian menuju akhir menjadi sisipan cerita yang menarik, begitu juga dengan hubungan pertemanan mereka. Heidi dan Maria sama-sama tidak mengenal secara personal, didasarkan pada prasangka baik. Heidi banyak memberikan petuah kepada Maria soal hubungan dan seks dengan pria dan pelajaran-pelajaran terkait lainnya seolah Maria adalah gadis naif padahal dia adalah salah satu pekerja seks yang paling banyak diminati.

Lain cerita soal Heidi yang bertemu dengan seorang pria dan menghabiskan satu malam bersamanya padahal dia sudah bersuami, saya tidak berani berspekulasi apapun kenapa dia berani melakukan hal itu selain karena dia memandang bahwa seks adalah tentang pembebasan. Tentu akan menjadi berbeda nilainya jika dipandang dari adat ketimuran.

Bicara soal seks memang menarik, ya. Begitu juga dengan membaca Sebelas Menit yang membuat saya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Paulo Coelho. Saya berjanji akan mencari novelnya yang lain dan membacanya hingga tuntas; Alchemist ada di pilihan pertama.

Sebagai penutup, ini adalah salah satu bagian dari Sebelas Menit yang menjadi favorit saya.

Aku ingin memahami cinta. Aku merasa sangat hidup ketika sedang jatuh cinta, tapi segala yang kumiliki saat ini, betapapun menariknya, tidak bisa sepenuhnya membangkitkan semangatku.

Tapi cinta sungguh menakutkan: aku sudah melihat teman-teman perempuan menderita karena cinta, dan aku tidak ingin hal itu menimpaku. Dulu mereka suka menertawakan aku dan kenaifanku, tapi sekarang mereka ingin tahu, bagaimana caranya aku bisa sangat mahir menangani laki-laki. Aku cuma tersenyum dan tidak bilang apa-apa, sebab aku tahu solusinya lebih berat daripada kepedihan yang ditimbulkannya: aku pokoknya tidak mau jatuh cinta. Hari demi hari semakin jelas kulihat betapa rapuhnya laki-laki... beberapa ayah teman-teman perempuanku pernah mendekatiku, tapi aku selalu menolak. Mulanya kau kaget sekali, tapi sekarang memang begitulah laki-laki.

Meski aku ingin memahami cinta, meski aku menjadi sedih kalau teringat orang-orang yang telah kubiarkan merebut hatiku, kulihat orang-orang yang berhasil menggugah hatiku justru tidak bisa membangkitkan gairahku, dan orang-orang yang membangkitkan gairahku justru tak bisa menyentuh hatiku.


Post a Comment

0 Comments