Menyikapi Lara Kehilangan Bersama Miya dan Amaya - Lara Miya, Erlin Natawiria


SIANG YANG TERIK DI LUAR, di telinga saya terpsang earphone yang tersambung dengan siaran salah satu stasiun radio. Ada tembang-tembang zaman dulu yang kemudian terdengar, tidak menggebu seperti musik pop masa kini. Entah bagaimana, sesuatu yang mengalun tenang seperti ini selalu berhasil mengajak saya bernostalgia, melihat kembali ke belakang. Dari kilas ingatan-ingatan itu, saya kadang iseng menghitung sudah berapa banyak hal yang saya temukan dan relakan.

Bicara soal kehilangan, adalah premis dari novel-novel Blue Valley yang diluncurkan oleh Falcon Publishing bulan Desember tahun lalu. Totalnya ada lima novel dari lima penulis ternama, salah satu yang bisa saya nikmati adalah Lara Miya karangan Erlin Natawiria. Novel berkaver hijau lembut ini saya dapatkan dari sebuah tantangan menulis yang diadakan langsung oleh editornya; Jia Effendi

Kehilangan bagi saya adalah salah satu peristiwa paling tragis yang dialami, terutama kehilangan yang disebabkan oleh kematian. Sebab, berbeda dengan kehilangan benda semacam rumah sekali pun yang terbatas pada dunia fisik, kematian mengantarkan orang-orang yang ditinggalkan bertemu dengan kebuntuan. Tidak pernah ada pengganti dari orang-orang yang sudah tiada, juga bagi perasaan-perasaan yang terluka. Setiap manusia pasti pernah mengalami kehilangan tragis orang-orang tercinta seperti inisaya pun begitu, juga Miya.

BERBICARA TENTANG MIYA YANG KEHILANGAN

Sayangnya, kehilangan yang Miya derita adalah perpaduan dari dua contoh tersebut, kehilangan rumah sekaligus kehilangan Mutia, sang Mama tercinta. Membayangkannya saja saya tidak kuasa, apalagi ketika mengingat bahwa Mutia meninggal dengan cara yang cukup tragis. Terbakar. Alur ini disimpan di bagian depan cerita, sebuah hook cerita yang keterlalua menyedihkannya. Terlebih ketika kehilangan rumah dan Mutia menyisakan kehilangan-kehilangan lain yang perlu Miya sikapi dengan lapang dada tanpa air mata.

Beruntungnya Miya masih memiliki kerabat dari pihak ibu yang mau menampung. Adalah Amaya, sang tante sekaligus orang yang menariknya menetap di cluster Blue Valley bersama karakter-karakter lain dalam seri novel. Meski sudah kembali memiliki rumah, tetap saja kematian Mutia membuat Miya kesulitan untuk pulang.

Ada beberapa jenis duka yang diakibatkan oleh kematian, saya baru mengetahuinya ketika mencari referensi di internet, dan Miya mengalami hal tersebut. Satu hal yang saya pahami, duka karena kehilangan pun adalah sesuatu yang patut dipahami dengan benar. Ada deretan fase-fase yang jika bisa disikapi dengan bijak maka akan menyisakan sedikit dampak berkepanjangan. Meski tentu cara menyikapi duka bagi setiap orang pastilah berbeda. Lihat saja betapa kontrasnya sikap Miya dan Amaya menghadapi kematian Mutia.

Miya dan Amaya - source; suara.com

Correct me if I am wrong! Ada beberapa teori tentang tahapan berduka yang dialami oleh manusia. Salah satunya adalah teori yang dicetuskan oleh Engel (1964). Total ada lima fase. Jika disesuaikan dengan alur dalam Lara Miya, barangkali begini urutan tiga fase pertamanya.

FASE I - SHOCK

Fase ini terjadi ketika Miya baru saja tiba di depan rumahnya yang terbakar setelah melakukan perjalanan bisnis. Menyadari bahwa ketakutan-ketakutannya adalah nyata, membuat Miya merasakan penolakan yang besar di dalam dirinya. Penolakan bahwa rumah yang hangus itu bukan rumah miliknya, dan Mutia kini sedang menunggu kepulangannya di teras rumah.

‘Miya memejamkan mata—ingin memastikan kejadian ini untuk terakhir kali.’ (Hlm. 2)

‘Sampai sekarang, Miya masih belum mau percaya. Sayangnya, perlahan-lahan kenyataan mulai merayapi dirinya. (Hlm. 10)

FASE II - SADAR

Ada yang menggelitik sisi hatinya yang sensitif setipa kali Miya mengalami gesekan kecil dengan Amaya. Amaya, tantenya, tanpa Mutia dan Ayah. Miya kerap kali ingin membangkan, tapi dia kini hidup bersama tante, orang lain bagi perasaannya yang roboh. Miya sadar kini hidupnya sudah berbeda. Dia sudah kehilangan.

‘Miya berkali-kali memukul bantal.... Masa berkabungnya belum selesai dan perempuan itu sudah bersikap seolah-olah kematian kedua orang tuanya angin lalu semata.

Seharusnya Amaya yang mengalami duka lebih parah, karena dia lebih lama hidup dan mengenal dalam sosok Mutia. Seharusnya dia juga yang mogok makan berhari-hari dan menangis selama berjam-jam. Seharusnya dia yang kesulitan tidur setiap malam.’ (Hlm. 16)

Fase III – RESTITUSI. Fase ini terjadi ketika Miya mulai bersepakat dengan kenyataan yang terjadi dalam hidupnya. Dia mulai kembali masuk kerja sekalipun langsung dipecat karena meninggalkan begitu saja kliennya di Bali. Meski begitu, Miya masih belum bisa menerima perhatian dari orang lain terkait kehilangan yang sedang dihadapinya, perhatian dari Arian misalnya.

“Mi, sori.” Sikap hati-hati yang ditunjukkan setiap orang—termasuk Arian—terhadap Miya membuat gadis itu semakin gerah. Di sisi lain, Miya ingin menumpahkan dukanya yang terbendung dan siap jebol kapan saja. “Mungkin waktu yang kamu butuhkan tidak sebentar, tapi aku yakin satu hari nanti kamu bisa menerima semuanya.” (Hlm. 23)
Bebeda dengan Miya, Amaya selaku pihak yang lebih matang secara usia dan emosi menyikapi kehilangan Mutia dengan lebih berterima. Barangkali karena dia juga pernah mengalami hal serupa sebelumnya.  Meski rasa sedih tentu adalah satu-satunya pilihan yang tidak bisa dihindari, tapi juga tidak mengubah keadaan. Maka Amaya menyikapi kehilangan Mutia dengan menjadi Mutia untuk Miya. Jika ditilik pada faktor eksternal di luar cerita, maka ini adalah salah satu tanda kecerdikan Erlin dalam meniupkan ruh ke dalam tokoh-tokoh fiksinya.

LOVEABLE CHARACTERS

Bukan hanya Miya dan Amaya yang sangat tampak hidup tokoh-tokoh lainnya dalam Lara Miya memberikan kesan yang sama. Tidak hanya sekadar hidup, mereka juga memiliki identitas unik yang menyenangkan. Hal ini membaut pengidentifikasian terhadap tokoh-tokohnya cukup mudah dilakukan. Semisal, Raeka yang dewasa dan penuh perhitungan, Melissa yang kerap memanggil orang-orang di sekitarnya dengan nama makanan, dan Nana yang tampak lebih matang dari dua teman perempuannya.

Membaca Lara Miya sampai habis membuat saya sadar bahwa Erlin tidak hanya cerdik dalam menciptakan karakter-karakter fiksinya, melainkan juga pintar dalam mengatur alur cerita yang menarik sehingga mencapai klimaks dengan optimal. Pinch-pinch point-nya bertebaran begitu rapi hingga perjalanan menuju twist terasa tidak memaksakan. Tidak berlebihan, Lara Miya adalah salah satu novel melankolis terbaik yang saya baca tahun ini.

Menginjak matahari turun, stasiun radio yang sedang saya dengarnkan menyetel lagu Tulus. Omong-omong soal mendengarkan lagu, adalah salah satu tips dari Erlin ketika membaca Lara Miya, terutama lagu-lagu milik Tulus dari album Monokrom. Erlin juga sering mendengarkannya ketika menulis novel ini.

source; dok. pribadi dan google (edited)
 

Post a Comment

0 Comments