Menanti Senyum Alena Merekah - Then She Smile, Makna Sinatria


"Lo nggak perlu memaksakan senyum di depan gue."

SELAGI MEMBACA THEN SHE SMILE untuk keperluan Blogtour & Plus-Plus yang diadakan oleh Penerbit Haru, saya juga sedang kembali membaca The Giver karangan Lois Lowry untuk keperluan sebuah proyek lain. Kami—saya dan seorang teman menulis—mendiskusikan novel The Giver tadi malam sampai hampir pukul setengah dua pagi.

Banyak hal yang menjadi fokus pembicaraan kami mengenai The Giver, mulai dari kenapa terpikir untuk membaca novel ini dan mendapatkan bukunya dari mana sampai pada hal-hal yang lebih mendalam semacam latar belakang penulisnya dan apa alasan utama para tetua komunitas memberlakukan sistem yang sedemikian ketat nan tidak masuk akal itu. Sekilas, kehidupan mereka memang tampak utopia, ujar teman saya, tapi ternyata kehidupan harmonis tersebut adalah sebuah dystopia. Paradoks.

Menciptakan lingkungan yang nyaman namun dengan jalan membatasi identitas manusia sebagai manusia. Kehidupan mereka hampir tanpa konflik dan hidup di bawah payung keteraturan, tapi ternyata ada harga yang harus dibeli untuk mendapatkan hal tersebut; hidup seorang The Giver. Dia harus mau bersahabat dengan luka sendirian hanya untuk membuat lingkungan komunitas tampak baik-baik saja.

PENGORBANAN ATAU KETIDAKBERDAYAAN?

Kenapa saya memulai ulasan ini dengan novel The Giver?

Saya teringat pada Alena ketika berdiskusi mengenai The Giver. Saya menemukan sesuatu yang menggelitik ketika mengingat kembali bagaimana alur kehidupan Alena yang disajikan oleh Makna Sinatria dalam Then She Smile. 

Alena dan Hexa - credit; Makna Sinatria
Benang merah novel Then She Smile adalah tentang Alena yang pemendam. Dia selalu memaksakan diri untuk bersahabat dengan luka-luka yang diberikan oleh ayah tirinya demi keharmonisan keluarga. Di mata Mama dan Altair, kehidupan mereka memang tampak baik-baik saja. Sampai mereka mendapati sendiri bukti yang membuat pandangan mereka tak bernilai apa-apa. Pandangan yang membuka seperti apa kehidupan Alena yang sesungguhnya.

See? I found something similiar.

Beruntungnya kehidupan Alena diintervensi oleh kedatangan tetangga baru bernama Hexa—seorang pemuda berdarah campuran Indonesia dan Prancis yang bekerja sebagai seorang fotografer profesional. Bersama sang sepupu bernama Riou, mereka mulai menarik Alena dari belenggu yang selama lima tahun ini membuatnya harus bersabar dengan nestapa tanpa tahu harus berbuat apa untuk melenyapkannya selain bertahan. Bertahan sampai dia tidak mampu lagi bertahan.

Hexa yang sejak awal pertemuan mereka merasa sudah tertarik kepada Alena, menemukan bahwa pengalaman buruk yang perempuan itu alami tidak seharusnya terulang kembali setiap hari. Kepedulian itu muncul bukan saja karena dia merasa ‘dekat’ dengan Alena tapi juga didorong oleh kenyataan buruk soal Mamanya yang menderita Major Depression Disorder. Hexa tidak ingin keterlambatannya dalam memahami kondisi sang Mama terjadi untuk kali kedua pada Alena, yang dipujinya sebagai gadis yang cantik dan punya senyum yang menarik.

Hexa dan Riou - credit; Makna Sinatria
Major Depression Disorder dalam webmd.com didefinisikan sebagai depressed mood most of the day, sometimes particularly in the morning, and a loss of interest in normal activities and relationships -- symptoms that are present every day for at least 2 weeks. Dalam beberapa kasus, disorder ini juga meliputi rasa kelelahan sepanjang waktu, merasa tidak berharga, insomnia atau hipersomnia, sampai pada tahap mendorong penderitanya untuk melakukan bunuh diri. Dan, saya baru tahu kalau depresi semacam ini bisa ditularkan terutama pada seseorang yang memiliki kedekatan secara emosional.

Hexa’s mother did it. How about Alena?

Saya berharap apa yang dialami oleh Alena tidak membuatnya menderita Major Depression Disorder sekali pun ada beberapa kondisi yang menjurus pada hal tersebut. Tentu harus ada penanganan sejak dini untuk menecegah hal tersebut terjadi.

Namun, pada dasarnya saya terpikir obat paling ampuh untuk keluar dari pengalaman buruk tersebut adalah dengan membuka diri. Mulailah dari orang-orang terdekat dengan bercerita. Jangan biarkan terpendam sebab kelak masalah tersebut akan mejadi pisau bermata dua.

HARAPAN BARU UNTUK ALENA 

Kepedulian Hexa dan desakannya kepada Alena untuk menceritakan permasalahannya kepada Mama dan Altair adalah solusi yang tepat. Sebab yang dibutuhkan Alena untuk keluar dari masalah tersebut adalah uluran tangan dan pemahaman dari orang-orang yang memang bersinggungan secara langsung dengan si sumber masalah. Lagi pula, Hexa yang sudah mengetahui permasalahan Alena lebih awal, tidak memiliki otoritas lebih tinggi terhadap hidup Alena selain keluarganya sendiri. Hexa tidak memiliki daya lebih untuk melakukan hal tersebut, selain daya untuk mencintai Alena.
 
Alena - credit; Makna Sinatria
Selain kepeduliannya yang tinggi terhadap Alena, rasa cinta Hexa terhadap perempuan itu bisa diamati dari setiap kali dia mengajak dan mengiakan ajakan Alena untuk pergi sekadar mencari bahan untuk difoto dengan kamera instannya. Banyak tempat yang telah mereka kunjungi bersama dan cukup familiar bagi saya karena tempat-tempat tersebut berada di kota Bandung, yang mana adalah latar tempat utama Then She Smile dan tempat di mana saya tinggal sekarang ini.

Ada Jalan Braga yang terkenal dengan bangunan-bangunan berarsitektur Belandanya, tempat yang tepat untuk dijadikan tempat nongkrong bersama teman atau kekasih. Lainnya ada Dago, Lembang, dan Bukit Moko. Seperti yang dideskripsikan di dalam novelnya, tempat-tempat tersebut memang memiliki nilai yang lebih jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Bandung.

Khusus Bukit Moko, pengalaman Hexa dan Alena menyaksikan matahari terbenam mengingatkan saya pada memori satu dua tahun yang lalu ketika melakukan hal serupa. Tempat ini sangat direkomendasikan sekali untuk dikunjungi jika kalian berlibur ke Bandung.

Saya jadi penasaran dengan hasil jepretan Hexa dan Alena di tempat-tempat tersebut. Eh, omong-omong soal jepretan, saya kagum dengan sisipan informasi mengenai fotografi yang terdapat di dalam novel ini. Rasanya membaur dengan narasi dan karakter sehingga tidak terkesan seperti teks nonfiksi yang secara serampangan diselipkan.

Riou, Alena, Hexa, dan Altair - credit: Makna Sinatria
Honorable mention di postingan ini saya tujukan untuk Riou yang dengan kepolosan dan kekonyolannya turut memberikan andil untuk kejelasan hubungan antara Hexa dan Alena. Lainnya untuk Altair yang sudah menjadi kakak tiri yang pengertian untuk Alena, saya salut dengan keputusan yang dia ambil di tiga bab terakhir Then She Smile.

Well, saya merasa cukup puas membaca novel ini. Banyak bagian dari novel ini yang membuat saya merasa seperti itu. Jika kamu penasaran, saya rekomendasikan kamu untuk membacanya dan menemukan bagian-bagian mana dari novel ini yang akan membuatmu puas. Tapi jika kamu suka novel berlatar kota Bandung dan berbagai isu soal fotografi, kamu sepertinya wajib memasukkan Then She Smiles ke dalam daftar bacaan kamu.

Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Haru dan Makna Sinatria yang telah mengikutsertakan saya dalam proyek Blogtour & Plus-Plus Then She Smile. Ini adalah blogtour pertama saya selama menjadi book blogger dan senang sekali bisa melewatkannya bersama kalian

Eits, keseruan Blogtour & Plus-Plus Then She Smiles tidak berhenti di artikel ulasan ini. Ada Ask Author, lho, yaitu bincang-bincang singkat bersama Makna Sinatria di rubrik Bicara dan tentu saja Giveaway! Ada satu notes unyu Then She Smile untuk kamu yang beruntung.

THIS IS LATESTBOOKMARK YOU ARE LOOKING FOR


Post a Comment

0 Comments