Peperangan Perangai si Kembar - Twinwar, Dwipatra


BEBERAPA BULAN TERAKHIR ini bahkan mungkin sudah masuk ke dalam hitungan tahun, saya merasa sedang berada dalam masa paceklik berkepanjangan. Entah bagaimana mulanya, saya menjadi sedikit antipati dengan dunia fiksi. Sekali pun rasa rindu selalu muncul lewat ide-ide nakal yang beranak-pinak di dalam benak, saya memilih untuk menyimpannya rapat-rapat di dalam pikiran.

Barangkali karena saya sedang penat atau hanya bosan saja mencemplungkan diri ke dalam sesuatu yang jelas-jelas palsu—sementara saya terlalu banyak menaruh perhatian dan perasaan di dalamnya. Bukankah itu tampak seperti membuang-buang waktu?

Jadi saya mulai menyibukkan diri dengan dunia freelancer, berinteraksi dengan banyak orang dan membicarakan sesuatu yang tidak dibuat-buat. Sayangnya, duduk terlalu lama berkutat dengan satu hal kembali membuat saya bosan. Maka saya mulai tidak tahan dengan topik-topik kesehatan yang harus saya pelajari setiap waktu. Saya lelah terus-terusan menulis pengetahuan tentang rasa sakit dan kenyataan-kenyataan buruk yang menyertainya. Saya butuh dihibur dan kebohongan-kebohongan sistematis seorang penulis selalu membuat gairah hidup saya kembali muncul.

Maka dari itu saya mulai berjalan-jalan dengan Ziggy di Jakarta Sebelum Pagi, namun remang-remang dini hari membuat saya malas terus menerus memecahkan teka-teki dan memilih untuk kembali tidur di kamar kesayangan. Menilik daftar nilai A untuk Amanda adalah pilihan setelah terbangun pada suatu pagi, tapi saya terpincut dengan kehidupan mahasiswa Tiongkok dalam Departure. Sayangnya, tak ada kebohongan yang benar-benar bisa saya nikmati dari mereka karena satu celah dan lainnya yang mudah ditebak.

 HISA DAN GARA, SI KEMBAR TAPI BEDA

Hingga pagi ini, saya memberanikan diri untuk menyelami kehidupan masa remaja dengan dua orang anak kembar bernama Hisa dan Gara—kebetulan mereka membuat saya relatable karena kami memiliki kesamaan; kehidupan tanpa gencatan senjata. Beruntungnya, cerita rekaan tentang kehidupan dua anak SMA berbeda perangai itu cukup bisa saya terima. Saya sangat terhibur bahkan terlalu terhibur untuk menertawakannya pada setiap kesempatan.

Barangkali karena itulah cerita rekaan ini menjadi pemenang satu dalam penyelenggaraan Gramedia Writing Project Batch-3 tahun lalu. Cerita ini memang tampak rapi, minim celah atau plot hole, dan enak untuk diikuti. Membaca kisah tentang Hisa dan Gara mengingatkan saya pada bagaimana rasanya sesorean bertukar cerita dan terjebak hujan di kedai ramen atau membunuh waktu berjam-jam menelepon demi tidak menyimpan kerinduan yang terlalu lama pada seseorang. Hangat, adiktif, dan membuai hingga saya mampu berdamai dengan satu dua kecenderungan mythomania mereka yang menyisip di sela-sela percakapan.

Sebagai cerita teenlit, bagi saya novel setebal 300 halaman dengan judul Twinwar ini sudah lebih dari cukup. Entah untuk pembaca teenlit betulan, sebab pada dasarnya teenlit is not my cup of tea—panggillah saya pembaca novel teenlit amatiran. Tapi serius, saya tidak menemukan kerecehan-kerecehan berlebih yang biasa saya temukan dalam novel teenlit lainnya—atau selama ini saya hanya kurang beruntung karena kerap bertemu dengan novel teenlit yang tidak sesuai dengan selera. Karena itu pula saya bisa menyelesaikan novel ini hanya dalam beberapa jam saja, tentu saja sambil melupakan deretan topik artikel yang sudah ditagih-tagih oleh client.

 TENTANG PACE CERITA DAN LAINNYA

Meski secara arus, riak yang muncul tidak sama dengan sensasi yang saya rasakan ketika menikmati Persona—apa perbandingan ini cukup apple to apple? Mau bagaimana lagi, Persona adalah novel teen/young adult yang sejauh ini menjadi jagoan saya. Berbeda dengan Persona yang penuh dengan riak dan kelokan, arus sungai dalam Twinwar cenderung aman, lurus, tapi menghanyutkan. Hanya ada beberapa riak yang membuat saya terlonjak, salah satunya adalah teka-teki tentang Akbar.

Riak-riak lainnya muncul dengan cara yang menyenangkan lewat circle persahabatan Hisa dan bagaimana Gara masuk ke dalamnya. Saya juga menemukan riak-riak yang membuat saya terkekeh pada beberapa percakapan dan risakan-risakan kecil mereka satu sama lain—khas sahabat karib sekali. Di sisi lain, peran orang dewasa dimunculkan dengan sangat ideal—meski konflik terus berdatangan tapi stabilitas emosi dan tindakan mereka benar-benar mampu menjadi katalis bagi kehidupan anak muda yang penuh dengan dinamika.

Sebagai manusia kebanyakan, saya juga kerap mencari-cari kesalahan dari sesuatu termasuk pada Twinwar, tapi tak ada yang fatal kecuali satu dua kesalahan tik yang bisa diabaikan. Selain itu, hal yang cukup membuat kening saya berkerut adalah tindakan si kembar setelah menjalani skorsing dan bagaimana orang-orang yang sebelumnya menyesalkan tindakan tersebut menjadi terkesan begitu saja memaafkan ketika terulang untuk kedua kalinya. Benar, dengan mengulang tindakan tersebut memang pada akhirnya mendorong Gara untuk menyulut resolusi terhadap konflik-konflik yang tersisa. Hanya saja. Selebihnya, tampak sekali jika Twinwar disusun dengan penuh perhitungan dan dijalin dengan sangat hati-hati. Sudah lama saya tidak membaca novel yang clean seperti ini.

THE AFTER TASTE

After taste yang terasa setelah membaca Twinwar membuat saya merindukan masa SMA, kehangatan berada di dalam circle persahabatan, dan bagaimana setiap konflik yang muncul menjadi perekat bukannya penghambat. Di sisi lain, Twinwar layaknya masa SMA yang sudah cukup untuk saya nikmati dalam sekali waktu. Namun saya mencukupkannya dengan perasaan bahagia sambil menunggu datangnya kesempatan untuk membaca karya Dwipatra yang lain.

Membaca novel yang mengesankan seperti ini kerap membuat saya tertarik dengan proses penulisannya. Apa saya perlu memburu Dwipatra dan mencari tahu bagaimana proses kreatif penulis produktif yang karyanya banyak memenangkan berbagai ajang perlombaan tersebut?

Post a Comment

0 Comments