October 16, 2018

,

Andai jadwal saya tidak lowong karena client sedang recovery dari kecelakaannya minggu lalu, barangkali saya tidak akan menemukan Lee Ha Na dalam Running Man senin kemarin. Perempuan yang lahir pada tahun 1982 ini memang sudah menarik hati sejak kemunculannya dalam Voice dan Voice 2—dua drama asal negeri ginseng yang saya tamatkan bulan lalu meski keduanya tayang di tahun yang berbeda. Setelah itu, saya selalu menunggu kehadirannya di berbagai reality show.

Saya kerap tertarik oleh tokoh perempuan dengan karakteristik yang berbeda dari kebanyakan. Tujuh tahun silam misalnya, menemukan keeleganan IU yang berhasil bermetamorfosis dari belenggu obesitas dalam Dream High. Dua tahun kemudian, saya terpincut dengan kualitas akting Kim So Hyun dan kenahasan hidupnya sebagai anak seorang pembunuh yang mengalami pelecehan seksual dalam Missing You.

October 07, 2018

,


Tiap orang punya cara tersendiri untuk mengatasi rasa bersalahnya, kan? Ada yang terang-terangan, ada pula yang tersiksa dan merana karenanya.

Another Book from Indah Hanaco - sc; google
SAYA SUDAH LAMA MENDENGAR nama Indah Hanaco di dunia perbukuan dan semakin penasaran ketika tahun lalu ada seorang book blogger yang membuat Reading Challenge khusus buku-buku ibu dua anak ini. Sempat kepo pada karya-karyanya tapi tidak juga menemukan waktu untuk mencicipi bagaimana rasanya. Awal tahun ini, setelah melihat novel terbarunya muncul dalam sebuah seri yang diterbitkan oleh Gramedia, rasa penasaran itu membuat saya mengambil Heartling—salah satu novelnya yang terbit pada tahun 2015. Tidak ada alasan khusus kenapa saya memilih Heartling, selain karena kavernya cantik dan judulnya ciamik. Pun ketika tahu novel ini bukan novel terbaru, lalu sempat terpikir untuk membuat semacam garis start untuk mengenal karya-karya Indah lebih jauh.

June 21, 2018

,

Pada akhir tahun lalu ketika saya masih menjadi pemula di sebuah platform penulisan digital, saya berkenalan dengan banyak penulis. Entah mereka yang masih sama-sama memulai atau  mereka yang sudah cukup lama berkecimpung dan menerbitkan novel. Salah satu dari para penulis itu adalah Erlin Natawiria. Nama ini awalnya asing di telinga saya, tapi entah dari sekian banyak probabilitas akhirnya kami dipertemukan dengan cukup mudah.

,

SIANG YANG TERIK DI LUAR, di telinga saya terpsang earphone yang tersambung dengan siaran salah satu stasiun radio. Ada tembang-tembang zaman dulu yang kemudian terdengar, tidak menggebu seperti musik pop masa kini. Entah bagaimana, sesuatu yang mengalun tenang seperti ini selalu berhasil mengajak saya bernostalgia, melihat kembali ke belakang. Dari kilas ingatan-ingatan itu, saya kadang iseng menghitung sudah berapa banyak hal yang saya temukan dan relakan.

June 07, 2018

,

Aku tida membeli cintamu, tapi kau pernah bilang kau tahu segalanya tentang seks. Tolong ajari aku!
 
PAULO COELHO BUKAN PILIHAN SAYA bulan ini, tapi jodoh memang sesuatu yang tidak bisa ditebak. Begitu juga dengan bacaan, sebuah kebiasaan buruk sebenarnya karena beberapa buku yang saya persiapkan sebagai reading list bulan ini malah terlantar. Saya sudah lama ingin mengenal karya-karya penulis Brasil ini tapi selalu terhalang oleh beberapa kendala, terutama pada kegemaran saya membaca novel-novel ringan bergenre Young Adult. Mengingat karya-karya Paulo Coelho saya rasa bukan makanan yang bisa dilahap sekali suap.

May 10, 2018

,


Siapa yang tidak familiar dengan selebaran berisi surat ancaman yang sempat boomingdi awal tahun 2000an? Meskipun terkesan konyol jika dilihat dari kacamata orang dewasa, selebaran berisi surat ancaman itu adalah salah satu problema yang selalu berakhir di jalan buntu bagi anak-anak berusia sekolah dasar.

Saya masih ingat dengan cukup jelas ketika fenomena mendebarkan itu mulai memasuki lingkungan pertemanan saya pada usia kelas tiga sekolah dasar. Beritanya menjadi yang paling hangat dibicarakan selama beberapa hari. Pun merebakkan kecemasan dari mulut ke mulut.

Otak polos saya pun sempat termakan isu tersebut, sampai setengah mati kebingungan apakah saya perlu menggunakan uang bekal untuk pergi ke toko fotokopi atau membeli cimol basah di halaman sekolah. Sampai salah satu perwakilan dari teman kami memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu ustaz yang hanya dibalas dengan senyuman.

Hey, Dude!

Semakin bertambahnya usia, saya semakin sadar bahwa perbuatan-perbuatana semacam itu hanyalah perbuatan iseng segelintir orang. Entah untuk alasan apa. Hingga kini pun, berita-berita serupa masih banyak beredar dan disebarkan melalui media sosial atau aplikasi obrolan.

Pemikiran seperti itu pula yang dimiliki oleh korban-korban yang dikirim surat ancaman oleh Clarissa dalam novel Bayangan Clarissa, seperti Farzan dan Maria serta Haji Daud. Pemikiran mereka yang lebih mengedepankan logika tidak akan semudah itu tergerak oleh ancaman via email atau selebaran yang cenderung kekanak-kanakkan.

“Ini surat berantai! Seperti aku tidak tahu saja. Kalau aku tahu siapa yang mengirimkan ini, pasti kupukul. Memercayai hal-hal semacam ini sama saja syirik!

Akan tetapi, surat ancaman itu ternyata nyata. Benar-benar nyata. Beberapa orang tersebut tidak mengindahkan ancaman Clarissa dan berakhir menjadi korban pembunuhan Clarissa.

Meski disimak sekilas, konflik dalam novel ini memang terkesan mainstream.  Banyak karya serupa bergenre thriller yang mengusung konflik surat berantai dan pembunuhan. Akan tetapi, novel ini menjadi spesial karena menguguhkan konflik yang tidak hanya sebatas itu. Ada banyak konfilk-konflik lain yang dikembangkan dengan genius oleh sang penulis dan pasti membuat pembaca berdebar-debar.

Konflik utama dalam novel Clarissa dipadukan dengan isu kehidupan gembong narkoba kelas dunia, makhluk-makhluk mitologi khas masyarakat nusantara dan pengetahuan medis yang mumpuni. Tidak heran jika novel ini cukup kaya dan berisi.

Penceritaan yang baik dan plot yang rapi adalah salah satu nilai plus kenapa novel ini layak dibaca. Apalagi dengan suguhan plot twist yang kerap kali membuat pembaca terkejut dan berdecak kagum. Bahkan bagian prolog saja sudah cukup membuat saya berhenti bernapas ketika membaca.

Jangan tanya seberapa besar kadar kengerian yang ditawarkan oleh novel ini. Kesan yang diberikan melebihi respons saya ketika menonton film Munafik. Jangan bayangkan tragedi-tragedi pembunuhan yang Clarissa lakukan hanyalah sekadar menusuk korbannya dengan pisau atau tragedi pembunuhan biasa lainnya. Cara-cara yang dilakukan Clarissa untuk membunuh korban-korbannya adalah cara yang sadis dan brutal.

MAU SATU SPOILER?

Pernahkah pembaca menemukan jenis pembunuhan dengan senjata utama tikus? Benar, tikus! Meski kencing tikus beracun dan mematikan tapi bukan dengan cara itu Clarissa membunuh korbannya. Dia—gadis kecil itu—mengurung sekelompok tikus di atas perut korban, sementara kurungannya dibuat panas.

Tidak ada cara lain bagi tikus-tikus itu untuk menyelamatkan diri selain merobek perut korban dan menjadikannya terowongan. Sementara korban tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat. Bisa ditebak ke arah mana alur ini? Benar, korban berakhir tewas dan tikus-tikus itu berhasil menyelamatkan diri.

SADIS!

Itu hanya satu dari sekian banyak plot twist dan adegan menyeramkan yang terdapat dalam Bayangan Clarissa.

Meski memiliki latar kehidupan masyarakat Malaysia, novel ini memiliki unsur-unsur yang familiar dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain memiliki kultur dan kepercayaan yang sama terhadap beberapa makhluk halus, ada salah satu tokoh yang berasal dari Indonesia.

Dia adalah Rachtma, ialah cucu dari seorang dukun hitam paling hebat di Yogyakarta dan menjadi asisten rumah tangga salah satu tokoh yang lain.

Menilik dari kualitasnya. Bukan sesuatu yang mengherankan. Novel ini sejak awal kemunculannya di Malaysia memang sudah mendapat sambutan yang meriah. Banyak respons positif yang pembaca bagikan di akun goodreads. Oleh karena itu, novel ini memiliki rating yang hampir sempurna.

Malaysia? Benar, novel Bayangan Clarissa adalah salah satu novel karya penulis berbakat Malaysia yang juga berprofesi sebagai ahli medis. Bayangan Clarissa kemudian diterjemahkan oleh Penerbit Haru dan masuk ke dalam katogeri My Novel. Jangan lupa untuk mampir di Laters Bookmark minggu depan ya, akan ada wawancara eksklusif dengan penulisnya, lho!

Bagi pembaca novel bergenre horror, Bayangan Clarisaa adalah salah satu novel yang patut untuk dimasukkan ke dalam reading list. Selain menawarkan penceritaan yang baik, novel ini juga menyuguhkan bayang-bayang kematian yang akan membuat pembaca merasakan sensasi kengerian yang tidak ada duanya.

Bagi pembaca yang penasaran dengan Bayangan Clarissa dan ingin merasakan sensasi kengeriannya, jangan khawatir. Penerbit Haru akan membagikan satu novel Bayangan Clarissa GRATIS untuk salah satu pembaca  yang beruntung, lho!

BAGAIMANA CARANYA?




Jika pembaca baru membaca ulasan Bayangan Clarissa di Latest Bookmark, ini adalah pemberhentian terakhir untuk serangkaian blog tour novel Bayangan Clarissa. Ada baiknya, pembaca juga mengunjungi host lainnnya. Sebab, setiap host blogtour akan memberikan pertanyaan yang bisa dikumpulkan sebagai clue untuk mendapatkan novel Bayangan Clarissa secara gratis. Adapun pertanyaan dari Latest Bookmark adalah sebagai berikut.

Siapa tokoh dalam novel Bayangan Clarissa yang berasal dari Indonesia? Tokoh ini berprofesi sebagai asisten rumah tangga dan keturunan langsung dari dukun hitam paling hebat di Yogyakarta.

Cari jawabannya dan kumpulkan!

Jangan lupa terus ikuti postingan Penerbit Haru di facebook atau twitter untuk mendapatkan petunjuk lain cara mendapatkan novel Bayangan Clarissa.

***


April 07, 2018

,

"Lo nggak perlu memaksakan senyum di depan gue."

SELAGI MEMBACA THEN SHE SMILE untuk keperluan Blogtour & Plus-Plus yang diadakan oleh Penerbit Haru, saya juga sedang kembali membaca The Giver karangan Lois Lowry untuk keperluan sebuah proyek lain. Kami—saya dan seorang teman menulis—mendiskusikan novel The Giver tadi malam sampai hampir pukul setengah dua pagi.

Banyak hal yang menjadi fokus pembicaraan kami mengenai The Giver, mulai dari kenapa terpikir untuk membaca novel ini dan mendapatkan bukunya dari mana sampai pada hal-hal yang lebih mendalam semacam latar belakang penulisnya dan apa alasan utama para tetua komunitas memberlakukan sistem yang sedemikian ketat nan tidak masuk akal itu. Sekilas, kehidupan mereka memang tampak utopia, ujar teman saya, tapi ternyata kehidupan harmonis tersebut adalah sebuah dystopia. Paradoks.

Menciptakan lingkungan yang nyaman namun dengan jalan membatasi identitas manusia sebagai manusia. Kehidupan mereka hampir tanpa konflik dan hidup di bawah payung keteraturan, tapi ternyata ada harga yang harus dibeli untuk mendapatkan hal tersebut; hidup seorang The Giver. Dia harus mau bersahabat dengan luka sendirian hanya untuk membuat lingkungan komunitas tampak baik-baik saja.

PENGORBANAN ATAU KETIDAKBERDAYAAN?

Kenapa saya memulai ulasan ini dengan novel The Giver?

Saya teringat pada Alena ketika berdiskusi mengenai The Giver. Saya menemukan sesuatu yang menggelitik ketika mengingat kembali bagaimana alur kehidupan Alena yang disajikan oleh Makna Sinatria dalam Then She Smile. 

Alena dan Hexa - credit; Makna Sinatria
Benang merah novel Then She Smile adalah tentang Alena yang pemendam. Dia selalu memaksakan diri untuk bersahabat dengan luka-luka yang diberikan oleh ayah tirinya demi keharmonisan keluarga. Di mata Mama dan Altair, kehidupan mereka memang tampak baik-baik saja. Sampai mereka mendapati sendiri bukti yang membuat pandangan mereka tak bernilai apa-apa. Pandangan yang membuka seperti apa kehidupan Alena yang sesungguhnya.

See? I found something similiar.

Beruntungnya kehidupan Alena diintervensi oleh kedatangan tetangga baru bernama Hexa—seorang pemuda berdarah campuran Indonesia dan Prancis yang bekerja sebagai seorang fotografer profesional. Bersama sang sepupu bernama Riou, mereka mulai menarik Alena dari belenggu yang selama lima tahun ini membuatnya harus bersabar dengan nestapa tanpa tahu harus berbuat apa untuk melenyapkannya selain bertahan. Bertahan sampai dia tidak mampu lagi bertahan.

Hexa yang sejak awal pertemuan mereka merasa sudah tertarik kepada Alena, menemukan bahwa pengalaman buruk yang perempuan itu alami tidak seharusnya terulang kembali setiap hari. Kepedulian itu muncul bukan saja karena dia merasa ‘dekat’ dengan Alena tapi juga didorong oleh kenyataan buruk soal Mamanya yang menderita Major Depression Disorder. Hexa tidak ingin keterlambatannya dalam memahami kondisi sang Mama terjadi untuk kali kedua pada Alena, yang dipujinya sebagai gadis yang cantik dan punya senyum yang menarik.

Hexa dan Riou - credit; Makna Sinatria
Major Depression Disorder dalam webmd.com didefinisikan sebagai depressed mood most of the day, sometimes particularly in the morning, and a loss of interest in normal activities and relationships -- symptoms that are present every day for at least 2 weeks. Dalam beberapa kasus, disorder ini juga meliputi rasa kelelahan sepanjang waktu, merasa tidak berharga, insomnia atau hipersomnia, sampai pada tahap mendorong penderitanya untuk melakukan bunuh diri. Dan, saya baru tahu kalau depresi semacam ini bisa ditularkan terutama pada seseorang yang memiliki kedekatan secara emosional.

Hexa’s mother did it. How about Alena?

Saya berharap apa yang dialami oleh Alena tidak membuatnya menderita Major Depression Disorder sekali pun ada beberapa kondisi yang menjurus pada hal tersebut. Tentu harus ada penanganan sejak dini untuk menecegah hal tersebut terjadi.

Namun, pada dasarnya saya terpikir obat paling ampuh untuk keluar dari pengalaman buruk tersebut adalah dengan membuka diri. Mulailah dari orang-orang terdekat dengan bercerita. Jangan biarkan terpendam sebab kelak masalah tersebut akan mejadi pisau bermata dua.

HARAPAN BARU UNTUK ALENA 

Kepedulian Hexa dan desakannya kepada Alena untuk menceritakan permasalahannya kepada Mama dan Altair adalah solusi yang tepat. Sebab yang dibutuhkan Alena untuk keluar dari masalah tersebut adalah uluran tangan dan pemahaman dari orang-orang yang memang bersinggungan secara langsung dengan si sumber masalah. Lagi pula, Hexa yang sudah mengetahui permasalahan Alena lebih awal, tidak memiliki otoritas lebih tinggi terhadap hidup Alena selain keluarganya sendiri. Hexa tidak memiliki daya lebih untuk melakukan hal tersebut, selain daya untuk mencintai Alena.
 
Alena - credit; Makna Sinatria
Selain kepeduliannya yang tinggi terhadap Alena, rasa cinta Hexa terhadap perempuan itu bisa diamati dari setiap kali dia mengajak dan mengiakan ajakan Alena untuk pergi sekadar mencari bahan untuk difoto dengan kamera instannya. Banyak tempat yang telah mereka kunjungi bersama dan cukup familiar bagi saya karena tempat-tempat tersebut berada di kota Bandung, yang mana adalah latar tempat utama Then She Smile dan tempat di mana saya tinggal sekarang ini.

Ada Jalan Braga yang terkenal dengan bangunan-bangunan berarsitektur Belandanya, tempat yang tepat untuk dijadikan tempat nongkrong bersama teman atau kekasih. Lainnya ada Dago, Lembang, dan Bukit Moko. Seperti yang dideskripsikan di dalam novelnya, tempat-tempat tersebut memang memiliki nilai yang lebih jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Bandung.

Khusus Bukit Moko, pengalaman Hexa dan Alena menyaksikan matahari terbenam mengingatkan saya pada memori satu dua tahun yang lalu ketika melakukan hal serupa. Tempat ini sangat direkomendasikan sekali untuk dikunjungi jika kalian berlibur ke Bandung.

Saya jadi penasaran dengan hasil jepretan Hexa dan Alena di tempat-tempat tersebut. Eh, omong-omong soal jepretan, saya kagum dengan sisipan informasi mengenai fotografi yang terdapat di dalam novel ini. Rasanya membaur dengan narasi dan karakter sehingga tidak terkesan seperti teks nonfiksi yang secara serampangan diselipkan.

Riou, Alena, Hexa, dan Altair - credit: Makna Sinatria
Honorable mention di postingan ini saya tujukan untuk Riou yang dengan kepolosan dan kekonyolannya turut memberikan andil untuk kejelasan hubungan antara Hexa dan Alena. Lainnya untuk Altair yang sudah menjadi kakak tiri yang pengertian untuk Alena, saya salut dengan keputusan yang dia ambil di tiga bab terakhir Then She Smile.

Well, saya merasa cukup puas membaca novel ini. Banyak bagian dari novel ini yang membuat saya merasa seperti itu. Jika kamu penasaran, saya rekomendasikan kamu untuk membacanya dan menemukan bagian-bagian mana dari novel ini yang akan membuatmu puas. Tapi jika kamu suka novel berlatar kota Bandung dan berbagai isu soal fotografi, kamu sepertinya wajib memasukkan Then She Smiles ke dalam daftar bacaan kamu.

Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Haru dan Makna Sinatria yang telah mengikutsertakan saya dalam proyek Blogtour & Plus-Plus Then She Smile. Ini adalah blogtour pertama saya selama menjadi book blogger dan senang sekali bisa melewatkannya bersama kalian

Eits, keseruan Blogtour & Plus-Plus Then She Smiles tidak berhenti di artikel ulasan ini. Ada Ask Author, lho, yaitu bincang-bincang singkat bersama Makna Sinatria di rubrik Bicara dan tentu saja Giveaway! Ada satu notes unyu Then She Smile untuk kamu yang beruntung.

THIS IS LATESTBOOKMARK YOU ARE LOOKING FOR


February 11, 2018

,

BEBERAPA BULAN TERAKHIR ini bahkan mungkin sudah masuk ke dalam hitungan tahun, saya merasa sedang berada dalam masa paceklik berkepanjangan. Entah bagaimana mulanya, saya menjadi sedikit antipati dengan dunia fiksi. Sekali pun rasa rindu selalu muncul lewat ide-ide nakal yang beranak-pinak di dalam benak, saya memilih untuk menyimpannya rapat-rapat di dalam pikiran.

Barangkali karena saya sedang penat atau hanya bosan saja mencemplungkan diri ke dalam sesuatu yang jelas-jelas palsu—sementara saya terlalu banyak menaruh perhatian dan perasaan di dalamnya. Bukankah itu tampak seperti membuang-buang waktu?

Jadi saya mulai menyibukkan diri dengan dunia freelancer, berinteraksi dengan banyak orang dan membicarakan sesuatu yang tidak dibuat-buat. Sayangnya, duduk terlalu lama berkutat dengan satu hal kembali membuat saya bosan. Maka saya mulai tidak tahan dengan topik-topik kesehatan yang harus saya pelajari setiap waktu. Saya lelah terus-terusan menulis pengetahuan tentang rasa sakit dan kenyataan-kenyataan buruk yang menyertainya. Saya butuh dihibur dan kebohongan-kebohongan sistematis seorang penulis selalu membuat gairah hidup saya kembali muncul.

Maka dari itu saya mulai berjalan-jalan dengan Ziggy di Jakarta Sebelum Pagi, namun remang-remang dini hari membuat saya malas terus menerus memecahkan teka-teki dan memilih untuk kembali tidur di kamar kesayangan. Menilik daftar nilai A untuk Amanda adalah pilihan setelah terbangun pada suatu pagi, tapi saya terpincut dengan kehidupan mahasiswa Tiongkok dalam Departure. Sayangnya, tak ada kebohongan yang benar-benar bisa saya nikmati dari mereka karena satu celah dan lainnya yang mudah ditebak.

 HISA DAN GARA, SI KEMBAR TAPI BEDA

Hingga pagi ini, saya memberanikan diri untuk menyelami kehidupan masa remaja dengan dua orang anak kembar bernama Hisa dan Gara—kebetulan mereka membuat saya relatable karena kami memiliki kesamaan; kehidupan tanpa gencatan senjata. Beruntungnya, cerita rekaan tentang kehidupan dua anak SMA berbeda perangai itu cukup bisa saya terima. Saya sangat terhibur bahkan terlalu terhibur untuk menertawakannya pada setiap kesempatan.

Barangkali karena itulah cerita rekaan ini menjadi pemenang satu dalam penyelenggaraan Gramedia Writing Project Batch-3 tahun lalu. Cerita ini memang tampak rapi, minim celah atau plot hole, dan enak untuk diikuti. Membaca kisah tentang Hisa dan Gara mengingatkan saya pada bagaimana rasanya sesorean bertukar cerita dan terjebak hujan di kedai ramen atau membunuh waktu berjam-jam menelepon demi tidak menyimpan kerinduan yang terlalu lama pada seseorang. Hangat, adiktif, dan membuai hingga saya mampu berdamai dengan satu dua kecenderungan mythomania mereka yang menyisip di sela-sela percakapan.

Sebagai cerita teenlit, bagi saya novel setebal 300 halaman dengan judul Twinwar ini sudah lebih dari cukup. Entah untuk pembaca teenlit betulan, sebab pada dasarnya teenlit is not my cup of tea—panggillah saya pembaca novel teenlit amatiran. Tapi serius, saya tidak menemukan kerecehan-kerecehan berlebih yang biasa saya temukan dalam novel teenlit lainnya—atau selama ini saya hanya kurang beruntung karena kerap bertemu dengan novel teenlit yang tidak sesuai dengan selera. Karena itu pula saya bisa menyelesaikan novel ini hanya dalam beberapa jam saja, tentu saja sambil melupakan deretan topik artikel yang sudah ditagih-tagih oleh client.

 TENTANG PACE CERITA DAN LAINNYA

Meski secara arus, riak yang muncul tidak sama dengan sensasi yang saya rasakan ketika menikmati Persona—apa perbandingan ini cukup apple to apple? Mau bagaimana lagi, Persona adalah novel teen/young adult yang sejauh ini menjadi jagoan saya. Berbeda dengan Persona yang penuh dengan riak dan kelokan, arus sungai dalam Twinwar cenderung aman, lurus, tapi menghanyutkan. Hanya ada beberapa riak yang membuat saya terlonjak, salah satunya adalah teka-teki tentang Akbar.

Riak-riak lainnya muncul dengan cara yang menyenangkan lewat circle persahabatan Hisa dan bagaimana Gara masuk ke dalamnya. Saya juga menemukan riak-riak yang membuat saya terkekeh pada beberapa percakapan dan risakan-risakan kecil mereka satu sama lain—khas sahabat karib sekali. Di sisi lain, peran orang dewasa dimunculkan dengan sangat ideal—meski konflik terus berdatangan tapi stabilitas emosi dan tindakan mereka benar-benar mampu menjadi katalis bagi kehidupan anak muda yang penuh dengan dinamika.

Sebagai manusia kebanyakan, saya juga kerap mencari-cari kesalahan dari sesuatu termasuk pada Twinwar, tapi tak ada yang fatal kecuali satu dua kesalahan tik yang bisa diabaikan. Selain itu, hal yang cukup membuat kening saya berkerut adalah tindakan si kembar setelah menjalani skorsing dan bagaimana orang-orang yang sebelumnya menyesalkan tindakan tersebut menjadi terkesan begitu saja memaafkan ketika terulang untuk kedua kalinya. Benar, dengan mengulang tindakan tersebut memang pada akhirnya mendorong Gara untuk menyulut resolusi terhadap konflik-konflik yang tersisa. Hanya saja. Selebihnya, tampak sekali jika Twinwar disusun dengan penuh perhitungan dan dijalin dengan sangat hati-hati. Sudah lama saya tidak membaca novel yang clean seperti ini.

THE AFTER TASTE

After taste yang terasa setelah membaca Twinwar membuat saya merindukan masa SMA, kehangatan berada di dalam circle persahabatan, dan bagaimana setiap konflik yang muncul menjadi perekat bukannya penghambat. Di sisi lain, Twinwar layaknya masa SMA yang sudah cukup untuk saya nikmati dalam sekali waktu. Namun saya mencukupkannya dengan perasaan bahagia sambil menunggu datangnya kesempatan untuk membaca karya Dwipatra yang lain.

Membaca novel yang mengesankan seperti ini kerap membuat saya tertarik dengan proses penulisannya. Apa saya perlu memburu Dwipatra dan mencari tahu bagaimana proses kreatif penulis produktif yang karyanya banyak memenangkan berbagai ajang perlombaan tersebut?

Follow Us @soratemplates