Menilik Pesona Fakhrisina dalam Persona


PADA QUARTAL PERTAMA tahun lalu selepas tergila-gila pada Persona, saya memberanikan diri untuk mengontak Is—begitu Fakhrisina biasa dipanggil. Berbekal alamat surel di bio akun instagramnya, satu per satu percakapan akhirnya terjalin hingga perempuan yang bergelut di bidang psikologi tersebut memberi saya izin untuk mewawancarainya.

Untuk sekarang, silakan nikmati makanan pembuka yang sudah lama kami buat. Saya percaya berbagi tidak pernah basi.

LET'S START THE CONVO!

Sudah lebih dari dua tahun sejak saya membaca All You Need is Love, keinginan untuk mengenal tulisan kamu lebih jauh itu muncul. Setelah membaca Persona, saya tidak bisa lagi menahan diri. Kadang bahagia itu sederhana, mengenal seseorang di balik tulisan-tulisan yang saya jadikan bacaan favorit misalnya.

Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk mengenal personamu lebih jauh, Fakhrisina Amalia. Halo, dan salam kenal!

Oke begini, wawancara ini terdiri dari lima pertanyaan panjang, kamu punya kebebasan untuk menjawabnya seperti apa tentu saja. Tapi jika berkenan, kamu boleh berbagi apapun dan sepanjang apa pun di sini.

INTRODUCING Saya mengenal dua karyamu terlebih dahulu sebelum berani mengontak lewat akun sosial media. Buku kamu yang pertama kali saya baca itu adalah All You Need is Love dan itu menjadi salah satu novel favorit saya tahun lalu. Tahun ini saya membaca Persona dan sama terpesonanya. Boleh perkenalkan diri kamu secara personal? Dan selain menulis, apa kesibukan kamu sekarang?
JAWABAN

Halo, sebelumnya terima kasih karena sudah mau berkenalan dengan karya-karya saya. Well, karena nama saya cukup panjang dan kadang sulit menyebutnya, saya lebih sering dipanggil Iis atau Fa di antara teman-teman penulis. Seperti banyak penulis lain yang saya tahu, aktivitas menulis biasanya diawali dengan kesukaan terhadap buku.

Jadi, iya, saya suka membaca sejak usia 5 tahun, mulai suka menulis buku harian sejak sekolah dasar, dan akhirnya kesukaan itu berlanjut hingga sekarang. Awalnya saya juga tidak punya bayangan kalau pada akhirnya saya bisa menerbitkan buku.

Pengin, sih. Tapi dengan kondisi lingkungan tempat tinggal yang saat itu tidak ada fasilitas toko buku dan kegiatan tulis menulis, saya cukup tahu diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi.

Sayangnya, saya mulai menjadi tidak tahu diri begitu mulai kuliah. Saya mulai aktif menulis cerpen di blog (yang kalau sekarang dibaca lagi, saya malu melihat tanda baca yang peletakannya tidak ada yang benar), mulai merasa iri melihat penulis menerbitkan buku lagi dan lagi, sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen ke kompetisi menulis Cerita Cinta Kota yang diadakan oleh Plotpoint di akhir tahun 2012 lalu.

Alhamdulillah, naskah cerpen saya saat itu menjadi satu dari sepuluh naskah pilihan editor dan dibukukan dengan judul yang sama seperti kompetisi. Itu awal yang besar bagi saya sekaligus momen kepercayaan diri untuk menulis terpupuk. Setelah itu saya mulai memberanikan diri menulis novel dan mengikuti lomba meski tidak pernah menang, dan baru mendapatkan kesempatan lagi di kompetisi menulis novel yang diadakan oleh Ice Cube Publisher di tahun 2013.

Naskah novel saya yang pertama kali diterbitkan (bukan pertama kali ditulis) berjudul Confession, dan adik-adiknya menyusul setelahnya.

Untuk kesibukan, saat ini saya sedang melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikologi di Yogyakarta. Saya tidak berani mengambil kesibukan lain karena jadwal kuliah yang padat sekali :’)


INFLUENCE Saya mengikuti akun instagram kamu dan tidak lagi terkejut ketika membaca Persona pshycological semacam itu. Novel ini mendapat respons yang positif di beberapa ulasan, termasuk di goodreads. Seberapa berpengaruh pendidikan yang kamu jalani sekarang terhadap tulisan-tulisan kamu? Entah itu dari pengambilan tema atau pun dalam proses penulisannya.

JAWABAN

Sejujurnya, saya justru tidak pernah berpikir bahwa tulisan-tulisan saya akan sangat relate dengan pendidikan saya. Saya seringnya baru menyadari setelah tulisan itu selesai. Tapi memang, saya mengakui bahwa setiap kali menulis, fokus utama saya justru karakter yang ada di sana. Saya bahkan jarang memikirkan plot cerita harus begini atau harus begitu.

Seringnya saya memerlukan waktu cukup lama untuk memutuskan tokoh seperti apa yang akan menjadi pemeran utama dan apa saja kejadian-kejadian yang relate dengan kepribadiannya saat cerita itu dimulai. Kalau harus menyebutkan pengaruh, maka yang paling mungkin adalah pendidikan saya membuat saya terus ingat bahwa karakter manusia terbentuk dari pengalaman-pengalaman, sehingga saat saya menulis, saya akan berusaha untuk benar-benar memanusiakan karakter-karakter yang ada dalam cerita tersebut.

WRITING HACK Ada cukup banyak plot twis di Persona yang membuat saya berdecak kaget dan kagum dalam waktu yang bersamaan. Mari sedikit berbagi rahasia kalau kamu berkenan. Bagaimana kamu memperlakukan bagian plot twist ini sejak berbentuk ide hingga ditempatkan dalam alur? I’m so glad to hear that.

JAWABAN

Percaya tidak percaya, seperti yang sudah saya bilang. Saya tipe penulis yang tidak terlalu peduli sama plot (makanya akhirnya saya bikin kerjaan editor tambah banyak). Persona dulu sempat saya publikasikan bab-bab awalnya di wattpad, lalu saya berhenti menulis berbulan-bulan. Saat saya  kembali semangat menulis, saya menghapus yang ada di wattpad.

Sayangnya, belum sempat saya melanjutkan, laptop saya rusak dan data tulisan saya tidak terselamatkan. Saat itu saya sama sekali tidak berpikir bahwa pada akhirnya Persona berakhir dengan begitu banyak plot twists. Jujur, semua plot twists yang ada di sana tidak pernah direncanakan. Seringnya saya menemukan ide justru saat sedang menulis makanya saya penulis yang malas membuat outline. Begitu pula yang terjadi di Persona.

Nah, karena saya sama sekali tidak merencanakan plot twist, maka saya tidak punya perlakuan khusus apa-apa saat memasukkannya ke dalam alur cerita. Terjadi begitu saja, tahu-tahu sudah begitu. Saya sendiri agak kaget karena Persona menjadi cerita yang seperti itu.


WHO IS IN YOUR SIDE Selain membaca buku, saya juga senang menulis. Saya punya banyak teman menulis. Apakah dalam proses menulismu, hal itu juga terjadi—kecuali editor, ya. Boleh diceritakan siapa saja orang yang memberikan dukungan paling besar dalam penulisan Persona? Apa yang ingin kamu katakan pada orang tersebut seandainya membaca artikel ini?


JAWABAN

Saya punya banyak orang yang berperan besar dalam penulisan Persona, sahabat-sahabat saya yang non penulis sampai penulis. Karena saat menulis dan merevisi Persona saya sedang berada dalam kondisi yang kurang baik, maka dengan kehadiran mereka saya merasa didukung sepenuhnya.

Selain mereka, satu nama di halaman persembahan Persona juga membantu saya untuk menyelesaikan naskah ini, dengan dukungan langsung dan tidak langsungnya.

NEXT PROJECT Sebagai pengagum karya-karyamu, salah satu pertanyaan yang setiap kali muncul di kepala saya ketika mengingat nama kamu adalah ‘kapan karyamu kembali diterbitkan?’ Mari bicara soal proyek menulis kamu, apa yang sedang kamu lakukan dan kapan kira-kira kamu akan menelurkan kembali karya?

JAWABAN

TIDAK TAHU. Hahaha, itu jawaban terjujur saya saat ini. Ya, saya sedang menulis. Ada dua naskah yang sedang berusaha saya rampungkan, tapi jujur saya tidak tahu kapan naskah-naskah itu akan selesai (dan kapan saya punya waktu untuk menulis di sela-sela kesibukan ini) dan tentunya saya juga belum tahu kapan bisa menerbitkan novel lagi. Saya pun sangat menantikan hal itu.

========================

Dengar-dengar, Is baru saja merampungkan novelnya beberapa minggu yang lalu. Semoga segera mendapat kabar baik. Saya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap karya-karya Fakhrisina.

Terima kasih sudah berkenan berbagi pengalaman bersama kami, Is.

Semoga sukses terus.

Post a Comment

0 Comments