#10DaysKF-2 | Histeria


Tadinya saya ingin curhat lagi lewat cerpen, idenya sudah muncul, beberapa paragraf sudah saya tulis tapi jari-jari tangan saya tidak mau menekan tuts papan ketik laptop. Alhasil, saya simpan saja ide itu, barangkali suatu hari nanti akan menjadi sebuah cerpen yang lebih matang dari ini. Tapi saya sedang malas menulis curhatan secara terang-terangan, jadi anggap saja ini cerpen tentang penulis yang sedang kebingungan bagaimana mengembangkan ide tulisannya. Oleh karena itu, dia menulis ini.

Tema #10DaysKF hari kedua adalah tentang tiga hal yang kemungkinan besar membuat saya histeris. Beberapa hari yang lalu sebelum event ini dimulai, saya sudah membaca sepuluh tema tantangan menulis yang diunggah Momon Kampus Fiksi di twitter. Dari sepuluh butir tema tersebut, tema nomor dua adalah salah satu yang membuat saya berpikir sedikit panjang.

Saya sempat mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika masih duduk di bangku SMA—sekarang baru lulus, sih, haha—tentang bagaimana beberapa teman kelas menilai saya. Saya ingin terkikik ketika itu tapi image yang terlanjur melekat pada wajah saya tak bisa dirusak begitu saja. Mereka menyimpan nama saya di urutan ketiga siswa lelaki dengan ekspresi paling lempeng di kelas. Saya tidak paham apa kriterianya tapi okelah, posisi tiga besar selalu terdengar membanggakan, sekalipun untuk titel yang aneh macam itu.

Hari ini, saya berpikir ternyata penilaian itu tidak jauh berbeda dari yang sebenar-benarnya terjadi. Saya memang orang yang lempeng, tak pernah haha-hihi dengan sembarangan orang kecuali mereka yang secara pertemanan sudah dekat—atau saya harus melakukannya karena terpaksa; perkenalan pertama, memberikan kesan yang baik atau terlanjut nyaman dengan seseorang.

Openingnya panjang sekali.

Jadi, ketika berpikir sekiranya apa saja hal yang kemungkinan bisa membuat saya histeris, saya sedikit... clueless. Bukan sedikit, sih, tapi memori saya sebenarnya tidak memberikan jawaban apa-apa. Saya sering merasa frustrasi jika sudah begini, dan ingin berteriak-teriak KENAPA INI BISA TERJADI PADA SAYA?! Oleh karena itu saya buka aplikasi KBBI luring di ponsel untuk mencari pengertian dari histeris, barangkali di sana ada bentuk lain dari histeris yang pernah saya alami.

Ketika dicek, arti histeris adalah ‘bersifat histeria’. Sadar pengertian itu tidak memberikan pencerahan apa-apa, saya kembali membuka KBBI dan menemukan bahwa histeria adalah noun yang biasanya terdapat dalam dunia psikologi bermakna; gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali seperti berteriak-teriak, menangis, tertawa, mati rasa, lumpuh, dan berjalan dalam keadaan sedang tidur.

Sekilas dicermati, pengertian ini sedikit menakutkan, ya. Saya sering cemas sendiri jika sedang membaca artikel-artikel yang berbau kesehatan jiwa—menemukan kata psikolog salah satunya. Sebagai seorang penulis amatiran dengan kepala penuh imajinasi tak bertepi, saya sering khawatir kalau-kalau jiwa saya sedang tidak sehat. Rasanya ingin menangis sambil tertawa. HAHAHA

Nah, sekarang pengertian histeris yang sesungguhnya sudah saya ketahui.

Namun yang muncul di kepala saya ketika mencermati kembali pengertian tersebut adalah orang-orang dengan gangguan jiwa semacam paranoid, skizofrenia, dan sejenisnya. Duh, maafkan isi kepala saya, tapi persepsi itu malah membuat saya semakin yakin bahwa saya belum pernah histeris—atau benar-benar histeris.

TAPI MASA SIH?

YA TUHAN, SAYA MERASA GAGAL MENJADI MANUSIA YANG BERPERASAAN KETIKA MENYADARI HAL TERSEBUT. KENAPA INI TERJADI PADA SAYA, YA TUHAN! KENAPA!

Pyuh!


Post a Comment

0 Comments