#10DaysKF-1 | Perempuan


Sesungguhnya saya paling tidak suka berada dalam posisi yang tidak nyaman seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah satu-satunya jalan bagi saya untuk bisa pergi tanpa perlu menoleh lagi ke belakang. Sebab semuanya sudah usai.

Pria berkumis yang kulitnya terlalu putih itu masih menatap saya dengan lekat. Manik matanya yang kelabu seperti sedang mengawasi apa saja yang sedang saya pikirkan; mulai dari tempat macam apa ini, siapa sebenarnya dia dan kenapa prosesi ini harus dilakukan. Dia sempat menjelaskan di awal sih perihal tempat yang akan saya tuju dan bagaimana jawaban-jawaban yang saya berikan akan membuat nasib saya kelak seperti apa, sampai pada pertanyaan terakhir yang demi Tuhan membuat kening saya mengernyit.

“Itu pertanyaan yang mudah, Anak Muda!” Nada bicaranya biasa saja, tapi saya melihat ada penekanan di sana.

Mata saya refleks berputar mencari penanda waktu, tapi yang ada hanya jam pasir di lemari yang menjadi dinding-dinding ruangan ini, kecuali dinding tempat lubang pintu yang menganga itu ditutup dua bilah daun pintu bergagang kilau emas putih.

“Waktumu hampir habis!” deliknya pada jam pasir yang sudah lebih dari separuhnya berjatuhan dan menumpuk di bagian bawah. “Atau Anda ingin kehidupan Anda di tempat itu sama seperti kehidupan Anda di tempat sebelumnya?”

Saya berusaha sekuat tenaga mencerna tempat macam apa yang dia sebut sebagai tempat-itu tersebut, tapi saya terlampau gugup ketika pria itu mulai menulis-nulis sesuatu semacam surat rekomendasi entah untuk siapa, atasannya barangkali. “Ma-af, pertanyaannya apa tadi?”

“Tipe kekasih,” jawabnya tanpa berpaling, “tipe kekasih yang Anda dambakan.”

Saya kembali terpekur. Pertanyaan itu sudah lama saya lupakan, lebih tepatnya tak pernah lagi saya pikirkan. Saya percaya pada ketentuan Tuhan bahwa jodoh itu sudah diatur oleh-Nya, tak perlu semacam tipe atau karakter tertentu yang didambakan. Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang memiliki wewenang paling tinggi.

“Tak ada salahnya mendambakan, Anak Muda. Hidup jadi lebih berenjana ketika kita punya apa yang kita inginkan.” Kali ini dia menatap saya dengan pandangan mengasihani. Apa aku bilang, pria itu pasti memiliki kemampuan membaca pikiran dan cukup tahu alasan apa yang membuat saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. “Atau kalau Anda betah hidup sendirian, tak ada salahnya.”

“Tidak, tidak, tunggu!” Saya bekap mulut saya sendiri ketika menyadari saya mengucapkan ujaran itu dengan terlalu menggebu. Mana ada orang yang betah hidup sendirian, saya sudah kenyang dengan kondisi seperti itu sebelumnya. Namun aduhai, saya tidak kunjung punya jawaban untuk pertanyaan itu. Barangkali saya juga masih terkejut sampai-sampai tidak bisa memikirkan jawabannya. Perjalanan saya dari tempat sebelumnya sampai duduk di ruangan ini adalah perjalanan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, bahkan saya sampai merasa sekarat.

“Tak ada waktu lagi. Masih banyak orang yang mengantre di belakang pintu yang baru Anda masuki untuk duduk di sini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.”

Saya menoleh ke arah pintu, tentu tak bisa saya lihat orang-orang yang katanya sedang mengantre sebab pintu itu tertutup. Akan tetapi saya mencoba untuk percaya begitu saja, pria ini saya rasa bukan pria sembarangan. Ketika kepala saya kembali berbalik padanya, mata saya menyisir deretan buku-buku tebal berwarna mengilat di rak. Ada pertanyaan yang spontan muncul di kepala saya tentang buku-buku apa itu, kenapa warnanya mengilat dan apakah pria ini sudah membaca semuanya sementara jumlahnya saya tafsir ratusan.

Siapa sebenarnya pria ini? Saya ingat pernah mempertanyakan serupa ketika disuruh masuk dan duduk di ruangan ini, tapi lekas saya tiba-tiba tidak ingat apakah kami sempat memperkenalkan diri masing-masing.

“Jangan memaksakan diri untuk mengingat, Anak Muda, manusia-manusia yang singgah di sini tak pernah diizinkan untuk melakukannya lebih dari sejumlah butir pasir yang jatuh setiap mereka mengedipkan mata.”

Saya mengernyitkan dahi, pria itu berhasil menelanjangi isi kepala saya. Mata saya kemudian bertatapan dengan matanya yang berwarna kelabu, pertanyaan sedang apa saya di sini muncul begitu saja. Dia berdeham, menuliskan sesuatu di atas berkas-berkas tebalnya lama.

“Jadi,” ujarnya dengan penuh penekanan, “bagaimana tipe kekasih idaman Anda? Jawab dalam lima kedipan, jika tidak maka di tempat yang akan Anda tinggali nanti Anda akan sendirian.”

Saya tak paham kenapa pria itu mempertanyakan hal tersebut tapi tak urung juga rasa kesal muncul di dalam batin saya. Saya harus menjawab apa untuk pertanyaan tipe kekasih idaman ini?

Satu kedipan mata! Satu kesempatan berlalu sia-sia. Dua kedipan mata! Saya ingin merentangkan kelopak mata saya dengan ujung-ujung jari tapi lengan saya tidak bisa diperintah, malah mengepal-ngepal ketakutan. Tiga kedipan mata! Saya lirik jam pasir di dalam lemari dan jumlah pasirnya semakin sedikit. Empat kedipan mata! Sesosok perempuan muncul di dalam benak saya tapi hanya sekejap. Ruangan ini terang, ruangan ini terlalu terang untuk menyalakan ingatan saya pada apa-apa yang sudah saya tinggalkan di belakang. Saya butuh gelap untuk melihatnya, atau remang juga tidak apa-apa.

Kelopak mata saya sudah tak tahan untuk berkedip. Sebelum bibir mata saya benar-benar rapat, saya melihat perempuan itu! Perempuan itu bersemu merah pipinya, menatap saya sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa saya dengar dengan jelas. Perempuan itu hanya bergeming di dalam imaji yang muncul, tapi membuat saya merasa nyaman dan tenang seolah hidup dengannya tak akan lekang oleh perubahan dan perpisahan macam apapun. Perempuan itu elok sewajarnya, indah seperlunya dan berkembang pada tempatnya. Saya memandangnya dalam masa yang teramat singkat tapi jatuh cinta dengan cepat, tak perlu alasan selain karena hati kami sama-sama digerakkan oleh sang pencipta.

Sebelum mata saya melindap sepenuhnya, berbagai informasi mengalir begitu saja ke dalam otak saya dan menimbulkan lonjakkan ketika mata saya kembali terbuka. Namanya, senyumnya, tangisnya, sentuhannya, hal-hal semacam itu menjadi semacam pecahan yang berserak di dalam kepala saya. Arh, saya melupakan sesuatu, saya belum menjelaskan tipe kekasih dambaan saya pada pria itu. Barangkali perempuan yang muncul di kepala saya itulah jawabannya.

“Cukup.” Dia menyudahi sesi wawancara aneh ini sebab jam pasir di atas lemari sudah tak lagi bergerak. “Silakan keluar lewat pintu yang sama ketika Anda masuk!”

“Sebentar, tapi saya belum sempat menjelaskan....”

“Masih banyak orang yang....”

“Saya tidak ingin hidup sendirian, Tuan, saya ingin kekasih!” bujuk saya.

“Apa yang Anda maksud dengan kekasih?”

Ke-kasih? Saya tertegun. Apa artinya kekasih? Saya menengadahkan kepala dan mencari jawaban dari bibir pria itu tapi dia bergeming.

“Ambillah surat ini, seseorang akan menagihnya sebelum Anda bisa pergi ke tempat yang akan Anda tuju selanjutnya.”

“Tapi,” saya ingin mengelak, ada yang belum usai di antara saya dan pria itu tapi saya tidak bisa mengingatnya apa.

“Silakan!”

Karena tak mendapati ingatan apapun, akhirnya saya beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar dengan linglung. Saya lihat pintu itu gagangnya berwarna putih mengilat dan terasa dingin ketika saya pegang. Ketika pintu itu berhasil saya kuak, saya tersedot begitu saja dan tiba-tiba meringkuk di sebuah tempat tanpa bisa membuka mata dengan leluasa.

Di tempat itu, tubuh saya mengambang.

Rasa hangat menjalar. Ada degup jantung orang lain yang saya dengar. Ada desir darah orang lain yang saya dengar. Ada percakapan-percakapan orang lain yang saya dengar. Saya ingin menyimak kata-kata yang saya rasa tak asing itu. Saya ingin tetap terjaga sebab saya merasa sedang diawasi, diintip, diperhatikan atau entah apa namanya. Saya hanya ingin menyadari saya sedang berada di tempat macam apa dan siapa orang-orang yang berkeliaran di sekitar saya, tapi kantuk menyerang saya lebih kuat dari apapun. Sebelum tertidur di tempat itu, saya merasa seseorang menekan-nekan saya dengan lembut.

Sebuah tepukan. Sebuah belaian. Sebuah kecupan.

“Bayinya perempuan!”

“Sudah terlihat?”

***


Post a Comment

0 Comments