January 25, 2017

,


Selamat tanggal 25 Januari, Bookmarker! Sumpah, rasanya baru kemarin saya dengar suara kembang api tahun baru, nggak terasa bulan Januari sudah mau selesai. Masih banyak buku yang tadinya saya jadikan reading list bulan Januari tapi tidak sempat saya selesaikan, entah itu karena mogok di tengah jalan dan lain sebagainya. Ini kebiasaan buruk sih, terutama ketika membaca buku-buku yang tidak sesuai dengan selera. Lihat buku lain yang lebih menarik, langsung sikat!

Beberapa artikel review pun masih tersendat, saya belum menemukan konsep yang benar-benar ingin saya terapkan. Jadi hari ini, saya muncul kembali dengan Reading Challenge yang akan saya ikuti tahun ini. Ada alasan khusus kenapa saya mengikuti RC yang digagas oleh Mbak Wenny Widy ini, salah satunya adalah karena persyaratannya nggak begitu susah diikuti.



Nama tantangan bacanya sendiri adalah Choose an Author Reading Challenge 2017, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:


1. Choose an Author Reading Challenge berlangsung selama satu tahun. Mulai dari 07 Januari 2017 sampai 07 Januari 2018.
Kenapa 07 Januari? Karena yang punya blog suka sama angka 7 (penting).
Pendaftaran peserta dibuka dari 07 Januari 2017 sampai 30 November 2017.

2. Peserta harus mempunyai media untuk mengepos review buku. Boleh blog, Goodreads, atau Facebook. Untuk yang menggunakan blog, wajib memasang banner CARC2017 di sidebar dan menautkannya ke link postingan ini. 
Untuk yang menggunakan Goodreads, wajib menambahkanku sebagai teman (klik di sini) dan membuat shelf khusus dengan nama CARC 2017. Untuk yang menggunakan Facebook, pastikan postingmu bisa dibaca publik.

3. Master Post bersifat opsional. Namun jika kamu membuatnya, jangan lupa pasang bannernya dan tautkan ke link postingan ini.

4. Mekanisme reading challenge adalah sebagai berikut:

- Pilih satu orang penulis yang sama sekali belum pernah kamu baca bukunya, tapi kamu tertarik untuk membaca karya-karyanya.

- Penulis boleh berasal dari negara mana pun.

- Kamu boleh membaca bukunya yang berupa fiksi, non fiksi, diterbitkan oleh penerbit mana pun, ditulis sendiri atau duet bersama penulis lain. Buku yang ditulis oleh penulis tersebut bersama dua, tiga, atau seribu penulis lain tidak dihitung.

- Baca buku-bukunya, dan hitung berapa buku penulis tersebut yang berhasil kamu baca hingga akhir tahun nanti.

Tentukan levelmu:

Parasetamol: membaca 1-3 buku

Ibuprofen: 4-6

Diklofenak: 7-9

Tramadol: 10-12 

Morfin: 13 atau lebih
(kenapa levelnya pakai nama obat? karena yang punya blog kuliah farmasi.)
(kenapa batas atasnya 13? biar horor aja.)

Siapa tahu ada yang mau nanya:
Kalau di tengah jalan ternyata penulisnya bukan my cup of tea, aku boleh ganti penulis nggak?
Boleh, tapi jumlah buku yang dihitung adalah buku milik penulis yang baru ya.
Aku sih nggak level kalau cuma satu penulis. Boleh ambil dua, tiga atau lima puluh sembilan penulis?
Boleh. Tapi banyak buku yang dihitung cuma dari penulis yang bukunya paling banyak kamu baca ya.

5. Peserta harus membuat review dari semua buku yang dibaca untuk CARC ini. Bisa di blog, Goodreads, atau note Facebook. Pastikan reviewmu disetting publik ya.

6. Wrap Up Post bersifat wajib, sebagai bukti bahwa kamu nggak bohong soal jumlah buku yang kamu baca. Aku lelah dibohongi, kawan, karena dibohongi itu melukai perasaan.
Peserta diharapkan untuk mengepos wrap up tanggal 30 Desember 2017-07 Januari 2018. Host akan dengan bahagia mengingatkan para peserta kok, tenang saja.

Di dalam wrap up ini, selain buku apa saja yang sudah kamu baca untuk reading challenge ini (jangan lupa sertakan link ke review buku tersebut), aku juga berharap peserta akan menuliskan kesan-kesan apa yang ia dapatkan setelah membaca karya penulis tersebut, apa saja ciri khas sang penulis, plus dan minusnya, dan hal-hal lain yang menurut peserta bisa disampaikan. Karena tujuan utamaku membuat project  ini adalah agar reviewer mengupas tuntas seorang penulis, biar orang-orang mulai mengenal penulis-penulis tersebut, dan penulis yang dibahas bisa makin dikenal publik.

7. Setiap post yang peserta buat untuk CARC 2017 ini (baik itu master post, review, ataupun wrap up) harap dishare di twitter dengan hashtag #CARC2017 dan mention @widywenny.

8. Buku yang dibaca boleh digabung dengan RC lain.
Dan ini dia cara pendaftarannya!

Cukup tulis komentar di post ini dengan format:

Nama:

Akun twitter:

Email:

Alamat blog

(/facebook/goodreads, sesuai yang kamu gunakan untuk RC ini):

Penulis yang dipilih:

Level yang dipilih:
=============================== 
Tadinya masih mikir-mikir mau baca novel siapa untuk tantangan membaca ini, sempat terlintas nama Paulo Coelho, tapi tulisannya lumayan berat untuk dijadikan target. Akhirnya saya memilih untuk membaca karya-karyanya Indah Hanaco, karena secara genre masih bisa saya nikmati.


January 19, 2017

,

Tadinya saya ingin curhat lagi lewat cerpen, idenya sudah muncul, beberapa paragraf sudah saya tulis tapi jari-jari tangan saya tidak mau menekan tuts papan ketik laptop. Alhasil, saya simpan saja ide itu, barangkali suatu hari nanti akan menjadi sebuah cerpen yang lebih matang dari ini. Tapi saya sedang malas menulis curhatan secara terang-terangan, jadi anggap saja ini cerpen tentang penulis yang sedang kebingungan bagaimana mengembangkan ide tulisannya. Oleh karena itu, dia menulis ini.

Tema #10DaysKF hari kedua adalah tentang tiga hal yang kemungkinan besar membuat saya histeris. Beberapa hari yang lalu sebelum event ini dimulai, saya sudah membaca sepuluh tema tantangan menulis yang diunggah Momon Kampus Fiksi di twitter. Dari sepuluh butir tema tersebut, tema nomor dua adalah salah satu yang membuat saya berpikir sedikit panjang.

Saya sempat mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika masih duduk di bangku SMA—sekarang baru lulus, sih, haha—tentang bagaimana beberapa teman kelas menilai saya. Saya ingin terkikik ketika itu tapi image yang terlanjur melekat pada wajah saya tak bisa dirusak begitu saja. Mereka menyimpan nama saya di urutan ketiga siswa lelaki dengan ekspresi paling lempeng di kelas. Saya tidak paham apa kriterianya tapi okelah, posisi tiga besar selalu terdengar membanggakan, sekalipun untuk titel yang aneh macam itu.

Hari ini, saya berpikir ternyata penilaian itu tidak jauh berbeda dari yang sebenar-benarnya terjadi. Saya memang orang yang lempeng, tak pernah haha-hihi dengan sembarangan orang kecuali mereka yang secara pertemanan sudah dekat—atau saya harus melakukannya karena terpaksa; perkenalan pertama, memberikan kesan yang baik atau terlanjut nyaman dengan seseorang.

Openingnya panjang sekali.

Jadi, ketika berpikir sekiranya apa saja hal yang kemungkinan bisa membuat saya histeris, saya sedikit... clueless. Bukan sedikit, sih, tapi memori saya sebenarnya tidak memberikan jawaban apa-apa. Saya sering merasa frustrasi jika sudah begini, dan ingin berteriak-teriak KENAPA INI BISA TERJADI PADA SAYA?! Oleh karena itu saya buka aplikasi KBBI luring di ponsel untuk mencari pengertian dari histeris, barangkali di sana ada bentuk lain dari histeris yang pernah saya alami.

Ketika dicek, arti histeris adalah ‘bersifat histeria’. Sadar pengertian itu tidak memberikan pencerahan apa-apa, saya kembali membuka KBBI dan menemukan bahwa histeria adalah noun yang biasanya terdapat dalam dunia psikologi bermakna; gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali seperti berteriak-teriak, menangis, tertawa, mati rasa, lumpuh, dan berjalan dalam keadaan sedang tidur.

Sekilas dicermati, pengertian ini sedikit menakutkan, ya. Saya sering cemas sendiri jika sedang membaca artikel-artikel yang berbau kesehatan jiwa—menemukan kata psikolog salah satunya. Sebagai seorang penulis amatiran dengan kepala penuh imajinasi tak bertepi, saya sering khawatir kalau-kalau jiwa saya sedang tidak sehat. Rasanya ingin menangis sambil tertawa. HAHAHA

Nah, sekarang pengertian histeris yang sesungguhnya sudah saya ketahui.

Namun yang muncul di kepala saya ketika mencermati kembali pengertian tersebut adalah orang-orang dengan gangguan jiwa semacam paranoid, skizofrenia, dan sejenisnya. Duh, maafkan isi kepala saya, tapi persepsi itu malah membuat saya semakin yakin bahwa saya belum pernah histeris—atau benar-benar histeris.

TAPI MASA SIH?

YA TUHAN, SAYA MERASA GAGAL MENJADI MANUSIA YANG BERPERASAAN KETIKA MENYADARI HAL TERSEBUT. KENAPA INI TERJADI PADA SAYA, YA TUHAN! KENAPA!

Pyuh!


January 18, 2017

,

Sesungguhnya saya paling tidak suka berada dalam posisi yang tidak nyaman seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah satu-satunya jalan bagi saya untuk bisa pergi tanpa perlu menoleh lagi ke belakang. Sebab semuanya sudah usai.

Pria berkumis yang kulitnya terlalu putih itu masih menatap saya dengan lekat. Manik matanya yang kelabu seperti sedang mengawasi apa saja yang sedang saya pikirkan; mulai dari tempat macam apa ini, siapa sebenarnya dia dan kenapa prosesi ini harus dilakukan. Dia sempat menjelaskan di awal sih perihal tempat yang akan saya tuju dan bagaimana jawaban-jawaban yang saya berikan akan membuat nasib saya kelak seperti apa, sampai pada pertanyaan terakhir yang demi Tuhan membuat kening saya mengernyit.

“Itu pertanyaan yang mudah, Anak Muda!” Nada bicaranya biasa saja, tapi saya melihat ada penekanan di sana.

Mata saya refleks berputar mencari penanda waktu, tapi yang ada hanya jam pasir di lemari yang menjadi dinding-dinding ruangan ini, kecuali dinding tempat lubang pintu yang menganga itu ditutup dua bilah daun pintu bergagang kilau emas putih.

“Waktumu hampir habis!” deliknya pada jam pasir yang sudah lebih dari separuhnya berjatuhan dan menumpuk di bagian bawah. “Atau Anda ingin kehidupan Anda di tempat itu sama seperti kehidupan Anda di tempat sebelumnya?”

Saya berusaha sekuat tenaga mencerna tempat macam apa yang dia sebut sebagai tempat-itu tersebut, tapi saya terlampau gugup ketika pria itu mulai menulis-nulis sesuatu semacam surat rekomendasi entah untuk siapa, atasannya barangkali. “Ma-af, pertanyaannya apa tadi?”

“Tipe kekasih,” jawabnya tanpa berpaling, “tipe kekasih yang Anda dambakan.”

Saya kembali terpekur. Pertanyaan itu sudah lama saya lupakan, lebih tepatnya tak pernah lagi saya pikirkan. Saya percaya pada ketentuan Tuhan bahwa jodoh itu sudah diatur oleh-Nya, tak perlu semacam tipe atau karakter tertentu yang didambakan. Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang memiliki wewenang paling tinggi.

“Tak ada salahnya mendambakan, Anak Muda. Hidup jadi lebih berenjana ketika kita punya apa yang kita inginkan.” Kali ini dia menatap saya dengan pandangan mengasihani. Apa aku bilang, pria itu pasti memiliki kemampuan membaca pikiran dan cukup tahu alasan apa yang membuat saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. “Atau kalau Anda betah hidup sendirian, tak ada salahnya.”

“Tidak, tidak, tunggu!” Saya bekap mulut saya sendiri ketika menyadari saya mengucapkan ujaran itu dengan terlalu menggebu. Mana ada orang yang betah hidup sendirian, saya sudah kenyang dengan kondisi seperti itu sebelumnya. Namun aduhai, saya tidak kunjung punya jawaban untuk pertanyaan itu. Barangkali saya juga masih terkejut sampai-sampai tidak bisa memikirkan jawabannya. Perjalanan saya dari tempat sebelumnya sampai duduk di ruangan ini adalah perjalanan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, bahkan saya sampai merasa sekarat.

“Tak ada waktu lagi. Masih banyak orang yang mengantre di belakang pintu yang baru Anda masuki untuk duduk di sini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.”

Saya menoleh ke arah pintu, tentu tak bisa saya lihat orang-orang yang katanya sedang mengantre sebab pintu itu tertutup. Akan tetapi saya mencoba untuk percaya begitu saja, pria ini saya rasa bukan pria sembarangan. Ketika kepala saya kembali berbalik padanya, mata saya menyisir deretan buku-buku tebal berwarna mengilat di rak. Ada pertanyaan yang spontan muncul di kepala saya tentang buku-buku apa itu, kenapa warnanya mengilat dan apakah pria ini sudah membaca semuanya sementara jumlahnya saya tafsir ratusan.

Siapa sebenarnya pria ini? Saya ingat pernah mempertanyakan serupa ketika disuruh masuk dan duduk di ruangan ini, tapi lekas saya tiba-tiba tidak ingat apakah kami sempat memperkenalkan diri masing-masing.

“Jangan memaksakan diri untuk mengingat, Anak Muda, manusia-manusia yang singgah di sini tak pernah diizinkan untuk melakukannya lebih dari sejumlah butir pasir yang jatuh setiap mereka mengedipkan mata.”

Saya mengernyitkan dahi, pria itu berhasil menelanjangi isi kepala saya. Mata saya kemudian bertatapan dengan matanya yang berwarna kelabu, pertanyaan sedang apa saya di sini muncul begitu saja. Dia berdeham, menuliskan sesuatu di atas berkas-berkas tebalnya lama.

“Jadi,” ujarnya dengan penuh penekanan, “bagaimana tipe kekasih idaman Anda? Jawab dalam lima kedipan, jika tidak maka di tempat yang akan Anda tinggali nanti Anda akan sendirian.”

Saya tak paham kenapa pria itu mempertanyakan hal tersebut tapi tak urung juga rasa kesal muncul di dalam batin saya. Saya harus menjawab apa untuk pertanyaan tipe kekasih idaman ini?

Satu kedipan mata! Satu kesempatan berlalu sia-sia. Dua kedipan mata! Saya ingin merentangkan kelopak mata saya dengan ujung-ujung jari tapi lengan saya tidak bisa diperintah, malah mengepal-ngepal ketakutan. Tiga kedipan mata! Saya lirik jam pasir di dalam lemari dan jumlah pasirnya semakin sedikit. Empat kedipan mata! Sesosok perempuan muncul di dalam benak saya tapi hanya sekejap. Ruangan ini terang, ruangan ini terlalu terang untuk menyalakan ingatan saya pada apa-apa yang sudah saya tinggalkan di belakang. Saya butuh gelap untuk melihatnya, atau remang juga tidak apa-apa.

Kelopak mata saya sudah tak tahan untuk berkedip. Sebelum bibir mata saya benar-benar rapat, saya melihat perempuan itu! Perempuan itu bersemu merah pipinya, menatap saya sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa saya dengar dengan jelas. Perempuan itu hanya bergeming di dalam imaji yang muncul, tapi membuat saya merasa nyaman dan tenang seolah hidup dengannya tak akan lekang oleh perubahan dan perpisahan macam apapun. Perempuan itu elok sewajarnya, indah seperlunya dan berkembang pada tempatnya. Saya memandangnya dalam masa yang teramat singkat tapi jatuh cinta dengan cepat, tak perlu alasan selain karena hati kami sama-sama digerakkan oleh sang pencipta.

Sebelum mata saya melindap sepenuhnya, berbagai informasi mengalir begitu saja ke dalam otak saya dan menimbulkan lonjakkan ketika mata saya kembali terbuka. Namanya, senyumnya, tangisnya, sentuhannya, hal-hal semacam itu menjadi semacam pecahan yang berserak di dalam kepala saya. Arh, saya melupakan sesuatu, saya belum menjelaskan tipe kekasih dambaan saya pada pria itu. Barangkali perempuan yang muncul di kepala saya itulah jawabannya.

“Cukup.” Dia menyudahi sesi wawancara aneh ini sebab jam pasir di atas lemari sudah tak lagi bergerak. “Silakan keluar lewat pintu yang sama ketika Anda masuk!”

“Sebentar, tapi saya belum sempat menjelaskan....”

“Masih banyak orang yang....”

“Saya tidak ingin hidup sendirian, Tuan, saya ingin kekasih!” bujuk saya.

“Apa yang Anda maksud dengan kekasih?”

Ke-kasih? Saya tertegun. Apa artinya kekasih? Saya menengadahkan kepala dan mencari jawaban dari bibir pria itu tapi dia bergeming.

“Ambillah surat ini, seseorang akan menagihnya sebelum Anda bisa pergi ke tempat yang akan Anda tuju selanjutnya.”

“Tapi,” saya ingin mengelak, ada yang belum usai di antara saya dan pria itu tapi saya tidak bisa mengingatnya apa.

“Silakan!”

Karena tak mendapati ingatan apapun, akhirnya saya beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar dengan linglung. Saya lihat pintu itu gagangnya berwarna putih mengilat dan terasa dingin ketika saya pegang. Ketika pintu itu berhasil saya kuak, saya tersedot begitu saja dan tiba-tiba meringkuk di sebuah tempat tanpa bisa membuka mata dengan leluasa.

Di tempat itu, tubuh saya mengambang.

Rasa hangat menjalar. Ada degup jantung orang lain yang saya dengar. Ada desir darah orang lain yang saya dengar. Ada percakapan-percakapan orang lain yang saya dengar. Saya ingin menyimak kata-kata yang saya rasa tak asing itu. Saya ingin tetap terjaga sebab saya merasa sedang diawasi, diintip, diperhatikan atau entah apa namanya. Saya hanya ingin menyadari saya sedang berada di tempat macam apa dan siapa orang-orang yang berkeliaran di sekitar saya, tapi kantuk menyerang saya lebih kuat dari apapun. Sebelum tertidur di tempat itu, saya merasa seseorang menekan-nekan saya dengan lembut.

Sebuah tepukan. Sebuah belaian. Sebuah kecupan.

“Bayinya perempuan!”

“Sudah terlihat?”

***


January 07, 2017

,

Morning, Mate! Selamat berakhir pekan pertama di tahun 2017. Blog saya masih sepi aja nih, padahal sudah masuk hari ketujuh bulan Januari. Bacaan pertama saya, The Girl on The Train masih stagnan di halaman 57 dan susah banget rasanya untuk kembali masuk ke ritme rajin-membaca setelah dua bulan terakhir kerjaan saya tidak mengerjakan apa-apa. Hahaha. Hari ini saya datang dengan Reading Challenge kedua yang akan saya ikuti tahun ini, setelah Goodreads Reading Challenge, dan juga merupakan even pertama yang saya ikuti setelah bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia. Yeay!


Reading Challenge ini berjudul 'Read and Review Challenge', semacam pengganti dari event posting bareng yang tahun ini ditiadakan. Ngomong-ngomong soal even BBI, lumayan banyak even yang tidak lagi dilanjutkan tahun ini, lho. Sedikit kecewa sih, tapi membaca dan menulis tidak harus mengenal even, kan, kita bisa melakukannya kapan saja.

Hal yang membuat saya tertarik dengan reading challenge ini adalah sistemnya yang berbeda, menggunakan akumulasi poin dari setiap challenge yang diikuti. Pemenangnya sendiri adalah dia yang memiliki poin paling tinggi. Nah, untuk lebih jelasnya, silakan disimak peraturan BBI Reading and Review Challenge 2017 berikut ini.

  1. Peserta harus anggota BBI aktif
  2. Memasang button Read and Review Challenge pada blog dan ditautkan kembali pada post ini.
  3. Master post opsional
  4. Durasi, tanggal membaca, dan dan time stamp mereview pada blog adalah mulai tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017
  5. Link/tautan yang dimasukkan ke dalam linky harus berupa blog post, bukan review dari Goodreads, dan bukan berupa quick review/quick post
  6. Buku yang direview adalah buku-buku berformat fisik maupun digital yang sudah diterbitkan, kecuali membaca dari situs (Wattpad, Fanfiction, dll). Ukuran dan tebal buku tidak dibatasi
  7. Satu buku/review hanya boleh dimasukkan ke dalam satu linky, tidak boleh double entry
  8. Untuk tema-tema 10 point, point baru akan dihitung jika semua entry yang disyaratkan sudah dimasukkan
  9. Post untuk memasukkan link/tautan bisa masuk ke post yang ini:

Master Post Link Read and Review Challenge ]

Dalam Challenge ini, ada 25 tema single point dan 4 tema ten point. Untuk setiap review yang masuk ke dalam linky sesuai dengan temanya, maka poin akan ditambahkan. Apa aja sih temanya? Jangan khawatir, kalian sudah cukup familiar kok dengan tema dan genre yang kami cantumkan.

Kategori Single Point

  1. Classic Literature, adalah buku-buku sastra klasik seperti buku-buku Jane Austen, Charles Dickens, etc.
  2. Children Literature, adalah buku-buku bertema dan cocok untuk anak-anak kecil hingga usia middle grade (SMP), atau usia hingga 15 tahun. Contoh, Rick Riordan 
  3. Young Adult Literature, adalah buku-buku bertema remaja (Young Adult) dan New Adult (NA), berusia SMA hingga kuliahan, atau berusia 16-22 tahun. Contoh, Sarah Dessen, John Green, Jennifer L. Armentrout, dll
  4. Asian Literature, buku-buku yang berlatar belakang Asia, bertema kehidupan Asia, atau penulisnya berasal dari Asia. Contoh, Kevin Kwan, Akiyoshi Rikako
  5. Indonesian Literature Before 80’s, buku-buku asli dari Indonesia yang terbit sebelum tahun 1980
  6. Self-Improvement & Self-Help, merupakan buku-buku pengembangan diri. Contoh, buku-buku John C. Maxwell, chicken soup, dll
  7. Poetry, buku-buku puisi, baik dari Indonesia maupun luar Indonesia. Contoh, Tidak Ada New York Hari Ini, atau sonnet Shakespeare
  8. Biografi Pahlawan Indonesia, adalah buku-buku yang menceritakan kisah hidup pahlawan Indonesia, seperti tentang Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, dsb 
  9. Award Winning Books, adalah buku-buku yang memenangkan sebuah penghargaan atau lebih, misalnya pemenang RITA Awards, Goodreads Choice Awards, dsb 
  10. Science-Fiction, buku-buku dengan genre utama science-fiction. Contoh, Star Trek, Ender’s Game, Across The Universe
  11. Dystopia, buku-buku dengan genre utama dystopia. Contoh, The Hunger Games, The Maze Runner 
  12. Adventure, buku-buku mengenai petualangan dan memiliki tema utama petualangan, contoh: buku-buku Enid Blyton, Robinson Crusoe, dll
  13. Historical Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fiksi historis. Bisa romance, non romance. Contoh: Ruta Sepetys, Julia Quinn, Lisa Kleypas (romance) 
  14. Fantasy Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fantasy. Contohnya, buku-buku Neil Gaiman
  15. Paranormal Romance, adalah buku-buku dengan genre dan elemen utama paranormal romance, tentang vampire/shifter/makhluk non-manusia. Contohnya: Ilona Andrews, Nalini Singh, Thea Harrison, dll
  16. Contemporary Romance, adalah buku-buku yang memiliki genre utama romance dan berlatar belakang kontemporer, dengan tokoh yang sudah berusia dewasa. Contoh, Cecilia Ahern, Sophie Kinsella, Jojo Moyes, Colleen Hoover, Elle Kennedy, Lauren Blakely, dll 
  17. Erotic Romance, buku-buku dengan genre utama romance dan memiliki unsur eroticism yang besar. Contohnya, E.L. James, Sylvia Day, C.D. Reiss
  18. Sport Fiction, buku-buku fiksi dengan tema olahraga, baik romance maupun non-romance. Contoh: Susan Elizabeth Phillip
  19. Thriller and Crime Fiction, adalah buku-buku yang memiliki genre utama thriller dan fiksi kejahatan. Contoh, Stephen King, J.D. Robb, David Baldacci, John Grisham, etc 
  20. Wedding Literature, buku-buku yang memiliki tema pernikahan (wedding) 
  21. Graphic Novels & Comic Books, adalah buku-buku komik, novel bergambar, dan novel berilustrasi.
  22. Debut Authors, adalah buku dari pengarang yang melakukan debut pada tahun 2017 (buku pertama), bisa fiksi bisa non fiksi
  23. Hobby Nonfiction, adalah buku-buku nonfiksi mengenai hobi, seperti crafting, travel, fotografi, motor dan mobil, dsb 
  24. Brick Books, adalah buku-buku yang memiliki ketebalan buku minimal 500 halaman dalam bentuk fisik (paperback/hardback) maupun digital (sesuai dengan edisi Kindle/ebook)
  25. Name In A Book, adalah buku-buku yang memiliki nama tokoh (nama depan/belakang) pada judulnya, dan bukan pada nama serinya

Kategori Ten Point

  1. Full Series, membaca dan mereview satu seri penuh selama tahun 2017, minimal memiliki 3 buku (trilogi) dalam satu seri dan semua review dimasukkan ke dalam linky
  2. Buku Pengarang Lima Benua, mereview buku-buku dari masing-masing satu pengarang dari setiap benua (Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia), sehingga dalam tema ini akan ada 5 link/tautan review. Buku yang dibaca boleh fiksi, bisa nonfiksi
  3. Lima Buku dari Penulis yang Sama, membaca dan mereview lima buku dari penulis yang sama, namun bukan bagian dari seri (harus stand-alone), bisa fiksi maupun nonfiksi
  4. Historical Non Fiction, merupakan buku-buku historis nonfiksi, bisa berupa ensiklopedi, buku sejarah, dll

Reading Challenge ini tampaknya tidak akan mudah, tapi sangat menantang. Saya tidak berharap banyak sebenarnya, apalagi sampai menginginkan menang, mengingat bacaan saya pada tahun sebelumnya tidak sebanyak kategori challenge yang tersebut di atas. Mampu membaca satu buku untuk setiap challenge saja rasanya sudah cukup.

But, lets see!

Semoga ada kejutan, 2017 baru saja dimulai!



January 04, 2017

,


Postingan ini ditulis sebagai bentuk apresiasi terhadap diri saya sendiri hahaha selama satu tahun ke belakang sekaligus catatan dan bahan evaluasi untuk resolusi di awal tahun depan. Sebenarnya saya sudah berniat menulis postingan ini dari akhir tahun lalu tapi tidak begitu yakin akan menulisnya dalam bentuk seperti apa sampai menemukan postingan Raafi dan Bibli yang berjudul 'Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku' yang terbit pada 31 Desember lalu. Artikel tersebut membuat saya berpikir untuk menuliskan apa saja dalam postingan ini sekaligus membuatnya dalam bentuk listical. Benar, postingan ini juga dibuat karena terinspirasi oleh artikel senior saya di BBI tersebut.

BBI? Yep, Blogger Buku Indonesia. Entah kenapa sejak awal tahun 2014 saya sangat tertarik dengan komunitas ini. Mungkin karena saya merasa menemukan orang-orang yang satu frekuensi; mereka yang memiliki kecintaan besar terhadap buku sampai mau mengorbankan banyak waktunya untuk membaca, menulis ulasan dan menyebarkan budaya membaca di dunia maya. Kabar baiknya, awal tahun ini pendaftaran kembali dibuka dan saya adalah salah satu anggota baru yang diterima. Oke, saya simpan catatan ini untuk 'Merangkum Setahun' di pergantian tahun 2017-2018.


Sekarang mari kita cek pencapaian-pencapaian apa saja yang menjadi catatan saya selama tahun 2016, ini dia.



Konsisten Menulis di Blog Buku

Saya sudah pernah membuat blog buku pada pertengahan tahun 2014 sebetulnya, ketika kepala saya menemukan bahwa satu-satunya pelarian yang paling membuat saya nyaman adalah buku. Saya cukup banyak membaca buku dan tidak puas hanya mencatatnya di Goodreads. Oleh karena itu, saya mulai membangun Blog Buku dan berencana ikut komunitas tertentu tapi ternyata, alasan paling klasik, Tuhan tidak menghendaki jadi blog buku tersebut tidak lagi dilanjutkan malah saya lupa alamatnya apa.

Hingga awal tahun 2016 ketika saya memutuskan untuk lebih banyak membaca buku dari tahun 2015 yang begitu kering, saya kembali merintis blog buku dengan berbagai aturan. Blog buku tersebut bernama Latest Bookmark, adalah rumah dari artikel yang sedang kalian baca. Meski ada beberapa bulan yang bolong karena kesibukan tertentu tapi saya merasa untuk tahun pertama, blog ini sudah diisi secara konsisten, tentu saja dalam penilaian yang subjektif. Jika dibandingkan dengan blog buku lain, wuihhh, masih kalah jauh. Ahaha. Mari saling berkirim doa agar tahun ini blog ini bisa lebih konsisten menerbitkan ulasan-ulasan dan artikel tentang buku yang berbobot.

---


Bergabung di Storial

Masuk ke pertengahan tahun, entah datang dari mana keinginan untuk menulis tumbuh cukup kuat sampai menjadi salah satu hal yang mengusik kepala saya ketika tertidur. Menulis, entah itu fiksi maupun nonfiksi, adalah hobi lain yang beberapa tahun ke belakang ini sedang coba saya jadikan rutinitas. Tahun ini, hobi tersebut akhirnya mendapat rumah yang lebih cakap dalam memberikan saya semangat untuk terus menulis. Rumah tersebut bernama Storial.co, sebuah platform tempat siapapun bisa menulis.

Sebelum bertemu dengan Storial, saya sudah menjajal beberapa paltform lain tapi tidak ada satu pun yang membuat saya nyaman. Di Storial, saya mendapat hal itu, juga orang-orang yang mau berdiskusi dan berbagi pengalaman. Storial, saya pikir, adalah salah satu batu loncatan.

---


Juara Iv Lomba Menulis

Ini semacam anugerah sebenarnya karena sudah lama saya tidak (ikut) menang dalam sebuah perlombaan menulis fiksi. Terakhir kali itu... hmmm, coba saya ingat-ingat... sekitar pertengahan tahun 2014 sepertinya. Ketika itu saya terpilih menjadi salah satu kontributor antologi buku anak bergenre horror yang diterbitkan oleh Dar! Mizan. Tahun 2016 lalu, hal itu kembali terulang. Alhamdulillah, saya menjadi juara IV lomba menulis yang diadakan oleh Storial.Co berjudul Fiction Writing Competition #Pustaka Digital.

Meski pencapaian ini terbilang 'kecil' untuk orang lain, tapi bagi saya ini semacam titik balik yang membuat mata saya lebih terbuka dalam melihat probabilitas impian saya akan tercapai. Meski tentu masih panjang jalan yang harus saya tempuh, bilang saja ini menjadi satu langkah lebih dekat.

---


Mendapat (cukup banyak) kiriman buku

Ini catatan yang apa banget sebenarnya tapi saya terhitung tidak pernah ikut dalam berbagai event menulis dan membaca di dunia maya pada tahun-tahun sebelum 2016, salah satu hadiah dari even-even tersebut mostly adalah kiriman buku. Banyak cerita lucu soal pencapaian ini sampai pada peristiwa kurir JNE yang sering kesasar tiap mau ke rumah.

Hmm, bisa dibilang ini adalah pencapaian yang ringan-ringan saja tapi menjadi sangat begitu berharga karena semakin banyak buku yang bisa saya nikmati di rumah.

---


Mendaftar ke komunitas Bbi

Dua hari sebelum 2016 tutup usia, saya membuat cuitan yang berisi pertanyaan kapan kiranya BBI open member. Tidak disangka, cuitan ini ternyata sampai pada Divisi Membership BBI dan ditindaklanjuti dengan respons yang terhitung cepat. Saya tambah kagum dengan komunitas ini dan langsung mendaftar via email dan isian formulir ketika mendapat informasi bahwa pendaftaran dibuka dan tada... keputusan akhirnya adalah logo BBI ikut menjadi identitas dari blog ini. Senangnya. Semoga dengan status sebagai anggota BBI, blog ini akan semakin terawat dan up to date.

Dari 365 hari dalam setahun, tentu saja tidak hanya pencapaian-pencapaian positif yang saya berhasil raih. Ada beberapa situasi buruk yang juga saya hadapi dan cukup memalukan jika saya masukkan ke dalam catatan yang bisa diakses oleh banyak orang seperti ini. Biarkan hal-hal tersebut menjadi catatan pribadi saya.

Nggak ada yang nanya juga sih, ya. Haha.

Lalu untuk tahun 2017 ini saya menggantungkan banyak harapan untuk menjadi yang lebih baik dalam berbagai hal, termasuk juga dalam mengelola buku ini. Yang tidak membuat saya sabar untuk 'terus hidup' di tahun 2017 adalah kejutan-kejutan yang Tuhan simpan di setiap kejadian. Selain hal-hal menakjubkan yang terjadi pada tahun 2016 kemarin, saya penasaran hal-hal menakjubkan seperti apa yang akan saya temui di tahun ini.

... am wishing the best.

... la hawla.


January 01, 2017

,

Pos ini seharusnya saya tulis tahun 2016 kemarin, tapi apa daya baru bisa muncul di sini pada tahun 2017.  Bicara soal tahun 2016 dan 2017, rasanya seperti ada jeda yang cukup panjang ya padahal baru juga lewat beberapa jam. Namun apalah arti pergantian tahun, sesungguhnya saya pun tidak merasa begitu gegap gempita dengan momen ini selain harus mengganti kalender dan ikut mendengar keriuhan tengah malam tadi. Bagi saya, pergantian tahun lebih pada pada titik temu dan usai untuk mengeset target hidup lantas melakakukan evaluasi, sama halnya seperti hari ulang tahun atau pergantian semester.


Kembali ke topik.

Selama kurun waktu 2016 ini saya membaca cukup banyak buku, tidak begitu banyak tapi terhitung banyak kalau dibandingkan dengan total buku yang saya baca selama dua tahun sebelumnya. Meski 2016 adalah tahun yang cukup sibuk dan berat, tapi ternyata membaca--setidaknya membaca novel--masih menjadi prioritas untuk menekan kadar stress di kepala. Curhat

Dan ini dia, My Year in Book yang saya kutip dari Goodreads.
Total ada 37 buku yang saya baca dan hampir seluruhnya merupakan novel. Ada beberapa buku nonfiksi juga sebenarnya, sebagian saya masukkan ke dalam reading progress Goodreads Reading Challenge, sebagian lagi saya simpan sebagai catatan pribadi. Ulasannya ada di blog ini, barangkali penasaran boleh dicari. Dari 37 buku tersebut terhitung 10.854 halaman yang saya babat habis. Jika dirata-ratakan, bisa dibilang saya membaca 29-30 halaman novel perhari. 
Dari 37 buku tersebut, Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez dengan ketebalan 76 halaman adalah buku tertipis yang saya baca. Rumah Kertas adalah salah satu buku yang saya dapatkan dari Komunitas Goodreads Indonesia karena ikut berpartisipasi dalam Tantangan Baca, sekaligus salah satu buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun 2016. Sementara itu, buku paling tebal yang saya baca adalah buku ke lima serial fantasi Harry Potter berjudul Harry Potter and The Order of Phoenix setebal 870 halaman. Harry Potter juga merupakan salah satu buku seri terfavorit yang dengan begitu bernafsu saya buru dan habiskan.
Salah satu kebiasaan buruk saya ketika membaca buku adalah nyaman di satu genre tertentu, romance, dan enggan mengambil risiko untuk membaca selain genre tersebut meski sekali-kali juga pernah. Sudah dua atau tiga bulan ini, saya banyak berkenalan dengan pembaca dan penulis lintas genre. Hal itu membuat mata terbuka tentang betapa banyak sekali jenis buku yang belum saya nikmati. Saya mencoba untuk menyentuh kemungkinan itu tahun ini.

Omong-omong soal novel favorit, saya punya beberapa novel kesayangan, lho. Adalah Metafora Padma yang saya dapatkan gratis karena mengikuti tantangan menulis yang diadakan oleh Bernard Batubara bersama sebuah platform menulis yang juga menjadi rumah ketiga saya; Storial.co. Beberapa novel young adult terbitan Gramedia seperti A Week Long Journey dan All You Need Is Love juga menjadi bacaan ringan yang menyenangkan.

Intinya, saya merasa meski 2016 bukan tahun yang mudah bagi saya tapi saya bersyukur bisa bertemu dengan banyak buku bagus. Malah, 'rasa tidak mudah' itu juga mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang yang selama ini saya cari; mereka yang mau berbagi banyak pengalaman dan pemikiran soal dunia menulis dan membaca.

Tahun ini saya tidak ingin muluk-muluk sebenarnya, tapi ketika teringat bahwa shio ayam saya tidak banyak mendapat keberuntungan di tahun ayam api ini, saya mengusahakan banyak hal perihal aktivitas menulis dan membaca saya, keberadaan blog buku ini juga nasib kehidupan saya di dunia nyata. ^^


Follow Us @soratemplates