Menilik Pesona Fakhrisina dalam Persona


PADA QUARTAL PERTAMA tahun lalu selepas tergila-gila pada Persona, saya memberanikan diri untuk mengontak Is—begitu Fakhrisina biasa dipanggil. Berbekal alamat surel di bio akun instagramnya, satu per satu percakapan akhirnya terjalin hingga perempuan yang bergelut di bidang psikologi tersebut memberi saya izin untuk mewawancarainya.

Untuk sekarang, silakan nikmati makanan pembuka yang sudah lama kami buat. Saya percaya berbagi tidak pernah basi.

LET'S START THE CONVO!

Sudah lebih dari dua tahun sejak saya membaca All You Need is Love, keinginan untuk mengenal tulisan kamu lebih jauh itu muncul. Setelah membaca Persona, saya tidak bisa lagi menahan diri. Kadang bahagia itu sederhana, mengenal seseorang di balik tulisan-tulisan yang saya jadikan bacaan favorit misalnya.

Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk mengenal personamu lebih jauh, Fakhrisina Amalia. Halo, dan salam kenal!

Oke begini, wawancara ini terdiri dari lima pertanyaan panjang, kamu punya kebebasan untuk menjawabnya seperti apa tentu saja. Tapi jika berkenan, kamu boleh berbagi apapun dan sepanjang apa pun di sini.

INTRODUCING Saya mengenal dua karyamu terlebih dahulu sebelum berani mengontak lewat akun sosial media. Buku kamu yang pertama kali saya baca itu adalah All You Need is Love dan itu menjadi salah satu novel favorit saya tahun lalu. Tahun ini saya membaca Persona dan sama terpesonanya. Boleh perkenalkan diri kamu secara personal? Dan selain menulis, apa kesibukan kamu sekarang?
JAWABAN

Halo, sebelumnya terima kasih karena sudah mau berkenalan dengan karya-karya saya. Well, karena nama saya cukup panjang dan kadang sulit menyebutnya, saya lebih sering dipanggil Iis atau Fa di antara teman-teman penulis. Seperti banyak penulis lain yang saya tahu, aktivitas menulis biasanya diawali dengan kesukaan terhadap buku.

Jadi, iya, saya suka membaca sejak usia 5 tahun, mulai suka menulis buku harian sejak sekolah dasar, dan akhirnya kesukaan itu berlanjut hingga sekarang. Awalnya saya juga tidak punya bayangan kalau pada akhirnya saya bisa menerbitkan buku.

Pengin, sih. Tapi dengan kondisi lingkungan tempat tinggal yang saat itu tidak ada fasilitas toko buku dan kegiatan tulis menulis, saya cukup tahu diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi.

Sayangnya, saya mulai menjadi tidak tahu diri begitu mulai kuliah. Saya mulai aktif menulis cerpen di blog (yang kalau sekarang dibaca lagi, saya malu melihat tanda baca yang peletakannya tidak ada yang benar), mulai merasa iri melihat penulis menerbitkan buku lagi dan lagi, sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen ke kompetisi menulis Cerita Cinta Kota yang diadakan oleh Plotpoint di akhir tahun 2012 lalu.

Alhamdulillah, naskah cerpen saya saat itu menjadi satu dari sepuluh naskah pilihan editor dan dibukukan dengan judul yang sama seperti kompetisi. Itu awal yang besar bagi saya sekaligus momen kepercayaan diri untuk menulis terpupuk. Setelah itu saya mulai memberanikan diri menulis novel dan mengikuti lomba meski tidak pernah menang, dan baru mendapatkan kesempatan lagi di kompetisi menulis novel yang diadakan oleh Ice Cube Publisher di tahun 2013.

Naskah novel saya yang pertama kali diterbitkan (bukan pertama kali ditulis) berjudul Confession, dan adik-adiknya menyusul setelahnya.

Untuk kesibukan, saat ini saya sedang melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikologi di Yogyakarta. Saya tidak berani mengambil kesibukan lain karena jadwal kuliah yang padat sekali :’)


INFLUENCE Saya mengikuti akun instagram kamu dan tidak lagi terkejut ketika membaca Persona pshycological semacam itu. Novel ini mendapat respons yang positif di beberapa ulasan, termasuk di goodreads. Seberapa berpengaruh pendidikan yang kamu jalani sekarang terhadap tulisan-tulisan kamu? Entah itu dari pengambilan tema atau pun dalam proses penulisannya.

JAWABAN

Sejujurnya, saya justru tidak pernah berpikir bahwa tulisan-tulisan saya akan sangat relate dengan pendidikan saya. Saya seringnya baru menyadari setelah tulisan itu selesai. Tapi memang, saya mengakui bahwa setiap kali menulis, fokus utama saya justru karakter yang ada di sana. Saya bahkan jarang memikirkan plot cerita harus begini atau harus begitu.

Seringnya saya memerlukan waktu cukup lama untuk memutuskan tokoh seperti apa yang akan menjadi pemeran utama dan apa saja kejadian-kejadian yang relate dengan kepribadiannya saat cerita itu dimulai. Kalau harus menyebutkan pengaruh, maka yang paling mungkin adalah pendidikan saya membuat saya terus ingat bahwa karakter manusia terbentuk dari pengalaman-pengalaman, sehingga saat saya menulis, saya akan berusaha untuk benar-benar memanusiakan karakter-karakter yang ada dalam cerita tersebut.

WRITING HACK Ada cukup banyak plot twis di Persona yang membuat saya berdecak kaget dan kagum dalam waktu yang bersamaan. Mari sedikit berbagi rahasia kalau kamu berkenan. Bagaimana kamu memperlakukan bagian plot twist ini sejak berbentuk ide hingga ditempatkan dalam alur? I’m so glad to hear that.

JAWABAN

Percaya tidak percaya, seperti yang sudah saya bilang. Saya tipe penulis yang tidak terlalu peduli sama plot (makanya akhirnya saya bikin kerjaan editor tambah banyak). Persona dulu sempat saya publikasikan bab-bab awalnya di wattpad, lalu saya berhenti menulis berbulan-bulan. Saat saya  kembali semangat menulis, saya menghapus yang ada di wattpad.

Sayangnya, belum sempat saya melanjutkan, laptop saya rusak dan data tulisan saya tidak terselamatkan. Saat itu saya sama sekali tidak berpikir bahwa pada akhirnya Persona berakhir dengan begitu banyak plot twists. Jujur, semua plot twists yang ada di sana tidak pernah direncanakan. Seringnya saya menemukan ide justru saat sedang menulis makanya saya penulis yang malas membuat outline. Begitu pula yang terjadi di Persona.

Nah, karena saya sama sekali tidak merencanakan plot twist, maka saya tidak punya perlakuan khusus apa-apa saat memasukkannya ke dalam alur cerita. Terjadi begitu saja, tahu-tahu sudah begitu. Saya sendiri agak kaget karena Persona menjadi cerita yang seperti itu.


WHO IS IN YOUR SIDE Selain membaca buku, saya juga senang menulis. Saya punya banyak teman menulis. Apakah dalam proses menulismu, hal itu juga terjadi—kecuali editor, ya. Boleh diceritakan siapa saja orang yang memberikan dukungan paling besar dalam penulisan Persona? Apa yang ingin kamu katakan pada orang tersebut seandainya membaca artikel ini?


JAWABAN

Saya punya banyak orang yang berperan besar dalam penulisan Persona, sahabat-sahabat saya yang non penulis sampai penulis. Karena saat menulis dan merevisi Persona saya sedang berada dalam kondisi yang kurang baik, maka dengan kehadiran mereka saya merasa didukung sepenuhnya.

Selain mereka, satu nama di halaman persembahan Persona juga membantu saya untuk menyelesaikan naskah ini, dengan dukungan langsung dan tidak langsungnya.

NEXT PROJECT Sebagai pengagum karya-karyamu, salah satu pertanyaan yang setiap kali muncul di kepala saya ketika mengingat nama kamu adalah ‘kapan karyamu kembali diterbitkan?’ Mari bicara soal proyek menulis kamu, apa yang sedang kamu lakukan dan kapan kira-kira kamu akan menelurkan kembali karya?

JAWABAN

TIDAK TAHU. Hahaha, itu jawaban terjujur saya saat ini. Ya, saya sedang menulis. Ada dua naskah yang sedang berusaha saya rampungkan, tapi jujur saya tidak tahu kapan naskah-naskah itu akan selesai (dan kapan saya punya waktu untuk menulis di sela-sela kesibukan ini) dan tentunya saya juga belum tahu kapan bisa menerbitkan novel lagi. Saya pun sangat menantikan hal itu.

========================

Dengar-dengar, Is baru saja merampungkan novelnya beberapa minggu yang lalu. Semoga segera mendapat kabar baik. Saya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap karya-karya Fakhrisina.

Terima kasih sudah berkenan berbagi pengalaman bersama kami, Is.

Semoga sukses terus.

Wishful Wednesday #1


Happy Wishful Wednesday, guys!

Ini adalah artikel pertama latest Bookmark dengan label Wishful Wednesday. Sebenarnya sejak bergabung dengan BBI Januari lalu sudah terpikir untuk menulis artikel semacam ini tapi baru kesampean sekarang.

Officially, Wishful Wednesday adalah artikel perminggu yang diadakan oleh Perpus Kecil. Untuk ikutan even ini, kalian cuma perlu mem-follow blog buku tersebut atau menambahkan tautannya di blogroll. Karena saya belum bikin blogroll, maka yang saya lakukan untuk memenuhi syarat agar bisa mem-posting artikel ini adalah dengan mem-follow blog-nya.

Wishful Wednesday sendiri adalah artikel yang berisi tentang buku yang diinginkan, bisa juga yang akan segera dibeli atau buku-buku yang rasanya mustahil untuk dibeli sendiri makanya dijadikan sebuah harapan. Barangkali ada yang baca dan bisa mengabulkan.

Anyway, sejak awal tahun ini saya sangat penasaran dengan novel barunya Ziggy yang menjadi juara pertama dan satu-satunya Kompetisi Menulis DKJ tahun lalu. Ya, semua pencinta buku saya kira sudah tahu judulnya, yaitu Semua Ikan di Langit.

Semua Ikan di Langit
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp75.000 Rp63.750 (Gramedia.com)
“Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin saja membuat sesuatu dengan tidak sempurna.

Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara yang berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna.

Mereka anggap sesuatu ini, anggap sesuatu itu: padahal sebenarnya penilaian mereka itu tidak ada artinya. Sempurna itu hanya konsep buatan, diciptakan karena mereka-kita-suka menilai dan menghakimi satu sama lain. Yah begitulah manusia!” Halaman 121

Kenapa tertarik dengan buku ini?

Pertama, karena ini adalah novel karya Ziggy. Semenjak membaca Di Tanah Lada, meski belum membaca novel Ziggy yang lain, saya sudah jatuh cinta dengan tulisan Ziggy. Beberapa novel Ziggy yang lain juga sebenarnya masuk ke wishlist seperti Jakarta Sebelum Pagi misalnya.

Kedua, saya selalu tertarik dengan novel-novel yang menjuarai sebuah kompetisi atau mendapatkan penghargaan tertentu. Bisa dibilang, novel tersebut adalah novel yang terbaik dari yang terbaik. Pasti ada hal berbeda dalam novel tersebut yang pada akhirnya membuat para juri meloloskannya jadi pemenang atau mendapatkan penghargaan. Saya ingin mengetahui hal tersebut dengan membacanya sendiri.

Ketiga, balik ke nomor satu dan dua. Alasan itu sudah cukup sih buat saya, haha.

Selain Semua Ikan di Langit, ada beberapa novel yang saya ingin baca minggu ini dan semuanya bergenre Young Adult terbitan Gramedia. Saya ingin membacanya untuk referensi karena rencananya akan mengikuti lomba novel GWP Bacth 3. Ya, semoga saja tidak sekadar rencana. Dua di antara novel YA tersebut adalah...

A Untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: Gramedia
Harga: Rp60.000 Rp51000 (Gramedia.com)  
"Novel yang cerdas. Aku selalu suka percakapan Amanda dengan psikiaternya. Seperti percakapan antara Sherlock dan Dr. Watson. Percakapan panjang yang kau harus mengikutinya dengan saksama atau kau dipaksa mengulang dari awal bila terjeda di tengah-tengah. Salut dengan penulis!" [ Ulasan A Untuk Amanda - Abdurafi Andrian ]


The Stardust Cathcer
Penulis: Suarcani
Penerbit: Gramedia
Harga: Rp48.000 Rp40.800 (Gramedia.com)
"Membaca novel ini membuat perasaanku naik turun dan campur aduk. Kamu akan dibuat terharu, tersenyum bahkan gregetan dengan kisah ini. Sebuah novel yang tidak hanya mengangkat isu tentang cinta, tetapi juga keluarga dan juga penerimaan akan takdir yang bermuara pada satu kata, KEBAHAGIAAN." [ Ulasan The Stardust Catcher - Rizky Mirgawati ]

Dua novel di atas mendapat respons dan rating yang baik di goodreads, menurut saya. A untuk Amanda mengambil tema pshycological yang merupakan salah satu tema favorit saya. Sementara itu The Stardust Catcher menyajikan cerita semi fantasi yang memesona. Waw, saya sudah tidak sabar untuk membacanya.

Untuk dua novel ini, saya sudah berencana untuk membelinya bulan ini. Setidaknya akhir bulan nanti kalau dompet masih bisa bernapas. Meski pun masih bingung harus membelinya via online atau di toko buku.

Well, hanya tiga novel itu yang saat ini sedang saya inginkan setengah mati. Haha. Ada beberapa novel lain sebenarnya yang sudah jadi incaran, tapi tumpukan novel yang belum dibaca pun masih ada beberapa. *balik baca buku lagi*

Oh iya, buat kamu yang mau ikut bikin artikel Wishful Wednesday. Kamu bisa lihat persyaratannya di Perpus Kecil atau cek aturan ini sebelum berkunjung ke sana. :))




Menyoal Streaming Film


Akhir-akhir ini saya lagi suka nonton film, sekalipun kerjaan lagi banyak. Entah kenapa. Tapi membaca dan menulis buku sedang menjadi sesuatu yang berat, dari bulan lalu sebenarnya. Barangkali karena saya tidak memosisikan dua hal tersebut sebagai sebuah hobi yang biasanya bikin kepala jadi lebih tenang, tapi tuntutan. Karena itu juga saya akhirnya kembali menghidupkan blog ini, yang berkali-kali hiatus tapi pengunjungnya ternyata lumayan. Untuk menulis banyak racauan tanpa berpikir akan enak dibaca atau nggak.

Okelah, saya tidak sedang ingin curhat. Tapi saya sedang ingin berbagi pengalaman saya kalau sedang nonton film. Saya terhitung jarang download film, drama atau tv series. Selain karena lama menunggu unduhan selesai, juga karena RAM laptop saya sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

Saya dalam keadaan harus merelakan sesuatu untuk dihapus sebelum mengambil yang lain untuk disimpan.

Jadi, saya lebih banyak menonton secara streaming. Untungnya, tak ada masalah dengan koneksi internet, ya kalau sedang tak ada masalah. Tapi ini lebih praktis, sih. Tinggal cari film yang sedang ingin ditonton di google, kalau koneksi internetnya sedang lancar ya tinggal nonton tapi kalau buffering, biasanya saya tinggalkan beberapa saat sampai filmnya terputar beberapa menit lalu saya tonton.

Saya sedang suka dengan Film dan lakorn Thailand. Anyway, Lakorn sepertinya berarti drama atau tv series. Seorang teman Thailand saya menyebut Lakorn untuk beberapa tv series Thailand yang saya tonton, mungkin semacam sinetron kalau di Indonesia.

Dan ternyata cukup banyak lakorn Thailand di Youtube. Saya subscribe dua channel TV di sana, GTH dan GMMTV. Keduanya rajin sekali mengupload lakorn Thailand. Dan bahagianya adalah karena lakorn-lakorn tersebut juga sedang tayang di Thailand, biasanya mereka update setiap minggu, dengan bantuan English Subtitle pula.

Saya sebetulanya sedang belajar bahasa Thailand sekarang, tapi masih pemula. TBH, bahasa ini cukup sulit dipelajari karena merupakan bahasa tonal. Lain kali saya akan curhat soal ini.


Beberapa lakorn Thailand yang sedang saya ikuti adalah serial U-Prince dan Secret Love. U-Prince ini semacam serial tv Hormones tapi dengan karakter yang lebih dewasa sebagai mahasiswa satu universitas. By the way, ada Fon dan Punpun di sini. March juga. Overall, pemain-pemainnya nggak bakalan asing sih buat kamu yang memang gemar nonton lakorn Thailand.
 

Selain di youtube, Daily Motion juga jadi pilihan kedua. Biasanya, Daily Motion lebih update soal lakorn Thailand. Tapi ini juga tergantung pada siapa user yang mengunggahnya di sana. Bedanya, di Youtube kamu bisa nonton official video karena memang diunggah langsung oleh channel stasiun televisinya.

Bagaimana dengan Film-film lepas hollywood dan lainnya?

Entah kenapa lk21.tv tiba-tiba masuk ke dalam list situs internet yang di-blacklist oleh provider internet yang saya gunakan. Padahal saya tidak menonton yang tidak-tidak di sana. Tapi beberapa hari yang lalu ketika iseng browsing film lagi di sana, tidak lagi kena saring internet positif.

Sayangnya, saya sudah kadung jatuh cinta dengan solarmovie.sc.


Saya menemukan situs streaming film ini secara tidak sengaja ketika sedang mencari film... apa ya, sedikit lupa. Tapi semenjak itu, saya menikmati film di situs ini karena aksesnya cukup mudah. Saya sudah menonton cukup banyak film di sini; Moana, Suicide Squad, The Giver dan beberapa lainnya.

Soal menonton film secara streaming, saya sudah ditawari akun netflix oleh seorang teman sebenarnya tapi saya malas merepotkan orang. Selama ada yang gratis, kenapa tidak? Haha.



Di Solar Movie, kamu tidak perlu punya akun apalagi membayar langganan alias gratis. Tapi saya membuat akun di sana untuk menyimpan beberapa film favorit. Pilihan film-film di sini pun terbilang beragam, ada juga tv series. Dan semuanya lintas benua. Tapi untuk film-film Thailand, hanya ada sedikit. Kalau tidak salah, lk21.tv lebih banyak menyuguhkan film tapi itu berbanding lurus dengan iklan yang bikin saya malas menutup jendela peramban yang terbuka kalau tidak sengaja tertekan.

Di Solar Movie, kamu bisa menemukan banyak film dan tv series berbagai genre dan asal negara. Serunya lagi, film-film yang baru keluar di bioskop pun ada yang sudah bisa dinikmati secara gratis di sini, sekali pun kualitasnya masih cam.

Ya Tuhan, ini cara menonton film yang ilegal sebenarnya tapi ketika semua orang melakukan hal yang sama jadi tampaknya tidak lagi sebuah dosa. Hahaha.

Di bagian beranda, ada banyak film atau tv series yang sudah disuguhkan. Ada beberapa opsi juga yang bisa kamu pilih. Tinggal satu kali klik, kamu akan diantar menuju informasi film semacam sinopsis, identitas, jumlah penonton, keyword dan tentu saja rating. Jangan lupakan trailer, kalau kamu belum yakin dengan film yang kamu mau tonton.

Saya sedang mencoba menamatkan serial tv American Crime season 2 di sana. Tunggu ulasannya, ya.

Lanjut nonton dulu, ah.

Ashan He
.

Giveaway | Then She Smiles


Waktunya Giveaway! Siapa yang sudah tidak sabar menunggu artikel ini muncul?

Kali ini—seperti blogtour teman-teman host sebelumnya—akan ada satu eksemplar notes Then She Smiles gratis persembahan Penerbit Haru buat kamu yang beruntung. Sebelum mengikuti peraturannya, teman-teman dipersilakan terlebih dahulu untuk membaca artikel Ulasan Buku dan Bicara di tautan berikut ini.

Artikel-artikel berikut berkaitan dengan rahasia yang akan saya bocorkan di akhir artikel ini. Tapi percayalah, teman-teman akan membutuhkannya nanti. *kedipin mata*

Dan ini dia peraturan yang harus kalian ikuti, silakan disimak dengan teliti.

1. Peserta harus memiliki alamat di Indonesia

2. Ikuti blog ini via GFC atau email

3. Wajib ikuti akun twitter @PenerbitHaru, Makna Sinatria @MaknaKookie dan @AshanHe_ selaku penyelenggara. Berikutnya optional, kalian juga boleh ikuti akun instagram @PenerbitHaru, @MaknaKookie dan @LatestBookmark.

4. Bagikan informasi giveaway ini di akun twitter atau akun media sosial lainnya. Jangan lupa untuk me-mention akun twitter Penerbit Haru, Makna Sinatria dan Saya serta beri tautan menuju tiga artikel berikut, boleh pilih salah satu, silakan gunakan tautan artikel yang sudah disiapkan. ^^

Giveaway! 1 Eks Notes Then She Smiles [ https://goo.gl/fyiLZ2 ]
Ulasan Buku Then She Smiles [ https://goo.gl/MCMIwm ]
Bicara: Makna Sinatria [ https://goo.gl/aYyFsW ]

Contoh:
Ayo ikutan Blogtour & Giveaway #ThenSheSmiles karya @Maknakookie dan dapatkan Notes unyu dari @PenerbitHaru. Hanya di LatestBookmark @AshanHe_ [ tautan artikel ].

5. Tinggalkan komentar di bawah artikel ini berisi nama, akun twitter dan link share kalian. Jangan lupa untuk menjawab pertanyaan berikut.

Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga?

6. Giveaway akan berlangsung selama lima hari terhitung dari tanggal 11 – 15 Maret 2017.

7. Pengumuman pemenang giveaway akan diinformasikan pada tanggal 16, sementara itu kalian bisa mengikuti rangkaian Blogtour & Plus-Plus #ThenSheSmiles di Host selanjutnya.



8. Terakhir, semoga beruntung!

Psst, bocoran! Akan ada giveaway final di akun facebook Penerbit Haru berhadiah satu eksemplar novel Then She Smiles. Teliti baik-baik setiap artikel blogtour yang kamu ikuti, ya, barangkali akan jadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan giveaway final nanti.

UPDATE 16 MARET 2017

Well, akhirnya rangkaian Blogtour & Plus-Plus Then She Smiles di blogku sudah selesai. Hari ini sesuai dengan janji, saya akan mengumumkan pemenang giveway satu notes Then She Smiles dari Penerbit Haru.

Dan pemenangnya adalah...


Selamat untuk pemenang. Silakan segera kirimkan data diri berisi nama, nomor ponsel dan alamat rumah ke email itsashanhe@gmail.com, ya. Ada satu notes Then She Smiles gratis dari Penerbit Haru buat kamu. Ditunggu.

Master Post | Choose An Author Reading Challenge 2017



Selamat tanggal 25 Januari, Bookmarker! Sumpah, rasanya baru kemarin saya dengar suara kembang api tahun baru, nggak terasa bulan Januari sudah mau selesai. Masih banyak buku yang tadinya saya jadikan reading list bulan Januari tapi tidak sempat saya selesaikan, entah itu karena mogok di tengah jalan dan lain sebagainya. Ini kebiasaan buruk sih, terutama ketika membaca buku-buku yang tidak sesuai dengan selera. Lihat buku lain yang lebih menarik, langsung sikat!

Beberapa artikel review pun masih tersendat, saya belum menemukan konsep yang benar-benar ingin saya terapkan. Jadi hari ini, saya muncul kembali dengan Reading Challenge yang akan saya ikuti tahun ini. Ada alasan khusus kenapa saya mengikuti RC yang digagas oleh Mbak Wenny Widy ini, salah satunya adalah karena persyaratannya nggak begitu susah diikuti.



Nama tantangan bacanya sendiri adalah Choose an Author Reading Challenge 2017, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:


1. Choose an Author Reading Challenge berlangsung selama satu tahun. Mulai dari 07 Januari 2017 sampai 07 Januari 2018.
Kenapa 07 Januari? Karena yang punya blog suka sama angka 7 (penting).
Pendaftaran peserta dibuka dari 07 Januari 2017 sampai 30 November 2017.

2. Peserta harus mempunyai media untuk mengepos review buku. Boleh blog, Goodreads, atau Facebook. Untuk yang menggunakan blog, wajib memasang banner CARC2017 di sidebar dan menautkannya ke link postingan ini. 
Untuk yang menggunakan Goodreads, wajib menambahkanku sebagai teman (klik di sini) dan membuat shelf khusus dengan nama CARC 2017. Untuk yang menggunakan Facebook, pastikan postingmu bisa dibaca publik.

3. Master Post bersifat opsional. Namun jika kamu membuatnya, jangan lupa pasang bannernya dan tautkan ke link postingan ini.

4. Mekanisme reading challenge adalah sebagai berikut:

- Pilih satu orang penulis yang sama sekali belum pernah kamu baca bukunya, tapi kamu tertarik untuk membaca karya-karyanya.

- Penulis boleh berasal dari negara mana pun.

- Kamu boleh membaca bukunya yang berupa fiksi, non fiksi, diterbitkan oleh penerbit mana pun, ditulis sendiri atau duet bersama penulis lain. Buku yang ditulis oleh penulis tersebut bersama dua, tiga, atau seribu penulis lain tidak dihitung.

- Baca buku-bukunya, dan hitung berapa buku penulis tersebut yang berhasil kamu baca hingga akhir tahun nanti.

Tentukan levelmu:

Parasetamol: membaca 1-3 buku

Ibuprofen: 4-6

Diklofenak: 7-9

Tramadol: 10-12 

Morfin: 13 atau lebih
(kenapa levelnya pakai nama obat? karena yang punya blog kuliah farmasi.)
(kenapa batas atasnya 13? biar horor aja.)

Siapa tahu ada yang mau nanya:
Kalau di tengah jalan ternyata penulisnya bukan my cup of tea, aku boleh ganti penulis nggak?
Boleh, tapi jumlah buku yang dihitung adalah buku milik penulis yang baru ya.
Aku sih nggak level kalau cuma satu penulis. Boleh ambil dua, tiga atau lima puluh sembilan penulis?
Boleh. Tapi banyak buku yang dihitung cuma dari penulis yang bukunya paling banyak kamu baca ya.

5. Peserta harus membuat review dari semua buku yang dibaca untuk CARC ini. Bisa di blog, Goodreads, atau note Facebook. Pastikan reviewmu disetting publik ya.

6. Wrap Up Post bersifat wajib, sebagai bukti bahwa kamu nggak bohong soal jumlah buku yang kamu baca. Aku lelah dibohongi, kawan, karena dibohongi itu melukai perasaan.
Peserta diharapkan untuk mengepos wrap up tanggal 30 Desember 2017-07 Januari 2018. Host akan dengan bahagia mengingatkan para peserta kok, tenang saja.

Di dalam wrap up ini, selain buku apa saja yang sudah kamu baca untuk reading challenge ini (jangan lupa sertakan link ke review buku tersebut), aku juga berharap peserta akan menuliskan kesan-kesan apa yang ia dapatkan setelah membaca karya penulis tersebut, apa saja ciri khas sang penulis, plus dan minusnya, dan hal-hal lain yang menurut peserta bisa disampaikan. Karena tujuan utamaku membuat project  ini adalah agar reviewer mengupas tuntas seorang penulis, biar orang-orang mulai mengenal penulis-penulis tersebut, dan penulis yang dibahas bisa makin dikenal publik.

7. Setiap post yang peserta buat untuk CARC 2017 ini (baik itu master post, review, ataupun wrap up) harap dishare di twitter dengan hashtag #CARC2017 dan mention @widywenny.

8. Buku yang dibaca boleh digabung dengan RC lain.
Dan ini dia cara pendaftarannya!

Cukup tulis komentar di post ini dengan format:

Nama:

Akun twitter:

Email:

Alamat blog

(/facebook/goodreads, sesuai yang kamu gunakan untuk RC ini):

Penulis yang dipilih:

Level yang dipilih:
=============================== 
Tadinya masih mikir-mikir mau baca novel siapa untuk tantangan membaca ini, sempat terlintas nama Paulo Coelho, tapi tulisannya lumayan berat untuk dijadikan target. Akhirnya saya memilih untuk membaca karya-karyanya Indah Hanaco, karena secara genre masih bisa saya nikmati.


#10DaysKF-2 | Histeria


Tadinya saya ingin curhat lagi lewat cerpen, idenya sudah muncul, beberapa paragraf sudah saya tulis tapi jari-jari tangan saya tidak mau menekan tuts papan ketik laptop. Alhasil, saya simpan saja ide itu, barangkali suatu hari nanti akan menjadi sebuah cerpen yang lebih matang dari ini. Tapi saya sedang malas menulis curhatan secara terang-terangan, jadi anggap saja ini cerpen tentang penulis yang sedang kebingungan bagaimana mengembangkan ide tulisannya. Oleh karena itu, dia menulis ini.

Tema #10DaysKF hari kedua adalah tentang tiga hal yang kemungkinan besar membuat saya histeris. Beberapa hari yang lalu sebelum event ini dimulai, saya sudah membaca sepuluh tema tantangan menulis yang diunggah Momon Kampus Fiksi di twitter. Dari sepuluh butir tema tersebut, tema nomor dua adalah salah satu yang membuat saya berpikir sedikit panjang.

Saya sempat mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika masih duduk di bangku SMA—sekarang baru lulus, sih, haha—tentang bagaimana beberapa teman kelas menilai saya. Saya ingin terkikik ketika itu tapi image yang terlanjur melekat pada wajah saya tak bisa dirusak begitu saja. Mereka menyimpan nama saya di urutan ketiga siswa lelaki dengan ekspresi paling lempeng di kelas. Saya tidak paham apa kriterianya tapi okelah, posisi tiga besar selalu terdengar membanggakan, sekalipun untuk titel yang aneh macam itu.

Hari ini, saya berpikir ternyata penilaian itu tidak jauh berbeda dari yang sebenar-benarnya terjadi. Saya memang orang yang lempeng, tak pernah haha-hihi dengan sembarangan orang kecuali mereka yang secara pertemanan sudah dekat—atau saya harus melakukannya karena terpaksa; perkenalan pertama, memberikan kesan yang baik atau terlanjut nyaman dengan seseorang.

Openingnya panjang sekali.

Jadi, ketika berpikir sekiranya apa saja hal yang kemungkinan bisa membuat saya histeris, saya sedikit... clueless. Bukan sedikit, sih, tapi memori saya sebenarnya tidak memberikan jawaban apa-apa. Saya sering merasa frustrasi jika sudah begini, dan ingin berteriak-teriak KENAPA INI BISA TERJADI PADA SAYA?! Oleh karena itu saya buka aplikasi KBBI luring di ponsel untuk mencari pengertian dari histeris, barangkali di sana ada bentuk lain dari histeris yang pernah saya alami.

Ketika dicek, arti histeris adalah ‘bersifat histeria’. Sadar pengertian itu tidak memberikan pencerahan apa-apa, saya kembali membuka KBBI dan menemukan bahwa histeria adalah noun yang biasanya terdapat dalam dunia psikologi bermakna; gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali seperti berteriak-teriak, menangis, tertawa, mati rasa, lumpuh, dan berjalan dalam keadaan sedang tidur.

Sekilas dicermati, pengertian ini sedikit menakutkan, ya. Saya sering cemas sendiri jika sedang membaca artikel-artikel yang berbau kesehatan jiwa—menemukan kata psikolog salah satunya. Sebagai seorang penulis amatiran dengan kepala penuh imajinasi tak bertepi, saya sering khawatir kalau-kalau jiwa saya sedang tidak sehat. Rasanya ingin menangis sambil tertawa. HAHAHA

Nah, sekarang pengertian histeris yang sesungguhnya sudah saya ketahui.

Namun yang muncul di kepala saya ketika mencermati kembali pengertian tersebut adalah orang-orang dengan gangguan jiwa semacam paranoid, skizofrenia, dan sejenisnya. Duh, maafkan isi kepala saya, tapi persepsi itu malah membuat saya semakin yakin bahwa saya belum pernah histeris—atau benar-benar histeris.

TAPI MASA SIH?

YA TUHAN, SAYA MERASA GAGAL MENJADI MANUSIA YANG BERPERASAAN KETIKA MENYADARI HAL TERSEBUT. KENAPA INI TERJADI PADA SAYA, YA TUHAN! KENAPA!

Pyuh!


#10DaysKF-1 | Perempuan


Sesungguhnya saya paling tidak suka berada dalam posisi yang tidak nyaman seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah satu-satunya jalan bagi saya untuk bisa pergi tanpa perlu menoleh lagi ke belakang. Sebab semuanya sudah usai.

Pria berkumis yang kulitnya terlalu putih itu masih menatap saya dengan lekat. Manik matanya yang kelabu seperti sedang mengawasi apa saja yang sedang saya pikirkan; mulai dari tempat macam apa ini, siapa sebenarnya dia dan kenapa prosesi ini harus dilakukan. Dia sempat menjelaskan di awal sih perihal tempat yang akan saya tuju dan bagaimana jawaban-jawaban yang saya berikan akan membuat nasib saya kelak seperti apa, sampai pada pertanyaan terakhir yang demi Tuhan membuat kening saya mengernyit.

“Itu pertanyaan yang mudah, Anak Muda!” Nada bicaranya biasa saja, tapi saya melihat ada penekanan di sana.

Mata saya refleks berputar mencari penanda waktu, tapi yang ada hanya jam pasir di lemari yang menjadi dinding-dinding ruangan ini, kecuali dinding tempat lubang pintu yang menganga itu ditutup dua bilah daun pintu bergagang kilau emas putih.

“Waktumu hampir habis!” deliknya pada jam pasir yang sudah lebih dari separuhnya berjatuhan dan menumpuk di bagian bawah. “Atau Anda ingin kehidupan Anda di tempat itu sama seperti kehidupan Anda di tempat sebelumnya?”

Saya berusaha sekuat tenaga mencerna tempat macam apa yang dia sebut sebagai tempat-itu tersebut, tapi saya terlampau gugup ketika pria itu mulai menulis-nulis sesuatu semacam surat rekomendasi entah untuk siapa, atasannya barangkali. “Ma-af, pertanyaannya apa tadi?”

“Tipe kekasih,” jawabnya tanpa berpaling, “tipe kekasih yang Anda dambakan.”

Saya kembali terpekur. Pertanyaan itu sudah lama saya lupakan, lebih tepatnya tak pernah lagi saya pikirkan. Saya percaya pada ketentuan Tuhan bahwa jodoh itu sudah diatur oleh-Nya, tak perlu semacam tipe atau karakter tertentu yang didambakan. Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang memiliki wewenang paling tinggi.

“Tak ada salahnya mendambakan, Anak Muda. Hidup jadi lebih berenjana ketika kita punya apa yang kita inginkan.” Kali ini dia menatap saya dengan pandangan mengasihani. Apa aku bilang, pria itu pasti memiliki kemampuan membaca pikiran dan cukup tahu alasan apa yang membuat saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. “Atau kalau Anda betah hidup sendirian, tak ada salahnya.”

“Tidak, tidak, tunggu!” Saya bekap mulut saya sendiri ketika menyadari saya mengucapkan ujaran itu dengan terlalu menggebu. Mana ada orang yang betah hidup sendirian, saya sudah kenyang dengan kondisi seperti itu sebelumnya. Namun aduhai, saya tidak kunjung punya jawaban untuk pertanyaan itu. Barangkali saya juga masih terkejut sampai-sampai tidak bisa memikirkan jawabannya. Perjalanan saya dari tempat sebelumnya sampai duduk di ruangan ini adalah perjalanan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, bahkan saya sampai merasa sekarat.

“Tak ada waktu lagi. Masih banyak orang yang mengantre di belakang pintu yang baru Anda masuki untuk duduk di sini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.”

Saya menoleh ke arah pintu, tentu tak bisa saya lihat orang-orang yang katanya sedang mengantre sebab pintu itu tertutup. Akan tetapi saya mencoba untuk percaya begitu saja, pria ini saya rasa bukan pria sembarangan. Ketika kepala saya kembali berbalik padanya, mata saya menyisir deretan buku-buku tebal berwarna mengilat di rak. Ada pertanyaan yang spontan muncul di kepala saya tentang buku-buku apa itu, kenapa warnanya mengilat dan apakah pria ini sudah membaca semuanya sementara jumlahnya saya tafsir ratusan.

Siapa sebenarnya pria ini? Saya ingat pernah mempertanyakan serupa ketika disuruh masuk dan duduk di ruangan ini, tapi lekas saya tiba-tiba tidak ingat apakah kami sempat memperkenalkan diri masing-masing.

“Jangan memaksakan diri untuk mengingat, Anak Muda, manusia-manusia yang singgah di sini tak pernah diizinkan untuk melakukannya lebih dari sejumlah butir pasir yang jatuh setiap mereka mengedipkan mata.”

Saya mengernyitkan dahi, pria itu berhasil menelanjangi isi kepala saya. Mata saya kemudian bertatapan dengan matanya yang berwarna kelabu, pertanyaan sedang apa saya di sini muncul begitu saja. Dia berdeham, menuliskan sesuatu di atas berkas-berkas tebalnya lama.

“Jadi,” ujarnya dengan penuh penekanan, “bagaimana tipe kekasih idaman Anda? Jawab dalam lima kedipan, jika tidak maka di tempat yang akan Anda tinggali nanti Anda akan sendirian.”

Saya tak paham kenapa pria itu mempertanyakan hal tersebut tapi tak urung juga rasa kesal muncul di dalam batin saya. Saya harus menjawab apa untuk pertanyaan tipe kekasih idaman ini?

Satu kedipan mata! Satu kesempatan berlalu sia-sia. Dua kedipan mata! Saya ingin merentangkan kelopak mata saya dengan ujung-ujung jari tapi lengan saya tidak bisa diperintah, malah mengepal-ngepal ketakutan. Tiga kedipan mata! Saya lirik jam pasir di dalam lemari dan jumlah pasirnya semakin sedikit. Empat kedipan mata! Sesosok perempuan muncul di dalam benak saya tapi hanya sekejap. Ruangan ini terang, ruangan ini terlalu terang untuk menyalakan ingatan saya pada apa-apa yang sudah saya tinggalkan di belakang. Saya butuh gelap untuk melihatnya, atau remang juga tidak apa-apa.

Kelopak mata saya sudah tak tahan untuk berkedip. Sebelum bibir mata saya benar-benar rapat, saya melihat perempuan itu! Perempuan itu bersemu merah pipinya, menatap saya sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa saya dengar dengan jelas. Perempuan itu hanya bergeming di dalam imaji yang muncul, tapi membuat saya merasa nyaman dan tenang seolah hidup dengannya tak akan lekang oleh perubahan dan perpisahan macam apapun. Perempuan itu elok sewajarnya, indah seperlunya dan berkembang pada tempatnya. Saya memandangnya dalam masa yang teramat singkat tapi jatuh cinta dengan cepat, tak perlu alasan selain karena hati kami sama-sama digerakkan oleh sang pencipta.

Sebelum mata saya melindap sepenuhnya, berbagai informasi mengalir begitu saja ke dalam otak saya dan menimbulkan lonjakkan ketika mata saya kembali terbuka. Namanya, senyumnya, tangisnya, sentuhannya, hal-hal semacam itu menjadi semacam pecahan yang berserak di dalam kepala saya. Arh, saya melupakan sesuatu, saya belum menjelaskan tipe kekasih dambaan saya pada pria itu. Barangkali perempuan yang muncul di kepala saya itulah jawabannya.

“Cukup.” Dia menyudahi sesi wawancara aneh ini sebab jam pasir di atas lemari sudah tak lagi bergerak. “Silakan keluar lewat pintu yang sama ketika Anda masuk!”

“Sebentar, tapi saya belum sempat menjelaskan....”

“Masih banyak orang yang....”

“Saya tidak ingin hidup sendirian, Tuan, saya ingin kekasih!” bujuk saya.

“Apa yang Anda maksud dengan kekasih?”

Ke-kasih? Saya tertegun. Apa artinya kekasih? Saya menengadahkan kepala dan mencari jawaban dari bibir pria itu tapi dia bergeming.

“Ambillah surat ini, seseorang akan menagihnya sebelum Anda bisa pergi ke tempat yang akan Anda tuju selanjutnya.”

“Tapi,” saya ingin mengelak, ada yang belum usai di antara saya dan pria itu tapi saya tidak bisa mengingatnya apa.

“Silakan!”

Karena tak mendapati ingatan apapun, akhirnya saya beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar dengan linglung. Saya lihat pintu itu gagangnya berwarna putih mengilat dan terasa dingin ketika saya pegang. Ketika pintu itu berhasil saya kuak, saya tersedot begitu saja dan tiba-tiba meringkuk di sebuah tempat tanpa bisa membuka mata dengan leluasa.

Di tempat itu, tubuh saya mengambang.

Rasa hangat menjalar. Ada degup jantung orang lain yang saya dengar. Ada desir darah orang lain yang saya dengar. Ada percakapan-percakapan orang lain yang saya dengar. Saya ingin menyimak kata-kata yang saya rasa tak asing itu. Saya ingin tetap terjaga sebab saya merasa sedang diawasi, diintip, diperhatikan atau entah apa namanya. Saya hanya ingin menyadari saya sedang berada di tempat macam apa dan siapa orang-orang yang berkeliaran di sekitar saya, tapi kantuk menyerang saya lebih kuat dari apapun. Sebelum tertidur di tempat itu, saya merasa seseorang menekan-nekan saya dengan lembut.

Sebuah tepukan. Sebuah belaian. Sebuah kecupan.

“Bayinya perempuan!”

“Sudah terlihat?”

***


Master Post | BBI Reading and Review Challenge 2017


Morning, Mate! Selamat berakhir pekan pertama di tahun 2017. Blog saya masih sepi aja nih, padahal sudah masuk hari ketujuh bulan Januari. Bacaan pertama saya, The Girl on The Train masih stagnan di halaman 57 dan susah banget rasanya untuk kembali masuk ke ritme rajin-membaca setelah dua bulan terakhir kerjaan saya tidak mengerjakan apa-apa. Hahaha. Hari ini saya datang dengan Reading Challenge kedua yang akan saya ikuti tahun ini, setelah Goodreads Reading Challenge, dan juga merupakan even pertama yang saya ikuti setelah bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia. Yeay!


Reading Challenge ini berjudul 'Read and Review Challenge', semacam pengganti dari event posting bareng yang tahun ini ditiadakan. Ngomong-ngomong soal even BBI, lumayan banyak even yang tidak lagi dilanjutkan tahun ini, lho. Sedikit kecewa sih, tapi membaca dan menulis tidak harus mengenal even, kan, kita bisa melakukannya kapan saja.

Hal yang membuat saya tertarik dengan reading challenge ini adalah sistemnya yang berbeda, menggunakan akumulasi poin dari setiap challenge yang diikuti. Pemenangnya sendiri adalah dia yang memiliki poin paling tinggi. Nah, untuk lebih jelasnya, silakan disimak peraturan BBI Reading and Review Challenge 2017 berikut ini.

  1. Peserta harus anggota BBI aktif
  2. Memasang button Read and Review Challenge pada blog dan ditautkan kembali pada post ini.
  3. Master post opsional
  4. Durasi, tanggal membaca, dan dan time stamp mereview pada blog adalah mulai tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017
  5. Link/tautan yang dimasukkan ke dalam linky harus berupa blog post, bukan review dari Goodreads, dan bukan berupa quick review/quick post
  6. Buku yang direview adalah buku-buku berformat fisik maupun digital yang sudah diterbitkan, kecuali membaca dari situs (Wattpad, Fanfiction, dll). Ukuran dan tebal buku tidak dibatasi
  7. Satu buku/review hanya boleh dimasukkan ke dalam satu linky, tidak boleh double entry
  8. Untuk tema-tema 10 point, point baru akan dihitung jika semua entry yang disyaratkan sudah dimasukkan
  9. Post untuk memasukkan link/tautan bisa masuk ke post yang ini:

Master Post Link Read and Review Challenge ]

Dalam Challenge ini, ada 25 tema single point dan 4 tema ten point. Untuk setiap review yang masuk ke dalam linky sesuai dengan temanya, maka poin akan ditambahkan. Apa aja sih temanya? Jangan khawatir, kalian sudah cukup familiar kok dengan tema dan genre yang kami cantumkan.

Kategori Single Point

  1. Classic Literature, adalah buku-buku sastra klasik seperti buku-buku Jane Austen, Charles Dickens, etc.
  2. Children Literature, adalah buku-buku bertema dan cocok untuk anak-anak kecil hingga usia middle grade (SMP), atau usia hingga 15 tahun. Contoh, Rick Riordan 
  3. Young Adult Literature, adalah buku-buku bertema remaja (Young Adult) dan New Adult (NA), berusia SMA hingga kuliahan, atau berusia 16-22 tahun. Contoh, Sarah Dessen, John Green, Jennifer L. Armentrout, dll
  4. Asian Literature, buku-buku yang berlatar belakang Asia, bertema kehidupan Asia, atau penulisnya berasal dari Asia. Contoh, Kevin Kwan, Akiyoshi Rikako
  5. Indonesian Literature Before 80’s, buku-buku asli dari Indonesia yang terbit sebelum tahun 1980
  6. Self-Improvement & Self-Help, merupakan buku-buku pengembangan diri. Contoh, buku-buku John C. Maxwell, chicken soup, dll
  7. Poetry, buku-buku puisi, baik dari Indonesia maupun luar Indonesia. Contoh, Tidak Ada New York Hari Ini, atau sonnet Shakespeare
  8. Biografi Pahlawan Indonesia, adalah buku-buku yang menceritakan kisah hidup pahlawan Indonesia, seperti tentang Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, dsb 
  9. Award Winning Books, adalah buku-buku yang memenangkan sebuah penghargaan atau lebih, misalnya pemenang RITA Awards, Goodreads Choice Awards, dsb 
  10. Science-Fiction, buku-buku dengan genre utama science-fiction. Contoh, Star Trek, Ender’s Game, Across The Universe
  11. Dystopia, buku-buku dengan genre utama dystopia. Contoh, The Hunger Games, The Maze Runner 
  12. Adventure, buku-buku mengenai petualangan dan memiliki tema utama petualangan, contoh: buku-buku Enid Blyton, Robinson Crusoe, dll
  13. Historical Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fiksi historis. Bisa romance, non romance. Contoh: Ruta Sepetys, Julia Quinn, Lisa Kleypas (romance) 
  14. Fantasy Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fantasy. Contohnya, buku-buku Neil Gaiman
  15. Paranormal Romance, adalah buku-buku dengan genre dan elemen utama paranormal romance, tentang vampire/shifter/makhluk non-manusia. Contohnya: Ilona Andrews, Nalini Singh, Thea Harrison, dll
  16. Contemporary Romance, adalah buku-buku yang memiliki genre utama romance dan berlatar belakang kontemporer, dengan tokoh yang sudah berusia dewasa. Contoh, Cecilia Ahern, Sophie Kinsella, Jojo Moyes, Colleen Hoover, Elle Kennedy, Lauren Blakely, dll 
  17. Erotic Romance, buku-buku dengan genre utama romance dan memiliki unsur eroticism yang besar. Contohnya, E.L. James, Sylvia Day, C.D. Reiss
  18. Sport Fiction, buku-buku fiksi dengan tema olahraga, baik romance maupun non-romance. Contoh: Susan Elizabeth Phillip
  19. Thriller and Crime Fiction, adalah buku-buku yang memiliki genre utama thriller dan fiksi kejahatan. Contoh, Stephen King, J.D. Robb, David Baldacci, John Grisham, etc 
  20. Wedding Literature, buku-buku yang memiliki tema pernikahan (wedding) 
  21. Graphic Novels & Comic Books, adalah buku-buku komik, novel bergambar, dan novel berilustrasi.
  22. Debut Authors, adalah buku dari pengarang yang melakukan debut pada tahun 2017 (buku pertama), bisa fiksi bisa non fiksi
  23. Hobby Nonfiction, adalah buku-buku nonfiksi mengenai hobi, seperti crafting, travel, fotografi, motor dan mobil, dsb 
  24. Brick Books, adalah buku-buku yang memiliki ketebalan buku minimal 500 halaman dalam bentuk fisik (paperback/hardback) maupun digital (sesuai dengan edisi Kindle/ebook)
  25. Name In A Book, adalah buku-buku yang memiliki nama tokoh (nama depan/belakang) pada judulnya, dan bukan pada nama serinya

Kategori Ten Point

  1. Full Series, membaca dan mereview satu seri penuh selama tahun 2017, minimal memiliki 3 buku (trilogi) dalam satu seri dan semua review dimasukkan ke dalam linky
  2. Buku Pengarang Lima Benua, mereview buku-buku dari masing-masing satu pengarang dari setiap benua (Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia), sehingga dalam tema ini akan ada 5 link/tautan review. Buku yang dibaca boleh fiksi, bisa nonfiksi
  3. Lima Buku dari Penulis yang Sama, membaca dan mereview lima buku dari penulis yang sama, namun bukan bagian dari seri (harus stand-alone), bisa fiksi maupun nonfiksi
  4. Historical Non Fiction, merupakan buku-buku historis nonfiksi, bisa berupa ensiklopedi, buku sejarah, dll

Reading Challenge ini tampaknya tidak akan mudah, tapi sangat menantang. Saya tidak berharap banyak sebenarnya, apalagi sampai menginginkan menang, mengingat bacaan saya pada tahun sebelumnya tidak sebanyak kategori challenge yang tersebut di atas. Mampu membaca satu buku untuk setiap challenge saja rasanya sudah cukup.

But, lets see!

Semoga ada kejutan, 2017 baru saja dimulai!



Merangkum Setahun - Catatan tentang Pencapaian-Pencapaian



Postingan ini ditulis sebagai bentuk apresiasi terhadap diri saya sendiri hahaha selama satu tahun ke belakang sekaligus catatan dan bahan evaluasi untuk resolusi di awal tahun depan. Sebenarnya saya sudah berniat menulis postingan ini dari akhir tahun lalu tapi tidak begitu yakin akan menulisnya dalam bentuk seperti apa sampai menemukan postingan Raafi dan Bibli yang berjudul 'Kaleidoskop 2016: Sajian Singkat Aneka Peristiwa Perbukuan yang Menimpaku' yang terbit pada 31 Desember lalu. Artikel tersebut membuat saya berpikir untuk menuliskan apa saja dalam postingan ini sekaligus membuatnya dalam bentuk listical. Benar, postingan ini juga dibuat karena terinspirasi oleh artikel senior saya di BBI tersebut.

BBI? Yep, Blogger Buku Indonesia. Entah kenapa sejak awal tahun 2014 saya sangat tertarik dengan komunitas ini. Mungkin karena saya merasa menemukan orang-orang yang satu frekuensi; mereka yang memiliki kecintaan besar terhadap buku sampai mau mengorbankan banyak waktunya untuk membaca, menulis ulasan dan menyebarkan budaya membaca di dunia maya. Kabar baiknya, awal tahun ini pendaftaran kembali dibuka dan saya adalah salah satu anggota baru yang diterima. Oke, saya simpan catatan ini untuk 'Merangkum Setahun' di pergantian tahun 2017-2018.


Sekarang mari kita cek pencapaian-pencapaian apa saja yang menjadi catatan saya selama tahun 2016, ini dia.



Konsisten Menulis di Blog Buku

Saya sudah pernah membuat blog buku pada pertengahan tahun 2014 sebetulnya, ketika kepala saya menemukan bahwa satu-satunya pelarian yang paling membuat saya nyaman adalah buku. Saya cukup banyak membaca buku dan tidak puas hanya mencatatnya di Goodreads. Oleh karena itu, saya mulai membangun Blog Buku dan berencana ikut komunitas tertentu tapi ternyata, alasan paling klasik, Tuhan tidak menghendaki jadi blog buku tersebut tidak lagi dilanjutkan malah saya lupa alamatnya apa.

Hingga awal tahun 2016 ketika saya memutuskan untuk lebih banyak membaca buku dari tahun 2015 yang begitu kering, saya kembali merintis blog buku dengan berbagai aturan. Blog buku tersebut bernama Latest Bookmark, adalah rumah dari artikel yang sedang kalian baca. Meski ada beberapa bulan yang bolong karena kesibukan tertentu tapi saya merasa untuk tahun pertama, blog ini sudah diisi secara konsisten, tentu saja dalam penilaian yang subjektif. Jika dibandingkan dengan blog buku lain, wuihhh, masih kalah jauh. Ahaha. Mari saling berkirim doa agar tahun ini blog ini bisa lebih konsisten menerbitkan ulasan-ulasan dan artikel tentang buku yang berbobot.

---


Bergabung di Storial

Masuk ke pertengahan tahun, entah datang dari mana keinginan untuk menulis tumbuh cukup kuat sampai menjadi salah satu hal yang mengusik kepala saya ketika tertidur. Menulis, entah itu fiksi maupun nonfiksi, adalah hobi lain yang beberapa tahun ke belakang ini sedang coba saya jadikan rutinitas. Tahun ini, hobi tersebut akhirnya mendapat rumah yang lebih cakap dalam memberikan saya semangat untuk terus menulis. Rumah tersebut bernama Storial.co, sebuah platform tempat siapapun bisa menulis.

Sebelum bertemu dengan Storial, saya sudah menjajal beberapa paltform lain tapi tidak ada satu pun yang membuat saya nyaman. Di Storial, saya mendapat hal itu, juga orang-orang yang mau berdiskusi dan berbagi pengalaman. Storial, saya pikir, adalah salah satu batu loncatan.

---


Juara Iv Lomba Menulis

Ini semacam anugerah sebenarnya karena sudah lama saya tidak (ikut) menang dalam sebuah perlombaan menulis fiksi. Terakhir kali itu... hmmm, coba saya ingat-ingat... sekitar pertengahan tahun 2014 sepertinya. Ketika itu saya terpilih menjadi salah satu kontributor antologi buku anak bergenre horror yang diterbitkan oleh Dar! Mizan. Tahun 2016 lalu, hal itu kembali terulang. Alhamdulillah, saya menjadi juara IV lomba menulis yang diadakan oleh Storial.Co berjudul Fiction Writing Competition #Pustaka Digital.

Meski pencapaian ini terbilang 'kecil' untuk orang lain, tapi bagi saya ini semacam titik balik yang membuat mata saya lebih terbuka dalam melihat probabilitas impian saya akan tercapai. Meski tentu masih panjang jalan yang harus saya tempuh, bilang saja ini menjadi satu langkah lebih dekat.

---


Mendapat (cukup banyak) kiriman buku

Ini catatan yang apa banget sebenarnya tapi saya terhitung tidak pernah ikut dalam berbagai event menulis dan membaca di dunia maya pada tahun-tahun sebelum 2016, salah satu hadiah dari even-even tersebut mostly adalah kiriman buku. Banyak cerita lucu soal pencapaian ini sampai pada peristiwa kurir JNE yang sering kesasar tiap mau ke rumah.

Hmm, bisa dibilang ini adalah pencapaian yang ringan-ringan saja tapi menjadi sangat begitu berharga karena semakin banyak buku yang bisa saya nikmati di rumah.

---


Mendaftar ke komunitas Bbi

Dua hari sebelum 2016 tutup usia, saya membuat cuitan yang berisi pertanyaan kapan kiranya BBI open member. Tidak disangka, cuitan ini ternyata sampai pada Divisi Membership BBI dan ditindaklanjuti dengan respons yang terhitung cepat. Saya tambah kagum dengan komunitas ini dan langsung mendaftar via email dan isian formulir ketika mendapat informasi bahwa pendaftaran dibuka dan tada... keputusan akhirnya adalah logo BBI ikut menjadi identitas dari blog ini. Senangnya. Semoga dengan status sebagai anggota BBI, blog ini akan semakin terawat dan up to date.

Dari 365 hari dalam setahun, tentu saja tidak hanya pencapaian-pencapaian positif yang saya berhasil raih. Ada beberapa situasi buruk yang juga saya hadapi dan cukup memalukan jika saya masukkan ke dalam catatan yang bisa diakses oleh banyak orang seperti ini. Biarkan hal-hal tersebut menjadi catatan pribadi saya.

Nggak ada yang nanya juga sih, ya. Haha.

Lalu untuk tahun 2017 ini saya menggantungkan banyak harapan untuk menjadi yang lebih baik dalam berbagai hal, termasuk juga dalam mengelola buku ini. Yang tidak membuat saya sabar untuk 'terus hidup' di tahun 2017 adalah kejutan-kejutan yang Tuhan simpan di setiap kejadian. Selain hal-hal menakjubkan yang terjadi pada tahun 2016 kemarin, saya penasaran hal-hal menakjubkan seperti apa yang akan saya temui di tahun ini.

... am wishing the best.

... la hawla.


My Year 2016 in Books - Rekap GRC 2016


Pos ini seharusnya saya tulis tahun 2016 kemarin, tapi apa daya baru bisa muncul di sini pada tahun 2017.  Bicara soal tahun 2016 dan 2017, rasanya seperti ada jeda yang cukup panjang ya padahal baru juga lewat beberapa jam. Namun apalah arti pergantian tahun, sesungguhnya saya pun tidak merasa begitu gegap gempita dengan momen ini selain harus mengganti kalender dan ikut mendengar keriuhan tengah malam tadi. Bagi saya, pergantian tahun lebih pada pada titik temu dan usai untuk mengeset target hidup lantas melakakukan evaluasi, sama halnya seperti hari ulang tahun atau pergantian semester.


Kembali ke topik.

Selama kurun waktu 2016 ini saya membaca cukup banyak buku, tidak begitu banyak tapi terhitung banyak kalau dibandingkan dengan total buku yang saya baca selama dua tahun sebelumnya. Meski 2016 adalah tahun yang cukup sibuk dan berat, tapi ternyata membaca--setidaknya membaca novel--masih menjadi prioritas untuk menekan kadar stress di kepala. Curhat

Dan ini dia, My Year in Book yang saya kutip dari Goodreads.
Total ada 37 buku yang saya baca dan hampir seluruhnya merupakan novel. Ada beberapa buku nonfiksi juga sebenarnya, sebagian saya masukkan ke dalam reading progress Goodreads Reading Challenge, sebagian lagi saya simpan sebagai catatan pribadi. Ulasannya ada di blog ini, barangkali penasaran boleh dicari. Dari 37 buku tersebut terhitung 10.854 halaman yang saya babat habis. Jika dirata-ratakan, bisa dibilang saya membaca 29-30 halaman novel perhari. 
Dari 37 buku tersebut, Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez dengan ketebalan 76 halaman adalah buku tertipis yang saya baca. Rumah Kertas adalah salah satu buku yang saya dapatkan dari Komunitas Goodreads Indonesia karena ikut berpartisipasi dalam Tantangan Baca, sekaligus salah satu buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun 2016. Sementara itu, buku paling tebal yang saya baca adalah buku ke lima serial fantasi Harry Potter berjudul Harry Potter and The Order of Phoenix setebal 870 halaman. Harry Potter juga merupakan salah satu buku seri terfavorit yang dengan begitu bernafsu saya buru dan habiskan.
Salah satu kebiasaan buruk saya ketika membaca buku adalah nyaman di satu genre tertentu, romance, dan enggan mengambil risiko untuk membaca selain genre tersebut meski sekali-kali juga pernah. Sudah dua atau tiga bulan ini, saya banyak berkenalan dengan pembaca dan penulis lintas genre. Hal itu membuat mata terbuka tentang betapa banyak sekali jenis buku yang belum saya nikmati. Saya mencoba untuk menyentuh kemungkinan itu tahun ini.

Omong-omong soal novel favorit, saya punya beberapa novel kesayangan, lho. Adalah Metafora Padma yang saya dapatkan gratis karena mengikuti tantangan menulis yang diadakan oleh Bernard Batubara bersama sebuah platform menulis yang juga menjadi rumah ketiga saya; Storial.co. Beberapa novel young adult terbitan Gramedia seperti A Week Long Journey dan All You Need Is Love juga menjadi bacaan ringan yang menyenangkan.

Intinya, saya merasa meski 2016 bukan tahun yang mudah bagi saya tapi saya bersyukur bisa bertemu dengan banyak buku bagus. Malah, 'rasa tidak mudah' itu juga mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang yang selama ini saya cari; mereka yang mau berbagi banyak pengalaman dan pemikiran soal dunia menulis dan membaca.

Tahun ini saya tidak ingin muluk-muluk sebenarnya, tapi ketika teringat bahwa shio ayam saya tidak banyak mendapat keberuntungan di tahun ayam api ini, saya mengusahakan banyak hal perihal aktivitas menulis dan membaca saya, keberadaan blog buku ini juga nasib kehidupan saya di dunia nyata. ^^