#34 | Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Mei, 2016
Tebal: 138 halaman
ISBN: 978-602-032-895-3

"Aku tidak percaya pada bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

"Nada komedi-satirnya cukup kuat dalam Corat-Coret di Toilet. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problema kemanusiaan."
- Maman S. Mahayana, Media Indonesia

"I decided to translate Corat-Coret di Toilet not only because it is one of Eka's best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the century, as the brief promise of Reformasi was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifuly the bizzare lingo shared by ex-radicals, sexual opportunists, young inheritors of the debased culture of the New-Orde era and anarchists avant la lettre. Finally it shows Eka's gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone and his 'extra-dry' sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation."
- Benedict R. O'G. Anderson, Indonesia

Ketika ulasan ini ditulis, saya baru membaca bagian awal dari Lelaki Harimau. Sedikit banyak saya tergelitik untuk membandingkan keduanya dan secara pribadi merasa meski Corat-Coret di Toilet dan Lelaki Harimau berasal dari satu kepala yang sama tetapi keduanya memiliki rasa-Eka yang berbeda. Mungkin karena Corat-Coret di Toilet adalah karya pertama Eka yang diterbitkan, sekalipun saya kurang mendapati korelasi di antara keduanya.

Duh, maafkan sikap sok tahu saya tapi pemikiran tersebut cukup mengganggu dan tentu saja, kamu bisa men-cmiiw-ku di kolom komentar. hehe.

Corat-Coret di Toilet adalah kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2000 oleh Penerbit Aksara Indonesia sebelum diakuisisi oleh Gramedia Pustaka Utama. Kumpulan Cerpen ini terdiri dari dua belas cerpen dengan tema yang cukup acak, dengan judul sebagai berikut.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

#1 | Peter Pan

"Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan susah mati."
hal. 10

---

#2 | Dongeng Sebelum Bercinta

"Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta. Dengar, kau bukan Syahrazad yang lihai membual. Pada saatnya, suamimu akan bosan dan mungkin ia memutuskan memenggal kepalamu dengan golok."
hal. 20

---

#3 | Corat-Coret di Toilet

Tulisan pertama berbunyi, "Aku tak percaya pada bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."
Tulisan kedua berbunyi, "Aku juga."
hal. 29

---

#4 | Teman Kencan

"Tapi...," kataku. "Sekarang kau lebih subur. Naik berapa kilo? Tidak diet?"
"Subur katamu?"
Aku mengangguk.
"Bodoh! Bukan subur. Aku hamil!"
"Kau hamil?" tanyaku tersentak.
hal. 37

---

#5 | Rayuan Dusta untuk Marietje

Aku mengangguk lagi setuju, dan segera saja kutulis kembali surat. Maritje sayang, kataku, akan kutaklukan negeri barbar ini demi kau. Kupersembahkan alamya yang indah, emas, intan, permatan yang melimpah, dan semuanya demi kau."
hal. 46

---

#6 | Hikayat Orang Gila

Dengan tulang, daging dan darah yang tersisa, Si Orang Gila memasuki rumah tersebut. Sebagaimana di luar, ia saksikan kehancuran itu di dalam. Porak-poranda ditebas sangkur dan peluru.
hal. 55

---

#7 | Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam

Beberapa orang masih seirng melihatnya malam-malam di pub dan diskotek, atau di lobi sebuah hotel. Beberapa orang yang lain melihatnya di pinggir jalan di bawah cahaya bulan purnama sedang menghentikan taksi atau berjalan dengan seorang laki-laki tua berperut buncit. Ada desas-desus ia menjadi kupu-kupu malam. Tapi sebagian besar orang lebih percaya kalau ia mati bunuh diri dan yang sering terlihat itu konon hantunya yang masih penasaran.
hal. 67

---

#8 | Siapa Kirim Aku Bunga

".... Kenapa aku tak boleh membayar?"
"Bunga itu lambang cinta, dan kau manusia yang kering akan cinta. Sudah selayaknya kau peroleh banyak-banyak bunga."
hal. 74

---

#9 | Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

"Bapak polisi, antarkan aku kepada ibuku. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan membawaku ke pasar malam. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku rumah. Aku juga ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku uang untuk membeli roti sehingga aku tak perlu mencuri...."
hal. 92

---

#10 |  Kisah dari Seorang Kawan

"Aku sudah yakin dari dulu, kapitalisme tak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali," kata Si Baret Guevara. "Kalau ada orang berkata kapitalisme telah jadi humanis, ia tak kenal kapitalisme dengan sungguh-sungguh."
hal. 90

---

#11 | Dewi Amor

"... Puncaknya terjadi ketika akhirnya aku bertemu dengan laki-laki itu. Tanpa bisa kukendalikan, didorong oleh amarah yang menggelegak di dadaku, aku melayangkan tinjuku kepadanya. Ia tampaknya tak begitu bersiap diri sehingga beberapa pukulanku mendarat di wajah dan tubuhnya tanpa perlawanan, dan ketika ia mulai hendak melawan, dirinya sudah begitu babak belur. Orang-orang berlarian melerai sementara Laura teriak menjerit histeris. Aku berlari saat laki-laki itu akhirnya tergolek di tanah."

---

#12 |  Kandang Babi

Lalu apa yang merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang? Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, buku ini terdiri dari cerpen-cerpen dengan beragam tema atau acak. Ada dua tema yang saya tangkap secara kasat mata, (1) Situasi politik dan pemerintahan yang terdapat dalam cerpen Peter Pan, Corat-Coret di Toilet, Hikayat Orang Gila dan Kisah dari Seorang Kawan, serta Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti dan tema (2) Percintaan seperti dalam cerpen Dongeng Sebelum Bercinta, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Si Cantik tak Boleh Keluar Malam, serta tema-tema rujak bebek yang mencampur keduanya seperti dalam cerpen Siapa kirim Aku Bunga.


Dan sebagai pembaca cerita roman, cerpen Dongeng Sebelum Bercinta dan Teman Kencan adalah dua cerpen yang paling saya ingat. Keduanya memiliki plot twist yang menohok di bagian akhir, dengan alur yang sedari awal digiring untuk menjauhkan persepsi saya dari ending semacam itu.

Cerpen Corat-Coret di Toilet juga tidak bisa dikepinggirkan. Kisah tentang berbagai macam reaksi dari mahasiswa terhadap situasi pemerintahan yang terekam di dinding toilet adalah ide yang antimainstream tapi sangat dekat dengan kenyataan. Di tengah gemuruh politik yang sedang terjadi (kumpulan cerpen ini terbit pada tahun 2000 dan dengan asumsi bahwa beberapa cerpen berbau politiknya bersinggungan sangat kuat dengan masa pemerintahan tahun 1990an) saat-saat kebebasan berpendapat menjadi sangat mahal maka dinding toilet pun bisa dijadikan sebagai media penyampai aspirasi. Saat ini, di tengah kondisi demokrasi dan kemajuan teknologi yang pesat, rasanya jarang sekali pesan-pesan semacam itu muncul di dinding toilet, ya, karena kita memiliki dinding lain di dunia maya.

Meski beberapa cerpen dalam buku ini bersinggungan dengan situasi politik dan pemerintahan namun saya merasa tidak begitu kesulitan ketika mencernanya. Sebab bahasa yang digunakan Eka Kurniawan tidak bertele-tele sehingga mudah dimengerti. Meski ada beberapa cerpen yang dari segi bahasa mudah dimengerti tapi menyimpan pesan yang tersembunyi lewat berbagai macam perumpamaan.

Eh, ternyata ada cerita menarik di balik buku kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet ini. Buku ini menyimpan kisah tahun pertama Eka Kurniawan menggeluti dunia literasi. Hampir semua cerpen dalam buku ini pernah dimuat di media dan menjadi pemantik penulis yang lahir di Tasikmalaya ini menekuni dunia tulis-menulis lebih giat. Untuk kisah selengkapnya, kamu bisa mengaksesnya di tautan berikut: 10 Tahun "Corat-Coret di Toilet". 

Selain itu, setiap cerpen dalam buku ini juga menyajikan berbagai kata mutiara atau quote yang menarik. Jika membacanya melalui buku fisik, salah satu cara saya menandai halaman ber-quote adalah dengan menempelkan bookmark mini berperekat pada tepi halaman agar mudah dicari. Akan tetapi hal tersebut cukup ribet dan mengganggu pemandangan. Beruntungnya, saya membaca buku kumpulan cerpen ini via aplikasi iJak.  

Tahu kan, iJak aka iJakarta? Itu lho aplikasi perpustakaan digital yang dikembangkan oleh pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan pengembang PT. Woolu Aksaramaya. Selain menjadi ePustaka, aplikasi ini juga bisa digunakan sebagai eReader dari buku-buku yang kita pinjam.

Nah, dalam aplikasi eReader iJakarta ini ada fitur bookmark, lho. Selain untuk menandai di halaman berapa kita mem-pause bacaan kita, fitur tersebut juga bisa digunakan untuk menandai halaman-halaman lain yang menyisipkan kata-kata menarik di dalamnya. Jadi untuk mencarinya kembali, kita hanya perlu menekan fitur bookmark. Fitur ini sangat membantu sekali terutama untuk book blogger yang memerlukan kutipan untuk membuat ulasan bukunya seperti ini.

IJakarta tidak hanya eReader dengan fitur bookmark. Masih banyak fitur lain yang canggih dan membantu kenyamanan membaca para pencinta buku. Salah satu yang paling memberikan kesan adalah tampilan antar mukanya yang menyerupai bentuk asli buku. Seperti cara membuka kertas, ada pilihan transisi yang variatif (favorit saya adalah transisi kertas Curl). Rasanya seperti membaca dalam bentuk buku beneran. Selain itu juga fitur TOC memberikan kemudahan kepada kita untuk melompat ke bagian buku yang kita inginkan. Ada juga fitur share atau bagikan, ini cocok banget untuk kita yang harus selalu update dan membuat teman-teman media sosial kita up to date soal bacaan kita.

Sementara itu sebagai ePustaka, iJakarta memberikan banyak sekali pilihan buku yang bisa kita pinjam dan baca mulai dari buku fiksi sampai nonfiksi, berbagai tema dan bahasa (terjemahan). Pokoknya, membaca dengan aplikasi iJak adalah pengalaman asik membaca buku yang tidak ada duanya.

Untuk kamu yang penasaran dengan aplikasi ini, baca ulasan saya mengenai aplikasi ini serta tips membaca dengan menggunakan aplikasi iJakarta lewat tautan di bawah ini.


Gimana, tertarik untuk mendapatkan pengalaman asik membaca serupa dengan aplikasi iJak? Jangan lupa cari buku Corat-Coret di Toilet atau buku karya Eka Kurniawan yang lainnya sebagai buku rekomendasi untuk kamu baca di akhir pekan ini.

Salam literasi!

Post a Comment

0 Comments