#32 | Rumah Kertas - Carlos María Domínguez


Rumah Kertas
Judul Asli: La Casa de Papel
Penulis: Carlos María Domínguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tebal: vi+76 hlm, 12x19cm
Cetakan: I, September 2016
ISBN: 978-979-1260-62-6


Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!


"Membangun perpustakaan  adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka."
hal. 26

Jika ada orang yang paling mencintai buku di dunia ini, bisa jadi itu adalah Bluma Lennon dan Carlos Brauer, jangan lupakan Delgado juga. Ketiganya memperlakukan buku dengan agung, hingga rasanya setiap sendi kehidupan mereka selalu berkaitan dengan buku; akhir hayat Bluma salah satunya.

Pada musim semi 1988, Bu dosen Bluma Lennon membeli satu eksemplar buku lawas "Poems" karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. Buku mengubah takdir hidup orang-orang.
hal. 01

Akan tetapi tak hanya mengubah takdir Bluma, sebelum ini buku juga mengubah takdir beberapa orang lainnya. Prof. Leonard Wood, mendadak lumpuh setelah kepalanya ditimpa lima jilid Encyclopedia Britannica. Richard, teman tokoh Aku--si tokoh utama yang tak pernah disebutkan namanya--patah kaki setelah terpelanting dari tangga karena hendak menggapai Absalom, Absalom! yang tersempil di ujung lemari dan bahkan seekor anjing mati salah cerna setelah menggigiti Karamazov Bersaudara.

Sayangnya, perubahan-perubahan itu merujuk pada satu kejadian yang buruk. Tokoh Aku jadi teringat pada Nenek yang mengatakan bahwa buku itu berbahaya.

Kematian Bluma yang mendadak itu pun menuai polemik, ditambah dengan akhir pidato Prof. Robert Laurel yang kontroversial di hari pemakamannya;

"Bluma membaktikan hidupnya pada sastra tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang akan merenggutnya dari dunia ini."
hal. 02

Eufimisme yang dinilai murahan tersebut membuat percakapan tentang apa sebenarnya yang membunuh Bluma melebar, apakah beneran buku atau bemper mobil. Perbedaan pendapat itu bahkan menelurkan sebuah sayembara mahasiswa dengan tema 'Hubungan Bahasa dengan Realitas', berbagai hal yang berkaitan dengan kematian Bluma diteliti, mulai dari jumlah langkah Bluma di trotoar Soho, larik-larik syair yang dia baca, laju mobil yang menabraknya hingga sampai pada pembahasan semiotika lalu lintas kota London, konteks kultural, urban dan linguistik.

Akan tetapi bukan hal itu yang menjadi kerisauan tokoh Aku, melainkan munculnya paket buku dari sebuah alamat di Uruguay untuk mendiang Bluma.

Paket tersebut berisi sebuah edisi lama buku tebal berjudul La Linea de Sombre yang sudah koyak, terjemahan Spanyol untuk buku The Shadow-Line karya Joseph Conrad.

Buku itu akan tampak normal jika saja tidak dilapisi kotoran berkerak di sampul depan dan belakangnya, sementara pinggirannya dilapisi partikel-partikel semen yang meninggalkan debu halus. Tak ada surat yang menyatakan apapun, misalnya dikirim dari siapa dan dalam rangka apa, hanya ada tulisan tangan Bluma yang dijadikan kalimat persembahan di halaman pertamanya.


"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti sudah kubilang sedari awal: kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku."
8 Juli 1996
hal. 05

Tokoh Aku yang merasa buku tersebut sampai kapanpun tak akan sampai pada orang yang dituju--Bluma, tentu saja karena dia sudah meninggal--akhirnya menelusuri siapa kira-kira orang yang mengirim buku ini. Selain untuk dikembalikannya lagi, dia juga merasa perlu mengabarkan Bluma yang telah dijemput ajalnya. Sayangnya hanya ada satu clue tentang pengirim La Line de Sombre, seorang lelaki bernama Carlos.

Pencariannya pun dimulai dengan mencari daftar nama dan kontak para peserta konferensi di Monterrey, Hingga korespondensinya dengan seorang penulis dari Uruguay memberikan jalan terang. Penulis tersebut mengatakan bahwa ada seorang lelaki yang menemani Bluma selepas konferensi, dia seorang bibliofil bernama Carlos Brauer.  Kini, Brauer bermukim di Rocha dan mereka telah berhenti berhubungan.


Pencariannya kemudian menemukan tokoh Aku dengan seorang bibliofil yang memiliki salah satu toko buku lawas terbaik di Montevideo bernama Jorge Dinarli. Sayangnya, Dinali mengenal Brauer hanya sebatas hal remeh temeh tetapi dia menyarankan tokoh Aku untuk bertemu dengan salah satu teman Brauer yang bernama Delgado, yang sama gilanya terhadap buku dengan Brauer.

Pertemuan tokoh Aku dengan Delgado pelan-pelan mengungkap kehidupan bibliofil semacam Bluma, Brauer dan Delgadi terhadap buku. Bagaimana mereka sebegitu gilanya terhadap buku hingga lupa berpegangan pada realitas yang sebenarnya ada di sekitar mereka, deskripsi ini lebih tepat untuk ditujukan pada Brauer. Dari Delgado juga, tokoh Aku mengetahui kehidupan Brauer dan tempat bermukimnya sekarang.

Lalu...

Lalu...

Silakan baca kelanjutannya sendiri.

*kabur*

Pada akhirnya, pencarian tokoh Aku berakhir di La Paloma, di pesisir Uruguay, antara tasik dan lautan. Di sana, jejak-jejak terakhir keberadaan Brauer ditemukan dalam keping-keping rumah kertasnya yang runtuh. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa La Linea de Sombre yang diterima oleh tokoh Aku memiliki kerak kotoran dan berpartikel debu.


Saya tidak mengetahui keberadaan novel ini sebelumnya andai Mbak Miaa dari Goodreads Indonesia tidak mengirimi saya paket buku awal Oktober lalu. Rasanya seperti mendapat birthday gift meskipun paketnya mengetuk pintu rumah saya tiga hari lebih cepat dari jadwal saya ulang tahun. Dan saya suka, dengan Rumah Kertas maupun dengan The Magic Library yang menjadi tandem buku ini di dalam bungkus kado, sedang saya baca ketika review ini ditulis.

So, terima kasih banyak sekali lagi untuk Mbak Miaa dan Goodreads Indonesia untuk paket buku ini.

Selepas membaca Rumah Kertas, saya merasa kecintaan saya terhadap buku bisa dihitung nihil jika dibandingkan dengan para bibliofil yang menjadi tokoh-tokoh sentral dalam Rumah Kertas. Misalnya, bagaimana obsesifnya Bluma dan Brauer terhadap buku hingga mereka mengikuti setiap acara pelelangan atau jumlah koleksi buku mereka yang sudah masuk ke dalam digit ribuan.

RIBUAN!

Menarik sekali, kan, rasanya hidup di tengah-tengah tumpukan buku dengan bau kertas yang khas. Lirik kanan, ada buku, begitu juga ketika melirik ke kiri. Meskipun di antara keanggunannya, buku ternyata menyimpan sisi yang berbahaya bahkan bisa sampai membuat gila.

Carlos Brauer, misalnya, yang disebutkan kehilangan pegangan pada realitas.

Akan tetapi justru kegilaan para bibliofil itulah yang membuat novela ini menarik. Mengetahui apa yang dilakukan oleh para-pencinta-mati buku dari hal-hal yang biasa hingga hal yang membuat geleng-geleng kepala. Beberapa kegilaan mereka memang sampai pada tahap tidak masuk akal. Akan tetapi poin penting sebagai bibliofi adalah, mereka tidak hanya mengoleksi buku tetapi juga membaca dan memahaminya.

Bibliofil sendiri dibagi kembali menjadi dua, sesuai dengan penjelasan Jorge Dinali;

"Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan:
pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka ... sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah ojek yang indah, barang langka. 

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus ... yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."
hal. 17

Salah satu kegilaan saya terhadap buku, paling sebatas mondar-mandir di pesta buku selama berjam-jam untuk menemukan buku diskonan yang bagus atau memaksakan membeli buku idaman ketika rilis meski uang sedang cekak. Haha.

Kalau kamu, kira-kira kegilaan apa yang pernah kamu lakukan sebagai pecinta buku?


Post a Comment

2 Comments

  1. Keren sekali ulasannya. Lengkap banget. Saya juga sudah membaca buku ini dan... teriak-teriak histeris sendiri saat tahu *you know what*. Buku yang recommended banget, hiburan buat para pencinta buku, sekaligus teguran bagi mereka yang terkadang suka lupa diri. Eh, saya juga sih... meskipun nggak selevel sama Carlos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih sudah berkunjung dan membaca ulasan ini, Nisa.

      Bener, Rumah Kertas ini buku yang recommended banget buat yang suka sama buku. Sekalipun endingnya bikin geleng-geleng kepala. Hehe

      Carlos sama Bluma sih levelnya udah dewa. :))

      Delete