October 28, 2016

,

Salah satu kesenangan saya ketika berada dalam perjalanan selain tidur adalah membaca novel. Kesenangan tersebut sudah masuk ke dalam taraf yang mengkhawatirkan sampai kadang bikin saya cukup kerepotan. Pasalnya, setiap bepergian saya hampir selalu membawa barang bawaan yang banyak sementara tangan saya gatal buat menenteng novel. Lebih parah lagi kalau sedang musim hujan seperti sekarang, akan menjadi pengalaman pahit sekali jika novel yang lagi asyik dibaca basah kena hujan. Sayangnya, hal itu pernah terjadi. Novel saya basah karena kehujanan, meski tidak parah tapi bekasnya cukup bikin menghela napas.

Tepat seminggu yang lalu dalam perjalanan mengejar kereta lokal menuju stasiun Bandung.

Beruntungnya, saya punya alternatif lain untuk mengantisipasi hal-hal tersebut. Salah satunya adalah mempersiapkan bahan bacaan dalam bentuk digital. Meski banyak pilihan tapi menggunakan aplikasi iJakarta adalah sebuah keharusan. Saya sudah mengenal aplikasi perpustakaan digital ini sejak awal tahun dan tetap setia menggunakannya sampai sekarang. Banyak sekali keuntungan yang bisa saya ambil dari iJakarta, selain mempermudah saya mengakses dan membaca buku (aplikasi ini merupakan aplikasi ePustaka sekaligus eReader) juga bisa menjadi teman jalan yang nyaman ketika berada di dalam kendaraan. Tidak perlu takut bahan bacaan kita lecet atau basah karena hujan, atau menghabiskan tempat penyimpanan, aplikasi bisa di-install ke ponsel pintar dan tinggal disimpan di saku jika tidak sedang digunakan.
IJakarta adalah perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan PT. Woolu Aksaramaya. Aplikas ini diluncurkan pada puncak Hari Anak Jakarta Membaca di Balai Kota. Selain iJakarta, PT. Woolu Aksaramaya juga sudah mengembangkan MOCO, aplikasi eReader yang dilengkapi dengan fungsi media sosial. Hampir serupa dengan iJakarta tempat para penggunanya bisa mengunduh dan membaca ebook dengan percuma.

Kali ini, buku yang saya baca menggunakan aplikasi iJak adalah kumpulan cerpen berjudul Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan [baca ulasannya di sini]. Ini merupakan karya Eka yang paling dini, diterbitkan pada tahun 2000 oleh Penerbit Aksara Indonesia yang diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama pada Mei tahun ini.

Untuk bisa menggunakan aplikasi iJakarta, tentu saja hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengunduh aplikasinya. Beruntungnya, aplikasi ini bersifat multiplatfrom. Kamu bisa menginstalkannya di tiga jenis platform.

UNDUH DI SINI!

Setelah ter-install, ada dua cara mendaftarkan diri menjadi anggota yakni dengan menggunakan akun facebook dan alamat email. Setelah berhasil, kamu akan menemukan beberapa fitur yang bisa kamu gunakan untuk kenyamanan pengalaman membaca kamu lewat iJakarta.

Di antaranya adalah sebagai berikut.
Beranda, tempat segala aktivitas para pengguna iJakarta terekam.

Susunan Rak. Bagian ini terdiri dari tiga rak, Pinjaman Buku tempat buku-buku yang kamu pinjam tersimpan, Antrian Buku untuk daftar buku yang sedang kamu tunggu karena masih dipinjam dan stoknya habis serta Riwayat Pinjaman tempat buku-buku yang pernah kamu pinjam tercatat.

Notifikasi, terdiri dari tiga bagian yaitu Aktivitas yang berkaitan dengan akun kamu, Kotak Masuk tempat kamu bisa chit-chat dengan sesama pengguna dan Konfirmasi.

Kategori Buku, bagian pertama yang akan kamu lihat. Di bagian ini, kamu bisa memilih genre buku apa saja yang kamu ingin pinjam dan baca. Genrenya sendiri sangat beragam dari buku-buku fiksi seperti novel dan buku-buku nonfiksi berbagai ilmu pengetahuan.

Terakhir, Kategori ePustaka. Di bagian ini, kamu akan menemukan daftar ePustaka yang menyediakan beragam macam buku yang mungkin kamu minati. Untuk mengaksesnya, kamu hanya perlu mendaftarkan diri. Jika kamu memiliki banyak koleksi ebook, kamu juga bisa mengajukan diri untuk membuat ePustaka-mu sendiri di sini.

Untuk lebih jelasnya mengenai fungsi fitur-fitur dalam aplikasi iJak, kamu bisa memahaminya [di sini] atau mengamatinya di video berikut.


Bagaimana, tertarik untuk menggunakan iJak?

Eits, tapi tunggu dulu! Sebelum kamu mulai mengunduh buku yang kamu suka dan membacanya via aplikasi iJak, saya punya beberapa tips membaca nih untuk kenyamanan dan kesehatan mata kamu.

Check this out!

1. Matikan Akses Data. Salah satu keunggulan iJakarta adalah kita bisa menggunakan fitur eReader sekalipun akses data dimatikan. Hal ini terjadi karena buku yang kita pinjam otomatis terunduh dan tersimpan ke dalam memori telepon. Dengan begitu, kita bisa membaca buku dalam mode luring. Akses data bisa dimatikan begitu saja atau menggunakan flight mode. Selain untuk menghindari gangguan ketika membaca seperti bunyi ringtone dari pesan atau panggilan masuk, mematikan akses data juga bisa digunakan untuk menghemat daya baterai agar tidak cepat panas atau habis. Hal ini sangat berguna sekali khususnya untuk ponsel saya yang tidak lagi begitu cerdas. wkwk

2. Sesuaikan Kecerahan Layar. Mengatur kecerahan ponsel ketika membaca tidak hanya bertujuan agar tulisan mampu dibaca dengan baik tapi juga untuk menghindarkan mata kita dari stress. Cahaya yang kurang atau berlebihan bisa menyebabkan hal tersebut. Untuk mengatur kecerahan layar, kita bisa melakukannya lewat setting secara manual maupun otomatis menggunakan pilihan auto brighteness. Bahkan aplikasi untuk mengatur kecerahan layar ponsel agar lebih nyaman ketika digunakan pun ada dan kamu bisa menggunakannya, tiga di antaranya adalah Lux, Twilight dan Velis.

3. Perhatikan Jarak Baca. Masalah jarak baca yang ideal ketika berhadapan dengan teks dalam layar Official Journal of The American Academy of Optometry lho. Ini berarti bahwa jarak ketika kita membaca teks di layar ponsel cukup penting untuk diperhatikan. Dalam jurnal tersebut dipaparkan bahwa jarak ideal untuk membaca teks dalam layar ponsel adalah satu kaki atau sekitar 30.48 cm. Akibatnya jelas jika jaraknya terlalu jauh, mata kita tidak dapat menangkap tulisan yang tertera tapi jika terlalu dekat maka ini akan berpengaruh pada meningkatnya tuntutan pada kemampuan akomodasi dan koordinasi antar mata yang berakibat pada kondisi mata lelah dan pusing kepala.
ponsel pernah menjadi isu yang diangkat oleh

4. Ingat Peraturan "20-20-20". Peraturan ini sebenarnya tidak hanya berlaku ketika kamu membaca menggunakan ponsel tetapi juga komputer, laptop dan alat digital lainnya. Logikanya, ketika mata terus menerus menatap ponsel membuat matamu kering dan kelelahan. Jika terus dibiarkan, hal ini akan menyebabkan syaraf-syaraf mata menjadi tegang dan penglihatan dengan kabur. Oleh karena itu, selain harus rajin berkedip maka menerapkan peraturan "20-20-20" juga perlu dilakukan. Peraturan yang dimaksud adalah berhenti menatap layar perangkat digital kita setelah 20 menit untuk (usahakan) melihat benda sejauh 20 kaki selama 20 detik.

Nah, jangan lupa terapkan empat tips di atas ya agar kita merasa nyaman ketika membaca via ponsel, terutama menggunakan aplikasi iJakarta.

Selamat memburu dan membaca buku favoritmu!


October 24, 2016

,


The Magic Library - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Judul Asli: Bibbi Bokken Magische Bibliothek
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah: Ridwana Saleh
Penerbit: Mizan
Cetakan: iv, September 2016
Tebal: 284 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978-979-433-924-4


Pembaca yang baik,

Buku di tangan Anda ini benar-benar unik. Susah menggambarkan isinya. Tapi, kira-kira seperti ini:

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib.

Buku ini juga berisi cerita detektif, cerita misteri, perburuan harta karun, petualangan ala Lima Sekawan, Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, kisah cinta, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film perpustakaan, penerbitan, humor, konspirasi ...

"Buku terbaik mengenai buku dan budaya-baca yang ada saat ini."
Oldenburgische Volkszeitung

"Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan."
Ruhr Nachricht



“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggan serta keluhuran manusia bersemayan.”

Pernah berkunjung ke perpustakaan yang memiliki satu ruangan tempat buku-buku yang belum terbit terpajang dengan cantik? Jika belum, maka saya sarankan kamu untuk pergi ke Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang terletak di bawah tanah hotel Mundal ...

tepatnya di Norwegia sana. Tapi jika itu terlalu jauh,

... maka bacalah The Magic Library dan saksikan sendiri bagaimana buku yang belum terbit tapi sudah diincar orang itu ditulis.

Dalam The Magic Library, kamu akan berkenalan dengan dua tokoh utama kita, mereka adalah dua sepupu keluarga  Boyum Torgensen yang bernama Berit dan Nils.

Acara vakansi mereka pada musim panas lalu memunculkan ide untuk membuat sebuah buku-surat, dikirimkan bolak-balik antara Oslo dan Fjærland. Hal pertama yang mereka bahas adalah seorang perempuan tua aneh yang matanya bak piring serta punya buku robek-robek di dalam tas tangannya dan ngiler ketika melihat tumpukan buku di sebuah toko di daerah Sogndal.

Perempuan tua yang melongok puisi tulisan mereka pada sebuah buku tamu ketika mereka liburan itu ternyata cukup misterius dan mencurigakan. Dia tampak seperti seorang pelaku kejahatan ketika bertemu secara tak sengaja dengan Berit. Beruntungnya, atau justru nahas untuk si perempuan, ada sebuah surat 'rahasia' yang jatuh dari tasnya dan ini menjadi semacam pemantik bagi Berit dan Nils untuk membongkar kedok perempuan tua yang mencurigakan itu. Apalagi setelah ditemukan dua kata asing yang sangat berkaitan dengan si perempuan, yaitu bibliografer dan incunabula, dan tentu juga nama si perempuan; Bibbi!


Dalam keriangan musim panas ini,
Segelas Coca-Cola kami nikmati,
Nils dan Berit, itulah kami,
Menghabikan liburan kami di sini,
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Pencarian identitas lebih lanjut tentang Bibbi pun dimulai dan semuanya seolah menjadi jaring laba-laba. Bibbi ternyata bernama lengkap Bibbi Bokken, dia adalah teman dari istri Bruum, guru kelas Nils! Anehnya, sejak mereka memburu Bibbi dan perpustakaan ajaibnya, justru ada seorang lelaki mencurigakan yang balik memburu mereka. Lelaki itu mereka beri nama Smiley.

Menakutkan sekali!

Lalu serangkaian peristiwa-peristiwa yang kebetulan terjadi pun mengantarkan mereka pada kebenaran, hingga mereka menemukan perpustakaan ajaib Bibbi Bokken dan buku yang belum terbit tapi sudah diperbincangkan itu.

Akhir yang mengejutkan!

By the way, selain Rumah Kertas karya Dominguez [baca ulasannya di sini], The Magic Library cetakan terbaru ini juga ternyata terdapat di dalam paket buku yang dikirimkan oleh Goodreads Indonesia awal bulan lalu. Yeay! Terima kasih, Goodreads Indonesia!

Membaca The Magic Library membuat saya teringat bahwa saya pernah membaca Flipped karangan tante Wendellin. Keduanya memiliki kesamaan dalam pengambilan sudut pandang naratornya. Yeah, tepat! The Magic Library dan Flipped menggunakan dua sudut pandang orang pertama (anak remaja) sebagai tokoh utama. Bedanya, narasi dalam The Magic Library berbentuk isi surat yang para tokoh utamanya tulis di dalam buku-surat sementara narasi dalam Flipped adalah narasi biasa, means ungkapan hati yang begitu saja keluar dari batin para tokohnya.

Meski begitu, suguhan konflik dan hubungan antara dua tokohnya yang jelas sekali berbeda membuat dua novel tersebut memiliki kekhasan yang tentu juga berbeda, ditambah dengan perbedaan genre cerita yang diambil. Oh, banyak sekali perbedaannya, ya, haha. Flipped bercerita tentang kisah cinta anak baru gede yang manis dan polos sementara The Magic Library bercerita soal petualangan dua saudara sepupu yang memicu rasa penasaran dan adrenalin.

Oke,  kita fokus ke The Magic Library!

Banyak hal yang membuat saya menyukai The Magic Library, di luar kesamaannya dengan Flipped yang sudah dipaparkan sebelum ini, yang membuat saya menamatkan novel ini di atas kereta api dalam perjalanan pulang ke rumah. Sensasinya baru sekali, terasa sedikit terombang-ambing dan membikin mual but curiosity, and the plot for sure, kill it.

Pertama; membaca novel ini membuat saya kembali bernostalgia dengan bacaan ketika kecil. Buku-buku terbitan tahun 1980 yang bercerita tentang detektif dan petualangan yang berjajar di perpustakaan tua sekolah adalah favorit saya. Salah satunya adalah buku serial Sandi karya Dwianto Setyawan. Sayanganya, dari tiga seri yang terbit [Terlibat di Bromo, Terlibat di Trowulan dan Terlibat di Mahakam], hanya seri terakhir yang belum sempat saya habisi. Saya merasa serial Sandi dan The Magic Library memberikan apa-ya-namanya pengalaman membaca yang sama kepada saya. Jika kamu suka The Magic Library, jangan sungkan untuk mengecek serial Sandi.


Duh, jadi pengen baca ulang lagi.

Kedua; buku ini dan Rumah Kertas menyajikan banyak sekali informasi tentang dunia yang selama ini ingin dan (semoga) akan saya geluti; perpustakaan, buku, aktivitas membaca dan menulis. Buku ini membuat saya kenyang dan lapar dalam waktu yang bersamaan. Jika di dalam Rumah Kertas saya mengagumi kegilaan para bibliofil terhadap koleksi buku mereka maka dalam The Magic Library, saya iri pada pengetahuan dua tokoh utama kita pada banyak hal yang berkaitan dengan perpustakaan dan buku. All Hail, Joinstein and Klaus!

As the blurb said, buku ini tidak hanya bercerita tentang petualangan dua anak remaja tetapi juga beberapa nama dan momen spesial dalam dunia perbukuan seperti Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey or Djuih (haha), Winnie the Pooh, Anne Frank, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film perpustakaan, penerbitan dan buanyak lagi.

Beberapa nama baru saya denger, seperti Astrid Lindgren dan Ibsen, selebihnya saya cukup tahu (baca: sedikit lupa) karena sempat mempelajarinya dua atau tiga semester lalu.


FYI, Astrid Lindgren adalah seorang penulis perempuan Swedia yang terkenal dengan buku-buku anaknya. Bukan buku-buku milik anaknya, tapi buku-buku dengan target market anak-anak, just saying. In case, kamu tertarik dengan Astrid Lindgren, kamu bisa membaca biografi lengkapnya [di tautan ini] atau kunjungi official website-nya [di tautan ini].  Sementara Ibsen atau Henrik Johan Ibsen adalah seorang dramawan, direktur teater, dan seorang penyair. Dia dikenal sebagai Bapaknya Realisme di dalam dunia teater dan juga pendiri aliran modernisme. Kamu yang menggeluti teater pasti tahu bapak kece satu ini. Kamu bisa membaca biografi lengkapnya [di tautan ini] atau [tautan ini].

Ketiga; Ending mengenai perpustakaan ajaib dan buku yang belum terbit tapi sudah menjadi harta karun untuk Bibbi Bokken maupun si Mr. Smiley. Perpustakaan dengan salah satu ruangan tempat buku yang belum terbit dipajang cantik itu ternyata benar-benar ada dan milik Bibbi Bokken. Sementara buku yang hendak diterbitkan itu adalah buku-surat milik Nils dan Berit.

Saya suka dengan cara Bibbi Bokken memberikan pancingan kepada Nils dan Berit untuk mulai menulis dengan berbagai tindak-tanduk Bibbi Bokken yang super aneh, meskipun ya itu bisa dibilang curang untuk Nils dan Berit. Begitu juga dengan konspirasi antara Mr. Bresani, suami-istri Bruum dan kenyataan bahwa Mr. Smiley yang ternyata benar-benar menjadi tokoh antagonis di dalam buku The Magic Library maupun dalam buku di dalam buku The Magic Library. Double!

Keempat dan ini yang terakhir; hal yang saya sukai dari The Magic Library adalah kenyataan bahwa Bibbi Bokken bukan benar-benar seorang bibi-bibi yang suka ngeces ketika melihat tumpukan buku, yang matanya bak piring dan terdapat buku robek di dalam tas tangannya. Kesannya nenek-nenek sekali. Di bagian menuju akhir ketika Nils dan Berit sudah menemukan si perpustakaan ajaib dan Bibbi turun dengan gaun berwarna merah itu, entah kenapa memutarbalikan imajinasi saya tentang Bibbi Bokken. Bibliografer itu berubah menjadi cantik, mirip-mirip sama Astrid Lindgren sewaktu mudalah.

Salah satu hal yang terjadi setelah saya membaca dua buku terakhir, saya menjadi lebih mencintai buku.

“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ajaib bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.” 

Selebihnya, saya merasa The Magic Library adalah buku anak yang juga nikmat untuk diseduh oleh orang-orang yang sudah bukan anak-anak atau mereka yang justru sudah beranak. Hahaha. Membaca buku ini kamu tidak hanya disuguhi oleh alur yang ciamik tapi juga informasi yang padat.

Daebaklah pokoknya mah!


October 19, 2016

,

Rumah Kertas
Judul Asli: La Casa de Papel
Penulis: Carlos María Domínguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tebal: vi+76 hlm, 12x19cm
Cetakan: I, September 2016
ISBN: 978-979-1260-62-6


Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!


"Membangun perpustakaan  adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka."
hal. 26

Jika ada orang yang paling mencintai buku di dunia ini, bisa jadi itu adalah Bluma Lennon dan Carlos Brauer, jangan lupakan Delgado juga. Ketiganya memperlakukan buku dengan agung, hingga rasanya setiap sendi kehidupan mereka selalu berkaitan dengan buku; akhir hayat Bluma salah satunya.

Pada musim semi 1988, Bu dosen Bluma Lennon membeli satu eksemplar buku lawas "Poems" karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. Buku mengubah takdir hidup orang-orang.
hal. 01

Akan tetapi tak hanya mengubah takdir Bluma, sebelum ini buku juga mengubah takdir beberapa orang lainnya. Prof. Leonard Wood, mendadak lumpuh setelah kepalanya ditimpa lima jilid Encyclopedia Britannica. Richard, teman tokoh Aku--si tokoh utama yang tak pernah disebutkan namanya--patah kaki setelah terpelanting dari tangga karena hendak menggapai Absalom, Absalom! yang tersempil di ujung lemari dan bahkan seekor anjing mati salah cerna setelah menggigiti Karamazov Bersaudara.

Sayangnya, perubahan-perubahan itu merujuk pada satu kejadian yang buruk. Tokoh Aku jadi teringat pada Nenek yang mengatakan bahwa buku itu berbahaya.

Kematian Bluma yang mendadak itu pun menuai polemik, ditambah dengan akhir pidato Prof. Robert Laurel yang kontroversial di hari pemakamannya;

"Bluma membaktikan hidupnya pada sastra tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang akan merenggutnya dari dunia ini."
hal. 02

Eufimisme yang dinilai murahan tersebut membuat percakapan tentang apa sebenarnya yang membunuh Bluma melebar, apakah beneran buku atau bemper mobil. Perbedaan pendapat itu bahkan menelurkan sebuah sayembara mahasiswa dengan tema 'Hubungan Bahasa dengan Realitas', berbagai hal yang berkaitan dengan kematian Bluma diteliti, mulai dari jumlah langkah Bluma di trotoar Soho, larik-larik syair yang dia baca, laju mobil yang menabraknya hingga sampai pada pembahasan semiotika lalu lintas kota London, konteks kultural, urban dan linguistik.

Akan tetapi bukan hal itu yang menjadi kerisauan tokoh Aku, melainkan munculnya paket buku dari sebuah alamat di Uruguay untuk mendiang Bluma.

Paket tersebut berisi sebuah edisi lama buku tebal berjudul La Linea de Sombre yang sudah koyak, terjemahan Spanyol untuk buku The Shadow-Line karya Joseph Conrad.

Buku itu akan tampak normal jika saja tidak dilapisi kotoran berkerak di sampul depan dan belakangnya, sementara pinggirannya dilapisi partikel-partikel semen yang meninggalkan debu halus. Tak ada surat yang menyatakan apapun, misalnya dikirim dari siapa dan dalam rangka apa, hanya ada tulisan tangan Bluma yang dijadikan kalimat persembahan di halaman pertamanya.


"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti sudah kubilang sedari awal: kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku."
8 Juli 1996
hal. 05

Tokoh Aku yang merasa buku tersebut sampai kapanpun tak akan sampai pada orang yang dituju--Bluma, tentu saja karena dia sudah meninggal--akhirnya menelusuri siapa kira-kira orang yang mengirim buku ini. Selain untuk dikembalikannya lagi, dia juga merasa perlu mengabarkan Bluma yang telah dijemput ajalnya. Sayangnya hanya ada satu clue tentang pengirim La Line de Sombre, seorang lelaki bernama Carlos.

Pencariannya pun dimulai dengan mencari daftar nama dan kontak para peserta konferensi di Monterrey, Hingga korespondensinya dengan seorang penulis dari Uruguay memberikan jalan terang. Penulis tersebut mengatakan bahwa ada seorang lelaki yang menemani Bluma selepas konferensi, dia seorang bibliofil bernama Carlos Brauer.  Kini, Brauer bermukim di Rocha dan mereka telah berhenti berhubungan.


Pencariannya kemudian menemukan tokoh Aku dengan seorang bibliofil yang memiliki salah satu toko buku lawas terbaik di Montevideo bernama Jorge Dinarli. Sayangnya, Dinali mengenal Brauer hanya sebatas hal remeh temeh tetapi dia menyarankan tokoh Aku untuk bertemu dengan salah satu teman Brauer yang bernama Delgado, yang sama gilanya terhadap buku dengan Brauer.

Pertemuan tokoh Aku dengan Delgado pelan-pelan mengungkap kehidupan bibliofil semacam Bluma, Brauer dan Delgadi terhadap buku. Bagaimana mereka sebegitu gilanya terhadap buku hingga lupa berpegangan pada realitas yang sebenarnya ada di sekitar mereka, deskripsi ini lebih tepat untuk ditujukan pada Brauer. Dari Delgado juga, tokoh Aku mengetahui kehidupan Brauer dan tempat bermukimnya sekarang.

Lalu...

Lalu...

Silakan baca kelanjutannya sendiri.

*kabur*

Pada akhirnya, pencarian tokoh Aku berakhir di La Paloma, di pesisir Uruguay, antara tasik dan lautan. Di sana, jejak-jejak terakhir keberadaan Brauer ditemukan dalam keping-keping rumah kertasnya yang runtuh. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa La Linea de Sombre yang diterima oleh tokoh Aku memiliki kerak kotoran dan berpartikel debu.


Saya tidak mengetahui keberadaan novel ini sebelumnya andai Mbak Miaa dari Goodreads Indonesia tidak mengirimi saya paket buku awal Oktober lalu. Rasanya seperti mendapat birthday gift meskipun paketnya mengetuk pintu rumah saya tiga hari lebih cepat dari jadwal saya ulang tahun. Dan saya suka, dengan Rumah Kertas maupun dengan The Magic Library yang menjadi tandem buku ini di dalam bungkus kado, sedang saya baca ketika review ini ditulis.

So, terima kasih banyak sekali lagi untuk Mbak Miaa dan Goodreads Indonesia untuk paket buku ini.

Selepas membaca Rumah Kertas, saya merasa kecintaan saya terhadap buku bisa dihitung nihil jika dibandingkan dengan para bibliofil yang menjadi tokoh-tokoh sentral dalam Rumah Kertas. Misalnya, bagaimana obsesifnya Bluma dan Brauer terhadap buku hingga mereka mengikuti setiap acara pelelangan atau jumlah koleksi buku mereka yang sudah masuk ke dalam digit ribuan.

RIBUAN!

Menarik sekali, kan, rasanya hidup di tengah-tengah tumpukan buku dengan bau kertas yang khas. Lirik kanan, ada buku, begitu juga ketika melirik ke kiri. Meskipun di antara keanggunannya, buku ternyata menyimpan sisi yang berbahaya bahkan bisa sampai membuat gila.

Carlos Brauer, misalnya, yang disebutkan kehilangan pegangan pada realitas.

Akan tetapi justru kegilaan para bibliofil itulah yang membuat novela ini menarik. Mengetahui apa yang dilakukan oleh para-pencinta-mati buku dari hal-hal yang biasa hingga hal yang membuat geleng-geleng kepala. Beberapa kegilaan mereka memang sampai pada tahap tidak masuk akal. Akan tetapi poin penting sebagai bibliofi adalah, mereka tidak hanya mengoleksi buku tetapi juga membaca dan memahaminya.

Bibliofil sendiri dibagi kembali menjadi dua, sesuai dengan penjelasan Jorge Dinali;

"Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan:
pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka ... sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah ojek yang indah, barang langka. 

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus ... yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."
hal. 17

Salah satu kegilaan saya terhadap buku, paling sebatas mondar-mandir di pesta buku selama berjam-jam untuk menemukan buku diskonan yang bagus atau memaksakan membeli buku idaman ketika rilis meski uang sedang cekak. Haha.

Kalau kamu, kira-kira kegilaan apa yang pernah kamu lakukan sebagai pecinta buku?


October 13, 2016

,

Inteligensi Embun Pagi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 724 halaman
Cetakan: 26 Februari 2016
ISBN: 9786022911319


Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

Hidup mereka takkan pernah sama lagi.


“Bayangkan, rasanya menjadi aku. Harus memburumu setiap kelahiran.
Menungguimu di setiap kematian. Mengingatkanmu berulang-ulang siapa aku, siapa kamu.
It’s torturing, Love. But I also go to watch you falling in love with me, desperately, over and over again.”
“Ishtar, ngae abamen?” Alfa mengulang, memohon.
“They stole you from me, Anshargal.”

Jika di buku Supernova; Gelombang, bagian yang paling melekat di benak saya adalah nyanyian merdu Kell ketika dia duduk bersebelahan dengan Alfa dalam perjalanan udara menuju Indonesia, maka di Inteligensi Embun Pagi, salah satu bagian yang sampai sekarang masih tidak bisa saya lupakan adalah keluhan Bodhi setelah mereka bertarung melawan Sarvara di Sianjur Mulamula.

“Aku pikir tugas kami sudah selesai,” sahut Bodhi.
Kalden meliriknya sambil mendengus geli, “Ini awal kebersamaan kalian sebagai sebuah gugus.”

Penggalan percakapan tersebut seolah menjadi sebuah clue bahwa Inteligensi Embun Pagi bukanlah akhir dari legenda Supernova, atau Gugus Asko secara khusus. Hal ini tampaknya didukung oleh beberapa sekuens cerita yang belum benar-benar menjadi pamungkas di novel pamungkas ini. Ini merupakan kabar gembira sekalipun saya sendiri belum mendapatkan keterangan yang benar-benar membuat saya yakin.

Inteligensi Embun Pagi menyambung ending dalam novel sebelumnya tentang pencarian Diva di Peru. Alih-alih mendapatkan Diva, Gio malah menemukan kebenaran tentang identitas dirinya yang selama ini tidak dia ketahui. Dia adalah seorang peretas dan lewat sebuah upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, detail pertama tentang tugasnya lahir ke dunia mulai tampak. Di tangannya ada empat batu bertulpa yang harus dia berikan pada setiap peretas dan tujuan hidupnya pun berubah. Dia kembali ke Indonesia dan mulai mengurai benang kusut itu dengan menemui pasangan Dimas-Reubeun, Ferre dan Toni.

Di sisi lain, Elektra dan Bodhi saling menemukan diri mereka sendiri lewat terapi listrik. Keduanya menyadari identitas masing-masing dan mulai mencari simpul dari kehidupan yang telah mengantar mereka pada berbagai hal yang tak biasa. Sayangnya, proses pencarian jati diri mereka diintervensi oleh kelompok Sarvara.

Alfa masih dengan Kell dan berbagai percakapan yang membuat kepalanya pening. Percakapan-percakapan itu mengantarkannya pada rencana pertemuan dengan Bodhi dan Elektra. Sementara itu, sekuens yang tidak bisa diintervensi siapa pun antara Zarah dan Gio akhirnya terlaksana juga.

Pyuh!

Panjang sekali tampaknya kalau saya harus meringkas Inteligensi Embun Pagi.

Ini dia para peretas dari Gugus Asko!

Bodhi Liong. Akar. Peretas Kisi.
Elektra Wijaya. Petir. Peretas Memori.
Zarah Amala. Partikel. Peretas Gerbang.
Alfa Sagala. Gelombang. Peretas Mimpi.
Gio Clavis Alvarado. Kabut. Peretas Kunci.
Belum dinamai. Permata. Peretas Puncak.
 

Ini bukan kali pertama saya membaca novel setebal lebih dari tujuh ratus halaman tapi ini kali pertama saya membaca novel serasa naik roller coster kilat, tidak ada waktu untuk bernapas. Beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi adalah pergantian tiap aksi dari satu karakter ke karakter yang cepat, munculnya banyak informasi baru tentang legenda Supernova dan tentu saja karena saya tidak ingin menunda-nunda untuk mengetahui ujung dari kisah yang sudah sejak kelas satu SMA saya ikuti ini.

Daebak!

Jauh sebelum membaca Inteligensi Embun Pagi sebenarnya saya sudah sempat membaca review-review yang penuh dengan spoiler di akun Goodreads dan salah satu orang yang paling saya ikuti review-nya soal Supernova memberikan bintang tidak memuaskan. Hal tersebut membuat saya sedikit ragu untuk membaca Inteligensi Embun Pagi, selain karena saya tidak ingin membaca kata TAMAT di bagian akhir cerita.

Tapi ya, mungkin ini masalah selera, saya suka, Inteligensi Embun Pagi, saya suka!

Sekalipun ada beberapa bagian yang membuat saya merasa kehilangan; (1) Watak Zarah dan Alfa yang tipikal, misalnya. (2) Candaan Elektra yang sebenarnya segar tapi agak mengganggu karena terjadi di bagian paling kritis, peperangan. Dan saya masih berpikir (3) Kenapa lagu yang Gio nyanyikan ketika menyelamatkan Paul dan Zarah adalah Bengawan Solo.

Di sisi lain, rasanya ini fiksi fantasi pertama yang Indonesia banget. (1) Logatnya Pak Kas yang meskipun sedikit mengganggu tapi memang dia lahir kembali ke Samsara sebagai orang Jawa, ya mau bagaimana lagi. (2) Chen-doll yang terselip di antara ketegangan para peretas menunggu kepastian nasib Elektra, tapi ya chen-doll memang minuman yang tepat dikonsumsi di segala situasi jadi mau bagaimana lagi. Hidup Tim Chen-doll!!! (3) Sianjur Mulamula, kalau bagian ini sih saya setuju karena Alfa sebagai ketua para peretas dari Gugus Asko yang lahir dan besar di Sianjur Mulamula pasti menyimpan portal cadangannya di tempat yang familiar untuk dirinya sendiri.


Anyway, saya juga sebenarnya suka dengan isu-isu legenda masa lalu, mitologi, dewa-dewi dan kisah-kisah soal makhluk dengan peradaban yang tinggi di luar bumi manusia. Dan merasa Dee cerdik sekali mengaitkan itu semua, termasuk pada drama cinta antara Alfa dan Ishtar yang ternyata merupakan jelmaan Anshargal dan Ishtar dari kebudayaan Sumeria dulu kala. Bagian ini yang paling mengejutkan dan coba bayangkan, dewa-dewi yang dulunya sepasang harus lahir kembali berkali-kali sebagai makhluk yang berseberangan.

Dan akhirnya kita sampai pada beberapa sekuens dari Supernova yang seolah mengindikasikan bahwa legenda ini belum usai.

(1) Kelahiran Permata si Peretas Puncak. Ini sih spoiler abis kalau legenda Supernova—atau khususnya perjalanan para peretas dari Gugus Asko belum selesai. Soal identitas Permata entah kenapa saya merasa dia adalah penjelmaan Alfa yang tewas di pertarungan, di sisi lain posisi Gelombang sudah diambil alih oleh Foniks. Sementara itu, kematian Alfa juga berarti kelahiran kembali dia ke Samsara. Who knows?

(2)  Amnesia para peretas di Gugus Kandara—Gugus sebelum Asko yang diketuai oleh Diva—sudah mulai pulih satu persatu. Pertemuan Bong si Bulan dengan seseorang berjubah hitam adalah mulanya, yang kemudian merambat pada pertemuan Bulan dan Ksatria. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menyadarkan Bong bahwa dia adalah seorang peretas sementara ketua mereka jasadnya saja belum ditemukan. Deskripsi yang paling jelas sih orang misterius itu lebih mendekati pada ciri-ciri Ishtar. Apa ada kemungkinan bahwa para peretas dari Gugus Kandara akan dikonversi menjadi Sarvara?

(3) Keberadaan Firas. Ini yang gantung dan apa banget. Dia kembali masuk ke dunia nyata, bersinggungan dengan Zarah dan tiba-tiba hilang. Bisa jadi sih Firas dipersiapkan oleh para Sarvara untuk menjadi musuh utama para peretas dari Gugus Asko, apalagi dengan indikasi bahwa para peretas lain dari Gugus Kandara kemungkinan besar juga akan dikonversi. Jadi mungkin nanti akan ada persinggungan antara para peretas dan para mantan peretas. Cie, mantan!

(4) Percakapan Bodhi dan beberapa infiltran yang saya kutip di atas. Logis sih, jika sebenarnya ini adalah awal petualangan yang sebenarnya bagi para peretas dari Gugus Asko karena mereka saja baru pada pulih dari amnesia. Pertarungan mereka dengan para Sarvara di Sianjur Mulamula tampaknya belum ada apa-apanya dengan pertarungan mereka nanti di kisah selanjutnya.

Pada akhirnya, kita hanya perlu menunggu semoga para peretas dari Gugus Asko hidupnya tidak hanya sebatas untuk memperbaiki kericuhan yang disebabkan oleh Bintang Jatuh. Yuk berdoa semoga Dee cepat merampungkan cerita yang masih berkaitan dengan Supernova.

Tahun 2020 mungkin?


October 10, 2016

,


Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penerbit: Penerbit POP
Tebal: 177 halaman
Cetakan: April 2015
ISBN: 9789799108548


“Sen… dok, Qil.”

“Nes… dok.”

“Sendok....”

“Nesdok....”

Jalan hidup Amalia Prabowo terasa runtuh ketika tahu Aqil, putra sulungnya, menyandang disleksia. Perempuan dengan pendidikan dan karir cemerlang ini harus berlapang dada putranya divonis tak akan mampu meraih prestasi akademis. Aqil tidak hanya kesulitan dalam melafal kata dan merangkai kalimat, tapi juga membaca, menulis, dan berhitung.

Tak mau menyerah pada nasib, Amalia berusaha masuk ke dunia Aqil. Berbekal kesabaran, kemauan untuk mendengar dan memahami, Amalia menemukan dunia yang penuh warna, imajinasi, dan kegembiraan. Dunia yang mengubah secara total kehidupan pribadi dan keluarganya.

"Jika kehidupan adalah berkah, maka musibah sekalipun adalah anugerah."

Kutipan tersebut terus mengiang-ngiang di telinga saya selepas menamatkan Wonderful Life di aplikasi IJakarta. Wonderful Life adalah autobiografi CEO wanita pertama Indonesia yang harus jatuh di tengah masa kegemilangannya. Latar belakang keluarga ningrat Jawa dengan pendidikan yang tinggi dan berkecukupan materi ternyata tidak bisa membuat si anak bungsu dari lima bersaudara itu terhindar dari apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan; ujian hidup.

Perkenalkan, dia adalah Amalia Prabowo, seorang primadona saat SMA. Seorang wanita karier dengan beragam talenta. Figur yang begitu dihormati dalam dunia komunikasi yang saat memberikan ceramah, ratusan orang akan mendengarkannya.

Saya tidak tahu banyak sosok Amalia Prabowo sebelumnya tapi merasa pernah melihatnya beberapa kali di stasiun televisi entah dalam acara atau berita apa. Memutuskan untuk membaca autobiografi dari seseorang yang cukup asing membuat saya merasa jauh akan tetapi ketika setiap lembar-lembar Wonderful Life terbuka, begitu juga dengan pemikiran dan hati saya. Buku ini lebih dari sekadar menginspirasi. Buku ini mengajarkan banyak hal.

Wonderful Life tidak hanya bercerita tentang Amalia Prabowo, tapi juga perjalanan hidupnya sejak kecil hingga menjadi single parent untuk dua orang anak bernama Aqil dan Satria. Perjalanan hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat dari seorang putri keraton menjadi rakyat biasa. Apa analogi ini terdengar berlebihan? Hehe.

Kehidupan putri keraton Amalia Prabowo dimulai sejak kecil, keluarganya adalah ningrat yang bisa dibilang lebih dari sekadar berkecukupan. Selain dari sisi materi, perilakunya pun dijaga dengan baik. Ayahnya yang bekerja sebagai dokter membentuk kepribadian Amalia dan kakak-kakaknya dengan penuh disiplin, dan ini yang paling saya kagumi: mereka membiasakan diri untuk membaca koran hingga pembicaraannya masuk ke atas meja makan saat sarapan.

Didikan dan berbagai doktrin soal sikap disiplin, tanggung jawab, gemar membaca dan berbagai hal lainnya membentuk kepribadian Amalia Prabowo yang plan-do-review dan mengerjakan berbagai hal dengan penuh perhitungan. Itu pula yang membuatnya merasa kehidupan tak akan pernah jatuh dalam kesulitan.

"Dan aku sepakat dengan Bapak. Kendali kehidupanku sepenuhnya ada di tanganku. Bahagia atau sedih adalah pilihan sadarku. Tidak ada dalam kamus kehidupanku untuk terjatuh dalam kesulitan yang tak terduga."

Sayangnya, kebahagiaan-kebahagiaan itu membentuk secuil pongah di dalam hati Amalia terhadap Yang Maha Kuasa. Kehidupannya pun berubah seratus delapan puluh derajat sejak dirinya menduduki puncak tertinggi yakni menjadi CEO wanita pertama di Indonesia dalam bidang advertising multinasional.

Satu persatu prahara itu muncul.

Pernikahan pertamanya dengan seorang lelaki yang tak pernah disebutkan namanya di dalam buku ini gagal, mereka bercerai. Sebegitu nyerikah luka perpisahan itu hingga menyimpan namanya dalam catatan yang terancam abadi dan dibaca banyak orang ini pun enggan?

Tapi Amalia mampu bangkit, dia kembali menjadi Amalia yang dulu. Kariernya kembali dirintis, begitu juga dengan pernikahannya. Amalia hidup dalam istana dengan seorang lelaki bernama Syafiqurrachman dan memiliki dua orang anak bernama Aqil dan Satria.

“Kehadirannya menyadarkan diriku bahwa kehidupanku selama ini kering kerontang.”

Kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan, sebelum perempuan tangguh itu kembali dilemparkan ke dalam rencana-rencana Tuhan yang tak pernah ada di dalam jurnal-jurnal hariannya, tak pernah ada di dalam perhitungannya.

Amalia Probowo harus mau turun dari jabatannya.

Dipecat.

Pernikahannya kembali gagal.

Bercerai.

Prolog yang panjang sekali, ya?

Oke mungkin ini klimaksnya; anak sulung Amalia yang bernama Aqil mengidap disleksia, kesulitan membaca dan berhitung, sesuatu yang rasanya tidak mungkin lahir dari gen keluarga Amalia Prabowo yang ningrat dan cerdas.

"Amalia Prabowo, figur yang begitu dihormati........ kini harus menghadapi kenyataan memiliki anak yang kesulitan membaca dan berhitung."

Amalia Prabowo tidak terima, dia merasa Aqil hanya malas belajar dan pasti akan mengejar ketertinggalannya. Tapi Aqil tidak bisa, membaca dan berhitung bukan dunianya. Hubungan ibu-anak itu pun menjelma dua kutub yang berseberangan. Meski begitu, Amalia masih mengusahakan banyak hal di jalur mainstream untuk membuat Aqil berjalan di dalam koridor yang sama dengannya; tetap mempertahankan Aqil belajar di sekolah umum, mendorongnya giat belajar dan berkonsultasi dengan psikolog. Akan tetapi hasilnya tetap sama, begitu.

Hingga Amalia tersadar bahwa satu-satunya jalan untuk memecahkan semua masalah ini adalah berterima dan berusaha. Satu persatu cara pun dilakukan untuk mengasah potensi Aqil yang lain hingga mereka menemukan sebuah terapi menggambar, terapi yang akhirnya mengubah kehidupan Aqil dari nol hingga triliyunan angka.

“Umi, I’m happy.”dan adiknya menambahkan, “say love you umi dong, Mas Aqil!”

Saya beberapa kali menahan napas dan ingin menangis ketika membaca autobiografi ini. Berbeda dengan kehidupan di dalam novel yang dirancang oleh manusia, serumit apapun yang tertulis di dalam autobiografi memberikan efek hangover yang lebih kuat, sebab ini adalah catatan takdir Tuhan yang kembali digoreskan. Tak perlu menerka-nerka bagaimana rupa dan alur pemeran utamanya, semua hal yang dibutuhkan ada di depan mata.

Cessh!

Banyak kata-kata bijak yang bisa dibilang mutiara di dalam buku yang setengah isinya merupakan gambar karya Aqil—sesuatu yang membuat saya pada awalnya terganggu menjadi tertegun. Sungguh, karunia Tuhan tidak hanya berwujud kata-kata dan wicara, tapi juga pola dan rangka—dimulai dari petuah ayah Amalia sampai pada setiap narasi yang tertulis, menggugah sekali. Dua hal tersebut, perpaduan yang sangat inspiratif.


---

 Karena beberapa hal itulah, buku ini diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Visinema Pictures dan Creative & Co. Filmnya sendiri disutradarai oleh Agus Makkie sementara naskahnya ditulis oleh Jenny Jusuf dan Amalia Prabowo. Tebak siapa aktris yang berperan sebagai tokoh utama? Atiqah Hasiholan! Dan yeah, produsernya sendiri adalah Rio Dewanto. Sementara itu, film berdurasi 1 jam 19 menit ini direncanakan akan mulai luncur di bioskop pada tanggal 13 Oktober 2016. October 13rd! My birthday, anyway! Uhuk!


Wow, fresh from the open! In case kamu tertarik, ini dia trailernya! Kalau saya sih tertarik untuk menonton versi filmnya. Semoga nanti ada kesempatan.


Jadi rasanya tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa buku ini tidak hanya menginspirasi tapi juga memberikan banyak pelajaran. Buku ini membuat saya kenyang mendapatkan hidangan utama berupa motivasi dengan makanan pembuka dan penutup yang bergizi.

Well, buku ini sangat tepat untuk dibaca oleh kamu yang sedang mencari inspirasi dari kisah seorang tokoh tanpa merasa digurui dan membosankan.


Follow Us @soratemplates