#24 | Love, Lemon, and The Last Kiss - Ida Ernawati

Love, Lemon, and The Last Kiss
Ida Ernawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hal, 20 cm
Cetakan: Juni 2015
ISBN: 9786020316086
Meski Delia tergila-gila lemon yang kecut, tapi urusan kisah cinta, ia penggemar kisah cinta supermanis. Buat Delia, cerita tentang kesetiaan dan ketulusan Ardan merawat dan mendampingi istrinya masuk ke kategori kisah supermanis.

Namun, ketika kekaguman terhadap kisah Ardan yang manis itu perlahan berubah menjadi cinta, Delia terjebak dalam dilema.

Delia menekan perasaannya dalam-dalam terhadap Ardan dan memutuskan menerima cinta Reza yang gigih memperjuangkannya. Delia belajar satu hal: kisah cinta sejati tak selalu berjalan mulus dan manis. Seperti lemon yang kecut tapi menyehatkan, ujian kesetiaan membuat nilai cinta menjadi lebih berharga.
"Selamat hari bebas dari masa lalu, Sayang. Aku yakin, masa lalu mengajari kita untuk saling mencinta dengan sepenuh hati. Seburuk apapun masa lalu, ada pelajaran yang berarti.
Love untuk masa depan selalu bersama."

Akhirnya! Itu kata pertama yang saya ucapkan setelah menyelesaikan novel ini. Sedikit agak tersendat sebenarnya serta perlu perjuangan yang cukup keras untuk tetap membaca setiap lembar dari novel Amore terbitan Gramedia ini. Kendati begitu, Love, Lemon and The Last Kiss memiliki premis cerita yang menarik, yaitu kesetiaan cinta.

Ini adalah kisah Delia yang entah kenapa rasa simpatinya terhadap seorang Ardan berakhir pada perasaan jatuh cinta. Padahal Delia tahu Ardan adalah suami dari seorang wanita yang sedang koma panjang karena kanker. Perasaan Delia terhadap Ardan ini sempat tercium oleh Anya, sahabat istri Ardan sekaligus rekan kerja Delia dan membuat Delia dirundung dilema. Di sisi lain, pertemuan dengan teman semasam SMP yang telah berpisah lama membuat Delia pangling, dia adalah Reza yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa dia jatuh hati padanya. Pernikahan adik Delia yang sudah direncanakan lebih dulu memaksa Delia untuk mensyahkan hubungannya dengan seorang lelaki, dan lelaki yang beruntung itu adalah Reza. Tetapi Delia masih penasaran dengan penasaran Ardan padanya, apalagi selepas istrinya yang koma tersebut meninggal.

Lalu apa yang harus dilakukan Delia?

Membaca novel ini seperti menyeduh sari lemon. Agak masam, tapi okelah. Meski berangkat dari premis cerita yang menarik tapi saya secara pribadi tidak merasakan kesegaran lemon di dalamnya. Entahlah. Saya masih merasa terganjal dengan karakter Delia yang sedikit inkonsisten dan alur yang masih berlubang.

Perihal karakter Delia misalnya; pada narasi awal disebutkan bahwa Delia mengagumi kisah cinta antara Ardan dan istrinya tetapi pada beberapa percakapan bersama Ardan, Delia malah menunjukkan sikap yang sedikit kurang ajar. Hal ini juga bertentangan dengan deskripsi Delia yang dipaparkan oleh Iyar—salah satu sahabatnya—bahwa Delia adalah orang yang tidak tegaan. Di sisi lain, Delia adalah perempuan drama yang seringkali meledak-ledak ketika tidak sepaham dengan Ardan maupun Anya.

Delia dalam benak saya adalah perempuan yang gemar memunculkan kembali masalah yang sebetulnya bisa ia hindari. Perempuan ini juga cenderung agresif dan bikin saya gagal paham. Contohnya adalah ketika ia memaksa Ardan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya mendorong ia untuk melakukan ‘sesuatu’ yang tak layak padanya di dalam mobil ketika ia mengantarnya pulang. Keinginan Delia untuk mengetahui alasan tersebut tidak sepadan dengan penyelesaian yang dilakukan. Pun, tentang opini istri Ardan sebelum meninggal yang mengatakan bahwa Delia adalah perempuan yang cocok untuk menggantikannya di sisi Ardan saya rasa tidak memberikan pengaruh apa-apa. Karena sebenarnya yang dicari oleh Delia bukanlah kejelasan hubungannya bersama Ardan melainkan masalah yang membuatnya bisa terus ‘hidup’ dalam cerita.

Kisah cintanya bersama Reza pun tidak tercicipi dengan manis oleh saya, tahu-tahu Delia mengontak Reza untuk menikahinya. Agresif sekali ya perempuan satu ini.

Hal lain yang menarik mungkin dari segi penggunaan setting. Setting novel ini adalah kota Batu. Ya, meskipun kota Batu-nya sendiri tidak di-explore lebih jauh.

Endingnya cukup menarik. Delia mempelajari kesetiaan Ardan kepada istinya untuk Reza yang tak lagi seperti dulu akibat sebuah kecelakaan tragis. Pesannya; sehijau-hijaunya rumput tetangga, lebih baik berdayakan rumput sendiri. #apasih.

"Sebenarnya cinta bisa mendewasakan seseorang. Itu kalau orang itu siap untuk jatuh cinta. Makanya, jangan meremehkan jatuh cinta."

Post a Comment

0 Comments