#23 | Animal Farm - George Orwell

by - April 19, 2016

Animal Farm 
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: iv+144 hal, 20,5 cm
Cetakan: Juli 2015
ISBN: 978-602-291-070-1
Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan … walau harus dengan kekerasan.

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.



“The creatures outside looked from pig to man, and from man to pig, and from pig to man again; but already it was impossible to say which was which.”

Awalnya, saya agak terpaksa membeli buku ini karena tidak mau sudah jauh-jauh ke toko buku tapi pulang hanya dengan dua buku sumber untuk skripsi saya. Jadi meskipun sudah beberapa hari menumpuk di rak, saya belum berniat membacanya. Sampai hari ini saya harus piket di sekolah dan tamu yang datang tidak terlalu banyak, buku ini selesai juga saya baca.

Buku ini menarik—apalagi di tengah kondisi mood saya yang sedang tidak baik terhadap beberapa orang yang menyebalkan, etdah malah curhat—dan sedikit menyesal kenapa baru membacanya sekarang. Which is, buku ini diterbitkan pertama kalinya di Indonesia oleh Bentang Pustaka pada awal tahun lalu. Tapi mendapatkan buku yang bagus itu seperti menemukan teman sejati—tidak bisa dipaksakan.

Animal Farm ini semacam fabel yang pertama kali terbit pada tahun 1945. Ceritanya sendiri dikatakan sebagai alegori politik pada masa perang dunia II dan satire untuk totaliterisme Uni Soviet. Meski latar belakang cerita ini sudah hampir seusia dengan umur kemerdekaan negara kita ini tetapi banyak hal terkait dunia sosial dan kemasyarakatan yang masih bisa disejalankan dengan ceritanya, bahkan mungkin dunia persahabatanmu sendiri.

Mereka adalah sekumpulan binatang di sebuah peternakan milik Jones yang pada suatu malam mengadakan sebuah ‘rapat’ atas usul seekor babi bernama Old Major. Si Old Major ini memimpikan revolusi untuk mereka, semacam usaha melepaskan diri dari perbudakan yang dilakukan oleh manusia. Sayangnya, sebelum mimpi itu berhasil diwujudkan, Major sudah mengembuskan napas terakhirnya terlebih dahulu. Akhirnya, revolusi itu digerakkan oleh sesama babi bernama Napoleon dan Snowball. Saya nggak tahu kenapa George Orwell memilih dua nama ini untuk tokoh utamanya, pasti ada maksudnya sendiri. Silakan direnungkan.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan untuk merumuskan strategi, revolusi yang mereka idamkan ternyata terjadi lebih cepat dari yang diharapkan. Peternakan Jones yang semula bernama Major Farm atau Peternakan Major pun bisa dikuasai oleh bangsa binatang dengan ideologi binatangismenya lebih cepat dan berubah nama menjadi Animal Farm atau Peternakan Binatang.

Tapi ternyata kisah manis tentang kemerdekaan mereka tidak berlangsung lama karena adanya perselisihan ideologi dari ‘pahlawan’ mereka, Napoleon dan Snowball yang berakhir pada hengkangnya Snowball yang cerdas dari peternakan itu. Dan mereka—para binatang pun—mulai hidup di bawah kekuasaan Napoleon yang picik. Kemerdekaan atas perbudakan yang dulu mereka dambakan pun musnah karena lama-lama Napoleon si babi mulai menjadi manusia (note; manusia di dalam cerita ini memiliki tabiat yang buruk) dan membuat semakin ambruk tatanan di peternakan. Lebih buruk dari apa yang pernah dilakukan oleh Jones. Bagian paling parah dari kisah mereka adalah, si babi Napoleon yang sebenarnya binatang merasa tidak lagi setara dengan binatang lain.

Akhirnya? Saya suka kalimat terakhir dari novela ini. Bunyinya sedikit ambigu dan menyentil, seperti ini;

“Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya."

Tidak heran kan kenapa novela ini mendapat berbagai penghargaan dan masih menjadi salah satu buku terbaik yang harus kamu baca sebelum pergi dari dunia ini. Hehe. Meski ceritanya menyinggung sesuatu yang tampak ‘berat’ tapi penuturannya seperti dongeng sebelum tidur yang menghanyutkan.

All hail, Geroge Orwell!

Sekarang saya sedang berpikir untuk menguras kocek saya demi 1984.

You May Also Like

0 Comments

Recommended Books