April 23, 2016

,

Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir, agak sulit rasanya untuk tetap produktif menulis di blog buku ini, meski sebenarnya aktivitas baca saya masih bisa dijaga dengan baik. Cukup baik. Sampai di empat bulan pertama tahun ini saja saya sudah menghabiskan hampir setengah dari target novel yang harus saya baca.

Hal lain yang terbengkalai juga adalah rubrik baru bernama TALK yang tadinya sudah saya niatkan untuk diposting setiap akhir bulan. Selain karena waktu 24 jam untuk satu hari rasanya begitu kurang di tengah-tengan masa PLP dan pengerjaan skripsi ini, saya juga tidak leluasa untuk meneror penulis-penulis novel yang sudah saya list untuk diwawancara. Jadilah, rubrik itu tidak dapat ditayangkan kembali untuk dua bulan ini.

Kemudian muncul sebuah ide ketika saya kemarin blogwalking di beberapa blog buku dan terbitlah rubrik hasil modifikasi dari TALK, yaitu MONTHLY TALK. Bedanya, rubrik yang baru ini bisa diisi banyak hal selain TALK. Jika TALK khusus untuk berbincang-bincang dengan penulis, maka MONTHLY TALK bisa diisi dengan event terkait buku dan kepenulisan serta berita-berita terbaru yang sedang hangat.

Untuk edisi pertama ini, bagaimana kalau kita bahas sejarah kenapa tanggal 23 April ditetapkan sebagai Hari Buku Sedunia. Kebetulan sekali, kan tanggalnya sama dengan perilisan edisi pertama rubrik ini.

The book is a film that takes place in mind of the reader.
That's why we go to movies and say,
"Oh, the book is better."
(Paulo Coelho)

World Book Day atau Hari Buku Sedunia pertama kali dirayakan tanggal ini pada tahun 1995. Perayaan ini sendiri digagas oleh UNESCO sebagai salah satu bentuk promosi budaya membaca, penerbitan dan hak cipta. Meski begitu, perayaan ini mulanya merupakan tradisi pemberian bunga mawar seorang pria kepada kekasihnya yang dinamakan perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia pada abad pertengahan.

Memasuki tahun 1923, perayaan ini bergeser dari perayaan Hari Saint George menjadi hari untuk menghormati seorang penulis bernama Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal yang sama. Uniknya, perayaan ini pertama kali dimulai oleh para pedagang buku. Dua tahun kemudian, mawar yang diterima oleh para wanita dari kekasihnya pun berganti menjadi buku. Perayaan ini adalah bentuk penghargaan antara penulis, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas dan masyarakat umum. Semuanya bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi, serta meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan.

Kemudian pada tahun 1995, UNESCO menetapkan tanggal 23 bulan April tersebut sebagai Hari Buku Sedunia, berdasar pada tradisi tersebut. Selain Miguel de Cervantes, ternyata ada beberapa penulis lain yang juga wafat pada tanggal 23 April, di antaranya adalah Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, serta Joseph Pla dan beberapa penulis juga lahir Vladimir Nabokov, Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Haldór Laxness. Meskipum untuk kasus kematian Shakespeare dan Cervantes perhitungannya didasarkan pada sistem kalender yang berbeda di mana Inggris menggunakan kalender Julian sementara Katalonia menggunakan kalender Gregorian.

Negara kita, sementara itu, mulai merayakan Hari Buku Seduia pada tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca (FIM). FIM adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berkonsentrasi pada aktivitas literasi. Diharapkan bahwa perayaan Hari Buku Sedunia Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan itu sendiri.

Keberadaan perayaan ini di Indonesia bagi saya merupakan salah satu hal yang positif, mengingat selama ini Indonesia memiliki ranking budaya membaca jauh di bawah Malaysia, Singapura dan Thailand untuk kategori Asean. Akan tetapi yang disayangkan adalah informasi mengenai perayaan ini tampaknya hanya berputar pada pihak-pihak yang memang berkutat di dunia literasi. Berbeda dengan perayaan hari Valentine yang seringkali menjadi viral setiap tahun.

Banyak hal lho yang bisa kita lakukan untuk memperingati hari perayaan ini, Bookmarker, saya sudah merumuskan beberapa di antaranya, yaitu:

1. Spare your time. Buat kamu yang tidak suka membaca, menyisihkan waktu barang tiga puluh menit untuk membaca buku tidak akan membuat hari kamu menjadi buruk lho. Andai kamu tahu bahwa membaca buku itu banyak sekali manfaatnya, dimulai dari mendapat informasi sampai mendapatkan kesenangan. Banyak jenis buku yang bisa kamu baca kok, jika kamu alergi membaca satu jenis buku. Dimulai dari buku nonfiksi yang begitu beragam jenisnya hingga buku-buku fiksi yang seringkali memenuhi banyak rak-rak buku di toko buku besar.

2. Switch your habit. Buku apa saja sih yang kamu koleksi, Bookmarker? Novel romance? Buku motivasi? Sekali-kali tidak ada salahnya lho di Hari Buku Sedunia ini kamu keluar dari zona nyaman kamu dan mulai membaca buku yang tidak pernah terpikirkan olehmu. Buat kamu yang suka baca komik misalnya, tidak ada salahnya mencoba untuk membaca novel. Selama buku yang kamu baca berkualitas, semakin panjang kalimat yang kamu baca, semakin banyak input yang otak kamu terima. Keluar dari genre buku favorit kamu juga bisa jadi salah satu cara untuk melihat dunia lebih luas.

3. Share your passion. Seringkali kita hanya menyimpan hal terbaik yang kita punya untuk kita sendiri. Padahal berbagi itu indah lho. Jika kamu merasa sudah sebegitu cintanya dengan kegiatan membaca dan tak ada lagi hal spesial yang bisa kamu lakukan untuk ikut merayakan Hari Buku Sedunia ini, berbagi passion membacamu dengan banyak  orang bisa dilakukan, lho. Dan langkah ini merupakan langkah yang sangat terpuji. Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk berbagi kamu dengan orang lain, dari hal yang paling sederhana seperti meminjamkan buku kamu pada teman sampai pada hal yang lebih besar seperti membuka taman baca untuk orang-orang yang memiliki ketidakluangan dana untuk membeli buku. Selain bisa menyenangkan orang lain, hal ini juga bisa dijadikan sebagai upaya menularkan budaya melek baca pada orang lain.

Nah, itu dia tiga hal yang bisa kamu lakukan untuk ikut merayakan Hari Buku Sedunia. Selain hal yang sudah tertera di atas, banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk memperingati Hari Buku Sedunia. Setiap dari kamu pasti punya ide masing-masing.

Nah, ayo berbagi apa yang kamu lakukan untuk memperingati Hari Buku Sedunia ini di kolom komentar. Bisa jadi, apa yang kamu lakukan tersebut menjadi inspirasi untuk orang lain.

Selamat bertemu kembali di MONTLY TALK edisi bulan Mei!

Happy World Book Day! Selamat Hari Buku Sedunia! :)



April 22, 2016

,
Love, Lemon, and The Last Kiss
Ida Ernawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hal, 20 cm
Cetakan: Juni 2015
ISBN: 9786020316086
Meski Delia tergila-gila lemon yang kecut, tapi urusan kisah cinta, ia penggemar kisah cinta supermanis. Buat Delia, cerita tentang kesetiaan dan ketulusan Ardan merawat dan mendampingi istrinya masuk ke kategori kisah supermanis.

Namun, ketika kekaguman terhadap kisah Ardan yang manis itu perlahan berubah menjadi cinta, Delia terjebak dalam dilema.

Delia menekan perasaannya dalam-dalam terhadap Ardan dan memutuskan menerima cinta Reza yang gigih memperjuangkannya. Delia belajar satu hal: kisah cinta sejati tak selalu berjalan mulus dan manis. Seperti lemon yang kecut tapi menyehatkan, ujian kesetiaan membuat nilai cinta menjadi lebih berharga.
"Selamat hari bebas dari masa lalu, Sayang. Aku yakin, masa lalu mengajari kita untuk saling mencinta dengan sepenuh hati. Seburuk apapun masa lalu, ada pelajaran yang berarti.
Love untuk masa depan selalu bersama."

Akhirnya! Itu kata pertama yang saya ucapkan setelah menyelesaikan novel ini. Sedikit agak tersendat sebenarnya serta perlu perjuangan yang cukup keras untuk tetap membaca setiap lembar dari novel Amore terbitan Gramedia ini. Kendati begitu, Love, Lemon and The Last Kiss memiliki premis cerita yang menarik, yaitu kesetiaan cinta.

Ini adalah kisah Delia yang entah kenapa rasa simpatinya terhadap seorang Ardan berakhir pada perasaan jatuh cinta. Padahal Delia tahu Ardan adalah suami dari seorang wanita yang sedang koma panjang karena kanker. Perasaan Delia terhadap Ardan ini sempat tercium oleh Anya, sahabat istri Ardan sekaligus rekan kerja Delia dan membuat Delia dirundung dilema. Di sisi lain, pertemuan dengan teman semasam SMP yang telah berpisah lama membuat Delia pangling, dia adalah Reza yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa dia jatuh hati padanya. Pernikahan adik Delia yang sudah direncanakan lebih dulu memaksa Delia untuk mensyahkan hubungannya dengan seorang lelaki, dan lelaki yang beruntung itu adalah Reza. Tetapi Delia masih penasaran dengan penasaran Ardan padanya, apalagi selepas istrinya yang koma tersebut meninggal.

Lalu apa yang harus dilakukan Delia?

Membaca novel ini seperti menyeduh sari lemon. Agak masam, tapi okelah. Meski berangkat dari premis cerita yang menarik tapi saya secara pribadi tidak merasakan kesegaran lemon di dalamnya. Entahlah. Saya masih merasa terganjal dengan karakter Delia yang sedikit inkonsisten dan alur yang masih berlubang.

Perihal karakter Delia misalnya; pada narasi awal disebutkan bahwa Delia mengagumi kisah cinta antara Ardan dan istrinya tetapi pada beberapa percakapan bersama Ardan, Delia malah menunjukkan sikap yang sedikit kurang ajar. Hal ini juga bertentangan dengan deskripsi Delia yang dipaparkan oleh Iyar—salah satu sahabatnya—bahwa Delia adalah orang yang tidak tegaan. Di sisi lain, Delia adalah perempuan drama yang seringkali meledak-ledak ketika tidak sepaham dengan Ardan maupun Anya.

Delia dalam benak saya adalah perempuan yang gemar memunculkan kembali masalah yang sebetulnya bisa ia hindari. Perempuan ini juga cenderung agresif dan bikin saya gagal paham. Contohnya adalah ketika ia memaksa Ardan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya mendorong ia untuk melakukan ‘sesuatu’ yang tak layak padanya di dalam mobil ketika ia mengantarnya pulang. Keinginan Delia untuk mengetahui alasan tersebut tidak sepadan dengan penyelesaian yang dilakukan. Pun, tentang opini istri Ardan sebelum meninggal yang mengatakan bahwa Delia adalah perempuan yang cocok untuk menggantikannya di sisi Ardan saya rasa tidak memberikan pengaruh apa-apa. Karena sebenarnya yang dicari oleh Delia bukanlah kejelasan hubungannya bersama Ardan melainkan masalah yang membuatnya bisa terus ‘hidup’ dalam cerita.

Kisah cintanya bersama Reza pun tidak tercicipi dengan manis oleh saya, tahu-tahu Delia mengontak Reza untuk menikahinya. Agresif sekali ya perempuan satu ini.

Hal lain yang menarik mungkin dari segi penggunaan setting. Setting novel ini adalah kota Batu. Ya, meskipun kota Batu-nya sendiri tidak di-explore lebih jauh.

Endingnya cukup menarik. Delia mempelajari kesetiaan Ardan kepada istinya untuk Reza yang tak lagi seperti dulu akibat sebuah kecelakaan tragis. Pesannya; sehijau-hijaunya rumput tetangga, lebih baik berdayakan rumput sendiri. #apasih.

"Sebenarnya cinta bisa mendewasakan seseorang. Itu kalau orang itu siap untuk jatuh cinta. Makanya, jangan meremehkan jatuh cinta."

April 19, 2016

,
Animal Farm 
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: iv+144 hal, 20,5 cm
Cetakan: Juli 2015
ISBN: 978-602-291-070-1
Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan … walau harus dengan kekerasan.

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.



“The creatures outside looked from pig to man, and from man to pig, and from pig to man again; but already it was impossible to say which was which.”

Awalnya, saya agak terpaksa membeli buku ini karena tidak mau sudah jauh-jauh ke toko buku tapi pulang hanya dengan dua buku sumber untuk skripsi saya. Jadi meskipun sudah beberapa hari menumpuk di rak, saya belum berniat membacanya. Sampai hari ini saya harus piket di sekolah dan tamu yang datang tidak terlalu banyak, buku ini selesai juga saya baca.

Buku ini menarik—apalagi di tengah kondisi mood saya yang sedang tidak baik terhadap beberapa orang yang menyebalkan, etdah malah curhat—dan sedikit menyesal kenapa baru membacanya sekarang. Which is, buku ini diterbitkan pertama kalinya di Indonesia oleh Bentang Pustaka pada awal tahun lalu. Tapi mendapatkan buku yang bagus itu seperti menemukan teman sejati—tidak bisa dipaksakan.

Animal Farm ini semacam fabel yang pertama kali terbit pada tahun 1945. Ceritanya sendiri dikatakan sebagai alegori politik pada masa perang dunia II dan satire untuk totaliterisme Uni Soviet. Meski latar belakang cerita ini sudah hampir seusia dengan umur kemerdekaan negara kita ini tetapi banyak hal terkait dunia sosial dan kemasyarakatan yang masih bisa disejalankan dengan ceritanya, bahkan mungkin dunia persahabatanmu sendiri.

Mereka adalah sekumpulan binatang di sebuah peternakan milik Jones yang pada suatu malam mengadakan sebuah ‘rapat’ atas usul seekor babi bernama Old Major. Si Old Major ini memimpikan revolusi untuk mereka, semacam usaha melepaskan diri dari perbudakan yang dilakukan oleh manusia. Sayangnya, sebelum mimpi itu berhasil diwujudkan, Major sudah mengembuskan napas terakhirnya terlebih dahulu. Akhirnya, revolusi itu digerakkan oleh sesama babi bernama Napoleon dan Snowball. Saya nggak tahu kenapa George Orwell memilih dua nama ini untuk tokoh utamanya, pasti ada maksudnya sendiri. Silakan direnungkan.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan untuk merumuskan strategi, revolusi yang mereka idamkan ternyata terjadi lebih cepat dari yang diharapkan. Peternakan Jones yang semula bernama Major Farm atau Peternakan Major pun bisa dikuasai oleh bangsa binatang dengan ideologi binatangismenya lebih cepat dan berubah nama menjadi Animal Farm atau Peternakan Binatang.

Tapi ternyata kisah manis tentang kemerdekaan mereka tidak berlangsung lama karena adanya perselisihan ideologi dari ‘pahlawan’ mereka, Napoleon dan Snowball yang berakhir pada hengkangnya Snowball yang cerdas dari peternakan itu. Dan mereka—para binatang pun—mulai hidup di bawah kekuasaan Napoleon yang picik. Kemerdekaan atas perbudakan yang dulu mereka dambakan pun musnah karena lama-lama Napoleon si babi mulai menjadi manusia (note; manusia di dalam cerita ini memiliki tabiat yang buruk) dan membuat semakin ambruk tatanan di peternakan. Lebih buruk dari apa yang pernah dilakukan oleh Jones. Bagian paling parah dari kisah mereka adalah, si babi Napoleon yang sebenarnya binatang merasa tidak lagi setara dengan binatang lain.

Akhirnya? Saya suka kalimat terakhir dari novela ini. Bunyinya sedikit ambigu dan menyentil, seperti ini;

“Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya."

Tidak heran kan kenapa novela ini mendapat berbagai penghargaan dan masih menjadi salah satu buku terbaik yang harus kamu baca sebelum pergi dari dunia ini. Hehe. Meski ceritanya menyinggung sesuatu yang tampak ‘berat’ tapi penuturannya seperti dongeng sebelum tidur yang menghanyutkan.

All hail, Geroge Orwell!

Sekarang saya sedang berpikir untuk menguras kocek saya demi 1984.

April 10, 2016

,
Sunshine Becomes You
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 halaman
Cetakan: 2 Februari 2012
ISBN:9789792278132
“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York…
Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat.

Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga.

Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.
“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

Tidak ada tokoh yang secara eksplisit disebutkan berasal dari Indonesia dalam novel ini tapi rasanya masih sama ketika membaca season seriesnya yang saya gandrungi sejak SMA. Tulisan Ilana Tan tuh, ya, entah kenapa selalu berhasil membuat saya tidak sadar sudah menghabiskan beberapa jam membacanya tanpa jeda.


Novel ini sudah ada di rak buku cukup lama tapi baru sempat dibaca ketika versi filmnya muncul.

Sunshine Becomes You bercerita tentang tiga karakter utama yang bergelut di bidang seni. Mia Clarks, si cantik yang menjadi rebutan dua kakak beradik Alex dan Ray Hirano ini adalah seorang penari balet yang terpaksa mengundurkan diri dari sebuah klub besar karena menderita sesuatu. Sementara itu Alex Hirano adalah seorang pianis bertangan dingin yang sayangnya juga bersifat dingin. Berbeda dengan Alex, Ray Hirano adalah seorang penari jalan b-boy yang hangat dan penuh canda.

Mereka terjebak dalam sebuah kisah cinta segitiga tapi jangan bayangkan cinta pada pandangan pertama antara dua tokoh utamanya. Mia dan Alex bertemu karena sebuah insiden kecil yang membuat tangan si pianis genius itu cedera.

Tangan Alex yang cedera membuat ia tidak bisa bermain piano dengan leluasa dan terpaksa membatalkan konser-konsernya. Untuk membayar rasa bersalahnya, Mia membantu Alex mengerjakan banyak hal termasuk membuatkan sarapan dan meyeduhkan kopi. Kopi Mia adalah favorit Alex.


Sekilas cerita tentang karakter utama perempuan yang membantu kehidupan karakter utama pria yang sakit mengingatkan saya pada novel Tesa karangan Marga T, baca reviewnya di sini.

Sementara itu, Ray yang memang sejak awal sudah menaruh hati pada Mia harus puas melihat kisah cinta mereka berdua bergulir dari benci - netral - simpati dan cinta. Hal yang membuat saya cukup kaget ternyata hubungan Alex dan Ray tetap baik-baik saja di tengah perang dingin itu.

Ending novel ini adalah salah satu bagian yang paling membekas bagi saya meski twist mengenai kelainan jantung Mia tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan karena saya sudah tahu terlebih dahulu. *korban spoiler*. Sebab setelah sekian lama, sekian banyak spoiler bergentayangan di internet, twist tersebut tidak lagi terlalu menakjubkan. Meski begitu, saya tetap menikmati ranjau-ranjau yang disebar oleh Ilana dari awal mengenai twist ini.

As I said dan kamu juga pasti sudah tahu kalau novel ini sudah diangkat ke layar lebar dengan paket cerita yang sama dengan novelnya. Mia Clarks diperankan oleh Nabila JKT48, Alex Hirano oleh Herjunot Ali dan Ray Hirano oleh Boy William.

Sampai saat ini saya belum sempat menonton filmnya meskipun ingin sekali. Buat yang belum menontonnya juga dan penasaran dengan bentuk visualisasinya, di bawah ini ada trailer dari Sunshine Becomes You versi film.



Film berdurasi 2 jam 7 menit ini sampai ditarik resmi dari bioskop hanya berhasil mengantongi 313.794 penonton dengan rating 7.3/10 di imdb.

Bagaimana, lebih terarik menonton filmnya atau membaca bukunya?

Follow Us @soratemplates