#17 | Harry Potter and The Half-Blood Prince - JK. Rowling

Harry Potter and the Half-Blood Prince
(Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran)
Penulis: JK. Rowling
Penerjema: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 816 halaman
Cetakan: Januari 2006
ISBN: 9789792217629
Harry yang di tahun keenamnya di Hogwarts diangkat jadi kapten tim Ouidditch Gryffindor heran sekali, mendadak Quidditch jadi sangat populer. Banyak sekali anak yang mendaftar ingin masuk tim, bahkan sampai ada anak-anak Huffleput dan Ravenclaw yang menyelundupkan. Tetapi seperti kata Hermione.

"Bukan Quidditch yang ngetop, tapi kau! Kau belum pernah semenarik ini, dan jujur saja, kau belum pernah sekeren ini.

"...Seluruh dunia sihir harus mengakui kau benar soal Voldemort telah kembali dan bahwa kau telah menghadapinya dua kali dalam dua tahun terakhir ini dan berhasil selamat dalam dua-duanya. Dan sekarang mereka menyebutmu 'Sang Terpilih' - nah, coba tidak bisakah kau melihat kenapa orang terpesona olehmu?"

Pantas saja gadis-gadis sampai nekat mau memberikan ramuan cinta kepada Harry. Namun Harry tidak memusingkan semua ini. Hanya ada satu gadis yang memenuhi pikirannya. Lagi pula dia sangat sibuk. Tahun ini Dumbledore memberinya pelajaran privat. Mempersiapkannya menghadapi musuh bebuyutannya. Lord Voldemort. Seperti dikatakan Ron. Dumbledore pasti tak akan membuang-buang waktu memberinya pelajaran kalau dia menganggap Harry pecundang - dia pasti berpendapat Harry punya peluang!

Harry mengira cita-citanya untuk menjadi Auror telah kandas, karena nilai Ramuannya tidak mencukupi. Namun dia keliru. Tahun ini Snape tidak lagi mengajar Ramuan, dan Harry menjadi yang paling pintar dalam kelas Ramuan - berkat bantuan Pangeran Berdarah - Campuran! 
“It is the unknown we fear when we look upon death and darkness, nothing more.” 

Seri ini yang paling meremaja. Saya tidak tahu apa artinya itu, haha. Tapi menyenangkan ketika mendapati suasana roman yang cukup banyak di dalamnya. Ini menandakan bahwa sekalipun Harry dan teman-temannya penyihir, mereka tetaplah remaja seperti anak kebanyakan, mulai terusik dengan perasaan. Meski begitu, aura mencekam masih ada dengan adegan yang menunjukkan bahwa Severus Snape sudah melakukan sumpah tak terlanggar untuk melindungi Draco Malfoy dan melanjutkan apapun permintaan Voldemort yang diusahkan oleh Malfoy kecil itu.

Snape mengkhianati Dumbledor! Itu yang terpikir oleh saya sejak awal membaca buku ini.

Meski terasa lebih ringan dari seri sebelumnya, akhir dari seri ini sungguh tragis. Kematian Dumbledore, dengan pembunuh bernama Serverus Snape, orang yang mendapat kepercayaan begitu banyak dari kepala sekolah Hogwarts tersebut. Alur bagian ini menjadi twist yang keterlaluan, menimbulkan begitu banyak persepsi dan rasa kecewa dan perasaan semacam… tuh, kan, si Snape, kata gue juga apa! -_-

Usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk meruntuhkan Voldemort mulai jelas, yaitu dengan melumpuhkan satu persatu horcrux-nya. Dan sejauh ini sudah ada tiga yang lenyap; buku harian riddle, cincin marvolo dan liontin. Dan cukup mengejutkan mengetahui masa kecil Riddle alias Voldemort yang tidak lebih beruntung dari Harry dan usahanya untuk menjadi abadi. Ya, dibalik keangkuhannya, Voldemort ternyata hanyalah penyihir yang takut pada mati dan ramalan. Menggelikan sekali.

Tentang pertandingan Quidditch, cukup mengejutkan tim Gryffindor bisa memenangkan pertandingan dengan ketiadaan Harry sebagai seeker. Permaian Ginny boleh juga.

Dan setelah kematian Dumbledore dan perbuatan Snape yang membuat dirinya mendapat kesan tidak lebih baik dari yang diperkirakan, semoga buku seri terakhir akan menjawab semuanya.



Post a Comment

0 Comments