March 30, 2016

,
Koala Kumal
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 260 halaman
Cetakan: 17 Januari 2015
ISBN: 979780769X
Memasuki tahun kesepuluh sebagai penulis, Raditya Dika melahirkan karya terbarunya Koala Kumal. Masih mengusung genre yang sama—kisah-kisah komedi yang didasarkan pada pengalaman si penulis, kali ini lewat Koala Kumal, Raditya Dika mengajak pembacanya berbicara tentang hubungan yang ‘patah’. Mulai dari renggangnya hubungan pertemanan, perasaan yang berubah kepada orang yang sama, hubungan orangtua dan anak, hingga patah hati terhebat yang mengubah cara pandang terhadap cinta.

"Setiap orang pasti akan mengalami patah hati yang mengubah cara pandangnya dia terhadap cinta seumur hidupnya. Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu."

Saya membaca buku ini ketika sedang piket di perpustakaan dan merasa begitu banyak waktu luang yang saya habiskan karena tidak ada pekerjaan. Akhirnya saya mengambil buku ini dari rak fiksi. Saya bukan pembaca cerita komedi macam buku-bukunya Raditya Dika. Koala Kumaladalah buku Radit yang saya baca setelah Kambing Jantan bertahun-tahun yang lalu. Pilihan saya mengambil buku komedi—buku ini dan buku Kos Dodol—karena saya merasa tidak akan menjiwai novel romance di tengah kondisi kesal waktu itu.

Meski saya bukan penikmat buku komedi, tak ayal saya tetap tertawa ketika membaca setiap lembar buku ini dan membuat pustakawati menegur. Tulisannya Radit kelucuannya serupa dengan materi-materi stand up-nya, tentu dengan kriteria kelucuan yang berbeda. Alhasil, mood saya waktu itu menjadi lebih baik.

Buku ini terdiri dari dua belas cerita pendek berupa personal literature—seperti buku-buku Radit yang lainnya. Ini daftar isinya:
  1. Ada Jangwe di Kepalaku
  2.  Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film
  3. Balada Lelaki Tomboy
  4. Paduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan
  5. Kucing Story
  6. LB
  7. Perempuan Tanpa Nama
  8. Menciptakan Miko
  9. Lebih Seram dari Jurit Malam
  10. Patah Hati Terhebat
  11. Aku Ketemu orang lain, dan
  12. Koala Kumal


Disebutkan bahwa tulisan Radit di buku ini lebih dewasa, saya tidak begitu tahu karena tidak mengikuti perkembangan penulis multitalenta yang satu ini. Tapi secara keseluruhan, cerita-cerita yang disuguhkannya memang sangat menghibur dan beberapa diisi diakhiri dengan ‘pesan moral’. Meskipun analogi tentang patah hati dan Koala, ya… okelah.

Cerita yang bikin saya nggak bisa berhenti ngakak adalah cerita ke sembilan berjudul Lebih Seram dari Jurit Malam. Gila, parah banget! Cerita tentang tentang Radit senior di SMP yang sedang mengikuti jurit malam untuk anggota baru PMR. Biasanya senior yang menakut-nakuti junior, nah, ini malah Radit yang teriak-teriak ketakutan karena ‘perangkap’ yang dibuat oleh sesama senior. Cemen memang, tapi di situlah letak kelucuannya.

Anyway, buku ini juga sudah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Beberapa pemain yang mengambil peran di film yang diutradarai sendiri oleh Raditya Dika ini adalah Sheryl Sheinafia, Acha Septriasa dan Nino Fernandez. Trailer-nya bisa dilihat di bawah ini:




Selebihnya, buku personal literature ini bisa menjadi teman yang pas untuk menghilangkan suntuk.
,
Seducing Cinderella
(Fighting For Love #1)
Penulis: Gina L. Maxwell
Penerbit: Entangled Publishing (Eng. Version)
Tebal: 180 halaman
Cetakan: 20 Juli 2012
ISBN: 2940014977678
He'll teach her the art of seduction...for a price.

Mixed martial arts fighter Reid Andrews’s chance to reclaim his title as light heavyweight champ is shattered when he’s injured only months before the rematch. To make sure he’s healed in time, his trainer sends him to recuperate under a professional’s care—Reid’s best friend’s little sister, all grown up.

Disorganized and bookish Lucie Miller needs some professional help of her own. She’d do anything to catch the eye of a doctor she’s crushed on for years, so when Reid offers seduction lessons in exchange for 24/7 conditioning for the biggest fight of his career, Lucie jumps at the chance.

Soon Reid finds himself in the fight of his life...winning Lucie's heart before she gives it to someone else.

“Maybe the best way to teach you how to seduce, is to let you feel what it's like to be seduced.” 

Seducing Cinderella bukan genre novel yang saya suka sebenarnya. Pada awalnya, saya mencari novel dengan tema bad boy romance di internet dan dari sekian banyak novel yang saya temukan, hanya novel karya Gina L. Maxwell ini yang bisa saya unduh gratis. #plaak

Plot di novel ini bukan plot cerita yang begitu menakjubkan sebenarnya. Seperti yang bisa dilihat dari judulnya, novel ini mengangkat cerita tentang perempuan yang mengalami perubahan penampilan seperti dalam dongeng Cinderella. Bedanya, ibu peri yang mengubah si upik abu menjadi putri cantik di sini bukanlah ibu-ibu melainkan seorang pemain MMAbernama Reid sementara Cinderella dalam novel ini adalah Lucie Miller. Jangan membayangkan Reid—ibu peri kita—yang badannya penuh otot itu mengenakan kostum ibu peri berwarna merah muda. Saya yakin hal itu akan mengganggu imajinasi kamu selama membaca cerita ini. Haha.

Lucie bekerja sebagai seorang fisioterapis, pekerjaan yang pada akhirnya mempertemukan ia dengan Reid—seorang pemain MMA yang tengah menderita cedera. Pertemuan pertama mereka konyol sekali sebab saat itu suasana hati Lucie sedang tidak baik karena baru patah hati oleh pangeran yang sudah lama ia puja, seorang dokter bedah tulang bernama Stephen Mann. Tapi ternyata, mereka bukan orang asing untuk satu sama lain karena Reid adalah teman dekat kakak Lucie sewaktu kecil.

Singkatnya, Reid tahu masalah Lucie dengan si dokter bedah tulang idamannya itu memiliki hubungan pertemanan biasa sementara Lucie berharap lebih. Dengan sebuah kesepakatan tertentu, Reid membantu Lucie mewujudkan keinginannya dengan mengubah Lucie menjadi perempuan yang menarik. Anehnya, lama-lama Reid menjadi tertarik kepada Lucie dan tidak bisa melihat Lucie bersama lelaki manapun, begitu juga dengan Lucie. Tapi hubungan mereka menjadi semakin tidak terkendali ketika Lucie akhirnya bisa mendapatkan Stephen sementara itu Reid sudah merasa sembuh dan harus pindah kembali ke luar kota karena harus bertanding.

Endingnya? Silakan baca sendiri. Hehe.

Hal berbeda yang saya temukan dari novel ini dengan novel yang biasa saya baca tentu saja adalah adegan dewasa yang cukup banyak digambarkan dengan eksplisit. Awalnya agak menganggu sih tapi lama-lama menjadi… menarik ah sudahlah. Saya suka dengan adegan dewasanya naik turun konflik antara Reid dan Lucie serta bagaimana penulis merangkai setiap adegan dan emosi dalam kalimat-kalimatnya. Enak aja gitu bacanya, mengalir.

Lalu kapok tidak saya membaca buku dengan genre yang sejenis dengan Seducing Cinderella ini? Sebenarnya saya masih punya dua novel yang serupa dengan novel ini, yaitu Tangled dan Fifty Shades of Grey, tapi nantilah saya baca kalau lagi khilaf. XD

Saya sih masih nyaman dengan cerita-cerita young adult.

March 29, 2016

,
Harry Potter and the Deathly Hallows
(Harry Potter dan Relikui Kematian)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 1008 halaman
Cetakan: Januari 2008
ISBN: 9789792233483
Harry is waiting in Privet Drive. The Order of the Phoenix is coming to escort him safely away without Voldemort and his supporters knowing - if they can. But what will Harry do then? How can he fulfil the momentous and seemingly impossible task that Professor Dumbledore has left him?
“Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and, above all those who live without love.” 

Dan ini adalah seri terakhir dari novel serial Harry Potter. Beberapa hal mulai jelas di seri ini, seperti pengaruh Voldemort yang meluas dan apa yang perlu Harry lakukan untuk meruntuhkannya. Beberapa hal masih kabur, seperti kepada siapa sebenarnya Snape berpihak dan bagaimana kondisi Hogwarts selepas menjadi sarang Death Eater.

Yang pasti, perjalanan Harry mencari Horcrux cukup menegangkan meskipun seri ini diawali dengan pernikahan Bill dan Fleur yang berantakan karena adanya patronus dari Kingsley. Pelarian Harry dari rumah Petunia ke The Burrows juga menarik, tentang bagaimana terdapat tujuh Harry yang berkeliaran dari dalam rumahnya dan para Death Eater terkecoh dengan hal itu. Beruntungnya, Harry selamat sampai tujuan meskipun burung hantu kesayangannya harus tewas.

Hilangnya Harry Potter dan Ron serta Hermione untuk mencari dan melenyapkan Horcrux menjadi berita besar yang masih menjadi harapan bahwa Voldemort akan runtuh. Meskipun dengan demikian Harry menjadi orang pertama yang paling tidak diinginkan oleh kemeterian dan siapapun yang berhasil meringkusnya akan mendapatkan begitu banyak galleon.

Begitu juga hal ini memengaruhi Mr. Lovegood yang tadinya berpihak kepada Harry menjadi berpihak pada kementerian karena Luna ditangkap. Segala hal kemudian menarik Harry pada masalah, ditawan oleh Death Eater dan harus mau diringkus ke rumah keluarga Malfoy sebagai base pertahanan Voldemort, selagi Vodemort mencari tongkat paling sakti untuk mengalahkan Potter yang berulangkali berhasil mengalahkannya.

Pengaruh Dobby dan Kreacher si peri rumah dan salah satu Goblin Gringgots menjadi begitu menakjubkan. Dobby menyelamatkan para tawanan dari rumah Malfoy meski harus berakhir dengan kematiannya karena tertusuk oleh pisau Bellatrix. Goblin yang menyebalkan karena memberikan kekacauan pada penyamaran Harry, Ron dan Hermione dalam usaha mencuri salah satu horcrux yang disimpan di lemari besi Ginggrots. Beruntungnya mereka berhasil menyelamatkan diri dengan menunggangi naga setengah buta yang terjebak di dasar Ginggrots.

Lalu pencarian mereka berakhir di Hogwarts di mana salah satu horcrux Voldemort berada. Meski tidak mudah, jalan mereka hampir ditekan oleh para Death Eater, beruntungnya Ada Abeforth yang memuluskan jalan mereka serta Dumbledores Army yang membantu.

Sekali lagi Snape menjadi pengecut ketika dilawan oleh empat kepala asrama Hogwarts dan melarikan diri, persis seorang pengecut.

Akhirnya Harry berhasil menemukan horcrux kelima dan para guru, siswa dan penyihir lain terlibat baku hantam di Hogwarts. Harry sedikit gentar namun dengan tekad yang matang dia berhasil mengalahkan Voldemort setelah melihat ingatan Snape dalam Pensieve dan mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang professor yang dibencinya semenjak duduk di Hogwarts itu.

Snape mencintai Lily Evans dan menyesal karena membocorkan ramalan Trelawney yang membuat Lily dan James tewas. Snape berbalik menjadi sekutu Dumbledore dan berjanji untuk melindungi Harry meskipun ia harus mendapat kesan buruk karena menjadi mata-mata yang meyakinkan bagi Voldemort.

Arh, saya suka dengan happy ending. Para Death Eater mati—terutama di Bellatrix yang dimantrai oleh Mrs. Weasley. I love Mrs. Weasley! Dan Voldemort pun demikian. Sayang Lupin dan Tonk ikut tewas, begitu juga dengan Fred. Yeah, ada yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan seperti ini.

Apa yang terjadi di menjelang akhir, ketika Voldemort dan para sekutunya diserang dari berbagai arah, cukup menakjubkan. Para centaurus dan peri rumah yang dimotori oleh Kracher ikut berperang. Dan tentang keluarga Malfoy, saya masih bingung kenapa mereka tidak ikut dibinasakan. Yeah, meskipun tongkat si Draco Malfoy cukup membantu. Dan hey, Neville Longbottom melenyapkan horcrux keenam! Dia yang dulu menjadi sekadar pengikut!

Saya lega akhirnya Harry menikah dengan Ginny, serta Hermione dengan Ron. Meski tanda tanya besar masih tergantung seperti bagaimana keadaan keluarga Vernon—oh, mereka yang menjadi lunak saat berpisah dengan Harry, juga seberapa bahagianya sekarang keluarga Weasley.

Saya menantikan buku terbaru Harry Potter and The Cursed Child dan berharap mendapat banyak jawaban di sana.

Ps: menjadikan novel serial Harry Potter sebagai novel serial favorit bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dua kali. Saya suka Harry Potter.


,
Harry Potter and the Half-Blood Prince
(Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran)
Penulis: JK. Rowling
Penerjema: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 816 halaman
Cetakan: Januari 2006
ISBN: 9789792217629
Harry yang di tahun keenamnya di Hogwarts diangkat jadi kapten tim Ouidditch Gryffindor heran sekali, mendadak Quidditch jadi sangat populer. Banyak sekali anak yang mendaftar ingin masuk tim, bahkan sampai ada anak-anak Huffleput dan Ravenclaw yang menyelundupkan. Tetapi seperti kata Hermione.

"Bukan Quidditch yang ngetop, tapi kau! Kau belum pernah semenarik ini, dan jujur saja, kau belum pernah sekeren ini.

"...Seluruh dunia sihir harus mengakui kau benar soal Voldemort telah kembali dan bahwa kau telah menghadapinya dua kali dalam dua tahun terakhir ini dan berhasil selamat dalam dua-duanya. Dan sekarang mereka menyebutmu 'Sang Terpilih' - nah, coba tidak bisakah kau melihat kenapa orang terpesona olehmu?"

Pantas saja gadis-gadis sampai nekat mau memberikan ramuan cinta kepada Harry. Namun Harry tidak memusingkan semua ini. Hanya ada satu gadis yang memenuhi pikirannya. Lagi pula dia sangat sibuk. Tahun ini Dumbledore memberinya pelajaran privat. Mempersiapkannya menghadapi musuh bebuyutannya. Lord Voldemort. Seperti dikatakan Ron. Dumbledore pasti tak akan membuang-buang waktu memberinya pelajaran kalau dia menganggap Harry pecundang - dia pasti berpendapat Harry punya peluang!

Harry mengira cita-citanya untuk menjadi Auror telah kandas, karena nilai Ramuannya tidak mencukupi. Namun dia keliru. Tahun ini Snape tidak lagi mengajar Ramuan, dan Harry menjadi yang paling pintar dalam kelas Ramuan - berkat bantuan Pangeran Berdarah - Campuran! 
“It is the unknown we fear when we look upon death and darkness, nothing more.” 

Seri ini yang paling meremaja. Saya tidak tahu apa artinya itu, haha. Tapi menyenangkan ketika mendapati suasana roman yang cukup banyak di dalamnya. Ini menandakan bahwa sekalipun Harry dan teman-temannya penyihir, mereka tetaplah remaja seperti anak kebanyakan, mulai terusik dengan perasaan. Meski begitu, aura mencekam masih ada dengan adegan yang menunjukkan bahwa Severus Snape sudah melakukan sumpah tak terlanggar untuk melindungi Draco Malfoy dan melanjutkan apapun permintaan Voldemort yang diusahkan oleh Malfoy kecil itu.

Snape mengkhianati Dumbledor! Itu yang terpikir oleh saya sejak awal membaca buku ini.

Meski terasa lebih ringan dari seri sebelumnya, akhir dari seri ini sungguh tragis. Kematian Dumbledore, dengan pembunuh bernama Serverus Snape, orang yang mendapat kepercayaan begitu banyak dari kepala sekolah Hogwarts tersebut. Alur bagian ini menjadi twist yang keterlaluan, menimbulkan begitu banyak persepsi dan rasa kecewa dan perasaan semacam… tuh, kan, si Snape, kata gue juga apa! -_-

Usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk meruntuhkan Voldemort mulai jelas, yaitu dengan melumpuhkan satu persatu horcrux-nya. Dan sejauh ini sudah ada tiga yang lenyap; buku harian riddle, cincin marvolo dan liontin. Dan cukup mengejutkan mengetahui masa kecil Riddle alias Voldemort yang tidak lebih beruntung dari Harry dan usahanya untuk menjadi abadi. Ya, dibalik keangkuhannya, Voldemort ternyata hanyalah penyihir yang takut pada mati dan ramalan. Menggelikan sekali.

Tentang pertandingan Quidditch, cukup mengejutkan tim Gryffindor bisa memenangkan pertandingan dengan ketiadaan Harry sebagai seeker. Permaian Ginny boleh juga.

Dan setelah kematian Dumbledore dan perbuatan Snape yang membuat dirinya mendapat kesan tidak lebih baik dari yang diperkirakan, semoga buku seri terakhir akan menjawab semuanya.



,
Harry Potter and The Order of Phoenix
(Harry Potter dan Orde Phoenix)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 1200 halaman
Cetakan: Januari 2014
ISBN: 9789792206524

Harry Potter is due to start his fifth year at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. His best friends Ron and Hermione have been very secretive all summer and he is desperate to get back to school and find out what has been going on. However, what Harry discovers is far more devastating than he could ever have expected...

Suspense, secrets and thrilling action from the pen of J.K. Rowling ensure an electrifying adventure that is impossible to put down.
“Things we lose have a way of coming back to us in the end, if not always in the way we expect.”

Selama libur mengajar seminggu kemarin, saya menamatkan tiga seri terakhir novel Harry Potter tanpa jeda dan… pyuh dan waw! Tiga seri terakhir ini mengaduk-aduk perasaan sekali.

Oke, kita mulai dari novel seri ke lima.

Harry Potter and The Order of Phoenix menjadi semacam selongsong yang menghubungkan awal dari alur utama yang berlangsung di seri sebelumnya. Cerita seperti biasa diawali dari libur akhir tahun Harry Potter di rumah bibinya—Petunia Vernon—yang tidak juga menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ditambah dengan kedatangan beberapa Dementor ke daerah minim keberadaan penyihir itu yang membuat Harry mau tidak mau mengeluarkan patronusnya dan mendapat teguran dari kementerian sihir mengenai penggunaan sihir di bawah umur. Hal ini membuat Harry jengkel, apalagi dengan ketiadaan kabar yang cukup dari teman-temannya—Ron dan Hermione. Tapi yang pasti, dan begitu juga dengan yang Harry sadari, sesuatu yang besar telah terjadi di luar pengamatannya. Hal itu berhubungan dengan kebangkitan Voldemort yang muncul di akhir seri sebelumnya, yang menyebabkan Cedric Diggory tewas dengan satu mantra Avada Kadavra.

Harry kemudian dibawa ke rumah walinya—Sirius—dan terkejut ketika mendapati bahwa mungkin hanya dirinya sendiri yang tidak tahu bahwa sebuah rencana besar sedang dipersiapkan. Harry marah sebab merasa bisa ikut berkontribusi dalam rencana mereka, hingga awal tahun pelajaran baru dimulai dan mereka harus pergi ke Hogwarts dengan pengawalan yang ketat.

Keadaan di Hogwarts pun tidak membaik, apalagi dengan campur tangan kementerian. Dia adalah Umbridge yang menjadi musuh utama para siswa yang tidak suka dengan keberadaan guru itu. Apalagi ketika mengetahui bahwa Umbridge lah yang menjadi guru Pertahanan Ilmu Hitam. Hal ini membuat Hermione berpikir untuk belajar pertahanan Ilmu Hitam bersama dengan instruktur Harry dan akhirnya terbentuklah Dumbledores Army yang menjadi bagian penting yang dalam keruntuhan Voldemort.

Cerita berlangsung menjengkelkan dengan semua tingkah Umbridge yang semaunya dan posisi Harry yang tersudut dari banyak sisi. Begitu juga setelah Dumbledores menghilang dan membuat Hogwarts seperti di ujung tanduk. Cerita tentang kebangkitan Voldemort masih ditutup-tutupi dari publik dan mengesankan Harry sebagai anak kecil pembual.

Tapi kebenaran akhirnya terbukti setelah beberapa anggota Dumbledores Army merangsek ke kementerian untuk mengambil ramalan yang begitu diinginkan oleh Voldemort. Baku hntam pun terjadi dan Sirius harus tewas di tangan Death Eater, sepupunya sendiri, Bellatrix Lestrenge dan membenamkan Harry dalam kesedihan yang tiada tara.

Meskipun akhirnya ramalan itu pecah dan membuat Voldemort murak, Harry masih memiliki Dumbledore yang masih mengingat keseluruhan ramalan itu. Tapi kejadian itu membuat semua warga penyihir terbuka tentang kembali berkuasanya Voldemort.

Yah, seri yang kelima ini menjadi salah saru seri yang menguras emosi. Dari awal membuat saya kesal dengan ulah si perempuan kodok Umbridge dan di akhir membuat saya sedikit sesak dengan kematian Sirius. Tapi setelah tamat membacanya, membuat saya sedikit gentar dengan kembali kuatnya Voldemort. Saya berharap tidak ada lagi tokoh penting yang tewas di seri selanjutnya meskipun yakin itu tidak akan terjadi.

Saya turut berbahagia ketika Malfoy masuk ke penjara dan memendam amarah yang begitu besar untuk si Lestrenge yang menyebalkan. Dan berpikir upaya balas dendam seperti apa yang terbaik untuk membuatnya tewas. Haha.



Follow Us @soratemplates