#14 | Sweet Winter - Kezia Evi Wiadji


Sweet Winter
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Desainer Kover: SAS Studio
Penata Isi: Phiy
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: Agustus 2014
ISBN: 9786022516514
Matthew
Aku berharap, takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku

Karin
Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai.
Tetapi takdir mempermainkan mereka
layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit

Akankah mereka bersatu,
jika wedding song telah mengalun lembut
dan
salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar
untuk mengucapkan sumpah setianya
"Selama tiga minggu ini, ia berharap seorang pangeran akan muncul di depan pintu rumahnya, menyatakan cinta dan menyelamatkannya, seperti dongeng-dongeng yang dulu dibacanya--Cinderella. Rapunzel dan Snow White. Tetapi siapakah pangeran itu? Apakah Matthew..."

Setamat membaca novel ini, saya sedikit khawatir dengan bentuk cinta sejati dalam pikiran perempuan mayoritas, jika mengibaratkan ide-ide yang penulisnya tuangkan dalam novel ini adalah pandangan umum perempuan. Tapi rasanya itu tidak adil, kan? Jadi saya mencoba untuk menganggap bahwa Sweet Winter bagaimanapun juga adalah sebuah karangan fiksi yang tidak perlu diambil hati.

Novel ini alurnya lambat, meski banyak sekali adegan yang menarik jika diperlakukan dengan cara penulisan yang berbeda. Misalnya, membawa masa kecil antara Karin dan Matthew menjadi semacam cerita kilas balik. Karena judul novel ini berbau musim salju dan menggiring pembaca-terutama saya-membayangkan musim tersebut lebih banyak dieksplore, mau tidak mau kenyataannya membuat saya sedikit kecewa karena ternyata musim salju dan 'kemanisannya' hanya seperti bagian yang disisipkan. Porsinya yang minim memberikan kesan bahwa hal tersebut tidak dijadikan poin utama yang dihadirkan.

SPOILER ALERT

Persahabatan antara dua orang berbeda gender memang menarik, Refrain-nya Winna Efendi misalnya. Tapi entah kenapa alur seperti ini seperti sudah punya polanya sendiri; hadirnya orang ketiga yang merusak persahabatan dan menyadarkan dua tokoh utama yang awalnya berteman bahwa mereka sebenarnya saling mencintai. Kehadiran Silvia menguatkan alur mainstream ini.

Saya suka dengan akhir yang menyenangkan atau happy ending tapi entah kenapa menyadari bahwa dua tokoh utama dalam novel ini akhirnya bersatu membuat saya dongkol. Haruskah yang katanya cinta sejati diperjuangkan di atas kekeliruan sebesar itu?

Matthew menghamili Silvia, kekasihnya. Silvia meninggal. Matthew kembali mengejar Karin dan menghancurkan pernikahannya bersama Bram. Bram orang baik, pernikahan Karin dan Bram tidak atas paksaan salah satu pihak. Karin mencintai Bram.

Hey, Dude! Itu bukan perbuatan yang terpuji! But, whatever! Ini cuma kisah rekaan. Yang membuat saya gagal paham kemudian adalah sikap Karin. Karin mulanya menyetujui diadakannya pernikahan dengan Bram atas dasar cinta lalu setelah Matthew menampakkan diri, Karin bersikap seolah-olah pernikahannya adalah neraka dengan berharap ada seorang pangeran menyelamatkannya.

Tapi ending seperti ini membuat saya tidak bisa memberikan rasa simpati pada dua tokoh utamanya. Ini pendapat saya dari pandangan pembaca laki-laki, entah bagaimana pembaca perempuan menanggapi cerita semacam ini. Mungkin diculik dari pernikahan yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan oleh seorang lelaki yang dicintai sejak kecil adalah tindakan hero yang romantis dan manis. Bisa jadi.

Yep, pada akhirnya sang penulis berhasil mengombang-ambingkan perasaan saya dengan menghadirkan karakter-karakter yang sulit saya terima. Selamat!


Post a Comment

0 Comments