#15 | Love at School - Guntur Alam, dkk

Love at School
Penulis: Guntur Alam,
Anggun Prameswari, Faisal Oddang, dkk
Penerbit: Elex Media Computindo
Cetakan: 26 Januari 2015
ISBN: 9786020256924
"Ia selalu ada.. Rasakan kehadirannya.."

Pernahkah kamu bertanya, mengapa senyuman yang selalu dia perlihatkan ketika melintasi kelasmu setiap pagi membuat jantungmu memompa darah lebih cepat?

Pernahkah kamu bertanya, mengapa obrolan tak serius di perpustakaan dengan dia menjadi pemicu mimpi indahmu di malam hari?

Atau, mengapa cemburu yang muncul setelah melihat dia berjalan ke kantin dengan yang lain membuat harimu terasa berantakan di sekolah?

Jangan menduga-duga jawaban. Mungkin itu cinta.

Sama seperti enam belas kisah yang ditulis oleh Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Oddang, Pretty Angelia, Ria Destriana, Fakhrisina Amalia Rovieq, Afgian Muntaha, Pipit Indah Mentari, Mel Puspita, Fitriyah, Karina Indah Pertiwi, Afin Yulia. Ruth Ismayati Munthe, juga Dilbar Dilara.

Mereka merasakan kehadirannya. Tak pernah absen.

Cinta itu selalu ada... di sekolah.
"Sylvana bilang, cinta itu kayak potongan-potongan puzzle, nggak bisa menyatu kalau nggak ketemu kepingan yang pas. Tapi aku nggak setuju."

Baca antologi cerpen ini berasa flashback kembali ke masa-masa SMA. Beberapa tulisannya teens sekali dan berasa sedang membaca buku hariannya anak SMA yang baru puber. Beberapa tulisan lainnya cantik dan bikin baper. Hiya..

Buku antologi ini berisi enam belas cerpen yang ditulis secara keroyokan, yaitu:

  • Katanya sih Ini Cinta karya Dilbar Dilara
  • Cinta Sulit si Jangkung karya Afin Yulia
  • Waktu Hujan Reda karya Ria Destriana
  • Puzzle karya Fakhrisina Amalia Rovieq
  • Jam Tangan untuk Nanda karya Agfian Muntaha
  • Unnamed Love karya Pipit Indah Mentari
  • Detention karya Mel Puspita
  • Jangan Pernah Salahkan Waktu karya Fitriyah
  • Love Code karya Karina Indah Pertiwi
  • Hanya dengan Foto karya Pretty Angelia
  • Library We Meet karya Ruth Ismayati Munthe
  • Dongeng Bunga Matahari karya Anggun Prameswari
  • Pangeran Cinta di Bus Kota karya Guntur Alam
  • Warna Keberuntungan Maura karya Guntur Alam
  • Cerita Tentang Hujan karya Guntur Alam
  • Surat Malala karya Faisal Oddang

Dari enam belas cerpen tersebut, hanya ada beberapa cerpen yang sesuai dengan selera saya, tidak berarti yang lainnya buruk. Tiga di antaranya adalah Surat Malala karya Faisal Oddang, Waktu Hujan Reda karya Ria Destriana, dan Love Code karya Karina Indah Pertiwi.

Surat Malala karya Faisal Oddang yang disimpan di akhir antologi ini keren sekali. Saya suka dengan narasi puirisnya yang bikin baper. Ada juga potongan-potongan puisi yang disisipkan dan siapa yang meragukan kemampuan menulis puisi Faisal Oddang?

Waktu Hujan Reda karya Ria Destrian memang tidak begitu dipenuhi dengan narasi sepuitis Surat Malala, tapi cerpen ini alurnya manis sekali. Dengan menangkat permaian truth or dare antara empat pengurus OSIS yang ternyata saling memendam perasaan cinta. Endingnya manis.

Jika pada cerpen Love Code karya Karina Indah Pertiwi ini, saya suka dengan ide mengirim surat untuk orang yang disukai dan teka-teki di dalamnya. Lalu berpikir, mungkin jika ide ini direalisasikan di SMA saya dulu, saya pasti bakal kirim banyak-banyak buat gebetan saya. Hiyaa.

Selain ketiga cerpen di atas, saya juga suka cerpennya Guntur Alam, Anggun dan Fakhrisina. Beberapa yang lain memang cukup teens karena sepertinya antologi ini memang dikhususkan untuk pembaca remaja. Sementara itu, saya sudah tidak remaja lagi. Haha.

Tapi worth kok baca antologi ini, buat kalian yang masih remaja atau ingin mengenang kembali masa-masa remaja.

#14 | Sweet Winter - Kezia Evi Wiadji


Sweet Winter
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Desainer Kover: SAS Studio
Penata Isi: Phiy
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: Agustus 2014
ISBN: 9786022516514
Matthew
Aku berharap, takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku

Karin
Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai.
Tetapi takdir mempermainkan mereka
layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit

Akankah mereka bersatu,
jika wedding song telah mengalun lembut
dan
salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar
untuk mengucapkan sumpah setianya
"Selama tiga minggu ini, ia berharap seorang pangeran akan muncul di depan pintu rumahnya, menyatakan cinta dan menyelamatkannya, seperti dongeng-dongeng yang dulu dibacanya--Cinderella. Rapunzel dan Snow White. Tetapi siapakah pangeran itu? Apakah Matthew..."

Setamat membaca novel ini, saya sedikit khawatir dengan bentuk cinta sejati dalam pikiran perempuan mayoritas, jika mengibaratkan ide-ide yang penulisnya tuangkan dalam novel ini adalah pandangan umum perempuan. Tapi rasanya itu tidak adil, kan? Jadi saya mencoba untuk menganggap bahwa Sweet Winter bagaimanapun juga adalah sebuah karangan fiksi yang tidak perlu diambil hati.

Novel ini alurnya lambat, meski banyak sekali adegan yang menarik jika diperlakukan dengan cara penulisan yang berbeda. Misalnya, membawa masa kecil antara Karin dan Matthew menjadi semacam cerita kilas balik. Karena judul novel ini berbau musim salju dan menggiring pembaca-terutama saya-membayangkan musim tersebut lebih banyak dieksplore, mau tidak mau kenyataannya membuat saya sedikit kecewa karena ternyata musim salju dan 'kemanisannya' hanya seperti bagian yang disisipkan. Porsinya yang minim memberikan kesan bahwa hal tersebut tidak dijadikan poin utama yang dihadirkan.

SPOILER ALERT

Persahabatan antara dua orang berbeda gender memang menarik, Refrain-nya Winna Efendi misalnya. Tapi entah kenapa alur seperti ini seperti sudah punya polanya sendiri; hadirnya orang ketiga yang merusak persahabatan dan menyadarkan dua tokoh utama yang awalnya berteman bahwa mereka sebenarnya saling mencintai. Kehadiran Silvia menguatkan alur mainstream ini.

Saya suka dengan akhir yang menyenangkan atau happy ending tapi entah kenapa menyadari bahwa dua tokoh utama dalam novel ini akhirnya bersatu membuat saya dongkol. Haruskah yang katanya cinta sejati diperjuangkan di atas kekeliruan sebesar itu?

Matthew menghamili Silvia, kekasihnya. Silvia meninggal. Matthew kembali mengejar Karin dan menghancurkan pernikahannya bersama Bram. Bram orang baik, pernikahan Karin dan Bram tidak atas paksaan salah satu pihak. Karin mencintai Bram.

Hey, Dude! Itu bukan perbuatan yang terpuji! But, whatever! Ini cuma kisah rekaan. Yang membuat saya gagal paham kemudian adalah sikap Karin. Karin mulanya menyetujui diadakannya pernikahan dengan Bram atas dasar cinta lalu setelah Matthew menampakkan diri, Karin bersikap seolah-olah pernikahannya adalah neraka dengan berharap ada seorang pangeran menyelamatkannya.

Tapi ending seperti ini membuat saya tidak bisa memberikan rasa simpati pada dua tokoh utamanya. Ini pendapat saya dari pandangan pembaca laki-laki, entah bagaimana pembaca perempuan menanggapi cerita semacam ini. Mungkin diculik dari pernikahan yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan oleh seorang lelaki yang dicintai sejak kecil adalah tindakan hero yang romantis dan manis. Bisa jadi.

Yep, pada akhirnya sang penulis berhasil mengombang-ambingkan perasaan saya dengan menghadirkan karakter-karakter yang sulit saya terima. Selamat!


Monthly Talk | Interview With Diasya Kurnia



Bulan Februari tidak terasa hanya menyisakan satu hari lagi, Bookmarker. Dan pada awal bulan, saya sudah mengisyaratkan akan menulis postingan terkait wawancara dengan penulis atau penerbit secara berkala. Untuk bulan ini, tadinya postingan tersebut akan di-publish pada hari Jumat, 26 Februari lalu tapi ternyata saya sedikit disibukkan oleh rutinitas lain. Oleh karena itu, rekap wawancara tersebut baru bisa diposting hari ini, dan hari minggu terakhir setiap bulan untuk potingan berikutnya.

Baiklah, bulan ini saya diberi kesempatan untuk mewawancarai penulis yang baru saja menetaskan novel perdananya tahun ini. Dia adalah Mbak Diasya Kurnia. Meski baru unjuk gigi dengan novel pertamanya, perempuan yang lahir di kota Reog ini mengaku sudah mulai menulis semenjak duduk di sekolah dasar. Menulis tentu bukan aktivitas yang mudah. Nah, ingin tahu jatuh-bangun Mbak Diasya dalam merampungkan novel pertamanya dan bagaimana kegiatan menulis rutinnya setiap hari?

Let's check this out, Bookmarker!

Saya     : Halo, Mbak Diasya Kurnia, apa kabar? Terimakasih, lho, sudah mau meluangkan waktu untuk wawancara bersama Latest Bookmark. Sebelumnya, selamat untuk novel perdananya. Bagaimana nih perasaannya setelah berhasil menelurkan karya pertama ini? Pasti senang dong ya?

Diasya  : Alhamdulillah baik. Ehm, perasaan saya sedikit campur aduk. Senang karena semua kerja keras terbayar lunas setelah melihat novel ini mejeng di toko buku. Tapi ada sedikit was-was juga dengan respons pembaca menilik ini adalah karya perdana. Beban moral terasa banget jika ternyata novel ini tidak sesuai dengan ekspektasi pembaca. Tapi, saya akan selalu menerima kritik dan saran untuk perbaikan karya saya selanjutnya.

Saya      : Oke, sebelum membahas lebih lanjut tentang Interval dan aktivitas menulis Mbak Diasya, bisa memperkenalkan diri terlebih dahulu profil Mbak secara singkat sebab katanya jika tidak kenal maka tidak sayang. Hehe

Diasya   : Hahahaha. Nama lengkap saya Diana Kurniasari, lahir di Ponorogo tahun 1992. Saat ini saya adalah seorang Ibu rumah tangga dengan satu orang anak dan sangat suka menulis.

Saya       : Ngomong-ngomong, sejak kapan suka menulis dan siapa penulis favorit Mbak Diasya?

Diasya   : Kalau suka menulis sih sejak duduk di sekolah dasar. Saya ingat betul cerita yang saya buat pas kelas tiga. Alasan suka menulis sih karena dari kecil saya suka membaca. Nah, saya suka mengapresiasikan apa yang saya baca lewat tulisan. Sampai saat ini, belum ada yang bisa menggeser posisi JK Rowling di hati saya. Sebenarnya saya suka genre fantasy dan beberapa novel terjemahan termasuk Melissa Marr salah satunya.

Saya     : Wah, JK Rowling memang idola sejuta umat ya, Mbak. Oke, sekarang ayo kita bahasa Interval. Bisa diceritakan secara singkat novel ini sebenarnya berkisah tentang apa?

Diasya  : Interval itu tentang gadis penari jathil yang harus menghadapi pandangan negatif masyarakat di kotanya sendiri. Ya, novel ini bergenre teenlit, tentu saja percintaan khas remaja lebih mendominasi.

Saya      : Bagaimana proses kreatif ketika menulis Interval? Apa ada observasi khusus atau kendala yang dialami?

Diasya  : Ada dong, saya datang langsung ke tempat pembuatan topeng Bujang Ganong buat lihat proses pembuatannya. Ide penulisan novel ini saya dapat dari curhatan seorang teman adik saya yang masih SMA. Dia dilarang menari sama orang tua hanya gara-gara status penari jathil keliling. Akhirnya saya endapin deh ide tersebut dengan sedikit tambahan konflik. Waktu saya ajukan ke Mbak Rina (red: editor) eh disetujui. Kalau kendala sih mungkin saya agak susah memastikan setting tempat biar nggak sekedar tempelan. Selain itu, sebenarnya menulis novel ini sedikit perlu perjuangan karena saya juga sedang hamil muda. Sumpah, mood dan kondisi saya sedang buruk sekali apalagi dengan tenggang waktu yang diberikan nyaris sama dengan momen ngidam. Tapi, saya bisa melakukannya dengan baik.

Saya      : Wah, menarik, ya prosesnya. Jadi kira-kira berapa lama nih penulisan Interval sampai bisa mejeng di toko buku?

Diasya   : Lama nyaris setahun loh. Saya mengajukan ide bulan Maret 2014 di-acc lalu mengajukan outline yang ditolak tiga atau empat kali sampai acc sekitar bulan September. Tahap menulis mulai Oktoberhingga Januari. Bulan April 2015, saya menerima MoU pertama via pos. Baru awal 2016 ini beredar di toko buku. Kuncinya cuma satu, sabar. Dua tahun deng kalau sampai bisa mejeng di toko buku. Hihihi

Saya      : Wah, lama juga ya prosesnya. Lewat Interval ini, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Mbak kepada para pembaca?

Diasya   : Saya ingin membuka mata orang-orang khususnya di Ponorogo agar mencintai budaya sendiri. Ya, meskipun saya sendiri nggak begitu pandai menari jathil. Hehe.

Saya       : Sekarang apa aktivitas Mbak selain jadi ibu rumah tangga? masih berkutat dengan naskah baru?

Diasya   : Menulis masih menjadi hobi saat saya nggak sibuk dengan rutinitas. Emang membiasakan diri buat konsisten menulis itu rada susah. Saya lagi membuat outline terbaru novel lama yang dulu sempat masuk 10 besar lomba menulis novel genre teenlit. Selain itu, saya lagi suka menulis cerita anak. Sudah ada beberapa cerita anak yang akan saya kirim ke media. Berharap salah satu atau semuanya top cerrr. Haha.

Saya      : Oke, terakhir, Mbak, kenapa Bookmarker harus membaca Interval?

Diasya   : Jika kalian ingin novel bergenre teenlit dengan sedikit nuansa lokalitas mungkin Interval bisa menjadi salah satu koleksimu.

Saya      : Baik, terimakasih untuk wawancaranya, Mbak Diasya. Semoga novel terbarunya lekas masuk ke toko buku

Nah, itu dia hasil wawancara saya dengan Mbak Diasya Kurnia. Ternyata, untuk menjadi penulis memerlukan proses yang tidak mudah ya. Ada begitu banyak hal yang perlu dijalani, tetapi yang utama tentu adalah tidak berhenti menulis, menulis dan menulis.

Sekian TALK edisi bulan Februari, tunggu TALK edisi bulan berikutnya, ya!

#13 | Harry Potter and The Goblet of Fire - JK. Rowling

Harry Potter and The Goblet of Fire
(Harry Potter dan Piala Api)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 896 hal, 20 cm
Cetakan: Oktober 2001
ISBN: 979 - 655 - 854 - 8
TAHUN ini akan berlangsung Piala Dunia Quidditch. Harry ingin sekali menontonnya, tetapi akankah keluarga Dursley menginzinkannya? Tahun ini Hogwarts juga akan menjadi tuan rumah turnamen sihir yang sudah lebih dari seratus tahun tak pernah diadakan. Tahun ini, Harry yang beranjak remaja, juga mulai naksir cewek. Siapakah cewek beruntung yang kejatuhan cinta penyihir dan Seeker beken ini? Tapi tak semua yang dialami Harry peristiwa hura-hura. Karena mendadak bekas luka di keningnya terasa sakit sekali. Dan di langit malam, muncul Tanda Kegelapan, tanda yang menyatakan bangkitnya Lord Voldemort. Dan itu baru permulaan.

Wujud Lord Voldemort akan kembali sempurna bila dia berhasil mendapatkan darah musuh besarnya, Harry Potter. Dan dengan bantuan abdinya yang setia, Lord Voldemort menculik Harry.

Akhirnya, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun. Harry berhadapan langsung dengan musuh besarya. Dan tak terhindarkan lagi, keduanya berduel...
“It matters not what someone is born, but what they grow to be.”

Yeah, sesuai prediksi. Dilihat dari ketebalan novelnya yang hampir mencapai angka 900 halaman, banyak sekali alur penting yang tersaji. Bingung mau nulis apa sebenarnya, tapi sejauh ini, Harry Potter and The Goblet of Fire adalah serial Harry Potter favorit saya. Alurnya gila mantap dan rapi sekali, apa yang ditulis secara kronologis dari awal sampai akhir memiliki hubungan kausalitas yang kece tapi penuh dengan teka-teki. Kali ini saya hampir selalu salah menebak, misalnya siapa anak buah Voldemort yang sedang berada di Hogwarts dan hendak mencelakakan Harry. Plot twist-nya pun as usual.

... meskipun sedikit kecewa karena Mad-eye Moody yang saya kagumi ternyata bukan Mad-eye Moody yang sebenarnya. Asem,

Di seri ini, cerita diawali seperti biasa dari liburan akhir tahun pelajaran Harry di keluarga Dursley. Cara Mr. Wealey menjemput Harry sungguh kocak sekali. Lalu alur berarak menuju piala dunia Quidditch yang seru, menjengkelkan dan penuh kode untuk alur selanjutnya.

Cerita Harry Potter berlanjut ke Hogwarts dengan turnamenr Triwizard yang sudah begitu lama tidak dilaksanakan. Turnamen Triwizard adalah turnamen sihir antara tiga sekolah sihir di Eropa, yaitu; Hogwarts, Durmstrang dan Beauxbatons. Alur yang sudah penuh dengan teka-teki ditambah dengan teka-teki yang harus Harry selesaikan dari turnamen ini.

Dan yang menjadi klimaks adalah kelahiran kembali Lord Voldemort, meskipun pada pertemuan Voldemort dengan Harry di akhir seri ini masih tetap dimenangkan Harry. Sebab Harry masih bisa melarikan diri dengan selamat. Tapi Cedric Diggory harus meninggal dan ini adalah letusan yang cukup untuk segera menyiapkan diri menghadapi kebangkitan si-hidung-pesek-voldemort.

Oke, di seri ini si peri rumah Dobby tidak lagi menjengkelkan, gantian dengan Winky si peri rumahnya Mr. Crouch yang sebelas dua belas dengan si Rita Skeeter. Menyenangkan ketika si Rita Skeeter ini akhirnya berhasil ditangkap oleh Hermione dalam bentuk animagusnya, kumbang jelek. Rasanya sama menyenangkannya dengan mengetahui bahwa keluarga Malfoy adalah pengikut Voldemort. Tidak sabar melihat keluarga Malfoy runtuh. Haha

Dan alur berhenti di saat Harry mulai liburan kembali di rumah keluarga muggle Dursley. Oh, pengen cepet-cepet baca seri kelima. Semoga minggu depan bisa sudah memegang novelnya.

#12 | Interval - Diasya Kurnia

Interval
Penulis: Diasya Kurnia
Penerbit: PING
Tebal: 176 hal, 13x19 cm
Cetakan: 2016
ISBN: 978-602-391-059-5
Bagaimanapun, aku hanya gadis SMA. Selayaknya, saat ini aku sedang merasakan asmara. Tapi justru seakan semua awan mendung dikirim dalam masa kehidupan yang katanya penuh warna ini.

Persaingan menjadi ketua ekskul tari di sekolah menyeret statusku sebagai penari jathil keliling yang dianggap rendah. Rey, satu-satunya sahabatku, tiba-tiba menjauh. Dan seakan itu belum cukup. Kakek mengusir Carl, guru baru yang menjadi idola di sekolah, hanya karena dia orang asing.

Tidak sekali aku berpikir bahwa tentu hidupku akan berbeda jika orang tuaku bersedia tetap di sini.

Tampaknya, waktu tidak selalu menjadi obat mujarab bagi luka. Bahkan setelah jeda yang lama, beberapa hal dari maa lalu masih bergelayut. Termasuk pertanyaan kepada orang tuaku: "Kenapa kalian memilih pergi?"

Tapi, semakin dekat dengan tujuan, aku bimbang. Benarkah aku ingin tahu jawaban mereka?
Sebagai penari jathil yang sering menerima pekerjaan dari kampung ke kampung, ada saja hal-hal yang membuatku sedih. Tak jarang para penari sepertiku mendapat perlakuan tak adil.

Satu-dua minggu novel ini tersimpan rapi dengan bungkusnya di atas lemari. Kegiatan PLP membuat saya harus rela sedikit menyedot waktu baca. Beberapa hari sebelum membacanya sampai selesai, saya mengecek Interval di akun goodreads dan sedikit terkejut dengan pendapatan bintangnya yang rendah. Ketika akan membacanya, saya melepaskan berbagai macam ekspektasi kemudian berhasil menamatkan Interval hanya dalam waktu sekitar 2-3 jam dan saya cukup puas.

Saya membaca bagian awal Interval dengan tersendat-sendat sejujurnya, entah kenapa, meskipun kehidupan Kinanti dengan background profesinya sebagai penari jathil keliling sangat menarik. Bagaimana lingkungan dan bahkan ayah temannya sendiri terkesan tidak setuju dengan jalan hidup yang dipilih oleh Kinanti. Misteri tentang keabsenan orang tuanya juga menjadi teka-teki yang membuat penasaran. Beberapa teka-teki lain cukup mudah ditebak, orientasi seksual Ray misalnya.

Baru setelah masuk pada masa Kinanti dewasa dengan perbedaan kondisi hidupnya yang cukup kontras, rasanya nyaman sekali dibaca. Pemaparan perjalanan Kinanti di Amerika adalah bagian yang saya nikmati. Narasinya enak dibaca, plot twisnya juga ada. Tapi pada bagian Ray bunuh diri entah kenapa membuat saya kecewa, saya jadi merasa karakter Ray yang dari awal dibangun pada akhirnya hanya untuk dimatikan. Sedikit tidak terduga. Menilik dari kisah Ray yang orientasi seksualnya pada sesama jenis menjadi bahan saya untuk menduga-duga orientasi seksual Seth, dan ternyata benar dia juga begitu.

Ketika membaca bagian Kinanti pulang ke Indonesia, saya masih tidak tahu kemana alur akan berakhir, dan ternyata alur berakhir dengan kisah cinta yang manis antara Kinanti dan Dimas. Yeah, saya setuju setelah begitu lama Kinanti hidup dalam kesulitan, dia perlu mendapatkan kebahagiaan di akhir cerita, pernyataan cinta Dimas salah satunya.

Hal yang masih mengganjal di benak saya kemudian adalah pilihan Kinanti untuk bekerja di kantor dan berhenti menari jathil. Saya mendapat kesan bahwa Kinanti menyerah pada gunjingan-gunjingan para tetangga tentang profesinya which is pada masa remaja tidak diacuhkannya dengan sekuat tenaga. Meskipun pada akhirnya dengan titel sarjana ekonomi, Kinanti berniat ingin kembali bergelut di bidang kesenian.

Sebagai novel perdana, saya patut mengacungkan jempol untuk Mbak Diasya. Selamat, Mbak, semoga cepet lahiran lagi. hehe. Oke, pada hari minggu lalu, saya juga sempat bertanya-jawab dengan Mbak Diasya tentang aktivitas menulis dan proses kelahiran novel perdananya ini. Tunggu tanggal mainnya, lekas akan diposting di blog ini.

#11 | Harry Potter and The Prisoner of Azkaban - JK. Rowling

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban
(Harry Potter dan Tawanan Azkaban)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 544 hal; 20 cm
Cetakan: April 2002
ISBN: 979 - 655 - 853 - x

SELAMA dua belas tahun, penjara sihir Azkaban yang mengerikan mengurung tawanan berbahaya bernama Sirius Black. Black yang ditahan karena membunuh tiga belas orang dengan dengan satu kutukan, dikabarkan sebagai putra mahkota si Pangeran Kegelapan. Voldemort. 


Sekarang Black berhasil kabur. Hanya ada dua petunjuk untuk memperkirakan ke mana kiranya tujuannya: Keberhasilan Harry Potter mengalahkan Voldemort berarti kejatuhan Black juga. Dan para pengawal Azkaban sering mendengar Black mengigau dalam tidurnya, "Dia di Hogwarts... dia di Hogwarts."

Harry Potter tidak aman, bahkan sekalipun dia berada di dalam perlindungan dinding kastil sekolah sihirnya, dan dikelilingi oleh teman-temannya. Karena... mungkin saja ada pengkhianat di antara mereka!
“I don't go looking for trouble. Trouble usually finds me.” 

Saya mulai membaca seri ketiga Harry Potter ini pada akhir bulan Januari sebenarnya, tetapi aktivitas yang lain membuat saya berhenti sejenak dan berhasil menamatkannya di pertengahan bulan ini.

Bagian awal yang saya suka dari seri ketiga ini adalah ketika Harry Potter lepas kendali dan menyihir Bibi Merge menjadi pelampung besar dengan mata babi yang melayang ke langit-langit rumah. Selepas itu, alur cerita kembali mencekam dengan beredarnya kabar bahwa salah satu tawanan Azkaban kabur. And yes, tawanan itu adalah Sirius Black, penyihir yang digadang-gadang sebagai pengikut sejati Voldemort. Kepergian Harry dari rumah pamannya di Privat Drive malam-malam terasa begitu rawan, apalagi setelah ia melihat sesosok anjing besar yang menyeramkan.

Harry boleh merasa khawatir karena tujuan utama Voldemort dan kaburnya si tawanan Azkaban adalah untuk menemukannya, tapi toh ternyata Harry merasa risih dengan setiap penjagaan yang ketat terhadapnya, termasuk ketika kementerian sihir memberikan 'pinjaman mobil' kepada keluarga Weasley untuk mengantar Harry ke stasiun kereta api.

Karakter yang saya suka kali ini adalah Prof. Lupin si guru pertahanan Ilmu Hitam yang baru, sebab dua guru yang mengajar materi ini sebelumnya merupakan orang-orang yang bermasalah. Apalagi setelah tahu bahwa Lupin adalah seorang manusia srigala. Meski awalnya sempat mengira bahwa lagi-lagi guru Pertahanan Ilmu Hitamlah yang akan dijadikan kambing hitam oleh Rowling sebagai pengikut setia Voldemort tapi ternyata bukan.

Pada tahun ini Hagrid naik kasta menjadi guru Pemeliharaan Satwa Gaib menggantikan guru sebelumnya yang pensiun. Meskipun awal perannya sebagai guru dikacaukan oleh Draco Malfoy yang licik. Tapi ternyata kekacauan yang dibuat Malfoy ada gunanya sebab menjadikan ending dari seri ini tidak begitu mengecewakan.

Peran Sirius Black menjadi kejutan (meskipun saya tidak benar-benar terkejut) karena ternyata si tawanan Azkaban ini bukan orang yang jahat. Justru yang membuat saya gregetan adalah ketika Harry tak kunjung percaya dengan kebenaran tersebut; bahwa Sirius Black bukanlah pengikut Voldemort dan tidak memiliki peran apa-apa dalam usaha membunuh orang tua Harry Potter.

Dan ada lebih banyak lagi kejutan-kejutan yang akan lebih menarik jika dibaca langsung, termasuk; hubungan antara Prof. Lupin, Sirius Black, Wormtail si pengkhianat dan ayah kandung Harry Potter. Begitu juga dengan alasan kenapa Prof. Snape sangat membenci empat sekawan plus Harry Potter. Dan bagaimana Crockshand, kucing peliharaan Hermione, seperti mengendus hal yang tidak beres dari tikus peliharaan Ron. Semuanya ternyata terhubung dalam alur yang membuat saya kenyang dengan rasa ingin tahu.

Selebihnya, saya bersyukur dengan minggatnya Sirius Black dari Azkaban sebab Harry akan merasa aman dengan kondisi seperti itu. Meskipun pada akhirnya pengikut Voldemort yang sebenarnya sudah bergabung dengan tuannya. 

Ketika artikel ini dibuat, saya sedang membaca seri Harry Potter yang keempat dan tampaknya konflik besar dari seri ini akan segera dimulai. Wohoo!


[MASTER POST] Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016



Reading Challenge pertama yang saya ikuti tahun ini berjudul FSFD Reading Challenge 2016 dengan host Raafi di bibliough. FSFD adalah singkatan dari "Fantasy, Science Fiction, Dystopia" yang dibuat jadi satu karena mereka terlihat tipikal walaupun sebenarnya tak sama. Kebetulan, tahun ini juga saya sedang ingin banyak membaca buku genre tersebut.

FSFD-RC ini tidak dibuat seketat tantangan membaca lain. Raafi tahu kebanyakan dari para pembaca sudah terlalu malas bahkan untuk mengikuti tantangan membaca. Di sini, kamu hanya mendaftar dan sudah! Bagaimana caranya? Langsung saja cermati aturan mainnya.
  1. FSFD-RC 2016 berlangsung dari 10 Januari 2016 - 10 Januari 2017 (tepat satu tahun). Buku-buku yang dihitung di dalamnya hanyalan yang dibaca pada periode tersebut.
  2. Kamu tidak perlu mempunyai blog untuk ikutan FSFD-RC 2016. Tetapi harus membuat review dari buku yang dibaca.
  3. Harus memiliki media untuk mengepos review, baik itu blog, akun Facebook melalui fitur "Notes", akun Goodreads, atau yang lainnya.
  4. Buku yang dibaca merupakan genre fantasi, fiksi ilmiah, dan distopia tanpa batasan subgenre. Selengkapnya bisa baca di sini.
  5. Buku yang dibaca boleh dalam bentuk fisik (paperback) dan digital (e-book).
  6. Mendaftarkan dirimu melalui formulir di bawah (atau di sini). Pendaftaran dibuka hingga 30 Juni 2016.

Terlalu mudah? Ada kategori-kategori yang harus kamu babat selama satu tahun. Berikut kategori-kategorinya beserta nomor kategori.
  • [0] Uncategorized - Kategori paling mudah! Baca buku yang tidak termasuk dalam kelima kategori di bawah ini.
  • [1] Before 50s - Baca buku yang terbit sebelum tahun 50-an. 50-an berarti tahun 1959 masih termasuk kategori ini. Klasik? Kenapa tidak?
  • [2] Stand Alone - Baca buku yang tidak memiliki sekuel atau berdiri sendiri. Kebanyakan buku-buku bergenre ini kan berseri.
  • [3] After 2010 - Baca buku yang terbit pada tahun 2010 dan setelahnya. Sepertinya ini juga termasuk kategori mudah.
  • [4] Movie to Release - Menunggu film yang akan tayang tahun ini? Bagaimana kalau membaca bukunya dahulu? Baca buku yang filmnya akan tayang tahun ini!
  • [5] Crunchy Pillow - Baca buku dengan ketebalan lebih dari 500 halaman. Yakinlah kamu pasti bisa!

Bila ada pertanyaan mengenai FSFD-RC 2016, silakan ajukan via e-mail oughmybooks@gmail.com.

***


[MONTHLY WRAP UP] What I've Read In January




Jadi bulan Januari tidak terasa sudah berakhir, begitu juga dengan libur panjang kuliah. Selama bulan itu, banyak waktu luang yang bisa saya habiskan dengan membaca novel sambil santai-santai di rumah sementara hari ini saya sudah berada di Bandung dengan segala rutinitas yang akan segera dihadapi. Pyuh, rasanya saya perlu lebih banyak hari libur. Haha. Tapi sebelum euforia karena di bulan Januari saya membaca cukup banyak novel berakhir, saya akan membuat semacam wrap up mengenai buku apa saja yang saya baca selama satu bulan kemarin.

Here they are...

The Heritage by Ghyna Amanda
Harry Potter and The Chamber of Secret by JK Rowling

    Beberapa buku yang berkesan di bulan Januari adalah serial Harry Potter, All You Need Is Love dan A Week Long Journey. Empat novel ini benar-benar bisa membuat saya berdecak kagum entah karena idenya yang menarik, penggambaran settingnya yang terasa nyata, maupuan cara penulisnya merangkai narasi. Saya menjadi pengagum baru Fakhrisina, Altami dan tentu saja JK Rowling.


    Dua serial Harry Potter pertama berjudul Harry Potter and The Sorcerers Stone dan Harry Potter and The Chamber of Secret menjadi buku pertama JK Rowling yang saya baca. Meski sebenarnya saya sudah berminat dengan serial yang fenomenal ini semenjak melihat film pertamanya bertahun-tahun yang lalu tapi baru benar-benar bisa menyelesaikannya sekarang. Cerita Harry Potter secara garis besar bisa dibilang merupakan perjalanan seorang penyihir muda bernama Harry Potter dan kaitannya dengan intervensi si penyihir hitam yang bernama Lord Voldemort. Ketika postingan ini ditulis, saya sedang menyelesaikan buku Harry Potter yang ketiga dan semakin jelas benang merah dari serial ini.

    All You Need Is Love dan A Week Long Journey adalah novel young adult yang sama-sama diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Akhir-akhir ini, genre young adult membuat saya kecanduan. Meski pada bulan Januari hanya sempat membaca tiga judul di antaranya. Ada beberapa judul yang minta diselesaikan sebenarnya tapi fokus membaca saya sedang terdistraksi oleh kegiatan PPL.

    Sejauh ini, bulan Januari adalah bulan favorit saya karena pada bulan tersebut saya memiliki banyak waktu luang sehingga bisa lebih leluasa untuk membaca novel. Lalu, bagaimana dengan bulan ini?


    Salah satu teman menulis saya menelurkan buku pertamanya tahun ini dan saya kebagian novel gratis plus tandatangan. Saya masih menunggu novel tersebut sampai di tangan saya. Dia adalah Mbak Diasya Kurnia dengan novel pertamanya yang berjudul Interval. Kami bertemu pada event Kampus Fiksi yang diadakan oleh penerbit DivaPress Januari tahun 2014 lalu.

    Wow, congrats, Mbak. Doakan saya segera menyusul.

    Jadi, di bulan Februari ini saya sudah memiliki beberapa buku untuk dibaca. Beberapa di antaranya adalah buku-buku yang saya beli pada bulan lalu tapi tidak sempat dibaca, atau diselesaikan. Di antaranya adalah; Sabtu Bersama Bapak, Senja yang Mendadak Bisu, Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan beberapa novel lain.

    Pada bulan ini juga saya berencana untuk membuat semacam postingan yang diisi dengan hasil wawancara dengan penulis, penerbit, atau siapapun yang berkenaan dengan dunia kepenulisan dan penerbitan. Konsepnya sudah ada di kepala saya semenjak akhir tahun kemarin, saya masih bingung bagaimana untuk mengeksekusinya. Sementara untuk postingannya sendiri, saya menjadwalkan satu kali sebulan.

    Mulai bulan ini juga saya berniat untuk mengikuti beberapa reading challenge yang tidak pernah berhasil saya  selesaikan selama dua tahun terakhir. Kemungkinan saya akan mengambil tiga reading challenge, yaitu: Young Adult Reading Challenge, FSFD Reading Challenge dan Read and Keep Challenge. Tidak muluk-muluk untuk mendapatkan hadiah, saya hanya berharap semoga tantangan-tantangan tersebut bisa memicu saya untuk lebih rajin membaca dan mereview.

    Kabar buruk, saya belum bisa medaftarkan diri menjadi anggota Blogger Buku Indonesia karena pendaftaran masih ditutup dan sepertinya blog saya terlalu baru untuk dijadikan anggota. Tapi tidak mengapa, toh saya masih bisa membaca dan mereview hasil bacaan saya di sini tanpa menjadi anggota klub mana pun. Mungkin tahun depan saya akan mencoba untuk mendaftar kembali.

    Semoga bulan ini saya bisa mempertahankan aktivitas membaca saya. ^^

    ***