#7 | The Heritage - Ghyna Amanda

The Heritage
Penulis: Ghyna Amanda
Penerbit: Grasindo
Tebal: 201 halaman
Cetakan: April 2014
ISBN: 9786022514909
Bosscha Sterrenwacht, Grote Postweg, Beatrix Boulevard, Lembangweg, Bilitonstraat—adalah segelintir nama yang tersirat dalam lembaran lukisan milik seorang gadis bernama Julia.

Karena aksi sok heroiknya, Vero, seorang murid pertukaran pelajar dari London, terpaksa harus membantu Julia memecahkan teka-teki dari lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai bangunan kuno di Kota Bandung. Vero yang awalnya datang ke Bandung untuk mempelajari angklung dan arumba, akhirnya harus terlibat dalam petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah yang ada di dalam lukisan Julia.


Dalam petualangan itu, akhirnya teka-teki lain ikut terbongkar. Alasan mengapa Julia bersikeras ingin memecahkan teka-teki dari lukisan tersebut, dan alasan mengapa Vero harus terlibat dalam petualangan ini. Begitu juga dengan simpulan akhir perasaan keduanya.
“Kadang-kadang kita memang bisa melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang kita sayangi. Salah satunya mungkin dengan mengorbankan nyawa.”

Meski sebelum The Heritage, saya hanya sempat membaca Fuurin dan Heartsease tapi tulisan-tulisan Ghyna Amanda sudah cukup melekat di kepala saya. Saya juga pembaca cerita-cerita yang Ghyna posting di akun wattpadnya. Dan, ya, saya selalu suka bagaimana alur-alur dan narasi yang si teteh satu ini buat. Semuanya mengalir seolah tanpa ada celah.

Membaca The Heritage seperti bertemu dengan teman lama, terasa akrab sekali. Mungkin karena setting novel ini adalah kota Bandung, dan jelas alurnya pun bercerita tentang tempat-tempat bersejarah di Bandung yang sudah tidak lagi asing di mata saya. Setiap pergerakan para tokohnya dari satu tempat ke tempat lain juga terasa lebih nyata karena saya tidak perlu mengimajinasikan bagaimana bentuk latarnya, cukup kembali memanggil ingatan saya. Tapi sayangnya, narasi yang informatif ketika mejelaskan sejarah tempat-tempat tertentu di novel ini menjadi sedikit membuat saya bosan.

Cerita The Heritage menarik dan berbeda. Sejauh ini, rasanya baru kali ini saya membaca novel yang mengangkat tempat-tempat bersejarah di Bandung. Ada beberapa tempat yang ternyata tidak sekadar bersejarah bagi kota Bandung, tapi juga bagi kenyataan tentang ayah Julia, tokoh utama perempuan dalam novel ini, yang sudah meninggal dan menyisakan serangkaian teka-teki.

Dan dia adalah Vero atau Vermarine Evergreen. Untuk kamu yang sudah membaca Heartesease, pasti kamu akan merasa akrab dengan nama ini. Salah satu keunikan novel-novelnya Ghyna memang seperti ada benang merah yang menghubungkan mereka, tapi tidak dalam bentuk alur. Tokoh-tokoh dari satu novel bisa jadi 'kelayapan' ke novel yang lain dan itu cukup bikin oh-oke-waw. Kehadiran tokoh Gesang dari Fuurin contohnya. Gesang ternyata merupakan saudara sepupu dengan Julia dan menjadi teman baik Vero di dalam novel ini.

Vero adalah siswa asing yang ikut pertukaran pelajar di kota Bandung dengan misi mempelajari kesenian tradisional sunda. Tapi kehadirannya di Bandung ini ternyata juga mempertemukannya dengan Julia yang secara tidak langsung menyeretnya ke dalam teka-teki perburuan Julia terhadap jejak-jejak kehidupan ayahnya. Kehidupan Vero pun menjadi tidak menentu dengan mengikuti naik turun emosi Julia. Beberapa tugasnya sebagai siswa pertukaran pun sedikit terganggu dengan usaha membantu Julia, meskipun Julia pada awalnya terkesan tidak begitu suka kepada lelaki asing ini.

Hanya satu yang rasanya agak mengganjal di dalam novel ini, yaitu tentang penggunaan sudut pandang Vero sebagai pencerita. Saya merasa pengetahuan Vero tentang lingkungan barunya terlalu luas. Saya sedikit penasaran sih sebenarnya dengan sudut pandang Julia, apalagi menurut saya yang memiliki konflik cukup besar dalam novel ini adalah Julia. Jika penggunaan sudut pandang Vero adalah untuk mengakali rasa penasaran pembaca, rasanya tidak begitu berhasil bagi saya.

Selebihnya, novel ini menarik dan cocok dibaca oleh kamu yang mempunyai minat khusus terhadap tempat-tempat bersejarah di kota Bandung.

Post a Comment

0 Comments