#3 | Harry Potter and The Sorcerer's Stone - JK Rowling

Harry Potter and The Sorcerer's Stone

Harry Potter and The Sorcerer's Stone
(Harry Potter dan Batu Bertuah)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 384 hal
Cetakan: Juni 2007
ISBN: 979-655-851-3

HARRY POTTER belum pernah jadi bintang tim Quidditch, mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sama sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Gaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.

Selama ini dia hidup menderita bersama paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun, belum pernah sekali pun dia merayakan ulang tahun.


Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya datang ke tempat luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry--dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar... kalau Harry berhasil selamat berhadapan dengan musuh bebuyutannya.

“Your mother died to save you. If there is one thing Voldemort cannot understand, it is love. Love as powerful as your mother's for you leaves it's own mark. To have been loved so deeply, even though the person who loved us is gone, will give us some protection forever.”

Finally done! Ini adalah kali pertama saya menamatkan novel Harry Potter yang cukup tebal itu meski sudah mengidam-idamkannya semenjak duduk di sekolah dasar. Poor me! Haha.

Seperti yang telah saya prediksi sebelumnya, I love both movie and novel version of Harry Potter and The Sorcerer's Stone. Meski memang sejujurnya tidak lagi ada efek kejut yang saya rasakan ketika menikmati ceritanya dalam bentuk novel karena  sudah menonton filmnya. Alurnya sudah tertebak. Jadi membaca novel ini hanya sebagai 'hadiah' karena novel ini sudah begitu lama tercampakkan, beserta enam seri lainnya, yang akan saya usahakan untuk diusaikan tahun ini atau bahkan bulan ini.

Hal yang membuat saya tak kunjung menyelesaikan novel ini sejak dulu adalah karena keburu jengah melihat tebal halamannya yang lumayan. Tapi beberapa hari ini, karena jadwal kuliah masih kosong dan tidak ada kesibukan lain,  saya sekuat tenaga memaksakan diri untuk membacanya sampai tuntuas dan... voila! Saya tidak sadar sudah sampai di halaman terakhir.

Bagian-bagian awal Harry Potter and The Sorcerer's Stone ini bagi saya memang sedikit bertele-tele dan menjemukan. Apalagi cerita tentang si keluarga-mugle-bodoh-Dursley. Cerita baru menarik ketika kehidupan Harry yang berusaha 'dinormalkan' oleh pamannya mulai diintervensi oleh Hogwarts lewat surat-surat undangan masuk sekolah. Mulai dari bagian ini, saya terbawa cerita hingga tidak rela untuk meninggalkannya bahkan untuk pergi sebentar ke kamar kecil. Haha.

Sayangnya, cerita mengenai The Sorcerer's Stone justru hanya kebagian porsi satu pertiga menuju ending. Cukup singkat jika dibandingkan dengan keseluruhan cerita di dalam novel ini. Logika-logika ceritanya pun terkesan dimudahkan untuk diterima, jika tidak ingin dibilang seperti dipaksakan. Kehidupan Harry Potter berjalan cukup mudah meski dihadang oleh berbagai masalah besar. Mau tidak mau saya harus memakluminya sebab He is The Choosen One! dan semua orang tidak akan memungkirinya.

Terlepas dari hal yang kurang memuaskan tersebut, I'm still a big fans of Harry Potter dan sedikit menyesal kenapa baru merampungkan bacaannya tahun ini. Berasa ketinggalan zaman sekali. Tapi dari kejadian ini, saya menyadari bahwa pengaruh dari Harry Potter masih begitu besar hingga sekarang. Harry Potter juga yang sempat menghidupkan dunia imajinasi saya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya pernah benar-benar berhadap bahwa dunia Harry Potter itu ada, dan sihir juga begitu. Bahkan saya sampai menghapal satu persatu mantra sihir dalam dunia Harry Potter.

Ngomong-ngomong soal mantra sihir, di buku pertama Harry Potter ini saya menemukan beberapa mantra sihir yang secara tidak sadar kembali saya hapalkan. Ini dia!
  • Alohomora! untuk membuka pintu yang terkunci.
  • Wingardium Leviosa! untuk menerbangkan sesuatu.
  • Petrificus Totalus! untuk membuat tubuh seseorang jadi kaku.
Beberapa kali dengan iseng saya mencoba mantra ini dengan tunjukan jari telunjuk  tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Ah, mungkin saya juga seorang mugle seperti si-keluarga-bodoh-Dursley.

Anyway, apa mantra sihir favoritmu?

Post a Comment

2 Comments

  1. Wah, rapih banget blognya! Btw, saya juga baru baca buku pertama seri Harry Potter ini lho XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... berasa ketinggalan banget baru baca serial Harpot tahun ini sebenarnya, haha. ayo dilanjut, udah nyampe seri keempat nih. XD

      Delete