#2 | Sepotong Hati yang Baru - Tere Liye

Sepotong Hati yang Baru

Sepotong Hati yang Baru
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka
Tebal: 204 hal
Cetakan: September 2012
ISBN:  9786029474046


Kita hanya punya sepotong hati, bukan? Satu-satunya. 

Lantas bagaimana kalau hati itu terluka? Disakiti justeru oleh orang yang kita cintai? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya? Apakah luka itu bisa pulih, tanpa bekas? Atau jangan-jangan, kita harus menggantinya dengan sepotong hati yang baru. 

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik.

Selamat membaca cerita-cerita Sepotong Hati Yang Baru.

"Tetapi malam ini, ketika melihat wajah sendumu, mata sembabmu, semua cerita tidak masuk akal itu, aku baru menyadari, cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna."

Sepotong Hati yang Baru adalah tulisan Tere Liye pertama yang saya baca. Secara personal, saya pernah bertemu dengan penulis produktif ini sekitar dua-tiga tahun lalu di acara kampus. Yes, He is very great dan rendah hati.

Saya tidak sedang mencoba untuk mengomentari kemampuan menulis Tere Liye sebab semua orang tahu level kompetensi menulisnya sudah lebih dari mumpuni. Buku cetaknya sudah banyak, bestseller bahkan beberapa sudah dialih wahanakan menjadi film dan mendapat respons yang positif. Saya hanya mencoba untuk menggambarkan apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Buku kumpulan cerpen ini memuat delapan cerita bertema cinta dengan latar yang beragam, Setiap cerpen memiliki keunikan sendiri dan memuat pesan atau amanat yang membumi, artinya pesan atau amanat-amanat tersebut saya kira merupakan bagian dari realitas yang dialami oleh kebanyakan orang.

Cerita favorit saya dalam buku ini adalah tiga cerita pertama berjudul 'Hiks, Kupikir itu Sungguhan', 'Cerita Cinta Sie-Sie', dan 'Percayakah Kau Padaku'. Selebihnya, saya menikmati cerpen yang lain dan sedikit merasa kesulitan ketika membaca cerita berjudul 'Itje Noerbaja dan Bang Djalil' serta 'Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay'. Jika pada 'Itje Noerbaja dan Bang Djalil' saya terngganggu dengan penggunaan jenis ejaan lama, di dalam 'Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay', saya merasa sedang membaca fanfcition dari novel melayu-tionghoa 'Sampek-Engtay'. Tetapi keduanya pula menyuguhkan cerita yang menarik, jika kamu mau lebih bersabar untuk membacanya hingga tuntas.

Well, mari kita singgung tiga cerita pertama yang menjadi favorit saya...

  • Hiks, Kupikir Itu Sungguhan

Cerita remaja ini sangat dekat sekali dengan kenyataan hidup. Media sosial, remaja dan sikap baper memang sulit dipisahkan. Itu juga yang terjadi pada tokoh utama bernama Nana dan sahabatnya yang bernama Putri. Bencanananya adalah mereka baper pada orang yang sama, yaitu Rio, dan kebaperan tersebut bermula dari media sosial bernama facebook. Twist alurnya menarik sekali, apalagi jika kita ikut meresapi perasaan tokoh utama yang dijadikan sudut pandang dalam cerita ini.

'Hiks, Kupikir Itu Sungguhan' adalah cerita yang mudah dicerna dengan segala kekocakannya. Pesannya pun tersampaikan tanpa kesan menggurui. Malah, saya merasa ikut tersentil dan merasa cerita ini kekinian sekali meski diterbitkan pada sekitaran tahun 2012 silam. Menurut saya, cerita ini adalah gong dari kumpulan cerpen ini.


"Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena cahaya matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?"

  • Cerita Cinta Sie-Sie

Berbeda dengan cerita pertama yang renyah dan bikin senyum-senyum sendiri, 'Cerita Cinta Sie-Sie' membuat saya hanyut dalam rasa pilu. Kisah hidup Sie-Sie yang bisa dibilang cukup mengenaskan dengan segala penderitaan keluarganya, membuat saya geregetan dengan keputusan-keputusan yang diambilnya untuk Wong Lan.

Cerita Cinta Sie-Sie sendiri berkisah tentang Sie-Sie, amoy yang hidup dari keluarga dengan status ekonomi di bawah rata-rata. Kehidupannya yang serba susah plus kesehatan ibunya yang parah membuat Sie-Sie memutuskan untuk mau dinikahi oleh Wong Lan, lelaki asal Taiwan yang mencari istri hanya untuk mencairkan warisan keluarganya.


"Wong Lan menangis dalam diam, terisak dalam senyap. Alangkah bodoh dirinya selama ini. Bodoh sekali. Disangka teman-temannya akan selalu ada, itu dusta. Disangka semua kesenangan itu abadi, itu tipu. Semua tidak hakiki. Adalah cinta Sie yang sejati, cinta wanita yang dia sia-siakan, wanita yang dia aniaya bertahun-tahun."

  • Percayakah Kau Padaku

Kekuatan pertama cerita ini saya kira ada dari penuturan tokoh utamanya mengenai kisah cinta Rama-Shinta yang digadang-gadang sebagai kisah cinta abadi padahal memiliki ending yang tragis, persis kehidupan cinta penuturnya.

Dia adalah ayah Cindanita yang bekerja sebagai pelaut, yang menikahi perempuan asal pulau seberang yang dulu minta diajak kabur dari perayaan pernikahannya. Pernikahan mereka pada awalnya berjalan lancar, namun karena nihil rasa kepercayaan antara si perempuan kepada lelakinya maka hubungan pernikahan mereka akhirnya harus kandas juga. Yang menjadi naas adalah ketika keegoisan tokoh-tokohnya tersebut membuat Cindanita, anak semata wayang yang baru berusia balita, harus menderita dan akhirnya meninggal.

Cerita ini mengajarkan sekali bagaimana posisi rasa percaya yang begitu penting di dalam sebuah komitmen.
"Bagaimana mungkin semua kisah bahagia itu berakhir menyedihkan? Aku tidak pernah tahu jawabannya, Nak. Yang Ayah yakini, cinta yang besar, tanpa disertai komitmen dan kepercayaan, maka dia hanya akan menelan diri sendiri."
Buku ini, meski saya hanya mampu memberinya tiga bintang, tapi cukup memuaskan. Saya merekomendasikannya untuk dibaca para remaja yang masih meraba-raba apa itu artinya cinta, dan masihkah kalian akan berkata bahwa cinta itu hanya sebatas rasa ketertarikan pada lawan jenis yang perlu diejawantahkan dengan cara berpacaran? Mari baca buku ini!

Setelah ini, saya sedang berencana untuk membaca Hafalan Shalat Delisa, yang bentuk filmnya lebih dulu saya nikmati dan berhasil bikin saya nangis. Semoga saya berjodoh dengan versi cetaknya.


Post a Comment

0 Comments