#1 | Tesa - Marga T


Tesa

Tesa
Penulis: Marga T
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 hal
Cetakan: Juni 2005
ISBN: 9795113437
Untuk melupakan masa lalu, Tesa pergi ke Australia. Ketika dia kehabisan biaya kuliah, temannya, Pika, menawarkan pekerjaan sebagai perawat. Pasha adalah mahasiswa kedokteran yang menjadi buta karena kecelakaan lalulintas. Sebagai perawatnya, Tesa diharuskan mengganti nama jadi Selina agar Pasha tidak tahu identitasnya. Setelah beberapa kali dioperasi, penglihatan Pasha berangsur pulih dan Tesa pun diberhentikan. Kegiatan tambahannya di luar kuliah kini cuma memberi les bahasa Indonesia. Dia ingin melupakan segala-galanya termasuk Pasha.

Namun, tak dinyana, pada suaru hari kelabu, mereka berdua justru kesamprok! Pasha tentu saja tidak mengenalinya, tapi perasaan Tesa kacau balau. Terlebih ketika Pasha setelah tahu dirinya orang setanah air-bertanya, kenalkah dia dengan Selina?! Oh, kau tidak lupa! pekiknya dalam hati. Dia ingin mengangguk seribu kali, namun hati nuraninya melarangnya. Dia masih ingat Shakira dan Goffar, dia tak ingin menimpakan musibah yang sama dengan Pika, tunangan Pasha.

Dengan lesu, dia menggeleng dan berucap pelan, "Tidak, aku tak kenal Selina..." Hatinya berdarah melihat keputusasaan di wajah tampan itu.

Oh, Pasha, bila kau tahu!

“Tes, tubuh manusia itu mengenal reorganiasi. Artinya, yang rusak atau sakit akan diganti dengan yang baru. Begitu juga dengan perasaannya. Apa yang dulu terasa menyakitkan, lama-lama akan hilang. Kecewa, frustrasi, penasaran, sakit hati, semua itu tidak kekal. Pasti akan direorganisasi menjadi rasa senang, sentosa, bahagia dan puas. Asal… kita mau berusaha menyembuhkannya. Patah tumbuh hilang berganti”

Jika iseng dihitung, novel 'Tesa' karangan Marga T ini pertama kali dicetak tujuh tahun sebelum saya lahir ke dunia. Waw, saya kagum secara personal kepada Marga T dan karya-karyanya yang masih bisa dinikmati meski tahun sudah berganti puluhan kali hingga hari ini.

Saya sangat menikmai Tesa, in a good way. Dan mulai memahami betul kenapa Mbak Rina, editor penerbit DivaPress, menyarankan saya untuk membaca karya-karya Marga T ketika saya meminta saran bacaan. Jika Mbak Rina membaca postingan ini, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih karena telah menggiring saya untuk mengenal tulisan-tulisan Marga T. Meski ini terlalu awal untuk mengakuinya, tapi sepertinya saya akan jatuh cinta pada tulisan-tulisan Marga T lain yang sudah akan saya hunting.

Tesa diceritakan dengan alur yang lincah dan dinamis, serta tidak terjebak dalam penyuguhan deskripsi latar secara detail seperti yang sering terdapat di kebanyakan novel sekarang ini. Padahal latarnya Perth, Australia, yang tentu akan menarik jika dikisahkan dengan cara sebaliknya. Penceritaannya tidak berbelit-belit dan sangat to the point, tidak berlebihan which is tampak sekali bahwa Marga T tahu betul konsep cerita yang sudah matangnya ini akan dirupakan seperti apa. Penggunaan bahasanya pun jujur khas tahun 1980an dan tidak terlalu banyak bermain diksi, manis tapi tidak terlalu ruah dengan bunga-bunga.

Saya merasakan emosi yang berbeda dari awal membaca hingga akhir, juga perkembangan setiap karakternya yang menarik. Macam rasa kasihan, dongkol, marah, manis dan lucu ada di novel ini. Jangan lewatkan alurnya yang unpredictable di beberapa bagian sebelum akhirnya terpotong dan meloncat ke masa tiga tahun kemudian. It's like, WHAT? Meskipun sampai saat ini saya masih merasa jengkel kenapa Pasha harus kembali pada Pika yang jelas-jelas sekelas Shakira.

Sorry, Pik!

Overall, saya suka. Kesimpulan saya bisa jadi berbeda dengan pembaca yang lain tapi melihat di laman Goodreads tampaknya memang banyak yang suka dengan novel ini. Jadi  rasanya tak perlu dipertanyakan lagi jika saya memberi empat bintang untuk novel ini. Sekaligus, saya juga belajar banyak dari novel ini.

Terimakasih untuk novel ini, oma Marga! :)


Post a Comment

1 Comments

  1. Wah, salut...masih ada anak muda yang bisa menikmati karya Marga T. Saya juga penggemar karya2 Marga T, sy coba kenalkan beberapa karya Marga T tapi tampaknya siswa di sekolah saya gak ada yg suka.

    ReplyDelete