#9 | A Week Long Journey - Altami N.D.

A Week Long Journey
Penulis: Altami N.D.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 hal, 29 cm
Cetakan: 2015
ISBN: 978-602-03-1299-6
Lina Budiawan baru saja lulus SMA dan dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus masuk ke fakultas yang tidak sesuai dengan minatnya karena orangtuanya menganggap jurusan itu memiliki masa depan yang cerah dibandingkan passion-nya, menulis.

Namun, Lina tetap tidak rela melepaskan genggaman pada mimpinya. Ketika dia dikelilingi orang-orang yang terus- menerus bicara mengenai bidang yang tidak sedikit pun Lina minati, justru semakin erat dia mencengkeram obsesi menulisnya. Meski harus mengesampingkan keluarganya.

Hingga liburan selama seminggu di Hong Kong menguak semua rahasia dan cerita lama yang tidak pernah Lina ketahui tentang sejarah keluarganya. Lina pun harus berpikir ulang. Menjadi idealis atau realistis?
Semua orang memang menungguku berbuat kesalahan. Abadikan saja, siapa tahu bisa menjadi sesuatu yang bisa diceritakan. Katakan saja bahwa mengejar impian dan pasiion di bidang yang sama sekali berbeda dengan keluargamu itu salah satu perjuangan yang bodoh dan sia-sia. Tapi akan aku buktikan kalau itu salah.

Another good book yang saya baca bulan ini. Saya suka A Week Long Journey meskipun pada awalnya tidak ingin berekspektasi terlalu jauh ketika melihat kavernya yang bisa dibilang cukup sederhana. Istilah dont judge a book by it's cover sangat tepat untuk buku ini. 

Follow your dream, they will find their way.

Baru melewati masa-masa galau yang Lina rasakan tentang passion dan keinginan orang tuanya yang berbenturan, sedikit banyak saya merasa sejalan dengan alur cerita novel ini. Anyway, saya merasa menjadi Lina yang gamang sebab dulu pun saya sempat dijuruskan untuk memilih fakultas peternakan IPB sementara saya begitu ingin mendalami bahasa. Bedanya, ternyata Tuhan lebih menginginkan saya untuk duduk di kelas bahasa.

Mimpi itu sederhana, yang rumit itu manusianya.

Saya suku karakter Lina Budiawan, yang berbeda dari kebanyakan karakter perempuan yang sering saya temukan di novel, Lina adalah karakter perempuan yang tegar, keras kepala dengan mimpinya dan tidak menye-menye ketika dibenturkan dengan tokoh antagonis. But in other way, dia bisa menjadi begitu manis dan ngegemesin. Seperti Katrina dalam All You Need Is Love yang juga bikin saya pengen meluk. #eeh

Alur AWLJ ini juga bagi saya rapi, enak sekali dibaca dan tidak bikin saya bingung. Semua karakternya, pada akhirnya menjadi begitu loveable, termasuk dua tokoh antagonis yang pada awalnya minta dijitak. Dan ya, meskipun beberapa kali penulisnya mendeskripsikan Chen Zhang, karakter hero dalam novel ini, memiliki fitur wajah yang menyerupai Daniel Manantra tapi entah kenapa selama membaca novel ini, malah wajah Morgan Oey yang kerap kali muncul di dalam benak saya. Hahaha.

Mengapa kita harus memilih untuk diam, meratapi nasib, tanpa berbuat apa pun, padahal kita bisa bergerak, melakukan sesuatu dan kembali berlari

Saya tidak begitu tahu apa latar belakang pendidikan penulisnya, tapi penguasaannya terhadap dunia peternakan cukup meyakinkan. Sehingga hal-hal mengenai dunia peternakan entah itu yang terselip dalam narasi atau pun dalam dialog rasanya tidak seperti tempelan. Juga mengenai deskripsi latar tempat yang dipakai, cukup bikin saya semakin ingin melihatnya secara langsung.

Kalau aku sampai nggak memedulikan orang-orang yang sudah sayang dan memedulikan aku, hanya demi mewujudkan mimpiku sendiri, aku akan merayakan keberhasilanku di puncak dengan siapa nanti? Kayaknya bukan ini yang disebut mimpi. Ya kan?

Poin minus novel ini bagi saya terletak pada bagian awal yang terasa cukup lambat dan membosankan, tapi lepas dari bab 1 novel ini bikin mata saya nggak bisa berhenti baca sampai akhir. Lalu typo everywhere. Tidak terlalu banyak juga sih sebenarnya, tapi beberapa typo menurut saya cukup parah, contohnya pada halaman 221.

Selebihnya, novel ini merangkum hampir semua hal yang saya suka. China, etnis tionghoa, passion menjadi novelis, idealitas yang terbentur dengan realitas, karakter yang loveable, berisi dan... ah, semuanya saya suka. :))

#8 | Harry Potter and The Chamber Of Secrets - JK Rowling

Harry Potter and The Chamber of Secrets
(Harry Potter dan Kamar Rahasia)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 hal; 20 cm
Cetakan: Desember 2000
ISBN: 979 - 655 - 852 -1
HARRY POTTER sudah tidak tahan lagi melewati liburan musim panas bersama keluarga Dursley yang menyebalkan, dan dia ingin sekali bisa segera kembali ke Sekolah Sihir Hogwarts. Tetapi tiba-tiba muncul makhluk aneh benama Dobby, yang melarangnya kembali ke sana. Malapetaka akan menimpa Harry kalau dia berani kembali ke Hogwarts.

Dan malapetaka betul-betul terjadi. Karena pada tahun keduanya di Hogwarts muncul siksaan dan penderitaan baru, dalam wujud guru baru sok bernama Gilderoy Lockhart, hantu bernama Myrtle Merana yang menghantui toilet anak perempuan, dan perhatian tak diinginkan dari adik Ron Weasley Ginny.

Tetapi semua itu cuma gangguan kecil dibandingkan dengan bencana besar yang kemudian melanda sekolah: Ada yang mengubah murid-murid Hogwarts menjadi batu. Mungkinkah pelakunya Draco Malfoy yang jahat, pesaing utama Harry? Mungkinkah dia Hagrid, yang riwayat masa lalunya akhirnya terbongkat? Atau, mungkinkah pelakunya anak yang paling dicurigai semua orang di Hogwarts... yakni Harry Potter sendiri???
“You will also find that help will always be given at Hogwarts to those who ask for it.” 

Menyambung cerita Harry Potter di seri yang pertama, Harry Potter and The Chamber of Secrets berkisah tentang tahun kedua Harry Potter di sekolah sihir Hogwarts. Seperti biasa, cerita diawali dengan masa liburan Harry di rumah si keluarga-muggle-bodoh-Dursley yang tidak menyenangkan. Plus hari ulang tahunnya yang buruk dan kedatangan si peri rumah Dobby yang menjengkelkan.

Banyak teka-teki yang membuat saya penasaran ketika Harry mulai masuk ke dunia sihir Hogwarts, karena saya sudah cukup lupa dengan alur yang saya tonton dari filmnya. Termasuk bisikan-bisikan yang Harry dengar dan kemana arah peringatan Dobby yang menyatakan bahwa Hogwarts tidak menjadi tempat yang aman untuk seorang Harry Potter.

Kedatangan guru Pertahanan Ilmu Hitam yang baru, Prof. Gilderoy Lockheart yang meskipun dideskripsikan begitu tampan tapi menjadi nomor dua sebagai makhluk yang paling menjengkelkan setelah si peri rumah Dobby. Prof. yang satu ini sok sekali dengan pencapaian-pencapaian yang ia pamerkan di dalam buku-bukunya. Makhluk yang paling menjengkelkan ketiga adalah siswa baru asrama Gryfindor bernama Collin Creeves yang sering sekali menenteng-nenteng kamera untuk mengambil potret Harry Potter.

Lalu berubahnya si Collin, Hermione dan beberapa orang lain menjadi batu menambah teka-teki menjadi rumit. Apalagi setelah para guru tidak kunjung menemukan sang tersangka. Suasana sekolah menjadi mencekam.

Beruntungnya dalam seri ini, nama Hagrid dibersihkan dari kesalahan fatal yang membuatnya dikeluarkan oleh Dumbledore dari Hogwarts, disebutkan pada seri pertama.

Selanjutnya, banyak hal mengejutkan di bagian menuju akhir dari seri ini, termasuk ketika satu persatu teka-teki mulai terpecahkan. Kamu harus membacanya sendiri jika ingin tahu, termasuk tentang Prof Gilderoy Lockheart yang ternyata seorang pembual ulung. Yang pasti, yang membuat saya hampir tidak bisa berkata apa-apa adalah keikutsertaan Ginny Weasley dalam proses kembali berkuasanya Lord-hidung-pesek-Voldemort. Ups!

Sekarang, saya sedang ingin cepat-cepat menamatkan seri ini.


#7 | The Heritage - Ghyna Amanda

The Heritage
Penulis: Ghyna Amanda
Penerbit: Grasindo
Tebal: 201 halaman
Cetakan: April 2014
ISBN: 9786022514909
Bosscha Sterrenwacht, Grote Postweg, Beatrix Boulevard, Lembangweg, Bilitonstraat—adalah segelintir nama yang tersirat dalam lembaran lukisan milik seorang gadis bernama Julia.

Karena aksi sok heroiknya, Vero, seorang murid pertukaran pelajar dari London, terpaksa harus membantu Julia memecahkan teka-teki dari lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai bangunan kuno di Kota Bandung. Vero yang awalnya datang ke Bandung untuk mempelajari angklung dan arumba, akhirnya harus terlibat dalam petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah yang ada di dalam lukisan Julia.


Dalam petualangan itu, akhirnya teka-teki lain ikut terbongkar. Alasan mengapa Julia bersikeras ingin memecahkan teka-teki dari lukisan tersebut, dan alasan mengapa Vero harus terlibat dalam petualangan ini. Begitu juga dengan simpulan akhir perasaan keduanya.
“Kadang-kadang kita memang bisa melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang kita sayangi. Salah satunya mungkin dengan mengorbankan nyawa.”

Meski sebelum The Heritage, saya hanya sempat membaca Fuurin dan Heartsease tapi tulisan-tulisan Ghyna Amanda sudah cukup melekat di kepala saya. Saya juga pembaca cerita-cerita yang Ghyna posting di akun wattpadnya. Dan, ya, saya selalu suka bagaimana alur-alur dan narasi yang si teteh satu ini buat. Semuanya mengalir seolah tanpa ada celah.

Membaca The Heritage seperti bertemu dengan teman lama, terasa akrab sekali. Mungkin karena setting novel ini adalah kota Bandung, dan jelas alurnya pun bercerita tentang tempat-tempat bersejarah di Bandung yang sudah tidak lagi asing di mata saya. Setiap pergerakan para tokohnya dari satu tempat ke tempat lain juga terasa lebih nyata karena saya tidak perlu mengimajinasikan bagaimana bentuk latarnya, cukup kembali memanggil ingatan saya. Tapi sayangnya, narasi yang informatif ketika mejelaskan sejarah tempat-tempat tertentu di novel ini menjadi sedikit membuat saya bosan.

Cerita The Heritage menarik dan berbeda. Sejauh ini, rasanya baru kali ini saya membaca novel yang mengangkat tempat-tempat bersejarah di Bandung. Ada beberapa tempat yang ternyata tidak sekadar bersejarah bagi kota Bandung, tapi juga bagi kenyataan tentang ayah Julia, tokoh utama perempuan dalam novel ini, yang sudah meninggal dan menyisakan serangkaian teka-teki.

Dan dia adalah Vero atau Vermarine Evergreen. Untuk kamu yang sudah membaca Heartesease, pasti kamu akan merasa akrab dengan nama ini. Salah satu keunikan novel-novelnya Ghyna memang seperti ada benang merah yang menghubungkan mereka, tapi tidak dalam bentuk alur. Tokoh-tokoh dari satu novel bisa jadi 'kelayapan' ke novel yang lain dan itu cukup bikin oh-oke-waw. Kehadiran tokoh Gesang dari Fuurin contohnya. Gesang ternyata merupakan saudara sepupu dengan Julia dan menjadi teman baik Vero di dalam novel ini.

Vero adalah siswa asing yang ikut pertukaran pelajar di kota Bandung dengan misi mempelajari kesenian tradisional sunda. Tapi kehadirannya di Bandung ini ternyata juga mempertemukannya dengan Julia yang secara tidak langsung menyeretnya ke dalam teka-teki perburuan Julia terhadap jejak-jejak kehidupan ayahnya. Kehidupan Vero pun menjadi tidak menentu dengan mengikuti naik turun emosi Julia. Beberapa tugasnya sebagai siswa pertukaran pun sedikit terganggu dengan usaha membantu Julia, meskipun Julia pada awalnya terkesan tidak begitu suka kepada lelaki asing ini.

Hanya satu yang rasanya agak mengganjal di dalam novel ini, yaitu tentang penggunaan sudut pandang Vero sebagai pencerita. Saya merasa pengetahuan Vero tentang lingkungan barunya terlalu luas. Saya sedikit penasaran sih sebenarnya dengan sudut pandang Julia, apalagi menurut saya yang memiliki konflik cukup besar dalam novel ini adalah Julia. Jika penggunaan sudut pandang Vero adalah untuk mengakali rasa penasaran pembaca, rasanya tidak begitu berhasil bagi saya.

Selebihnya, novel ini menarik dan cocok dibaca oleh kamu yang mempunyai minat khusus terhadap tempat-tempat bersejarah di kota Bandung.

#6 | Across The Ocean - Ria Destriana

Across The Ocean
Penulis: Ria Destriana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 halaman
Cetakan: 18 Mei 2015
ISBN: 9786020315126
“Kamu tahu bagaimana caranya mengobati hati yang luka?”

“Bagaimana?”

“Dengan tidak melaluinya sendirian.”

Di seberang laut di Pulau Karimunjawa, dua hati yang terluka bertemu. Saat melihat Anindita, Bayu seperti melihat dirinya sendiri. Perlahan mereka menjadi dekat dan kedekatan itu membuat luka di hati masing-masing mengering dan digantikan sebuah perasaan yang tak asing.

“Karena setiap orang berhak bahagia, termasuk kamu.”

Anindita belum siap. Bayu bersedia menunggu.

Tetapi, bagaimana kalau saat Anindita kembali ternyata Bayu tidak ada di sana?
"Kamu pernah merasakan tidak, Anin? Waktu tiba-tiba jantung kamu berdetak lebih kencang, perut kamu mual seperti banyak kupu-kupu beterbangan di sana tanpa alasan yang jelas, dan beberapa saat kemudian, orang yang kamu sayangi muncul di depan matamu?"

Kebetulan sekali beberapa bulan yang lalu, wacana untuk liburan kelas ke Karimun Jawa tercetus namun gagal terlaksana. Membaca buku ini membuat keinginan saya untuk liburan ke sana sedikit bertambah. Ya, walaupun sebenarnya saya sedikit fobia dengan laut, apalagi harus menyeberanginya. Tapi sebuah kebanggaan bukan, kalau kita bisa mengatasi ketakutan kita sendiri?

Menemukan clue pertama dari novel yang kavernya kece ini? Tepat! Latar tempat utama novel ini adalah Karimun Jawa, sebuah pulau nan cantik di sebelah utara pulau Jawa.

Karimun Jawa, selain tempat masa kecil Bayu, karakter utama di novel ini, juga merupakan tempat pelariannya dari rasa susah setelah hubungan asmaranya bersama Siska berakhir. Kisah cinta Bayu dan Siska awalnya saya kira akan menjadi main conflict dalam novel ini. Saya kira kisah cinta merekalah yang akan diangkat ke dalam novel ini, which is konfliknya cukup geregetan, yaitu tentang cinta beda agama. Tapi ternyata kejadian-kejadian setelah hubungan mereka putuslah yang diangkat, termasuk ketika Bayu bertemu dengan Anin dan bagaimana dua orang yang terluka itu memutuskan untuk saling jatuh cinta.

Bagaimanapun, setiap luka pasti meninggalkan bekas, kan? Tapi bekas luka itu nggak menyakitiku lagi. Jadi anggap saja luka itu sudah mengering dan bisa dinyatakan sembuh.


Anin adalah seorang wisatawan yang memutuskan untuk berlibur ke Karimun Jawa untuk melarikan diri dari kenyataan pahit di Jakarta. Pertemuannya dengan Bayu untuk yang pertama kalinya cukup unik, yaitu ketika Anin memutuskan untuk bunuh diri dan Bayu menyelamatkannya. Selanjutnya, hubungan mereka pada awalnya hanya sebatas sebagai pemilik penginapan dan penyewa kamar. Tetapi lambat laun, Bayu mulai merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang ia juga perah rasakan kepada mantannya, Siska.

Tapi apakah keduanya sudah siap untuk kembali menjalin hubungan setelah terluka dengan kisah cinta masing-masing?

Anin menjadi karakter yang loveable banget bagi saya, rapuh-rapuh minta dipeluk gitu. #apasih. Tetapi kepulangannya kembali ke Jakarta mengubah sifat itu. Anin menjadi tampak 'lebih tegar', entah kenapa dan saya merasa kehilangan. Hal yang membingungkan dalam alur kisah cinta dan luka Anin adalah kronologis pertemuan-pertunangan-kehilangan calon suami Anin. Sedikit membingungkan.

Bagian selanjutnya yang paling saya suka adalah ketika Anin kembali di Karimun Jawa dan ikut plesir bersama turis-turis asing. Percakapan perempuan itu bersama para turis mengenai hubungan percintaannya, khususnya. Sampai pada percakapan yang memunculkan quote cetar ini

Setiap orang berhak bahagia, termasuk kamu.

Hal yang disayangkan dari novel ini adalah ketebalannya yang kurang dari dua ratus halaman. Sebetulnya, saya masih berharap banyak hal lagi yang bisa saya dapatkan tentang hubungan Anin dan Bayu dan kondisi geografis Karimun Jawa lebih jauh. Sepertinya akan menarik.

Tapi terlepas dari jumlah halamannya yang cukup tipis, untuk kamu yang baru saja terluka karena kisah cinta, kamu bisa belajar bagaimana cara menyembuhkannya di dalam novel ini.

#5 | Rainy's Days - Fita Chakra

Rainy's Days
Penulis: Fita Charka
Penerbit: Ice Cube
Tebal: vii+227 hal, 13x19 cm
Cetakan: Januari 2014
ISBN: 978-979-91-0652-0
"Hujan itu tak berarti sedih, Rainy," kata lelaki itu.

"Meski hujan selalu datang di saat-saat buruk?" tanyanya seperti bocah yang menuntut penjelasan.

Rainy percaya kalau hujan dan dirinya tidak pernah akur. Momen-momen terburuknya selalu dihiasi oleh rintik-rintik air hujan yang seolah berpesta merayakan kesedihannya. Bertolak belakang dengan Kian yang selalu bersyukur akan datangnya hujan. Bunga-bunga di kebunnya seakan menyambut limpahan air dari langit itu dengan sukacita. Mereka bertemu, bertengkar, lalu berteman. Namun, karena luka masing-masing mereka memutuskan untuk menyimpan rasa cinta yang mulai tumbuh. Sampai suatu hari… ketika cinta itu terungkap tanpa kata, salah seorang dari mereka pun terdiam tanpa tahu kapan akan bersuara lagi.
Aku berpikir, mengapa saat-saat terindah di dunia seringkali berlalu begitu cepat. Apakah karena kita terlalu menginginkannya, sehingga seberapa pun waktu yang ada takkan pernah membuat kita puas?
Mungkin.

Ini novel seri bluestroberi ke lima yang saya baca. Sebelumnya, saya lebih dulu menamatkan Almost Ten Years Ago, Fuurin, Someone to Remember, dan Apple Wish pada dua tahun lalu. Karena novel ini merupakan bagian dari sebuah serial dan menyandang tajuk juara pertama, mau tidak mau membuat saya secara otomatis membandingkan novel ini dengan novel-novel lainnya. Sejauh ini, bagi saya pribadi, Almost Ten Years Ago adalah novel terfavorit dari serial bluestroberi.

Sebenarnya dalam pandangan pribadi saya, konflik yang coba diusung dalam novel ini cukup menarik; pasangan yang sedikit psiko, gangguan psikologis tokoh utamanya dan orang ketiga baik hati yang terpaksa harus 'dibunuh'. Tapi eksekusinya kurang matang, sedikit lagi. Padahal penyajiannya sudah menarik, I mean... look at this beautiful cover and layout. Hal ini berimbas pada tidak mampunya saya mendapatkan chemistry dari tiap tokoh-tokohnya, semoga hanya saya saja.

Mereka adalah Rainy, Ben dan Kian. Tiga orang remaja yang terjebak pada kisah cinta yang memilukan. Ya, masih ingat, kan, kalo ini seri bluestroberi? Jadi, jangan berharap ending yang happy.

Novel ini juga sedikit menyinggung kehidupan keluarga tokoh utamanya, sedikit dan menjadi tanggung padahal bisa menjadi background yang kuat untuk hubungan Ben dan Rainy yang ganjil.

"Papa, warisan yang paling berharga dari orang tua buat anaknya hanyalah kasih sayang."
Celah lainnya yang saya rasa kurang optimal adalah penggunaan kalimat tunggal yang terlalu dominan. Hal ini membuat napas saya banyak terpenggal ketika membaca narasinya, dan itu cukup melelahkan. Lalu masalah kesalahan ketik. Yah, semua buku tampaknya tidak ada yang bersih dari dosa yang satu itu. Selebihnya, semoga cuma saya yang merasa tidak terlalu terpuaskan dengan novel ini. Lagi-lagi masalah selera.

"Jangan takut, kamu akan baik-baik saja. Ketakutan itu berasal dari dirimu sendiri."
Tapi seperti yang telah saya singgung sebelumnya, gangguan psikologis tokoh utamanya akan membuat novel ini lebih menarik lagi jika digali lebih dalam. Tentang kenapa dia begitu plin-plan, bisa merindukan si Kasar Ben pada suatu waktu tapi berubah jadi merasa Ben begitu menjijikan pada waktu yang lain. Tentang kenapa dia susah makan dan seringkali memuntahkan makanan yang ditelannya.

Ya, tebakan kamu tepat! Rainy menderita bullimia. Kamu dapet SPOILER gratis! Haha.

Dan tentang Kian yang jago bela diri, kenapa langsung keok ketika dihajar sama Ben? Bagian ini membuat saya berpikir kalau Kian sebenarnya lelaki yang besar mulut dan cuma suka bunga. Sebelas dua belas dengan Ben yang saya rasa motif keinginannya untuk memiliki Rainy kurang jelas.

Well, semoga kamu penasaran dengan novel ini dan bisa membuktikan kalau ketidakpuasan saya terhadap novel ini sedikit keliru. Kamu juga bisa menjadikan novel ini sebagai bacaan ringan di waktu luang kamu.

Selamat menikmati!

#4 | All You Need Is Love - Fakhrisina Amalia


All You Need Is Love 
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hal
Cetakan: Juni 2015
ISBN: 9786020318035
Ketika hubungannya dengan Aiden berakhir, tanpa pikir panjang Katrina mengiyakan ajakan mamanya untuk terbang ke kampung halaman mereka di Skotlandia. Di negara yang indah itu Katrina berharap bisa melupakan kesedihannya.

Untuk pertama kali Katrina bertemu dengan keluarga besarnya. Ia mempunyai sepupu jauh yang tampan bernama Mac. Namun, entah kenapa Istas—kakak perempuan Mac—memusuhinya, tanpa Katrina tahu dimana letak kesalahannya. Tapi itu tidak menghentikan Katrina untuk semakin dekat dengan Mac.

Dan ternyata Skotlandia menyimpan misteri masa lalu yang tidak terduga. Tidak hanya indah, ada rahasia tersembunyi tentang Katrina di negara itu, juga tentang cerita cinta berlapis kota legenda!
"Benar, cinta memang tidak cukup.
Karena cinta selalu ingin bersama.
Karena cinta selalu ingin percaya.
Karena cinta selalu ingin lebih. Lebih mencintai, lebih bahagia, lebih berbagi..."

Saya sudah lama ngidam buku ini sejak baca beberapa bab novelnya di situs Gramedia Writing Project. Selain cuplikan-cuplikan isinya yang menarik, cover novel ini juga begitu eyecatching. Jadi ketika saya menemukannya di koleksi IJakarta, saya langsung meminjamnya tanpa berpikir dua kali. And yes, saya suka dengan buku ini. Sesuai selera saya.

Saya kagum dengan tulisan authornya yang bagi saya sangat rapi. Narasinya lancar, dan permainan flashback-nya bikin saya ngiri. Ngalir gitu tanpa bikin bingung soal latar waktu. Terus, lumayan banyak kata-kata yang bisa dibikin jadi quote, tapi secara keseluruhan memang kalimat-kalimat di dalam narasinya cukup manis. Semanis hubungan si tokoh utama Katrina dan Aiden. Kedua-keduanya serasi sekali dan, weeyyy... Aiden manis sekali ya bibirnya. Meski sedikit agak lebay tapi cukup bisa dimaklumi.

"Dan satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah percaya bahwa cinta saja cukup, bahkan jauh lebih baik daripada tidak ada cinta. Sebab tanpa cinta, tak ada lagi yang tersisa."

Saya salah satu orang yang suka dengan cerita semacam legenda, mitos, dongeng atau apapun yang berbau fantasi dan histori. Jadi, sebenarnya cukup menyesal dulu pernah baca beberapa review tentang buku ini yang sedikit menyinggung masalah latar Brigadoon sebab unsur fantasinya tidak lagi menjadi kejutan ketika membaca novel ini. Malah jadi salah satu hal yang membuat saya penasaran untuk mencari benang merah antara kota legenda itu dengan kehidupan keluarga Katrina di Skotlandia, which is good.

Gambaran mengenai latar Skotlandia yang ditulis authornya perlu diacungi jempol dan membuat saya ingin pada suatu hari entah kapan pergi ke sana. Semoga ya. Skotlandia di gambaran saya sudah sebegitu indahnya seperti negeri dongeng, bagaimana dengan Brigadoon?

Cerita Granny dan hubungan asmaranya dengan Kyle memang terdengar seperti dongeng macam putri salju atau frozen, tapi dalam tulisan fiksi itu dibenarkan. Mungkin, novel ini termasuk genre low-fantasy romance. Saya juga dapat memahami kaitan antara hubungan asmara Granny dan Kyle dengan hubungan asmara Katrina dan Aiden yang dibangun oleh penulisnya. Semua ini tentang cinta dan jarak. Ya, kepulangan Katrina ke Skotlandia setindanya bukan hanya untuk mengetahui asal-usul keluarganya tapi juga belajar bagaimana menyikapi jarak dalam hubungan asmaranya bersama Aiden.

"If you can't deal with your past, you can't have your future."

Saya suka mereka, Katrina dan Aiden, kembali memutuskan untuk bersama meskipun keputusan Aiden mengenai kuliahnya cukup nekat dan berlebihan. Tapi jika mereka merasa cinta adalah segalanya ya mau bagaimana lagi. Mengenai Mac dan Istas, saya tidak suka Mac menjadi patah hati dan Istas menjadi baik hati. Peace! Orang sebaik Mac seharusnya tidak patah hati tapi dunia memang begitu random, kebaikan tidak selalu untuk orang baik. Dan Istas, yes, Istas, kenapa tidak menjadi antagonis saja sampai akhir? Pasti greget! Hahaha.

Novel All You Need Is Love adalah salah satu novel young-adult favorit saya. Semuanya manis dan mengesankan, baik itu cara penulisannya maupun konflik dan tokoh-tokohnya. Saya suka.

Buat kamu yang masih merasa young-adult dan suka membaca novel roman remaja yang manis, memasukkan novel ini ke dalam rak baca kamu adalah pilihan yang tepat.

#3 | Harry Potter and The Sorcerer's Stone - JK Rowling

Harry Potter and The Sorcerer's Stone

Harry Potter and The Sorcerer's Stone
(Harry Potter dan Batu Bertuah)
Penulis: JK. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 384 hal
Cetakan: Juni 2007
ISBN: 979-655-851-3

HARRY POTTER belum pernah jadi bintang tim Quidditch, mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sama sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Gaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.

Selama ini dia hidup menderita bersama paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun, belum pernah sekali pun dia merayakan ulang tahun.


Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya datang ke tempat luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry--dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar... kalau Harry berhasil selamat berhadapan dengan musuh bebuyutannya.

“Your mother died to save you. If there is one thing Voldemort cannot understand, it is love. Love as powerful as your mother's for you leaves it's own mark. To have been loved so deeply, even though the person who loved us is gone, will give us some protection forever.”

Finally done! Ini adalah kali pertama saya menamatkan novel Harry Potter yang cukup tebal itu meski sudah mengidam-idamkannya semenjak duduk di sekolah dasar. Poor me! Haha.

Seperti yang telah saya prediksi sebelumnya, I love both movie and novel version of Harry Potter and The Sorcerer's Stone. Meski memang sejujurnya tidak lagi ada efek kejut yang saya rasakan ketika menikmati ceritanya dalam bentuk novel karena  sudah menonton filmnya. Alurnya sudah tertebak. Jadi membaca novel ini hanya sebagai 'hadiah' karena novel ini sudah begitu lama tercampakkan, beserta enam seri lainnya, yang akan saya usahakan untuk diusaikan tahun ini atau bahkan bulan ini.

Hal yang membuat saya tak kunjung menyelesaikan novel ini sejak dulu adalah karena keburu jengah melihat tebal halamannya yang lumayan. Tapi beberapa hari ini, karena jadwal kuliah masih kosong dan tidak ada kesibukan lain,  saya sekuat tenaga memaksakan diri untuk membacanya sampai tuntuas dan... voila! Saya tidak sadar sudah sampai di halaman terakhir.

Bagian-bagian awal Harry Potter and The Sorcerer's Stone ini bagi saya memang sedikit bertele-tele dan menjemukan. Apalagi cerita tentang si keluarga-mugle-bodoh-Dursley. Cerita baru menarik ketika kehidupan Harry yang berusaha 'dinormalkan' oleh pamannya mulai diintervensi oleh Hogwarts lewat surat-surat undangan masuk sekolah. Mulai dari bagian ini, saya terbawa cerita hingga tidak rela untuk meninggalkannya bahkan untuk pergi sebentar ke kamar kecil. Haha.

Sayangnya, cerita mengenai The Sorcerer's Stone justru hanya kebagian porsi satu pertiga menuju ending. Cukup singkat jika dibandingkan dengan keseluruhan cerita di dalam novel ini. Logika-logika ceritanya pun terkesan dimudahkan untuk diterima, jika tidak ingin dibilang seperti dipaksakan. Kehidupan Harry Potter berjalan cukup mudah meski dihadang oleh berbagai masalah besar. Mau tidak mau saya harus memakluminya sebab He is The Choosen One! dan semua orang tidak akan memungkirinya.

Terlepas dari hal yang kurang memuaskan tersebut, I'm still a big fans of Harry Potter dan sedikit menyesal kenapa baru merampungkan bacaannya tahun ini. Berasa ketinggalan zaman sekali. Tapi dari kejadian ini, saya menyadari bahwa pengaruh dari Harry Potter masih begitu besar hingga sekarang. Harry Potter juga yang sempat menghidupkan dunia imajinasi saya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya pernah benar-benar berhadap bahwa dunia Harry Potter itu ada, dan sihir juga begitu. Bahkan saya sampai menghapal satu persatu mantra sihir dalam dunia Harry Potter.

Ngomong-ngomong soal mantra sihir, di buku pertama Harry Potter ini saya menemukan beberapa mantra sihir yang secara tidak sadar kembali saya hapalkan. Ini dia!
  • Alohomora! untuk membuka pintu yang terkunci.
  • Wingardium Leviosa! untuk menerbangkan sesuatu.
  • Petrificus Totalus! untuk membuat tubuh seseorang jadi kaku.
Beberapa kali dengan iseng saya mencoba mantra ini dengan tunjukan jari telunjuk  tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Ah, mungkin saya juga seorang mugle seperti si-keluarga-bodoh-Dursley.

Anyway, apa mantra sihir favoritmu?

#2 | Sepotong Hati yang Baru - Tere Liye

Sepotong Hati yang Baru

Sepotong Hati yang Baru
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka
Tebal: 204 hal
Cetakan: September 2012
ISBN:  9786029474046


Kita hanya punya sepotong hati, bukan? Satu-satunya. 

Lantas bagaimana kalau hati itu terluka? Disakiti justeru oleh orang yang kita cintai? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya? Apakah luka itu bisa pulih, tanpa bekas? Atau jangan-jangan, kita harus menggantinya dengan sepotong hati yang baru. 

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik.

Selamat membaca cerita-cerita Sepotong Hati Yang Baru.

"Tetapi malam ini, ketika melihat wajah sendumu, mata sembabmu, semua cerita tidak masuk akal itu, aku baru menyadari, cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna."

Sepotong Hati yang Baru adalah tulisan Tere Liye pertama yang saya baca. Secara personal, saya pernah bertemu dengan penulis produktif ini sekitar dua-tiga tahun lalu di acara kampus. Yes, He is very great dan rendah hati.

Saya tidak sedang mencoba untuk mengomentari kemampuan menulis Tere Liye sebab semua orang tahu level kompetensi menulisnya sudah lebih dari mumpuni. Buku cetaknya sudah banyak, bestseller bahkan beberapa sudah dialih wahanakan menjadi film dan mendapat respons yang positif. Saya hanya mencoba untuk menggambarkan apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Buku kumpulan cerpen ini memuat delapan cerita bertema cinta dengan latar yang beragam, Setiap cerpen memiliki keunikan sendiri dan memuat pesan atau amanat yang membumi, artinya pesan atau amanat-amanat tersebut saya kira merupakan bagian dari realitas yang dialami oleh kebanyakan orang.

Cerita favorit saya dalam buku ini adalah tiga cerita pertama berjudul 'Hiks, Kupikir itu Sungguhan', 'Cerita Cinta Sie-Sie', dan 'Percayakah Kau Padaku'. Selebihnya, saya menikmati cerpen yang lain dan sedikit merasa kesulitan ketika membaca cerita berjudul 'Itje Noerbaja dan Bang Djalil' serta 'Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay'. Jika pada 'Itje Noerbaja dan Bang Djalil' saya terngganggu dengan penggunaan jenis ejaan lama, di dalam 'Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay', saya merasa sedang membaca fanfcition dari novel melayu-tionghoa 'Sampek-Engtay'. Tetapi keduanya pula menyuguhkan cerita yang menarik, jika kamu mau lebih bersabar untuk membacanya hingga tuntas.

Well, mari kita singgung tiga cerita pertama yang menjadi favorit saya...

  • Hiks, Kupikir Itu Sungguhan

Cerita remaja ini sangat dekat sekali dengan kenyataan hidup. Media sosial, remaja dan sikap baper memang sulit dipisahkan. Itu juga yang terjadi pada tokoh utama bernama Nana dan sahabatnya yang bernama Putri. Bencanananya adalah mereka baper pada orang yang sama, yaitu Rio, dan kebaperan tersebut bermula dari media sosial bernama facebook. Twist alurnya menarik sekali, apalagi jika kita ikut meresapi perasaan tokoh utama yang dijadikan sudut pandang dalam cerita ini.

'Hiks, Kupikir Itu Sungguhan' adalah cerita yang mudah dicerna dengan segala kekocakannya. Pesannya pun tersampaikan tanpa kesan menggurui. Malah, saya merasa ikut tersentil dan merasa cerita ini kekinian sekali meski diterbitkan pada sekitaran tahun 2012 silam. Menurut saya, cerita ini adalah gong dari kumpulan cerpen ini.


"Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena cahaya matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?"

  • Cerita Cinta Sie-Sie

Berbeda dengan cerita pertama yang renyah dan bikin senyum-senyum sendiri, 'Cerita Cinta Sie-Sie' membuat saya hanyut dalam rasa pilu. Kisah hidup Sie-Sie yang bisa dibilang cukup mengenaskan dengan segala penderitaan keluarganya, membuat saya geregetan dengan keputusan-keputusan yang diambilnya untuk Wong Lan.

Cerita Cinta Sie-Sie sendiri berkisah tentang Sie-Sie, amoy yang hidup dari keluarga dengan status ekonomi di bawah rata-rata. Kehidupannya yang serba susah plus kesehatan ibunya yang parah membuat Sie-Sie memutuskan untuk mau dinikahi oleh Wong Lan, lelaki asal Taiwan yang mencari istri hanya untuk mencairkan warisan keluarganya.


"Wong Lan menangis dalam diam, terisak dalam senyap. Alangkah bodoh dirinya selama ini. Bodoh sekali. Disangka teman-temannya akan selalu ada, itu dusta. Disangka semua kesenangan itu abadi, itu tipu. Semua tidak hakiki. Adalah cinta Sie yang sejati, cinta wanita yang dia sia-siakan, wanita yang dia aniaya bertahun-tahun."

  • Percayakah Kau Padaku

Kekuatan pertama cerita ini saya kira ada dari penuturan tokoh utamanya mengenai kisah cinta Rama-Shinta yang digadang-gadang sebagai kisah cinta abadi padahal memiliki ending yang tragis, persis kehidupan cinta penuturnya.

Dia adalah ayah Cindanita yang bekerja sebagai pelaut, yang menikahi perempuan asal pulau seberang yang dulu minta diajak kabur dari perayaan pernikahannya. Pernikahan mereka pada awalnya berjalan lancar, namun karena nihil rasa kepercayaan antara si perempuan kepada lelakinya maka hubungan pernikahan mereka akhirnya harus kandas juga. Yang menjadi naas adalah ketika keegoisan tokoh-tokohnya tersebut membuat Cindanita, anak semata wayang yang baru berusia balita, harus menderita dan akhirnya meninggal.

Cerita ini mengajarkan sekali bagaimana posisi rasa percaya yang begitu penting di dalam sebuah komitmen.
"Bagaimana mungkin semua kisah bahagia itu berakhir menyedihkan? Aku tidak pernah tahu jawabannya, Nak. Yang Ayah yakini, cinta yang besar, tanpa disertai komitmen dan kepercayaan, maka dia hanya akan menelan diri sendiri."
Buku ini, meski saya hanya mampu memberinya tiga bintang, tapi cukup memuaskan. Saya merekomendasikannya untuk dibaca para remaja yang masih meraba-raba apa itu artinya cinta, dan masihkah kalian akan berkata bahwa cinta itu hanya sebatas rasa ketertarikan pada lawan jenis yang perlu diejawantahkan dengan cara berpacaran? Mari baca buku ini!

Setelah ini, saya sedang berencana untuk membaca Hafalan Shalat Delisa, yang bentuk filmnya lebih dulu saya nikmati dan berhasil bikin saya nangis. Semoga saya berjodoh dengan versi cetaknya.


#1 | Tesa - Marga T


Tesa

Tesa
Penulis: Marga T
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 hal
Cetakan: Juni 2005
ISBN: 9795113437
Untuk melupakan masa lalu, Tesa pergi ke Australia. Ketika dia kehabisan biaya kuliah, temannya, Pika, menawarkan pekerjaan sebagai perawat. Pasha adalah mahasiswa kedokteran yang menjadi buta karena kecelakaan lalulintas. Sebagai perawatnya, Tesa diharuskan mengganti nama jadi Selina agar Pasha tidak tahu identitasnya. Setelah beberapa kali dioperasi, penglihatan Pasha berangsur pulih dan Tesa pun diberhentikan. Kegiatan tambahannya di luar kuliah kini cuma memberi les bahasa Indonesia. Dia ingin melupakan segala-galanya termasuk Pasha.

Namun, tak dinyana, pada suaru hari kelabu, mereka berdua justru kesamprok! Pasha tentu saja tidak mengenalinya, tapi perasaan Tesa kacau balau. Terlebih ketika Pasha setelah tahu dirinya orang setanah air-bertanya, kenalkah dia dengan Selina?! Oh, kau tidak lupa! pekiknya dalam hati. Dia ingin mengangguk seribu kali, namun hati nuraninya melarangnya. Dia masih ingat Shakira dan Goffar, dia tak ingin menimpakan musibah yang sama dengan Pika, tunangan Pasha.

Dengan lesu, dia menggeleng dan berucap pelan, "Tidak, aku tak kenal Selina..." Hatinya berdarah melihat keputusasaan di wajah tampan itu.

Oh, Pasha, bila kau tahu!

“Tes, tubuh manusia itu mengenal reorganiasi. Artinya, yang rusak atau sakit akan diganti dengan yang baru. Begitu juga dengan perasaannya. Apa yang dulu terasa menyakitkan, lama-lama akan hilang. Kecewa, frustrasi, penasaran, sakit hati, semua itu tidak kekal. Pasti akan direorganisasi menjadi rasa senang, sentosa, bahagia dan puas. Asal… kita mau berusaha menyembuhkannya. Patah tumbuh hilang berganti”

Jika iseng dihitung, novel 'Tesa' karangan Marga T ini pertama kali dicetak tujuh tahun sebelum saya lahir ke dunia. Waw, saya kagum secara personal kepada Marga T dan karya-karyanya yang masih bisa dinikmati meski tahun sudah berganti puluhan kali hingga hari ini.

Saya sangat menikmai Tesa, in a good way. Dan mulai memahami betul kenapa Mbak Rina, editor penerbit DivaPress, menyarankan saya untuk membaca karya-karya Marga T ketika saya meminta saran bacaan. Jika Mbak Rina membaca postingan ini, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih karena telah menggiring saya untuk mengenal tulisan-tulisan Marga T. Meski ini terlalu awal untuk mengakuinya, tapi sepertinya saya akan jatuh cinta pada tulisan-tulisan Marga T lain yang sudah akan saya hunting.

Tesa diceritakan dengan alur yang lincah dan dinamis, serta tidak terjebak dalam penyuguhan deskripsi latar secara detail seperti yang sering terdapat di kebanyakan novel sekarang ini. Padahal latarnya Perth, Australia, yang tentu akan menarik jika dikisahkan dengan cara sebaliknya. Penceritaannya tidak berbelit-belit dan sangat to the point, tidak berlebihan which is tampak sekali bahwa Marga T tahu betul konsep cerita yang sudah matangnya ini akan dirupakan seperti apa. Penggunaan bahasanya pun jujur khas tahun 1980an dan tidak terlalu banyak bermain diksi, manis tapi tidak terlalu ruah dengan bunga-bunga.

Saya merasakan emosi yang berbeda dari awal membaca hingga akhir, juga perkembangan setiap karakternya yang menarik. Macam rasa kasihan, dongkol, marah, manis dan lucu ada di novel ini. Jangan lewatkan alurnya yang unpredictable di beberapa bagian sebelum akhirnya terpotong dan meloncat ke masa tiga tahun kemudian. It's like, WHAT? Meskipun sampai saat ini saya masih merasa jengkel kenapa Pasha harus kembali pada Pika yang jelas-jelas sekelas Shakira.

Sorry, Pik!

Overall, saya suka. Kesimpulan saya bisa jadi berbeda dengan pembaca yang lain tapi melihat di laman Goodreads tampaknya memang banyak yang suka dengan novel ini. Jadi  rasanya tak perlu dipertanyakan lagi jika saya memberi empat bintang untuk novel ini. Sekaligus, saya juga belajar banyak dari novel ini.

Terimakasih untuk novel ini, oma Marga! :)