#37 | Metafora Padma - Bernard Batubara

Metafora Padma
Penulis: Bernard Batubara
Penyunting: Siska Yuanita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2016
Tebal: 168 hal, 18 cm
ISBN: 978-602-03-3297-0


"Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas."

"Sejauh yang aku lihat dan hitung, dua puluh enam tubuh manusia tergeletak di jalan raya. Sepuluh telentang, enam belas telungkup. Beberapa di antaranya berbaring di sebelah benda-benda--patahan kursi, parang berlumuran darah, pecahan botol kaca, mungkin botol minuman keras. Semuanya rebah di atas darah mereka sendiri. Kau bisa yakin mereka semua sudah menjemput ajal, tapi bisa juga kalau ku bilang mereka cuma tidur di atas kehidupan, karena darah itu adalah yang sebelumnya membuat mereka hidup.

Metafora Padma, satu di antara belasan cerita dalam buku ini.


"Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas."

Metafora Padma adalah salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini, khususnya dalam kategori kumpulan cerpen. Saya mendapatkan buku ini dari event menulis yang diadakan oleh storial.co bekerja sama dengan Bernard Batubara. Senangnya lagi, buku ini juga ditandatangani langsung oleh penulisnya. Barangkali kamu ingin tahu event menulis yang saya maksud, bisa lho diintip di tautan berikut.


Karya teranyar Bernard Batubara ini bisa dibilang memiliki benang merah konflik-konflik yang pernah terjadi di Indonesia meliputi konflik ras, agama atau keduanya dan konflik yang bersinggungan dengan kepentingan politik. Saya sempat berpikir kalau ketiga konflik tersebut sebenarnya sepaket.

Metafora Padma adalah salah satu cerpen yang terdapat dalam buku ini, Padma sendiri adalah nama karakter utamanya. Selain itu ada juga tiga belas cerpen lain yang tak kalah menarik.


-------------------------------------------------------------------------------------

#1 | Perkenalan

Bukankah manusia yang baik adalah manusia yang belajar dari sejarah, terutama yang paling penuh luka? begitu kata Bong. Saya berharap teman-teman tidak melanjutkan pertempuran yang tidak menghasilkan apa-apa selain darah. Pacar saya sebelum Bong juga senang ikut teman-temannya tawuran. Dia berhenti setelah saya berkata kepadanya bahwa saya perempuan; kalau dia ingin darah, saya bisa memberikannya setiap bulan.
hal. 16

----

#2 | Demarkasi

"Kalau Demarkasi artinya garis yang memisahkan orang-orang yang lagi berperang," kata anaknya sebelum percakapan berakhir,  "kenapa orang-orang enggak buat garis demarkasi di seluruh dunia saja, Ayah? Supaya enggak ada lagi perang. Di sekolah Ibu Guru cerita terus soal perang, di televisi juga. Aku bosan dan capek mendengarnya."
hal. 26

----

#3 | Gelembung

Ia melangkah ke tempat tidur, dan naik. Ia berbaring. Melihat kalender terpajang di dinding kamar. Hari ini hari meninggalnya Ibu, ia menggumam. Ibu yang bukan miliknya, kata ayahnya dulu. Karena ia anak pungut. Karena ia anak haram. Karena ia anak perempuan lain yang dimasuki enam belas laki-laki pada waktu yang bersamaan.
hal. 37

----

#4 | Hanya Pantai yang Mengerti

"Penyelam andal akan berkelana dari satu laut ke laut lain. Tapi seseorang yang jatuh cinta akan selalu kembali ke laut yang sama." Gru menggenggam tanganku lebih erat. "Lagi pula, aku bukan penyelam. Bukan peselancar. Aku hanya pantai. Bukan aku, melainkan kamu yang sebentar lagi akan pergi."
hal. 47-48

----

#5 | Rumah

Apakah aku sedih karena tidak ada keluarga yang tinggal cukup lama di dalam diriku? Karena aku tidak menyimpan apa pun selain kenangan yang penuh luka dan sejarah amat lara? Namun, begitu pula yang terjadi dengan teman-temanku. Semua rumah di desa ini menyimpan hal yang sama seperti yang aku simpan. Karena kami semua menyaksikan. Kami semua merasakan. Kami mengalami apa yang semua orang alami saat kerusuhan antarsuku delapan belas tahun lalu.
hal. 56

----

#6 | Obat Generik

"Andai kebodohan bisa diobati, berapa harga obat itu?" tanya kakakku, nadanya hanya seperti melempar tebak-tebakan.
"Entahlah, Kak. Mungkin mahal." Aku melepas ikatan rambut dan menggelung kembali rambutku, kemudian mengikatnya lagi.
"Harusnya obat bagi kebodohan manusia masuk golongan obat generik. Murah, tokcer. Tapi, Tuhan tak mau semua orang jadi pintar.
hal. 66

----

Ringkasan Cerpen Lainnya:
#7 | Percakapan Kala Hujan

"Apa?"
"Kamu seperti calon presiden yang sedang kampanye."
"Maksudmu?"
"Ya. Kamu itu seperti calon presiden. Aku rakyat. Kamu mengajakku bicara baik-baik padahal aku tahu kamu mau membunuhkku."
"Siapa yang mau membunuhmu?"
hal. 76

----

#8 | Es Krim

"Saat Anda pikir dunia tidak bisa lebih buruk lagi, tidak ada satu hal pun yang tersisa untuk dinikmati, Anda bertemu dengan es krim. Sepahit-pahit dan sesinis-sinisnya seseorang, ia akan taluk oleh rasa manis setangkup es krim. Apa pun rasanya tidak masalah. Untuk sesaat, Anda bisa merasakan kembali manisnya hidup dan menemukan alasan mengapa Anda dilahirkan. Meskipun, ya, es krim akan habis menyisakan tangkai, gelas atau cone. Anggap saja itu kenangan, residu dari momen yang indah. Kabar baiknya, Anda selalu bisa mengambil tangkai es krim lagi, satu gelas lagi, atau satu scoop lagi."
hal. 86-87

----

#9 | Alasan

Tidak ada yang perlu dibicarakan, ia membatin. Dirinya yang lain membantah, kita harus terus membicarakannya. Besok saja, ia menjawab. Ada banyak waktu untuk memperbincangkan kekerasan, karena ia terjadi setiap hari, mengenakan wajah yang pernah kita kenal maupun tidak. Tetapi yang ini kekerasan milik kita, oleh kita, dan untuk kita. Mungkin, ia membalas.
hal. 99

----

#10 | Metafora Padma

"Tunggu," kataku. Suaraku terdengar samar di telingaku. "Siapa namamu?"
Ia berhenti melangkah dan membalikkan badan. Ia memandangku. Ia tersenyum. Ia ada lima. Aku memejam dan menggeleng seperti anjing mengibaskan kepala sehabis mandi. Pening. Aku membuka mataku lagi. Ia masih ada di sana. Tidak lima. Hanya satu.
"Padma," katanya. "Namaku Padma. Nama lain dari lotus."
hal. 110

----

#11 | Suatu Sore

"Harusnya manusia takut kepada Tuhan, bukan begitu? Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua hal yang tadi aku sebutkan bukanlah Tuhan." Ia gemetar sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "Manusia takut pada ulat bulu. Manusia takut pada Tuhan. Ulat bulu adalah Tuhan."
hal. 118

----

#12 | Kanibal


Ujung mata pisau bersentuhan dengan kulit pangkal ibu jarinya. Dingin. Ia memberi tekanan pada pisau tersebut. Lalu, ia menggerakkan pisau ke depan, ke belakang. Bilah tajam pisau menggores kulitnya. Sakit. Ia menggerakkan pisau ke depan dan ke belakang. Seperti sedang menggergaji . Darah mengalir dari pangkal ibu jarinya, bergerak turun, menempel di sampul buku yang menjadi tatakan. Sakit. Sakit. Ia terus menggergaji ibu jarinya dengan pisau dapur.
hal. 126

----

#13 |  Sepenggal Dongeng Bulan Merah

"Selamat datang," kata seseorang dari balik kerumunan. Ia berjalan menyeruak, memperlihatkan dirinya sebagian perempuan yang aku cintai. Ia berpakaian sama seperti ketika aku menemukannya tidak bernyawa dan kemudian menguburkannya, gaun putih sepanjang lutut. "Di sini dunia di balik Bulan Merah, tempat orang-orang mati menemukan kedamaian. Di sini tidak ada darah. Di sini tidak ada amarah. Di sini tidak ada dendam.
hal. 146

----

#14 | Solilokui Natalia

Al-'Alaq, 96:1; Matius, 7:7
Sayup-sayup, aku mendengar Natalia mengucapkan sesuatu dalam harinya. Aku bisa mendengarnya karena ia mengucapkannya dengan tulus dan penuh kesungguhan. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kuatkanlah iman dan Islamku. Kuatkanlah iman dan Islamku...
Kemudian, ia membuka tubuhku pada halaman yang tidak ia tentukan.
"Matius..." Dan di luar, hujan perlahan-lahan berhenti. Langit kembali biru.
hal. 156-157


------------------------------------------------------------------------

Membaca Metafora Padma, saya tidak hanya merasa sedang disuguhi oleh kumpulan cerpen yang bagus tapi juga kesan masa penulisannya yang panjang dan penuh perhitungan. Sebagai pembaca awam, saya merasa buku ini cukup rapi dan memikat.

Saya memiliki beberapa cerita pendek favorit di dalam buku ini, di antaranya adalah Hanya Pantai yang Mengerti, Sepenggal Dongeng Bulan Merah dan Solilokui Natalia.

Hanya Pantai yang Mengerti berkisah tentang perselingkuhan Rui dan Gru. Hubungan mereka bisa dibilang tidak biasa di tengah status Rui sebagai istri orang dan perbedaan usia mereka yang lumayan mencolok. Tapi keduanya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk berhubungan. Adapun latar belakang Rui berselingkuh adalah karena dia tidak mencintai pria yang menjadi suaminya sekarang, di tengah prahara perkawinan yang terjadi karena perjodohan dan kemandulan Rui.

Hal yang membuat saya jatuh cinta pada cerpen ini selain konfliknya yang menarik juga karena narasinya yang indah. Banyak perumpamaan soal hubungan mereka yang dikaitkan dengan segala hal berbau laut dan pantai, judul cerpen ini salah satu contohnya. Hanya Pantai yang Mengerti sendiri mengandung filosofi perihal hubungan mereka yang seperti pantai dan air laut. Suatu hari nanti akan ada dari mereka yang pergi.

Sepenggal Dongeng Bulan Merah lain lagi, cerita roman ini dibalut dalam konflik antar suku yang saya yakin merujuk pada salah satu konflik antar suku yang pernah terjadi di Indonesia, hanya saja ada penggunaan nama suku khayalan yang dibikin oleh penulisnya untuk mewakili. Sebagai cerita roman, kisah ini memaparkan perjalanan cinta dua anggota suku yang tengah berseteru, mereka adalah Manu dari suku Riat dan Lidia dari suku Unda'am. Kisah ini berjalan tragis ketika Lidia harus menjadi korban konflik tersebut dan bagaimana Manu mengantisipasi perasaan terluka terhadap sikap dua suku yang terus berseteru meski korban sudah banyak yang berjatuhan.

Sementara itu, Solilokui Natalia mengambil konflik batin tentang kepercayaan dan Tuhan. Natalia digambarkan sebagai seorang muslim namun memiliki paras mayoritas pemeluk agama kristen. Dikisahkan sebagai anak baru di sekolahnya, dia disukai oleh seorang lelaki kristiani bernama Yosua. Natalia merasakan dilema apalagi setelah bertahun-tahun berlalu dan barang pemberian dari lelaki itu masih ia simpan; sebuah alkitab.

Selain masalah konflik-konfliknya yang menarik, beberapa cerpen di dalam buku ini juga mengambil sudut pandang narator yang tidak biasa seperti benda-benda mati macam Alkitab di dalam cerpen Solilokui Natalia atau Rumah di dalam cerpen Rumah. Hal tersebut membuat saya merasa 'menemukan-sesuatu' ketika penasaran dengan identitas si pencerita dan menyadari siapa sebenarnya yang tengah bercerita.

Dan, entah penafsiranku saja atau bukan tapi beberapa cerpen di dalam buku ini tampak didasarkan pada satu keluarga yang sama, seperti dalam cerpen Rumah, Obat Generik, dan beberapa cerpen lainnya karena memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang mirip.

Saya sebelumnya pernah membaca karya Bernard Batubara yang lain seperti Cinta dengan Titik dan Surat untuk Ruth dan saya menyukai keduanya. Perbedaan dua novel itu dengan Metafora Padma hanya masalah konflik yang diangkat, selebihnya mengenai gaya penulisan Bara, saya selalu mengaguminya.

Ketika sampai di halaman terakhir ketika membaca Metafora Padma, saya merasa belum kenyang. Saya masih ingin membaca cerpen-cerpen khas Metafora Padma lainnya.

Saya ketagihan!


#36 | Tangled (Tangled, #1) - Emma Chase

Tangled (Tangled, #1)
Melupakanmu Sama Menyakitkannya dengan Mencintaimu
Penulis: Emma Chase
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: Desember 2014
Tebal: 332 halaman
ISBN: 979-780767-3
"Perempuan lebih cepat jatuh cinta dibandingkan pria.
Lebih mudah dan lebih sering.
Tapi, saat pria jatuh cinta? Kami jatuh lebih keras.
Dan, saat keadaan memburuk?
Saat bukan kami yang mengakhirinya?
Kami tidak bisa pergi begitu saja.
Kami merangkak."
- Drew Evans

Kau lihat lelaki belum mandi dan belum bercukur yang teronggok di sofa? Lelaki yang memakai kaus abu-abu kotor dan celana olahraga robek?
Itu aku, Drew Evans.
Tak biasanya aku seperti ini. Maksudku, itu sama sekali bukan aku.

Dalam kehidupan sesungguhnya, aku sangat terawat. Aku seorang partner terbaik di salah satu bank investasi terkemuka di New York. Soal wanita, aku tinggal menunjuk gadis cantik mana pun dan dia akan tunduk di kakiku. Kau boleh bilang aku lelaki hidung belang, tapi aku tidak akan pernah mengencani rekan kerja.

Sampai Katherine Brooks datang dan menjadi associate baru di kantor kami. perempuan cantik ambisius itu mengubrak-abrik hidupku. Bayangkan, seorang Drew Evans harus bersaing dengannya demi mendapatkan klien baru senilai jutaan dolar! Yang benar saja! Dan, yang lebih menyebalkan lagi, dia sangat sangat sangat menarik dan aku tak bisa melepaskan mataku darinya.

Drew Evans tidak jatuh cinta.
Tapi, di sinilah aku, teronggok tak berdaya dalam keadaan flu dan patah hati. Jika kau mengenalku, kau tidak akan percaya, bagaimana mungkin seorang Drew Evans sedang sibuk menyusun rencana, hanya untuk memenangi hati seorang wanita.

"Tertawalah, tergila-gilalah, dan jatuh cintalah pada Tangled. Sekarang juga!"
-ALICE CLAYTON, penulis buku betseller, Wallbanger

"Perempuan lebih cepat jatuh cinta dibandingkan pria. Lebih mudah dan lebih sering. Tapi, saat pria jatuh cinta? Kami jatuh lebih keras. Dan, saat keadaan memburuk? Saat bukan kami yang mengakhirinya? Kami tidak bisa pergi begitu saja. Kami merangkak."

Abaikan cover Tangled di atas yang bikin saya berpikir untuk pergi ke gym dan membikin perut saya kotak-kotak. Sebenarnya cover di atas bukan cover Tangled versi terbitan Gagas Media hanya saja saya rasa aura cover di atas lebih tepat menggambarkan Tangled. Cover tersebut juga tampaknya bisa menjelaskan lebih dari sekadar kata-kata genre utama Tangled dan kisah apa yang tercantum di dalamnya.

Tepat!

Tangled karya Emma Chase ini novel dewasa semacam Seducing Cinderella yang saya baca berbulan-bulan yang lalu. Hanya saja bedanya, jika Seducing Cinderella dikisahkan dari sudut pandang pertama-wanita sebagai tokoh utama maka Tangled menggunakan sudut pandang orang pertama-pria sebagai tokoh utama. Salah satu nilai plus novel ini saya pikir. Jika kalian pembaca novel roman serupa dan seringkali menggilai tokoh utama pria yang maha-sempurna-dan-punya-segalanya, maka di novel ini kalian tidak hanya bisa menggilainya tapi juga memiliki kepalanya. Kalian akan tahu bagaimana cara dia berpikir dan bagaimana seorang pria mengantisipasi kisah roman yang mayoritas kalian pahami dari sisi wanita.

Dia adalah Drew Evans, seorang taipan di Evans, Reinhart and Fisher, salah satu bank invetasi terkemuka di kota New York. Seorang workaholic yang sangat berambisi pada pekerjaannya, juga seorang playboy plus 'penggila wanita', get what I mean? Good!

Dikisahkan di novel ini bahwa si-pria-anak-mama yang tidak pernah percaya pada cinta ini akhirnya bertemu dengan seorang wanita bernama Katherine Brooks, rekan kerjanya di ERF. Wanita tegas, berani dan cerdas yang tidak hanya pintar mengambil kliennya di kantor tapi juga mengambil hatinya. Drew Evans tertarik pada wanita itu tapi bukan tipe rasa tertarik yang berasal dari bawah pusarnya. Dia benar-benar tertarik atau bisa dibilang jatuh cinta, dari hati, tapi ia enggan mengakuinya.

Lagi pula Kate sudah memiliki tunangan, selama satu dasawarsa terakhir.

Hal tersebut membuatnya gila! Tergila-gila pada wanita bukanlah dirinya yang sebenarnya. Drew biasanya hanya tergila-gila pada apa yang dimiliki oleh wanita tapi tidak dengan hatinya. Betahun-tahun menjalani hidup seperti itu, Drew mulai berpikir bisa jadi kasus jatuh cintanya adalah karma karena dia telah banyak menggauli wanita hanya untuk satu malam.

Beruntungnya, Kate memiliki masalah dengan tunangannya dan ini menjadi celah bagi Drew untuk menyelusup ke dalam hati wanita itu. Meski Kate sudah berada di dalam dekapan Drew, nyatanya untuk benar-benar mendapatkan hati wanita itu bukanlah hal yang mudah.

Oke, terlepas dari banyaknya adegan khas novel dewasa yang lumayan panas, Tangled dari segi alur, penyajian cerita dan penokohannya benar-benar menarik. Satu tips dari saya ketika membaca novel ini; perbanyak tarik nafas, jernihkan pikiran dan melambailah ke kamera jika menyerah, wkwk. Ini serius!

Saya suka dengan cara penulisnya membangun karakter tiap tokoh, khas sekali. Drew Evans dengan pikiran lelaki liarnya pada bisnis dan wanita, Steven Reinhart dengan perannya sebagai suami takut istri dan Mathhew Fisher si lajang yang masih suka berpetualang di malam minggu. Karakter Alexandra juga sangat kuat dengan sifat keras tapi manisnya, jangan lupakan si-tak-kalah-ambisius Kate Brooks yang tidak mudah goyah oleh seorang pria, bahkan oleh Drew yang terkenal penakluk para wanita.

Sekalipun ini novel dewasa dengan banyaknya kata-kata kotor berseliweran, memunculkan tokoh anak kecil ke dalam alur terbilang cukup riskan akan tetapi trik yang digunakan penulisnya untuk meminimalkan risiko pengaruh-buruk pada si anak terbilang kreatif.

Mackenzie, anak sulung Alexandra dan Steven selalu menyodorkan sebuah Stoples-Omongan-Jorok untuk diisi dengan lembaran dollar per omongan jorok orang-orang dewasa di sekitarnya.

Saya sempat berharap sad ending untuk Drew (sorry, Drew! hahaha) tapi ternyata itu tidak terjadi. Detailnya seperti apa silakan baca sendiri.

Baca juga: Seducing Cinderella by Gina L. Maxwell

Well, ada tiga ekstra scene di halaman terakhir. Ekstra scene nomor dua yang berjudul The Honeymoon's Over yang jadi favorit saya. Bagian itu menceritakan kisah pasca bulan madu Drew dan Kate. Bagian yang paling membuat saya ngakak adalah ketika Kate mengguyur Drew dengan seember bir dingin. Tapi bagian ini sangat harus dibaca oleh pria yang tidak peka dan wanita yang menganggap bahwa pria bisa membaca pikiran mereka.

Anyway, setelah menghabiskan Tangled saya jadi penasaran dengan novel Emma Chase selanjutnya apalagi mengetahui bahwa ini bukan buku tunggal, melainkan seri.
Peringatan--seharusnya saya menuliskan ini di bagian paling awal--novel ini dikhususkan untuk pembaca berusia delapan belas tahun ke atas. Meskipun di covernya tidak dituliskan label tersebut tapi ini bukan bacaan yang tepat untuk anak remaja.

#35 | Dari Merem ke Melek - Ernest Prakasa


Dari Merem ke Melek
Catatan Seorang Komedian
Penulis: Ernest Prakasa
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: Oktober, 2012
Tebal: 89 halaman
ISBN: 978-979-910-498-4

"Mata saya yang sipit ini mengajarkan bahwa orang Cina itu rendah hati, tidak pernah memandang sebelah mata. Pake dua mata aja susah, apalagi cuma sebelah?"

Tahukah Anda bahwa di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris semakin banyak orang yang mengambil kursus stand-up comedy, padahal mereka tidak bercita-cita menjadi seorang komika? Lantas untuk apa? Jawabannya: karena orang yang lucu itu biasanya menyenangkan.

Nah di buku ini Ernest Prakasa berbagi tips dan trik bagi stand-up comedian pemula atau siapapun yang ingin tahu lebih banyak soal stand-up comedy, termasuk bit favorit yang kerap ia jadikan senjata di atas panggung. Ia juga bercerita tentang perjalanannya hingga saat ini dan tentunya tentang kisah di balik Merem Melek Tour , tour stand-up comedy pertama di 11 kota di Indonesia.

"Di Stand-up Comedy Indonesia Kompas TV, gue cuma juara 3. Juara 1 waktu itu Ryan Adriandhry. Dia juara karena dia pribumi. Nggak deng bercanda.
Karena dia nyogok."

Awalnya saya kira ini buku personal literature semacam buku-buku karyanya Raditya Dika tapi ternyata bukan. Dari Merem ke Melek adalah buku nonfiksi, panduan stand-up comedy yang di dalamnya berisi mulai dari sejarah singkat stand-up comedy, tips dan trik menjadi komika ala Ernest Prakasa dan tentu kehidupan Ernest sebagai seorang stand-up comedian atau komika. Buku ini juga menyinggung tur pertama stand-up comedy Ernest yang diberi judul Merem Melek Tour.

Sebagai seorang komika, Ernest Prakasaaya saya rasa adalah figur yang menarik sebab rasanya jarang sekali ada seorang komedian bermata sipit (baca; Cina) di Indonesia. Dan Ernest tampaknya sadar hal tersebut mendukungnya menjadi seorang (stand-up) comedian yang menarik perhatian. Nah, Dari Merem ke Melek juga membahas tuntas soal bagaimana Ernest mempergunakan keunikan dirinya sebagai bahan berkomedi di atas pentas. Dan itu berhasil!

Dari Merem ke Melek berisi 13 bab yang tersusun sebagai berikut:

  1. Oh, Ini Toh Stand-Up Comedy? Garing Ah!
  2. Mari Melucu
  3. Menggali Materi
  4. Menuangkan Isi Otak
  5. Delivery, tapi bukan pizza.
  6. Siapa Saya?
  7. Open Mic
  8. The Seven Question
  9. Pelajaran dari Para Pahlawan
  10. The Big No's
  11. Stand-up Comedy di Indonesia, Menjanjikan?
  12. Sebuah Babak Penting
  13. Merem Melek Tour

Buku ini tidak hanya bermanfaat untuk kamu yang berniat menjadi seorang komika tapi juga buat pembaca secara umum yang tertarik atau pun tidak terhadap dunia stand-up comedy. Menariknya, buku ini tidak hanya disusun berdasarkan pengalaman pribadi Ernest menjadi seorang komika saja tapi beberapa teori stand-up comedy di dalamnya didasarkan pada buku-buku serupa yang telah terbit sebelumnya seperti buku Stand-Up Comedy: The Book karya Judy Carter dan The Art of Stand-Up Comedy karya Jay Sankey.

Meski ini termasuk ke dalam buku nonfiksi, cita rasa komedi dari Ernest sebagai komika masih terasa. Hal tersebut membuat pembahasan materi setiap menjadi lebih ringan dan mudah dimengerti. Ernest juga pandai sekali membuat kalimat-kalimat perumpamaan yang menambah mudahnya pembaca memahami isi buku ini. Selain itu, penggunaan contoh-contoh kasus yang dekat dengan dirinya sendiri membuat setiap 'teori' yang dia simpulkan menjadi lebih reliabel.

Ketebalan buku yang termasuk dalam kategori tipis bagi saya merupakan salah satu kelebihan buku ini. Meski pembahasan setiap bab menjadi cukup padat tapi bentuk fisik buku ini menunjang sekali untuk menjadi buku saku target market Dari Merem ke Melek, para komika, yang saya rasa punya mobilitas kerja yang dinamis.



Salah satu materi yang dibahas dalam buku ini adalah membuat joke dengan cara mind mapping. Selain untuk membuat joke stand-up, cara ini juga bisa dilakukan dalam membuat joke untuk cerita-cerita fiksi lain seperti cerpen dan novel, lho. Saya malam berencana untuk melakukannya. Ernest juga memberikan tips dari pengalaman pribadinya bagaimana dia membuat joke dengan jalan mind mapping, lho. Simak di tipsnya di bawah ini, guys!
  1. Jangan batasi diri sendiri. Buatlah cabang sebanyak-banyaknya, lalu eksplorasi satu demi satu. Bila mentok, jangan paksakan, langsung lanjut ke cabang yang lain. Cabang mentok itu hal yang biasa. Tidak semua ranting akan menghasilkan buah, seperti halnya tidak semua gebetan bisa jadi pacar.
  2. Jangan tergesa-gesa membuang mind mapp yang sudah dibuat hanya karena dirasa gagal, karena siapa tahu suatu saat Anda mendapatkan ilham untuk mengolahnya dengan cara yang berbeda.
  3. Jangan berkecil hati bila mind mip yang sudah dibuat tidak berhasil menciptakan joke yang diharapkan. Coba pilih tema lain. Coba perbanyak lagi cabangnya. Coba,  coba dan coba terus.
  4. Mind map adalah mekanisme yang semakin sering dilatih akan semakin lancar. Rajin-rajinlah berlatih.
Selain itu, di buku ini juga ada tips-tips menarik untuk membuat bit-bit atau pun one liner stand-up comedy. Salah satu one-liner yang dituliskan dan saya pernah melihatnya digunakan oleh Ernest di acara stand-up comedy di salah satu stasiun televisi swasta adalah sebagai berikut.

"Zaman dulu, kita para laki-laki saat buang air kecil di urinoir, kalo sudah selesai ya tinggal di-flush aja. Sekarang beda, ada kotak kecil warna merah yang seolah tahu kapan kita sudah selesai, jadinya nge-flush sendiri. Gue curiga itu sebenarnya kamera. Ada operatornya di balik tembok. Ngeliatin, trus mencet tombol flush kalo orang udah selesai. Hiii."

Selain berbagi tips dan pengalaman soal dunia stand-up comedy, di dalam buku ini juga perjalanan stand-up comedy Ernest Prakasa direkam, termasuk saat dia berhasil melakukan tur stand-up comedy pertamanya di Indonesia pada tahun 2012, dia juga menjadi komedian pertama yang melakukan hal tersebut. Tur yang diberi judul Merem Melek Tour tersebut singgah di 11 kota dari Bandung, Semarang, Solo, Denpasar, Malang, Surabaya, Makassar, Kendari, Samarinda, hingga Palangkaraya, dan ditutup di Gedung Kesenian Jakarta.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Merem Melek Tour Denpasar - Lagu Anak Part 1

Merem Melek Tour  Denpasar - Lagu Anak Part 2

-----------------------------------------------------------------------------------------

Ada hal yang membuat haru ketika Ernest mulai menuliskan tentang pengalamannya tersebut di bab terakhir Dari Merem ke Melek pada halaman 98. Di sana, Ernest berkata bahwa meski dia tidak tampak seperti para seniornya di dunia stand-up comedy seperti Raditya Dika, Panji Pragiwaksono dan Ryan Ardiandhy untuk tampil menjadi seorang stand-up comedian yang professional tapi dia punya tekad, nyali dan ketekunan untuk bisa membawanya menjadi seperti sekarang.

Yang saya punya, adalah hal-hal biasa.
Hal-hal yang kalian punya. Jadi apa alasan kalian untuk tidak mengejar mimpi?
Jawaban "saya masih menanti kesempatan" hanya milik para pecundang.
Hidup mengajarkan saya bahwa kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu.
Bangun dan berlarilah.

So, buat kamu yang mempunyai cita-cita menjadi seorang komika atau belajar bagaimana membuat joke yang menarik, buku ini adalah salah satu buku yang perlu kamu punya.

#34 | Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Mei, 2016
Tebal: 138 halaman
ISBN: 978-602-032-895-3

"Aku tidak percaya pada bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

"Nada komedi-satirnya cukup kuat dalam Corat-Coret di Toilet. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problema kemanusiaan."
- Maman S. Mahayana, Media Indonesia

"I decided to translate Corat-Coret di Toilet not only because it is one of Eka's best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the century, as the brief promise of Reformasi was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifuly the bizzare lingo shared by ex-radicals, sexual opportunists, young inheritors of the debased culture of the New-Orde era and anarchists avant la lettre. Finally it shows Eka's gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone and his 'extra-dry' sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation."
- Benedict R. O'G. Anderson, Indonesia

Ketika ulasan ini ditulis, saya baru membaca bagian awal dari Lelaki Harimau. Sedikit banyak saya tergelitik untuk membandingkan keduanya dan secara pribadi merasa meski Corat-Coret di Toilet dan Lelaki Harimau berasal dari satu kepala yang sama tetapi keduanya memiliki rasa-Eka yang berbeda. Mungkin karena Corat-Coret di Toilet adalah karya pertama Eka yang diterbitkan, sekalipun saya kurang mendapati korelasi di antara keduanya.

Duh, maafkan sikap sok tahu saya tapi pemikiran tersebut cukup mengganggu dan tentu saja, kamu bisa men-cmiiw-ku di kolom komentar. hehe.

Corat-Coret di Toilet adalah kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2000 oleh Penerbit Aksara Indonesia sebelum diakuisisi oleh Gramedia Pustaka Utama. Kumpulan Cerpen ini terdiri dari dua belas cerpen dengan tema yang cukup acak, dengan judul sebagai berikut.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

#1 | Peter Pan

"Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan susah mati."
hal. 10

---

#2 | Dongeng Sebelum Bercinta

"Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta. Dengar, kau bukan Syahrazad yang lihai membual. Pada saatnya, suamimu akan bosan dan mungkin ia memutuskan memenggal kepalamu dengan golok."
hal. 20

---

#3 | Corat-Coret di Toilet

Tulisan pertama berbunyi, "Aku tak percaya pada bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."
Tulisan kedua berbunyi, "Aku juga."
hal. 29

---

#4 | Teman Kencan

"Tapi...," kataku. "Sekarang kau lebih subur. Naik berapa kilo? Tidak diet?"
"Subur katamu?"
Aku mengangguk.
"Bodoh! Bukan subur. Aku hamil!"
"Kau hamil?" tanyaku tersentak.
hal. 37

---

#5 | Rayuan Dusta untuk Marietje

Aku mengangguk lagi setuju, dan segera saja kutulis kembali surat. Maritje sayang, kataku, akan kutaklukan negeri barbar ini demi kau. Kupersembahkan alamya yang indah, emas, intan, permatan yang melimpah, dan semuanya demi kau."
hal. 46

---

#6 | Hikayat Orang Gila

Dengan tulang, daging dan darah yang tersisa, Si Orang Gila memasuki rumah tersebut. Sebagaimana di luar, ia saksikan kehancuran itu di dalam. Porak-poranda ditebas sangkur dan peluru.
hal. 55

---

#7 | Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam

Beberapa orang masih seirng melihatnya malam-malam di pub dan diskotek, atau di lobi sebuah hotel. Beberapa orang yang lain melihatnya di pinggir jalan di bawah cahaya bulan purnama sedang menghentikan taksi atau berjalan dengan seorang laki-laki tua berperut buncit. Ada desas-desus ia menjadi kupu-kupu malam. Tapi sebagian besar orang lebih percaya kalau ia mati bunuh diri dan yang sering terlihat itu konon hantunya yang masih penasaran.
hal. 67

---

#8 | Siapa Kirim Aku Bunga

".... Kenapa aku tak boleh membayar?"
"Bunga itu lambang cinta, dan kau manusia yang kering akan cinta. Sudah selayaknya kau peroleh banyak-banyak bunga."
hal. 74

---

#9 | Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

"Bapak polisi, antarkan aku kepada ibuku. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan membawaku ke pasar malam. Aku ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku rumah. Aku juga ingin punya ibu sendiri yang akan memberiku uang untuk membeli roti sehingga aku tak perlu mencuri...."
hal. 92

---

#10 |  Kisah dari Seorang Kawan

"Aku sudah yakin dari dulu, kapitalisme tak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali," kata Si Baret Guevara. "Kalau ada orang berkata kapitalisme telah jadi humanis, ia tak kenal kapitalisme dengan sungguh-sungguh."
hal. 90

---

#11 | Dewi Amor

"... Puncaknya terjadi ketika akhirnya aku bertemu dengan laki-laki itu. Tanpa bisa kukendalikan, didorong oleh amarah yang menggelegak di dadaku, aku melayangkan tinjuku kepadanya. Ia tampaknya tak begitu bersiap diri sehingga beberapa pukulanku mendarat di wajah dan tubuhnya tanpa perlawanan, dan ketika ia mulai hendak melawan, dirinya sudah begitu babak belur. Orang-orang berlarian melerai sementara Laura teriak menjerit histeris. Aku berlari saat laki-laki itu akhirnya tergolek di tanah."

---

#12 |  Kandang Babi

Lalu apa yang merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang? Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, buku ini terdiri dari cerpen-cerpen dengan beragam tema atau acak. Ada dua tema yang saya tangkap secara kasat mata, (1) Situasi politik dan pemerintahan yang terdapat dalam cerpen Peter Pan, Corat-Coret di Toilet, Hikayat Orang Gila dan Kisah dari Seorang Kawan, serta Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti dan tema (2) Percintaan seperti dalam cerpen Dongeng Sebelum Bercinta, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Si Cantik tak Boleh Keluar Malam, serta tema-tema rujak bebek yang mencampur keduanya seperti dalam cerpen Siapa kirim Aku Bunga.


Dan sebagai pembaca cerita roman, cerpen Dongeng Sebelum Bercinta dan Teman Kencan adalah dua cerpen yang paling saya ingat. Keduanya memiliki plot twist yang menohok di bagian akhir, dengan alur yang sedari awal digiring untuk menjauhkan persepsi saya dari ending semacam itu.

Cerpen Corat-Coret di Toilet juga tidak bisa dikepinggirkan. Kisah tentang berbagai macam reaksi dari mahasiswa terhadap situasi pemerintahan yang terekam di dinding toilet adalah ide yang antimainstream tapi sangat dekat dengan kenyataan. Di tengah gemuruh politik yang sedang terjadi (kumpulan cerpen ini terbit pada tahun 2000 dan dengan asumsi bahwa beberapa cerpen berbau politiknya bersinggungan sangat kuat dengan masa pemerintahan tahun 1990an) saat-saat kebebasan berpendapat menjadi sangat mahal maka dinding toilet pun bisa dijadikan sebagai media penyampai aspirasi. Saat ini, di tengah kondisi demokrasi dan kemajuan teknologi yang pesat, rasanya jarang sekali pesan-pesan semacam itu muncul di dinding toilet, ya, karena kita memiliki dinding lain di dunia maya.

Meski beberapa cerpen dalam buku ini bersinggungan dengan situasi politik dan pemerintahan namun saya merasa tidak begitu kesulitan ketika mencernanya. Sebab bahasa yang digunakan Eka Kurniawan tidak bertele-tele sehingga mudah dimengerti. Meski ada beberapa cerpen yang dari segi bahasa mudah dimengerti tapi menyimpan pesan yang tersembunyi lewat berbagai macam perumpamaan.

Eh, ternyata ada cerita menarik di balik buku kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet ini. Buku ini menyimpan kisah tahun pertama Eka Kurniawan menggeluti dunia literasi. Hampir semua cerpen dalam buku ini pernah dimuat di media dan menjadi pemantik penulis yang lahir di Tasikmalaya ini menekuni dunia tulis-menulis lebih giat. Untuk kisah selengkapnya, kamu bisa mengaksesnya di tautan berikut: 10 Tahun "Corat-Coret di Toilet". 

Selain itu, setiap cerpen dalam buku ini juga menyajikan berbagai kata mutiara atau quote yang menarik. Jika membacanya melalui buku fisik, salah satu cara saya menandai halaman ber-quote adalah dengan menempelkan bookmark mini berperekat pada tepi halaman agar mudah dicari. Akan tetapi hal tersebut cukup ribet dan mengganggu pemandangan. Beruntungnya, saya membaca buku kumpulan cerpen ini via aplikasi iJak.  

Tahu kan, iJak aka iJakarta? Itu lho aplikasi perpustakaan digital yang dikembangkan oleh pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan pengembang PT. Woolu Aksaramaya. Selain menjadi ePustaka, aplikasi ini juga bisa digunakan sebagai eReader dari buku-buku yang kita pinjam.

Nah, dalam aplikasi eReader iJakarta ini ada fitur bookmark, lho. Selain untuk menandai di halaman berapa kita mem-pause bacaan kita, fitur tersebut juga bisa digunakan untuk menandai halaman-halaman lain yang menyisipkan kata-kata menarik di dalamnya. Jadi untuk mencarinya kembali, kita hanya perlu menekan fitur bookmark. Fitur ini sangat membantu sekali terutama untuk book blogger yang memerlukan kutipan untuk membuat ulasan bukunya seperti ini.

IJakarta tidak hanya eReader dengan fitur bookmark. Masih banyak fitur lain yang canggih dan membantu kenyamanan membaca para pencinta buku. Salah satu yang paling memberikan kesan adalah tampilan antar mukanya yang menyerupai bentuk asli buku. Seperti cara membuka kertas, ada pilihan transisi yang variatif (favorit saya adalah transisi kertas Curl). Rasanya seperti membaca dalam bentuk buku beneran. Selain itu juga fitur TOC memberikan kemudahan kepada kita untuk melompat ke bagian buku yang kita inginkan. Ada juga fitur share atau bagikan, ini cocok banget untuk kita yang harus selalu update dan membuat teman-teman media sosial kita up to date soal bacaan kita.

Sementara itu sebagai ePustaka, iJakarta memberikan banyak sekali pilihan buku yang bisa kita pinjam dan baca mulai dari buku fiksi sampai nonfiksi, berbagai tema dan bahasa (terjemahan). Pokoknya, membaca dengan aplikasi iJak adalah pengalaman asik membaca buku yang tidak ada duanya.

Untuk kamu yang penasaran dengan aplikasi ini, baca ulasan saya mengenai aplikasi ini serta tips membaca dengan menggunakan aplikasi iJakarta lewat tautan di bawah ini.


Gimana, tertarik untuk mendapatkan pengalaman asik membaca serupa dengan aplikasi iJak? Jangan lupa cari buku Corat-Coret di Toilet atau buku karya Eka Kurniawan yang lainnya sebagai buku rekomendasi untuk kamu baca di akhir pekan ini.

Salam literasi!

Monthly Talk | Masalah Perpustakaan Digital, iJakarta Nggak Ada Duanya


Salah satu kesenangan saya ketika berada dalam perjalanan selain tidur adalah membaca novel. Kesenangan tersebut sudah masuk ke dalam taraf yang mengkhawatirkan sampai kadang bikin saya cukup kerepotan. Pasalnya, setiap bepergian saya hampir selalu membawa barang bawaan yang banyak sementara tangan saya gatal buat menenteng novel. Lebih parah lagi kalau sedang musim hujan seperti sekarang, akan menjadi pengalaman pahit sekali jika novel yang lagi asyik dibaca basah kena hujan. Sayangnya, hal itu pernah terjadi. Novel saya basah karena kehujanan, meski tidak parah tapi bekasnya cukup bikin menghela napas.

Tepat seminggu yang lalu dalam perjalanan mengejar kereta lokal menuju stasiun Bandung.

Beruntungnya, saya punya alternatif lain untuk mengantisipasi hal-hal tersebut. Salah satunya adalah mempersiapkan bahan bacaan dalam bentuk digital. Meski banyak pilihan tapi menggunakan aplikasi iJakarta adalah sebuah keharusan. Saya sudah mengenal aplikasi perpustakaan digital ini sejak awal tahun dan tetap setia menggunakannya sampai sekarang. Banyak sekali keuntungan yang bisa saya ambil dari iJakarta, selain mempermudah saya mengakses dan membaca buku (aplikasi ini merupakan aplikasi ePustaka sekaligus eReader) juga bisa menjadi teman jalan yang nyaman ketika berada di dalam kendaraan. Tidak perlu takut bahan bacaan kita lecet atau basah karena hujan, atau menghabiskan tempat penyimpanan, aplikasi bisa di-install ke ponsel pintar dan tinggal disimpan di saku jika tidak sedang digunakan.
IJakarta adalah perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan PT. Woolu Aksaramaya. Aplikas ini diluncurkan pada puncak Hari Anak Jakarta Membaca di Balai Kota. Selain iJakarta, PT. Woolu Aksaramaya juga sudah mengembangkan MOCO, aplikasi eReader yang dilengkapi dengan fungsi media sosial. Hampir serupa dengan iJakarta tempat para penggunanya bisa mengunduh dan membaca ebook dengan percuma.

Kali ini, buku yang saya baca menggunakan aplikasi iJak adalah kumpulan cerpen berjudul Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan [baca ulasannya di sini]. Ini merupakan karya Eka yang paling dini, diterbitkan pada tahun 2000 oleh Penerbit Aksara Indonesia yang diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama pada Mei tahun ini.

Untuk bisa menggunakan aplikasi iJakarta, tentu saja hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengunduh aplikasinya. Beruntungnya, aplikasi ini bersifat multiplatfrom. Kamu bisa menginstalkannya di tiga jenis platform.

UNDUH DI SINI!

Setelah ter-install, ada dua cara mendaftarkan diri menjadi anggota yakni dengan menggunakan akun facebook dan alamat email. Setelah berhasil, kamu akan menemukan beberapa fitur yang bisa kamu gunakan untuk kenyamanan pengalaman membaca kamu lewat iJakarta.

Di antaranya adalah sebagai berikut.
Beranda, tempat segala aktivitas para pengguna iJakarta terekam.

Susunan Rak. Bagian ini terdiri dari tiga rak, Pinjaman Buku tempat buku-buku yang kamu pinjam tersimpan, Antrian Buku untuk daftar buku yang sedang kamu tunggu karena masih dipinjam dan stoknya habis serta Riwayat Pinjaman tempat buku-buku yang pernah kamu pinjam tercatat.

Notifikasi, terdiri dari tiga bagian yaitu Aktivitas yang berkaitan dengan akun kamu, Kotak Masuk tempat kamu bisa chit-chat dengan sesama pengguna dan Konfirmasi.

Kategori Buku, bagian pertama yang akan kamu lihat. Di bagian ini, kamu bisa memilih genre buku apa saja yang kamu ingin pinjam dan baca. Genrenya sendiri sangat beragam dari buku-buku fiksi seperti novel dan buku-buku nonfiksi berbagai ilmu pengetahuan.

Terakhir, Kategori ePustaka. Di bagian ini, kamu akan menemukan daftar ePustaka yang menyediakan beragam macam buku yang mungkin kamu minati. Untuk mengaksesnya, kamu hanya perlu mendaftarkan diri. Jika kamu memiliki banyak koleksi ebook, kamu juga bisa mengajukan diri untuk membuat ePustaka-mu sendiri di sini.

Untuk lebih jelasnya mengenai fungsi fitur-fitur dalam aplikasi iJak, kamu bisa memahaminya [di sini] atau mengamatinya di video berikut.


Bagaimana, tertarik untuk menggunakan iJak?

Eits, tapi tunggu dulu! Sebelum kamu mulai mengunduh buku yang kamu suka dan membacanya via aplikasi iJak, saya punya beberapa tips membaca nih untuk kenyamanan dan kesehatan mata kamu.

Check this out!

1. Matikan Akses Data. Salah satu keunggulan iJakarta adalah kita bisa menggunakan fitur eReader sekalipun akses data dimatikan. Hal ini terjadi karena buku yang kita pinjam otomatis terunduh dan tersimpan ke dalam memori telepon. Dengan begitu, kita bisa membaca buku dalam mode luring. Akses data bisa dimatikan begitu saja atau menggunakan flight mode. Selain untuk menghindari gangguan ketika membaca seperti bunyi ringtone dari pesan atau panggilan masuk, mematikan akses data juga bisa digunakan untuk menghemat daya baterai agar tidak cepat panas atau habis. Hal ini sangat berguna sekali khususnya untuk ponsel saya yang tidak lagi begitu cerdas. wkwk

2. Sesuaikan Kecerahan Layar. Mengatur kecerahan ponsel ketika membaca tidak hanya bertujuan agar tulisan mampu dibaca dengan baik tapi juga untuk menghindarkan mata kita dari stress. Cahaya yang kurang atau berlebihan bisa menyebabkan hal tersebut. Untuk mengatur kecerahan layar, kita bisa melakukannya lewat setting secara manual maupun otomatis menggunakan pilihan auto brighteness. Bahkan aplikasi untuk mengatur kecerahan layar ponsel agar lebih nyaman ketika digunakan pun ada dan kamu bisa menggunakannya, tiga di antaranya adalah Lux, Twilight dan Velis.

3. Perhatikan Jarak Baca. Masalah jarak baca yang ideal ketika berhadapan dengan teks dalam layar Official Journal of The American Academy of Optometry lho. Ini berarti bahwa jarak ketika kita membaca teks di layar ponsel cukup penting untuk diperhatikan. Dalam jurnal tersebut dipaparkan bahwa jarak ideal untuk membaca teks dalam layar ponsel adalah satu kaki atau sekitar 30.48 cm. Akibatnya jelas jika jaraknya terlalu jauh, mata kita tidak dapat menangkap tulisan yang tertera tapi jika terlalu dekat maka ini akan berpengaruh pada meningkatnya tuntutan pada kemampuan akomodasi dan koordinasi antar mata yang berakibat pada kondisi mata lelah dan pusing kepala.
ponsel pernah menjadi isu yang diangkat oleh

4. Ingat Peraturan "20-20-20". Peraturan ini sebenarnya tidak hanya berlaku ketika kamu membaca menggunakan ponsel tetapi juga komputer, laptop dan alat digital lainnya. Logikanya, ketika mata terus menerus menatap ponsel membuat matamu kering dan kelelahan. Jika terus dibiarkan, hal ini akan menyebabkan syaraf-syaraf mata menjadi tegang dan penglihatan dengan kabur. Oleh karena itu, selain harus rajin berkedip maka menerapkan peraturan "20-20-20" juga perlu dilakukan. Peraturan yang dimaksud adalah berhenti menatap layar perangkat digital kita setelah 20 menit untuk (usahakan) melihat benda sejauh 20 kaki selama 20 detik.

Nah, jangan lupa terapkan empat tips di atas ya agar kita merasa nyaman ketika membaca via ponsel, terutama menggunakan aplikasi iJakarta.

Selamat memburu dan membaca buku favoritmu!


#33 | The Magic Library - Jostein Gaarder & Klaus Hagerup



The Magic Library - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Judul Asli: Bibbi Bokken Magische Bibliothek
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah: Ridwana Saleh
Penerbit: Mizan
Cetakan: iv, September 2016
Tebal: 284 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978-979-433-924-4


Pembaca yang baik,

Buku di tangan Anda ini benar-benar unik. Susah menggambarkan isinya. Tapi, kira-kira seperti ini:

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib.

Buku ini juga berisi cerita detektif, cerita misteri, perburuan harta karun, petualangan ala Lima Sekawan, Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, kisah cinta, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film perpustakaan, penerbitan, humor, konspirasi ...

"Buku terbaik mengenai buku dan budaya-baca yang ada saat ini."
Oldenburgische Volkszeitung

"Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan."
Ruhr Nachricht



“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggan serta keluhuran manusia bersemayan.”

Pernah berkunjung ke perpustakaan yang memiliki satu ruangan tempat buku-buku yang belum terbit terpajang dengan cantik? Jika belum, maka saya sarankan kamu untuk pergi ke Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang terletak di bawah tanah hotel Mundal ...

tepatnya di Norwegia sana. Tapi jika itu terlalu jauh,

... maka bacalah The Magic Library dan saksikan sendiri bagaimana buku yang belum terbit tapi sudah diincar orang itu ditulis.

Dalam The Magic Library, kamu akan berkenalan dengan dua tokoh utama kita, mereka adalah dua sepupu keluarga  Boyum Torgensen yang bernama Berit dan Nils.

Acara vakansi mereka pada musim panas lalu memunculkan ide untuk membuat sebuah buku-surat, dikirimkan bolak-balik antara Oslo dan Fjærland. Hal pertama yang mereka bahas adalah seorang perempuan tua aneh yang matanya bak piring serta punya buku robek-robek di dalam tas tangannya dan ngiler ketika melihat tumpukan buku di sebuah toko di daerah Sogndal.

Perempuan tua yang melongok puisi tulisan mereka pada sebuah buku tamu ketika mereka liburan itu ternyata cukup misterius dan mencurigakan. Dia tampak seperti seorang pelaku kejahatan ketika bertemu secara tak sengaja dengan Berit. Beruntungnya, atau justru nahas untuk si perempuan, ada sebuah surat 'rahasia' yang jatuh dari tasnya dan ini menjadi semacam pemantik bagi Berit dan Nils untuk membongkar kedok perempuan tua yang mencurigakan itu. Apalagi setelah ditemukan dua kata asing yang sangat berkaitan dengan si perempuan, yaitu bibliografer dan incunabula, dan tentu juga nama si perempuan; Bibbi!


Dalam keriangan musim panas ini,
Segelas Coca-Cola kami nikmati,
Nils dan Berit, itulah kami,
Menghabikan liburan kami di sini,
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Pencarian identitas lebih lanjut tentang Bibbi pun dimulai dan semuanya seolah menjadi jaring laba-laba. Bibbi ternyata bernama lengkap Bibbi Bokken, dia adalah teman dari istri Bruum, guru kelas Nils! Anehnya, sejak mereka memburu Bibbi dan perpustakaan ajaibnya, justru ada seorang lelaki mencurigakan yang balik memburu mereka. Lelaki itu mereka beri nama Smiley.

Menakutkan sekali!

Lalu serangkaian peristiwa-peristiwa yang kebetulan terjadi pun mengantarkan mereka pada kebenaran, hingga mereka menemukan perpustakaan ajaib Bibbi Bokken dan buku yang belum terbit tapi sudah diperbincangkan itu.

Akhir yang mengejutkan!

By the way, selain Rumah Kertas karya Dominguez [baca ulasannya di sini], The Magic Library cetakan terbaru ini juga ternyata terdapat di dalam paket buku yang dikirimkan oleh Goodreads Indonesia awal bulan lalu. Yeay! Terima kasih, Goodreads Indonesia!

Membaca The Magic Library membuat saya teringat bahwa saya pernah membaca Flipped karangan tante Wendellin. Keduanya memiliki kesamaan dalam pengambilan sudut pandang naratornya. Yeah, tepat! The Magic Library dan Flipped menggunakan dua sudut pandang orang pertama (anak remaja) sebagai tokoh utama. Bedanya, narasi dalam The Magic Library berbentuk isi surat yang para tokoh utamanya tulis di dalam buku-surat sementara narasi dalam Flipped adalah narasi biasa, means ungkapan hati yang begitu saja keluar dari batin para tokohnya.

Meski begitu, suguhan konflik dan hubungan antara dua tokohnya yang jelas sekali berbeda membuat dua novel tersebut memiliki kekhasan yang tentu juga berbeda, ditambah dengan perbedaan genre cerita yang diambil. Oh, banyak sekali perbedaannya, ya, haha. Flipped bercerita tentang kisah cinta anak baru gede yang manis dan polos sementara The Magic Library bercerita soal petualangan dua saudara sepupu yang memicu rasa penasaran dan adrenalin.

Oke,  kita fokus ke The Magic Library!

Banyak hal yang membuat saya menyukai The Magic Library, di luar kesamaannya dengan Flipped yang sudah dipaparkan sebelum ini, yang membuat saya menamatkan novel ini di atas kereta api dalam perjalanan pulang ke rumah. Sensasinya baru sekali, terasa sedikit terombang-ambing dan membikin mual but curiosity, and the plot for sure, kill it.

Pertama; membaca novel ini membuat saya kembali bernostalgia dengan bacaan ketika kecil. Buku-buku terbitan tahun 1980 yang bercerita tentang detektif dan petualangan yang berjajar di perpustakaan tua sekolah adalah favorit saya. Salah satunya adalah buku serial Sandi karya Dwianto Setyawan. Sayanganya, dari tiga seri yang terbit [Terlibat di Bromo, Terlibat di Trowulan dan Terlibat di Mahakam], hanya seri terakhir yang belum sempat saya habisi. Saya merasa serial Sandi dan The Magic Library memberikan apa-ya-namanya pengalaman membaca yang sama kepada saya. Jika kamu suka The Magic Library, jangan sungkan untuk mengecek serial Sandi.


Duh, jadi pengen baca ulang lagi.

Kedua; buku ini dan Rumah Kertas menyajikan banyak sekali informasi tentang dunia yang selama ini ingin dan (semoga) akan saya geluti; perpustakaan, buku, aktivitas membaca dan menulis. Buku ini membuat saya kenyang dan lapar dalam waktu yang bersamaan. Jika di dalam Rumah Kertas saya mengagumi kegilaan para bibliofil terhadap koleksi buku mereka maka dalam The Magic Library, saya iri pada pengetahuan dua tokoh utama kita pada banyak hal yang berkaitan dengan perpustakaan dan buku. All Hail, Joinstein and Klaus!

As the blurb said, buku ini tidak hanya bercerita tentang petualangan dua anak remaja tetapi juga beberapa nama dan momen spesial dalam dunia perbukuan seperti Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey or Djuih (haha), Winnie the Pooh, Anne Frank, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film perpustakaan, penerbitan dan buanyak lagi.

Beberapa nama baru saya denger, seperti Astrid Lindgren dan Ibsen, selebihnya saya cukup tahu (baca: sedikit lupa) karena sempat mempelajarinya dua atau tiga semester lalu.


FYI, Astrid Lindgren adalah seorang penulis perempuan Swedia yang terkenal dengan buku-buku anaknya. Bukan buku-buku milik anaknya, tapi buku-buku dengan target market anak-anak, just saying. In case, kamu tertarik dengan Astrid Lindgren, kamu bisa membaca biografi lengkapnya [di tautan ini] atau kunjungi official website-nya [di tautan ini].  Sementara Ibsen atau Henrik Johan Ibsen adalah seorang dramawan, direktur teater, dan seorang penyair. Dia dikenal sebagai Bapaknya Realisme di dalam dunia teater dan juga pendiri aliran modernisme. Kamu yang menggeluti teater pasti tahu bapak kece satu ini. Kamu bisa membaca biografi lengkapnya [di tautan ini] atau [tautan ini].

Ketiga; Ending mengenai perpustakaan ajaib dan buku yang belum terbit tapi sudah menjadi harta karun untuk Bibbi Bokken maupun si Mr. Smiley. Perpustakaan dengan salah satu ruangan tempat buku yang belum terbit dipajang cantik itu ternyata benar-benar ada dan milik Bibbi Bokken. Sementara buku yang hendak diterbitkan itu adalah buku-surat milik Nils dan Berit.

Saya suka dengan cara Bibbi Bokken memberikan pancingan kepada Nils dan Berit untuk mulai menulis dengan berbagai tindak-tanduk Bibbi Bokken yang super aneh, meskipun ya itu bisa dibilang curang untuk Nils dan Berit. Begitu juga dengan konspirasi antara Mr. Bresani, suami-istri Bruum dan kenyataan bahwa Mr. Smiley yang ternyata benar-benar menjadi tokoh antagonis di dalam buku The Magic Library maupun dalam buku di dalam buku The Magic Library. Double!

Keempat dan ini yang terakhir; hal yang saya sukai dari The Magic Library adalah kenyataan bahwa Bibbi Bokken bukan benar-benar seorang bibi-bibi yang suka ngeces ketika melihat tumpukan buku, yang matanya bak piring dan terdapat buku robek di dalam tas tangannya. Kesannya nenek-nenek sekali. Di bagian menuju akhir ketika Nils dan Berit sudah menemukan si perpustakaan ajaib dan Bibbi turun dengan gaun berwarna merah itu, entah kenapa memutarbalikan imajinasi saya tentang Bibbi Bokken. Bibliografer itu berubah menjadi cantik, mirip-mirip sama Astrid Lindgren sewaktu mudalah.

Salah satu hal yang terjadi setelah saya membaca dua buku terakhir, saya menjadi lebih mencintai buku.

“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ajaib bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.” 

Selebihnya, saya merasa The Magic Library adalah buku anak yang juga nikmat untuk diseduh oleh orang-orang yang sudah bukan anak-anak atau mereka yang justru sudah beranak. Hahaha. Membaca buku ini kamu tidak hanya disuguhi oleh alur yang ciamik tapi juga informasi yang padat.

Daebaklah pokoknya mah!