Menahun

Menahun


Ruangan itu sunyi.

Anehnya, Ardhe tetap tidak bisa mendengar suara yang muncul dari piringan hitam yang dulu dibelinya bersama Shati di Lokananta itu. Entah stylus di phonograph-nya mungkin sudah menumpul sebab piringannya ia yakini masih mulus. Lelaki itu kini memandang gelisah gerak jarum jam yang berwarna hitam kemerahan sambil menggumam tak jelas, menyenandungkan tembang Guruh Gipsy yang harus dihafalnya untuk menarik perhatian orang tua Shati yang akan berkunjung nanti malam. Mereka adalah kerabat jauh keluarga Nasution.

Berurutan Nanda dan Rindra mendekati Ardhe sambil menawarkan sesuatu.

Nanda tiba dengan segelas susu di atas nampannya. Wajahnya memerengut tidak sedap dipandang. Sudah tentu ketibaannya adalah suruhan Rindra yang kini pasti dengan sibuk mencari baju hangat di kamar Ardhe. Kedua perempuan itu—Rindra saja maksudnya—memang teramat perhatian, kadang sampai Ardhe merasa khawatir Shati akan mempertanyakan kesetiaannya suatu hari.

Nanda menekuk lututnya lalu meletakkan mug di depan Ardhe dengan takut-takut. Ketika matanya hendak menyilakan untuk mencicipi, Ardhe menatapnya lekat seperti telah lama menunggu mata mereka bertemu.

“Untuk Shati?” tanyanya pelan sekali, meminta satu mug lagi.

Nanda menggigit bibirnya frustrasi sambil melirik ke arah pintu kamar Ardhe yang terbuka. “Tidak ada. Kau ingin membuat Rindra marah? Lagi pula Shati entah kapan akan kembali.”

"Lalu aku menghafal lirik-lirik lagu ini untuk apa? Dia akan datang nanti malam bersama orang tuanya!" ujar Ardhe sengit. "Dan aku akan melamarnya malam ini juga!"

"Ardhe!!!"

Ardhe meracau. Hafalannya menjadi kacau. Diangkatnya mug susu itu lalu disimpannya kembali di atas nampan. “Simpanlah untuk Shati!”

“Susunya akan cepat basi.”

“Aku tidak peduli.”

“Kau mau Shati meminum susu basi dan membiarkannya keracunan dan mati?”

Mulut Ardhe membungkam. Masih tidak ada tanda-tanda Rindra muncul dari kamarnya jadi lelaki itu kembali menatap Nanda, memintanya sekali lagi dengan ratapan. Namun Rindra nyatanya sudah berdiri di belakang kursi dan mengetahui semuanya. Tangan Rindra mengalungkan syal di leher Ardhe lalu mengecup pipinya dengan hangat seolah tidak mendengar percakapan mereka.

“Ardhe tak mau meminum susunya!” Nanda mengaku. “Katanya simpanlah untuk Shati!”

Mata Ardhe seperti hendak meloncat keluar. Kepalanya gelagapan mencari emosi di wajah Rindra yang rautnya tak sama sekali berubah. Ardhe ingin membungkam mulut Nanda dengan syalnya jika saja tangannya lebih cekatan seperti dulu. Tahun-tahun ini memang sungguh berat bagi Ardhe, Shati tak sesering dulu mengunjungi rumahnya dan itu seolah membuat tubuhnya lebih cepat menua.

“Saatnya tidur siang!” sahutan Rindra selalu penuh misteri sebab siapa pun sudah tahu ia adalah pemendam yang ulung, mungkin saja kini hatinya sudah terbakar cemburu. “Aku tidak apa-apa!” bibirnya tersenyum seraya menarik tubuh Ardhe untuk bangun. Memapahnya dengan sabar menuju kamar.

Selalu ada sihir di wajah Rindra, itu yang dipahami Ardhe setiap melihat wajah perempuan itu. Semacam sihir yang mengingatkannya pada masa dulu, masa-masa yang terasa asing di ingatannya tapi begitu akrab di dalam batinnya. Wajah Rindra selalu mengantarkan Ardhe pada perasaan nyaman dan menemukan, perasaan yang sama setiap ia mengingat Shati.

Kain gorden di jendela Ardhe tertiup angin. Sinar matahari yang terik menyeruak masuk meski hawa tetap seperti habis diguyur hujan. Hawa yang membuat Shati dulu pernah berkata ingin menghabiskan waktunya sampai tiada di tanah kelahiran Ardhe, di sisi Ardhe, di dalam hati Ardhe.

Ardhe menatap cemas jarum jam berwarna biru tua di dinding kamarnya. Ardhe menatap cemas bayangan pagar rumahnya di kaca jendela. Ardhe menatap dengan cemas wajah Rindra yang membuatnya sangat merindukan Shati.

“Ia akan kembali!” Rindra menarikkan selimut untuk Ardhe. “Sha-ti.”

Ketika itu terjadi, suara tembang Guruh Gipsy terdengar—gamelan yang berpadu dengan harmonisasi musik klasik Eropa. Ardhe menarik senyumnya, tahu bahwa Shati benar-benar akan kembali. Sayangnya Ardhe tidak benar-benar tahu bahwa perempuan itu hanya mampu kembali dalam halusinasi dan mimpi-mimpinya saja.

Di luar pintu kamar Ardhe, Rindra menangis hebat.

Nanda menawarkannya tisu dan segelas air. “Aku lelah mengurusi kenangan-kenangan yang bajingan itu, Rindra!” sungut Nanda tak tahan. “Apa yang ada di otak Ardhe? Shati! Shati! Shati! Dia sudah pergi!”

“Hentikan, Nanda! Hentikan!”

"Aku lelah mengurus Ardhe! Aku lelah berpura-pura bahwa Shati masih ada!"

"Kita darah daging mereka!" Rindra melayu.

Nanda terhenyak. "Aku hanya lelah menjadi orang lain, Rindra." Ia termenung di samping tubuh Rindra yang melorot ke lantai.

Mereka duduk lama dalam diam, menatap beberapa botol obat depresan milik Ardhe, buket bunga kering bertuliskan nama Shati dan sebuah figura tempat potret mereka berdua terpasang, bersama dua gadis kecil bernama Rindra dan Nanda.

Di atas kabinet, sejak bertahun-tahun yang lalu.


***




Post a Comment

0 Comments