Lasa yang Lain

Lasa yang Lain


Aku kelelahan dan tertidur di kursi tunggu stasiun kereta. Lasa dalam rupa yang berbayang-bayang menghampiriku setengah berlari, tangannya terentang lebar. Kusunggingkan segaris senyum dan berusaha dengan keras untuk menyambut rentangan tangannya tapi rasa kantuk itu semakin menjadi. Setelah mataku benar-benar tertutup, tak ada lagi yang kudengar selain suara Lasa memanggil-manggil namaku dengan khawatir.

Lasa, aku hanya mengantuk!

Lamat suara-suara bising memecah keheninganku. Mataku terbuka ketika tubuhku berguncang-guncang. Ada suara kereta berdecit dan hampir saja aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi andai seorang bapak tua berjanggut uban mengatakan bahwa perjalanan kereta sembilan jam dari Bandung sudah sampai di Tugu yang basah karena diguyur hujan.

Jadi tadi aku hanya bermimpi!

Tak ada Lasa di ujung lorong halaman depan stasiun yang cukup lowong. Suara hujan semakin terdengar berisik. Aku terdampar di lantai stasiun sambil berharap cemas Lasa tak menjemputku sebelum gelap tiba. Namun perempuan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai kantuk menyerangku dengan brutal, dari jauh kutemukan tubuh kurus Lasa berjalan.

De Javu!

Tapi tak ada senyum manis Lasa. Tangannya tergantung kaku di samping tubuhnya sementara jalannya seperti pengemis ringkih yang kelaparan.

Kantukku menguap.

“Lasaaaa!” Aku menyerangnya dengan pelukan terlebih dahulu. Tak ada rindu yang bisa kusembunyikan untuknya setiap kali bertemu. “Kok lama sih? Kan tadi janji jemput jam setengah lima!”

Hujan hampir selesai tapi tidak kebungkaman Lasa.

“Aku kangen Bude. Aku kangen nasi kucing di angkringkan Mas Garin!” Aku meracau sendiri meski kediaman Lasa sempat membungkam kerianganku bertemu dengannya setelah hampir tiga semester berpisah. “Dari rumahmu ke Solo jauh gak, sih, Sa? Pengen hunting foto di royal wedding-nya putra presiden!” kutenteng kameraku dengan bangga.

Lasa menyahut sangat pendek. Mirip lenguhan sebenarnya. Tapi senyumnya kulihat terpasang meski tak seindah biasanya. Matanya basah seperti trotoar Malioboro yang kami jelajahi.

“Selfie, yuk!” Aku berinisiatif memecah kekakuan ini. Keadaan seperti ini membuatku tidak nyaman. Ada hal-hal seperti perselisihan kami di masa lalu yang kembali mengambang di dalam otakku.

Lasa seperti sedikit terganggu ketika kupeluk bahunya. Rambutnya yang hitam panjang menyentuh kulit pipiku dan terasa begitu lepek.  Tubuh kami berdempetan sampai kuangkat kameraku ke atas dan memberinya aba-aba untuk tersenyum.

“Cheese!”

Kali ini Lasa terkekeh, “Cheese!” Wajah datarnya mulai tampak berekspresi meski terasa minim sekali.

“Sekali lagi?”

Aku berniat meraih bahunya tapi Lasa cepat berkelit.

Lama kami terdiam. Lasa kembali seperti mengabaikan kehadiranku, dingin dan tidak sehangat tadi pagi. Mungkin karena tadi pagi kami bercakap-cakap lewat telepon jadi aku tak bisa melihat ekspresi yang sebenar-benarnya. Aku menyerah. Ini pasti berhubungan dengan Mas Garin.

“Sa, aku kangen sama kamu!” kutarik pergelangan tangannya. “Kamu masih berpikir kalau aku suka sama Mas Garin-mu? Demi Allah, Sa, aku cuma suka... sama masakannya aja. Kamu tahu sendiri aku punya pacar di Bandung.”

Lasa menatapku lekat, matanya merah dan basah.

“Kita langsung pergi ke rumahmu, yuk! Udah mau magrib!”

Lasa masih bergeming di depan sebuah butik batik. Aku merengkuh bahunya dan menggiringnya ke tepi jalan setelah mendapatkan taksi. Kami duduk terdiam di dalam. Aku mulai tidak menikmati perjalanan karena hari sudah begitu gelap.

Ponselku bergetar. Nama Mas Garin muncul di layar panggilan. Aku menoleh pada Lasa yang tahu-tahu sedang menatapku dengan ekspresi yang sulit kupahami. Jadi kudiamkan saja panggilan itu sampai mati sendiri.

Begitu juga untuk yang kedua kalinya.

Ketiga kalinya.

... kali ini hanya sebuah pesan di bbm.

Rissa, maaf Mas nggak bisa jemput kamu di stasiun. Kalau sudah sampai langsung mampir ke Bathesda(1), ya. Lasa koma, kecelakaan waktu mau jemput kamu tadi.

Deg! Jantungku shock. Pernapasanku seperti gagal bekerja. Kulirik seseorang menyerupai Lasa dengan ekor mataku dan dia tampak nyata. Aku ingin tertawa tapi tertahan, Mas Garin pasti sedang mengerjaiku. Tapi ketika kulihat beberapa foto kami yang kuambil di trotoar Malioboro beberapa saat yang lalu, hanya ada fotoku sendiri di sana.

Tersenyum seperti orang tidak waras sambil merengkuh udara.


***



(1) nama rumah sakit

Post a Comment

0 Comments