June 09, 2015

,
Lasa yang Lain


Aku kelelahan dan tertidur di kursi tunggu stasiun kereta. Lasa dalam rupa yang berbayang-bayang menghampiriku setengah berlari, tangannya terentang lebar. Kusunggingkan segaris senyum dan berusaha dengan keras untuk menyambut rentangan tangannya tapi rasa kantuk itu semakin menjadi. Setelah mataku benar-benar tertutup, tak ada lagi yang kudengar selain suara Lasa memanggil-manggil namaku dengan khawatir.

Lasa, aku hanya mengantuk!

Lamat suara-suara bising memecah keheninganku. Mataku terbuka ketika tubuhku berguncang-guncang. Ada suara kereta berdecit dan hampir saja aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi andai seorang bapak tua berjanggut uban mengatakan bahwa perjalanan kereta sembilan jam dari Bandung sudah sampai di Tugu yang basah karena diguyur hujan.

Jadi tadi aku hanya bermimpi!

Tak ada Lasa di ujung lorong halaman depan stasiun yang cukup lowong. Suara hujan semakin terdengar berisik. Aku terdampar di lantai stasiun sambil berharap cemas Lasa tak menjemputku sebelum gelap tiba. Namun perempuan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai kantuk menyerangku dengan brutal, dari jauh kutemukan tubuh kurus Lasa berjalan.

De Javu!

Tapi tak ada senyum manis Lasa. Tangannya tergantung kaku di samping tubuhnya sementara jalannya seperti pengemis ringkih yang kelaparan.

Kantukku menguap.

“Lasaaaa!” Aku menyerangnya dengan pelukan terlebih dahulu. Tak ada rindu yang bisa kusembunyikan untuknya setiap kali bertemu. “Kok lama sih? Kan tadi janji jemput jam setengah lima!”

Hujan hampir selesai tapi tidak kebungkaman Lasa.

“Aku kangen Bude. Aku kangen nasi kucing di angkringkan Mas Garin!” Aku meracau sendiri meski kediaman Lasa sempat membungkam kerianganku bertemu dengannya setelah hampir tiga semester berpisah. “Dari rumahmu ke Solo jauh gak, sih, Sa? Pengen hunting foto di royal wedding-nya putra presiden!” kutenteng kameraku dengan bangga.

Lasa menyahut sangat pendek. Mirip lenguhan sebenarnya. Tapi senyumnya kulihat terpasang meski tak seindah biasanya. Matanya basah seperti trotoar Malioboro yang kami jelajahi.

“Selfie, yuk!” Aku berinisiatif memecah kekakuan ini. Keadaan seperti ini membuatku tidak nyaman. Ada hal-hal seperti perselisihan kami di masa lalu yang kembali mengambang di dalam otakku.

Lasa seperti sedikit terganggu ketika kupeluk bahunya. Rambutnya yang hitam panjang menyentuh kulit pipiku dan terasa begitu lepek.  Tubuh kami berdempetan sampai kuangkat kameraku ke atas dan memberinya aba-aba untuk tersenyum.

“Cheese!”

Kali ini Lasa terkekeh, “Cheese!” Wajah datarnya mulai tampak berekspresi meski terasa minim sekali.

“Sekali lagi?”

Aku berniat meraih bahunya tapi Lasa cepat berkelit.

Lama kami terdiam. Lasa kembali seperti mengabaikan kehadiranku, dingin dan tidak sehangat tadi pagi. Mungkin karena tadi pagi kami bercakap-cakap lewat telepon jadi aku tak bisa melihat ekspresi yang sebenar-benarnya. Aku menyerah. Ini pasti berhubungan dengan Mas Garin.

“Sa, aku kangen sama kamu!” kutarik pergelangan tangannya. “Kamu masih berpikir kalau aku suka sama Mas Garin-mu? Demi Allah, Sa, aku cuma suka... sama masakannya aja. Kamu tahu sendiri aku punya pacar di Bandung.”

Lasa menatapku lekat, matanya merah dan basah.

“Kita langsung pergi ke rumahmu, yuk! Udah mau magrib!”

Lasa masih bergeming di depan sebuah butik batik. Aku merengkuh bahunya dan menggiringnya ke tepi jalan setelah mendapatkan taksi. Kami duduk terdiam di dalam. Aku mulai tidak menikmati perjalanan karena hari sudah begitu gelap.

Ponselku bergetar. Nama Mas Garin muncul di layar panggilan. Aku menoleh pada Lasa yang tahu-tahu sedang menatapku dengan ekspresi yang sulit kupahami. Jadi kudiamkan saja panggilan itu sampai mati sendiri.

Begitu juga untuk yang kedua kalinya.

Ketiga kalinya.

... kali ini hanya sebuah pesan di bbm.

Rissa, maaf Mas nggak bisa jemput kamu di stasiun. Kalau sudah sampai langsung mampir ke Bathesda(1), ya. Lasa koma, kecelakaan waktu mau jemput kamu tadi.

Deg! Jantungku shock. Pernapasanku seperti gagal bekerja. Kulirik seseorang menyerupai Lasa dengan ekor mataku dan dia tampak nyata. Aku ingin tertawa tapi tertahan, Mas Garin pasti sedang mengerjaiku. Tapi ketika kulihat beberapa foto kami yang kuambil di trotoar Malioboro beberapa saat yang lalu, hanya ada fotoku sendiri di sana.

Tersenyum seperti orang tidak waras sambil merengkuh udara.


***



(1) nama rumah sakit

June 06, 2015

,
Menahun


Ruangan itu sunyi.

Anehnya, Ardhe tetap tidak bisa mendengar suara yang muncul dari piringan hitam yang dulu dibelinya bersama Shati di Lokananta itu. Entah stylus di phonograph-nya mungkin sudah menumpul sebab piringannya ia yakini masih mulus. Lelaki itu kini memandang gelisah gerak jarum jam yang berwarna hitam kemerahan sambil menggumam tak jelas, menyenandungkan tembang Guruh Gipsy yang harus dihafalnya untuk menarik perhatian orang tua Shati yang akan berkunjung nanti malam. Mereka adalah kerabat jauh keluarga Nasution.

Berurutan Nanda dan Rindra mendekati Ardhe sambil menawarkan sesuatu.

Nanda tiba dengan segelas susu di atas nampannya. Wajahnya memerengut tidak sedap dipandang. Sudah tentu ketibaannya adalah suruhan Rindra yang kini pasti dengan sibuk mencari baju hangat di kamar Ardhe. Kedua perempuan itu—Rindra saja maksudnya—memang teramat perhatian, kadang sampai Ardhe merasa khawatir Shati akan mempertanyakan kesetiaannya suatu hari.

Nanda menekuk lututnya lalu meletakkan mug di depan Ardhe dengan takut-takut. Ketika matanya hendak menyilakan untuk mencicipi, Ardhe menatapnya lekat seperti telah lama menunggu mata mereka bertemu.

“Untuk Shati?” tanyanya pelan sekali, meminta satu mug lagi.

Nanda menggigit bibirnya frustrasi sambil melirik ke arah pintu kamar Ardhe yang terbuka. “Tidak ada. Kau ingin membuat Rindra marah? Lagi pula Shati entah kapan akan kembali.”

"Lalu aku menghafal lirik-lirik lagu ini untuk apa? Dia akan datang nanti malam bersama orang tuanya!" ujar Ardhe sengit. "Dan aku akan melamarnya malam ini juga!"

"Ardhe!!!"

Ardhe meracau. Hafalannya menjadi kacau. Diangkatnya mug susu itu lalu disimpannya kembali di atas nampan. “Simpanlah untuk Shati!”

“Susunya akan cepat basi.”

“Aku tidak peduli.”

“Kau mau Shati meminum susu basi dan membiarkannya keracunan dan mati?”

Mulut Ardhe membungkam. Masih tidak ada tanda-tanda Rindra muncul dari kamarnya jadi lelaki itu kembali menatap Nanda, memintanya sekali lagi dengan ratapan. Namun Rindra nyatanya sudah berdiri di belakang kursi dan mengetahui semuanya. Tangan Rindra mengalungkan syal di leher Ardhe lalu mengecup pipinya dengan hangat seolah tidak mendengar percakapan mereka.

“Ardhe tak mau meminum susunya!” Nanda mengaku. “Katanya simpanlah untuk Shati!”

Mata Ardhe seperti hendak meloncat keluar. Kepalanya gelagapan mencari emosi di wajah Rindra yang rautnya tak sama sekali berubah. Ardhe ingin membungkam mulut Nanda dengan syalnya jika saja tangannya lebih cekatan seperti dulu. Tahun-tahun ini memang sungguh berat bagi Ardhe, Shati tak sesering dulu mengunjungi rumahnya dan itu seolah membuat tubuhnya lebih cepat menua.

“Saatnya tidur siang!” sahutan Rindra selalu penuh misteri sebab siapa pun sudah tahu ia adalah pemendam yang ulung, mungkin saja kini hatinya sudah terbakar cemburu. “Aku tidak apa-apa!” bibirnya tersenyum seraya menarik tubuh Ardhe untuk bangun. Memapahnya dengan sabar menuju kamar.

Selalu ada sihir di wajah Rindra, itu yang dipahami Ardhe setiap melihat wajah perempuan itu. Semacam sihir yang mengingatkannya pada masa dulu, masa-masa yang terasa asing di ingatannya tapi begitu akrab di dalam batinnya. Wajah Rindra selalu mengantarkan Ardhe pada perasaan nyaman dan menemukan, perasaan yang sama setiap ia mengingat Shati.

Kain gorden di jendela Ardhe tertiup angin. Sinar matahari yang terik menyeruak masuk meski hawa tetap seperti habis diguyur hujan. Hawa yang membuat Shati dulu pernah berkata ingin menghabiskan waktunya sampai tiada di tanah kelahiran Ardhe, di sisi Ardhe, di dalam hati Ardhe.

Ardhe menatap cemas jarum jam berwarna biru tua di dinding kamarnya. Ardhe menatap cemas bayangan pagar rumahnya di kaca jendela. Ardhe menatap dengan cemas wajah Rindra yang membuatnya sangat merindukan Shati.

“Ia akan kembali!” Rindra menarikkan selimut untuk Ardhe. “Sha-ti.”

Ketika itu terjadi, suara tembang Guruh Gipsy terdengar—gamelan yang berpadu dengan harmonisasi musik klasik Eropa. Ardhe menarik senyumnya, tahu bahwa Shati benar-benar akan kembali. Sayangnya Ardhe tidak benar-benar tahu bahwa perempuan itu hanya mampu kembali dalam halusinasi dan mimpi-mimpinya saja.

Di luar pintu kamar Ardhe, Rindra menangis hebat.

Nanda menawarkannya tisu dan segelas air. “Aku lelah mengurusi kenangan-kenangan yang bajingan itu, Rindra!” sungut Nanda tak tahan. “Apa yang ada di otak Ardhe? Shati! Shati! Shati! Dia sudah pergi!”

“Hentikan, Nanda! Hentikan!”

"Aku lelah mengurus Ardhe! Aku lelah berpura-pura bahwa Shati masih ada!"

"Kita darah daging mereka!" Rindra melayu.

Nanda terhenyak. "Aku hanya lelah menjadi orang lain, Rindra." Ia termenung di samping tubuh Rindra yang melorot ke lantai.

Mereka duduk lama dalam diam, menatap beberapa botol obat depresan milik Ardhe, buket bunga kering bertuliskan nama Shati dan sebuah figura tempat potret mereka berdua terpasang, bersama dua gadis kecil bernama Rindra dan Nanda.

Di atas kabinet, sejak bertahun-tahun yang lalu.


***




Follow Us @soratemplates