Sawarna Side Story - Part 2


Kami sekelas dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari data penelitian tentang bahasa yang digunakan secara spesifik di desa Sawarna. Pemilihan desa ini sebagai basis penelitian bisa dibilang karena ‘kecelakaan’ karena awalnya kami akan pergi ke Karimun Jawa namun karena berbagai pertimbangan ditambah keterbatasan informasi akhirnya kami memilih desa ini. Sekalian traveling.

Kelompok saya terdiri dari lima orang. Empat perempuan dan sisa satu laki-laki, yaitu saya. Mereka adalah Dina Rosdiana, Dina Manda Putri, Prifta Alina dan Marjan Risnayanti. Sayang, saya tidak sempat mengambil foto kami berlima sebab perbedaan tempat menginap dan jalur penelitian. Saya beserta Dina Rosdiana mengambil dua kriteria informan yang berbeda dengan Prifta, Manda dan Marjan. Ya, kami memecah kembali kelompok kami menjadi dua untuk mengefektifkan waktu penelitian.

Saya masih ingat ketika saya dan Dina Rosdiana mulai keluar dari daerah penginapan dan melangkahkan kaki di jalan setapak yang hampir tiap sisinya dibangun homestay untuk pengunjung. Mencari informan. Kami langsung bingung karena tidak tahu medan dan tidak begitu bisa membedakan mana masyarakat asli dan pendatang karena mereka membaur. Pada akhirnya, kami mengambil arah menuju pantai Sawarna. Tak seberapa jauh dari gerbang—sederhana—menuju pantai, kami berhenti di sebuah warung yang kami yakini adalah milik masyarakat pribumi.

Benar! Ada seorang bapak tua yang sedang menunggu warung beserta cucunya. Sayang, kami ditolak melakukan serangkaian penelitian—observasi dan wawancara langsung. Karena tidak ingin rugi, akhirnya kami meminta tolong untuk menunjukkan masyarakat pribumi yang sesuai dengan kriteria informan yang kami cari.

Dapat!

Beliau adalah seorang Bapak tua. Saya lupa namanya tapi Dina Rosdiana masih menyimpan arsip penelitian kami jika kamu penasaran. Hehe. Beliau seorang kepala keluarga, memiliki cukup banyak anak dari dua istri—istri pertama sudah meninggal. Tinggal di sebuah rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari bilik kayu dan atap daun-daunan entah apa. Tapi halaman rumah Bapak ini cukup luas. Sebagian menjadi kebun singkong. Ada dua buah balai menuju rumah Bapak tua ini serta bangunan khusus yang dipergunakan sebagai dapur, terpisah dari tempat tinggal utama.

Kesan pertama yang saya dapat, Bapak ini sangat ramah, bahkan beliau berusaha untuk menggunakan bahasa yang halus meski bahasa Sunda yang digunakan di daerah Banten terbilang cukup kasar jika dibandingkan dengan bahasa Sunda Periangan yang mengadopsi speech level dari bahasa Jawa.

Penelitian kami diawali dengan bertanya tentang informasi pribadi. Wawancara tentang berbagai hal yang menyangkut bahasa dan hubungannya dengan kondisi sosial di Sawarna—karena kajian utama kami adalah Sosiolinguistik—seperti penggunaan bahasa yang dominan, sikap bahasa serta bagaimana bahasa Sunda berkembang di dalam rumahnya.

Menyenangkan sebenarnya bisa bertemu dengan orang baru yang meski memiliki akar budaya yang sama tapi dibumbui oleh perbedaan. Dialek.

Selepas berwawancara dengan informan pertama, kami beristirahat untuk salat zuhur lalu kembali mencari informan kedua yang kriterianya cukup menyulitkan pencarian kami. Singkatnya, untuk mencari informan kedua ini kami sampai berjalan lumayan jauh dan yang paling hectic adalah harus melewati jembatan gantung sebanyak tiga kali! Errr, apalagi ketika menyeberang kami harus berbagi lebar jalan yang tidak seberapa itu dengan pengguna motor.

Informan kedua kami dapat. Seorang Kepsek di salah satu sekolah dasar negeri di desa Sawarna. Memang tidak sesuai dengan kriteria yang kami cari. Namun begitulah pencarian, kadang kita dipertemukan dengan orang yang tidak sesuai keinginan tapi cukup meringankan beban. Halah. Beruntungnya, ketika melakukan penelitian dengan Bapak Kepala Sekolah ini, kami diajak masuk ke pekarangan belakang rumahnya yang adem.

Sekujur tubuh kami yang basah dan lengket oleh keringat—saya tidak bisa membayangkan bagaimana penampilan saya yang begitu berantakannya saat itu—langsung meleleh ketika mendapat embusan hawa yang segar dan adem.

Huahhh.

Setelah mendapat informan sebagai subjek penelitian kami, kami kembali ke homestay untuk istirahat dan makan siang. Menunggu sore lalu inilah bagian yang paling saya suka. Jadi anak pantai! Yeay!!!

Ada dua pantai yang terbentang, kami menyusurinya satu-satu.


Mula-mula kami tiba di pantai pasir putih. Lumayan cukup jauh letaknya dari homestay kami. Untuk sampai di pantai ini, kami berjalan kaki. Mulai mendekati pantai, tanah yang kami injak berubah menjadi pasir. Putih sekali tapi tidak seperti air putih. Lol. Di pantai ini, kami sempat bermain air dan sesekali mengambil swafoto maupun foto bersama.

Pasirnya putih. Bagus. Sejauh pengamatan saya sih tidak ada sampah kecuali beberapa ranting dan dedaunan pohon. Ombaknya tidak terlalu besar, air sedang surut. Sensasi menggelitik tiba di kaki saya ketika ombak itu masuk ke tepian. Sudah lama tidak ke pantai, saya sendiri lupa kapan terakhir ke pantai. Empat belas tahun lalu?

Puas dengan si pantai putih. Belum begitu puas juga sih. Kami berjalan menyusuri pantai menuju pantai Tanjung Layar. Menyusuri jalanan berpasir yang dihiasi karang-karang. Semakin dekat ke pantai Tanjung Layar, semakin banyak karang yang kami jumpai. Dan voila, kami sampai sebelum matahari terbenam dan air masih surut.

karang... karang... karang everywhere
Pantai Tanjung Layar jaraknya sekitar satu kilometer dari Pantai Pasir Putih. Terletak di tanjung—bagian daratan yang menjorok ke laut. Ada sebuah karang tinggi, dua jumlahnya, berdiri seperti layar perahu. Karena kedua hal itu akhirnya pantai ini dinamai Tanjung Layar.

Dari tepian pantai sampai ke Karang yang berbentuk layar itu kami harus berjalan melewati air laut yang surut. Sebenarnya alas yang kami injak lebih menyerupai lantai karena terbentuk dari karang-karang datar meski ada beberapa titik yang berbeda ketinggian seperti lubang. Begitu juga di daratan yang terhampar di sekitar Karang Layar, di tempat ini bentuknya menyerupai lantai semen yang sengaja dibuat.

Di tempat ini pun selain menikmati keindahan, kami menunggu momen sunset untuk mendapat swafoto dan foto bersama terbaik. Yah, apalagi yang bisa kami lakukan selain foto selfie pakai tongsis. Hahaha.


Menjelang maghrib, kami terpaksa harus kembali menyeberang lautan menuju pantai atau daratan. Cukup menyulitkan karena air pasang cukup tinggi. Ketika kami pergi, air hanya setinggi mata kaki tapi ketika kami pulang, air sudah pasang setinggi pinggang. Waw!

Ketika menyeberang, kami harus meraba-raba alas dengan kaki karena tidak tahu bagaimana kondisi di bawah. Apakah ada lubang atau.... bulu babi? Hiiii! Akhirnya kami berpegangan seperti kereta... atau seperti anak kecil menyeberangi jalan besar. Hahaha.

Ternyata tidak mudah menyeberang pulang ke darat dengan kondisi air pasang. Celana saya basah sampai pinggang dan dompet saya juga basah kuyup di dalam saku. Beruntungnya ponsel saya lebih dulu diselamatkan dan dititipkan pada tas tangan teman.

Fyuhhh!

Sesampainya di daratan, kami kembali menyusuri pesisir hingga kembali ke titik pantai pertama, Pantai Pasir Putih. Langit mulai gelap dan sungguh, matahari terbenamnya keren sekali. Saya pulang dengan tiga orang teman, Annisa Dwi Septiani, Susiani dan Dedah. Satu lagi teman yang astral dan tidak bisa dilihat; tertawaan. Ya, kami tertawa sepanjang jalan pulang karena hal-hal konyol yang kami perbincangkan. Ah, kangen suasana itu.


Sesampainya di homestay, saya langsung membasuh kaki dan mandi lalu salat magrib. Tiduran sampai sekitar selepas Isya ketika di halaman homestay ada keramaian yang cukup memekakan telinga. Ngantuk berat. Bahkan teman sekamar saya susah dibangunkan dan tidak ada yang bangun. Zainal, Fersil dan Reza.

Beberapa saat kemudian setelah berhasil mengumpulkan nyawa, dengan mata berkunang-kunang saya menyusul Reza yang lebih dulu ke luar kamar dan bergabung dengan yang lain. Bedanya saya tiduran lagi di lantai teras sambil menonton anak-anak perempuan yang sedang main UNO.

Semakin larut malah jadinya semakin susah tidur. Akhirnya saya ikutan main UNO yang banyak sekali diselingi tawa dan canda. Mungkin ini sebagai pelampiasan karena selama di Bandung hidup kami hanya diisi dengan tugas-observasi-bikin-makalah-dan-presentasi di dalam kelas. Sambil menyemil jagung bakar yang sudah disediakan pihak travel tentunya.

Menjelang pukul sebelas, saya pamit lebih dulu untuk tidur karena tidak ingin kesiangan untuk melihat matahari terbit. Berakhirlah hari yang penuh dengan keringat dan ketawa itu. Kami masih menyisakan satu hari lagi di Desa Sawarna sebelum kembali ke Bandung.

Hmmm.


***

Post a Comment

0 Comments