Sawarna Side Story - Part 1


Hal pertama yang muncul di benak saya ketika mendengar nama Banten adalah debus. Serius! Lantas, ketika mata kuliah Sosiolinguistik pada akhirnya menunjuk salah satu desa di provinsi itu sebagai tempat penelitian bahasa membuat saya sempat terpikir; apa mungkin sesampainya nanti kita di sana akan disambut dengan penampilan debus?

Tepatnya awal bulan ini saya beserta rombongan dua kelas dari Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melakukan penelitian di Banten, khususnya di desa Sawarna, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak. Pemilihan tempat ini tidak serta-merta ditunjuk dengan mudah. Sebelumnya, Karimun Jawa menjadi pilihan yang paling kuat.

Sawarna sebagai mana daerah tepi pantai memiliki suhu yang sangat panas bagi saya. Oke, cerita tentang desa ini akan saya buat dalam postingan yang berbeda nanti.

Kami berangkat menuju Sawarna dari Bandung pada hari Sabtu, tepatnya tanggal 4 April pukul setengah satu dini hari. Meeting Point terletak di pelataran depan Mesjid Al-Furqon, Universitas Pendidikan Indonesia. Saya berangkat dari indeks sekitar pukul setengah dua belas malam dengan beberapa teman yang kosannya tidak terlalu jauh. Beruntungnya, kami sampai berbarengan dengan kedatangan lima minibus yang akan mengantar kami ke Bayah.


Kondisi minibus yang kami tumpangi sangat nyaman; dari salah satu travel agen ternama di Bandung. Saya lupa namanya apa, tapi dari bisik-bisik yang saya dengar, pemiliknya adalah saudara jauh peserta Big Brother yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti tayangan tersebut.

Di awal perjalanan saya masih merasa cukup was-was. Saya belum terbiasa bepergian jauh, ini adalah kali ke dua. Kali pertama ketika harus mengikuti salah satu kegiatan kepenulisan yang diadakan oleh penerbit Diva Press di Jogjakarta. Selain itu, saya tidak yakin kondisi tubuh saya baik-baik saja.

Minibus yang kami tumpangi berhenti dua kali. Kali pertama untuk istirahat salat subuh di perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Ketika matahari terbit, mobil kami sedang melaju di atas jalanan berbukit yang kemiringannya mencapai empat puluh lima derajat bahkan lebih. Gila! Akan tetapi, pemandangan yang terlihat dari kaca mobil sangatlah menakjubkan. Tidak lama dari sarapan cahaya matahari, kami kembali turun untuk sarapan yang sebenarnya.

Pada pemberhentian kedua, saya kira kami sudah sampai. Kalkulasi waktu yang telah ditempuh dari titik pemberangkatan sudah melewati masa enam jam. Sayangnya, masih ada jarak dua jam lagi untuk bisa beristirahat dengan tenang di penginapan.

Mobil kembali berjalan. Jalanan yang sudah naik turun, tambah mengerikan hingga menyerupai jalur roller coaster. Selain tingkat kemiringannya yang ajib, ada beberapa meter jalan yang menyuguhkan kami pemandangan jurang-jurang nan ditutupi pepohonan lebat. Namun setelah melewati rintangan itu, mata saya tak lama kemudian menemukan rumah-rumah warga yang berderet tidak rapi dengan bau menyengat campuran laut, bau hutan, dan ikan asin.

Wuh, akhirnya sampai juga!

Sekitar pukul delapan pagi, informasi dari jam tangan saya. Saya turun dengan ragu karena begitu keluar terik matahari langsung terasa membakar tubuh saya. Padahal baru jam delapan! Akhirnya saya meneduh pada bayangan mobil, tapi tidak juga membantu. Mungkin karena Sawarna adalah desa pesisir, tepat di tepi laut, jadi suhu udaranya panas sekali. Padahal beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat menemukan prediksi cuaca hujan kecil di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Duh!

Penyiksaan panasnya Sawarna belum berakhir ketika seseorang menginformasikan bahwa kami salah parkir. Area homestay berada sekitar lima hingga enam menit di belakang. Terpaksa kami masuk kembali ke dalam mobil dengan tubuh lengket dan bersabar hingga akhirnya sampai tujuan.

Saya kira semua penyiksaan ini sudah berakhir. Namun, rintangan yang melelahkan kembali muncul. Jembatan gantung penghubung jalan raya dengan area homestay. Gila sih ini. Jembatannya dalam kondisi yang tidak cukup baik dan ramai pengguna. Selama melewati jembatan yang ekstrem ini, saya cuma bisa berharap tidak ada kaki-kaki nakal yang menggoyang-goyangkannya. Tetapi, kondisi yang berbeda saya rasakan ketika sudah sampai di tepian, perasaan ingin menjahili yang masih tertinggal dengan menggoyang-goyangkan jembatan itu. Haha.

Sesampainya di homestay, kami has menunggu tamu lain check out. Jadi walhasil, kami duduk-duduk terlebih dahulu di teras depan sambil brunch dan tukar makanan untuk mengganjal perut. Sebab waktu yang kami punya di tempat ini sebentar. Kami harus segera bergegas mempersiapkan diri untuk mencari data penelitian di lapangan.

fin

Post a Comment

0 Comments