December 26, 2015

,
Tidak lebih dari seminggu lagi tahun 2015 berakhir. Ngomong-ngomong soal resolusi buat tahun depan yang segunung, saya jadi tertarik untuk mereview target-target tahun 2015 yang apalah kepelesetnya jauh banget. Apalagi jika melihat dua tahun sebelumnya, pencapaian saya lumayan alhamdulillah dari pada tahun ini.

Pertama, tahun ini target saya rampungin dua novel yang sudah lama ngebangke di laptop. Usaha menuju hal yang mulia tersebut terganggu oleh jadwal kuliah tingkat tiga yang padat minta ampun. Alih-alih karena malas sebenarnya. Alhasil, novel-novel tersebut cuma jadi folder-folder yang bikin sesak memori. Semoga tahun depan bisa diusaikan, sejujurnya saya juga lelah terus menunda-nunda. Apalagi sama naskah bimbingan #KampusFiksi yang keukeuh pengen saya revisi besar-besaran tapi entah kenapa ini tangan berat banget buat mencet-mencet keyboard padahal konsep dasarnya sudah lumayan matang.

Kedua, target baca saya juga melenceng jauuuh sekali. Tahun lalu lumayan banyak novel yang saya baca, oleh karena itu pas awal tahun berani bikin target yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Etdah, ternyata nyampe setengahnya pun takde lah. Macam mana ini. Selain budget yang biasanya buat beli novel terpakai buat segala urusan kuliah semacam KKN dan tetek bengeknya, ternyata saya juga malas pinjem novel dari perpustakaan karena yang buku-buku sumber buat proposal skripsi lebih dulu memaksa saya buar mendekat. Meskipun buku-buku tersebut pada akhirnya tidak saya baca juga. Duh, nak! Haha

Itu baru dua target yang melenceng. Tapi yasudahlah, kita tutup saja luka masa lalu. Hayu kita liat apa saja pencapaian tahun 2015 ini yang berhasil membuat hidup saya lebih berwarna!

Pertama, Saya merasa banyak kegagalan di tahun ini membuat saya memiliki tujuan hidup yang lebih jelas di tahun-tahun mendatang. ceilah. Tapi seriusan, rasanya beberapa hal sekarang -di akhir tahun ini- mulai bisa diatur. termasuk mimpi saya untuk menjadi alien seutuhnya, alam mulai memberikan tanda-tanda yang menggiring saya ke arah sana. *abaikan kalimat terakhir ini*

Eh, yang tersebut di atas itu keitung pencapaian nggak sih? anggap saja seperti itu. Haha

Kedua, di tahun ini pertama kalinya saya pergi ke Sawarna dan Semarang. Kedua-duanya untuk tujuan akademik plus liburan. Sawarna dan Semarang sama-sama tempat wisata menarik yang panasnya minta ampun. Mungkin karena sudah cukup lama terbiasa dengan hawa Bandung yang adem. Tinggal beberapa hari saja di Sawarna dan Semarang bikin saya sedikit kapok. Tapi menyenangkan bisa mengeksplore kedua tempat itu.

Ketiga, masih nyambung dengan poin dua di atas. Saya merasa status mahasiswa saya lebih diakui pada tahun ini. Haha. Sebab di tahun ini saya setidaknya pernah melakukan penelitian sekaligus menjadi pembicara di seminar tingkat internasional dengan subjek kebahasaan. Penelitian dilakukan di Sawarna sementara seminar internasionalnya dihelat di Semarang. Wuah, ini adalah dua pengalaman yang benar-benar memberikan saya banyak pelajaran.

Keempat, ini adalah klimaks dari tahun ini... Saya sudah tahu kemana saya akan membawa SKRIPSI saya tahun depan. Ya, semoga tidak meleset dan dipermudah sama yang di Atas.

Terakhir, pencapaian-pencapaian ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan orang tua dan teman-teman, haha. Mereka menjadi alasan utama kenapa saya terus memasang target dan berusaha menjadi orang yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Doakan, saya! Semoga tahun depan banyak target yang tercapai, termasuk wisuda di pertengahan tahun. Hwaitiiinggg! :))



-Shan-

November 24, 2015

,
Saya sudah menjadi penggemar berat Kim So-Hyun sejak artis kelahiran tahun 1999 ini memerankan tokoh Lee Soo-Yeon kecil dalam drama I Miss You aka Bogosipda yang disiarkan saluran MBC pada tahun 2012-2013. I Miss You menjadi salah satu drama korea favorit saya, begitu juga dengan drama I Hear Your Voice aka Neoui Moksoriga Deulleo yang ditayangkan oleh saluran SBS pada tahun 2013 yang kembali dibintangi oleh Kim So-Hyun meski lagi-lagi So-Hyun berperan sebagai versi remaja dari tokoh utama dan hanya keluar di beberapa episode awal.

Lalu drama Who Are You: School 2015 menjadi drama terkini yang menjadi favorit saya karena tiga hal penting. Pertama; karena Kim So-Hyun berperan sebagai tokoh utama. Kedua; karena Kim So-Hyun berakting sangat apik. Ketiga; karena saya bisa lihat Kim So-Hyun terus di layar laptop. :v


Who Are You: School 2015 | Hooayoo- Hakgyo 2015
Hangul: 후아유- 학교 2015
Director: Baek Sang-Hoon | Writer: Kim Hyun-Jung, Kim Min-Jung
Network: KBS2 | Episodes: 16
Release Date: April 27 - June 16, 2015
Runtime: Mon & Tue 21:55 | Language: Korean | Country: South Korea


Who Are You: School 2015 bisa dibilang merupakan bagian terbaru dari series drama SCHOOL yang ditayangkan semenjak tahun 1999. School 2105 yang juga dibintangi oleh Nam Joo-Hyuk dan Yook Sung-Jae ini tidak mendapatkan rating yang cukup menggembirakan jika disesuaikan dengan data yang dikeluarkan oleh TNS Media Korea dan AGB Nielson namun mendapat respons yang sangat positif dari para penggemar drama Korea.

Alur cerita Who Are You: School 2015 ini tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya, berkisar tentang kehidupan sekolah dan berbagai masalah yang dihadapi oleh para remaja Korea seperti kasus bullying, persahabatan, keluarga, dll.

Mereka adalah Lee Eun-Bin dan Go Eun-Byul (keduanya diperankan oleh Kim So-Hyun) yang terlahir kembar identik namun terpisah pada usia 3 tahun ketika salah satunya diadposi oleh seorang perempuan Seoul.

Lee Eun-Bi tinggal di sebuah panti asuhan bernama Love House dan mengenyam pendidikan di Tongyeong, Provinsi Gyeogsang Selatan. Kehidupan sekolahnya penuh dengan masalah sebab Eun-Bi dijadikan bahan bullying oleh beberapa teman sekolahnya, namun Eun-Bi pandai menutup-nutupi hal itu dan menjadi kakak yang ceria bagi adik-adiknya di panti asuhan. Hal yang berbeda terjadi pada Go Eun-Byul yang hidup tenang dengan ibu adopsinya di Seoul. Eun-Byul adalah tipe perempuan idaman, belajar di Sekang High School, sekolah yang memiliki prestise tinggi di distrik Gangnam, Seoul. Eun-Byul memiliki dua sahabat bernama Cha Song-Joo dan Lee Shi-Jin serta memiliki hubungan yang intim dengan bintang atlet renang sekolah bernama Han Yi-An.

Kehidupan keduanya berubah pada sebuah tragedi ketika kelas 2-3 dari Sekang High School mengadakan field trip ke Tongyeong. Eun-Byul hilang lalu ditemukan tidak sadar. Namun setelah ingatannya kembali pulih, Eun-Byul sadar bahwa dirinya adalah Eun-Bi.

Cerita yang ditawarkan oleh Who Are You: School 2015 tidak hanya tentang si kembar identik Eun-Bi dan Eun-Byul namun juga kehidupan mereka yang berbeda jauh di sekolah. Bagaimana keduanya struggle mengatasi bullying yang ditembakkan oleh tokoh antagonis bernama Kim Soo-Yeong. Serta hubungan asmara mereka berdua dengan Han Yi-An dan Gong Tae-Kwang.

Kualitas drama ini tidak hanya dibuktikan dengan banyaknya penggemar tapi juga penghargaan yang diterima oleh beberapa pemainnya, seperti;

  • Kim So-Hyun mendapatkan penghargaan sebagai Star Of The Year 2015 pada tanggal 9
    Oktober 2015, dari 2015 (8th) Korean Drama Award.
  • Yook Sung-Jae dan Nam Joo-Hyuk menjadi nominasi pada pergelaran 2015 (8th) Korean Drama Award dalam kategori Best New Actor sementara Joo Soo-Hyang menjadi nominasi dalam kategori Best New Actrees.
  • Nam Joo-Hyuk mendapatkan penghargaan Best New Actor pada tanggal 28 November 2015, dari 2015 (4th) APAN Star Award.

Drama ini recomended untuk usia di atas tiga belas tahun ke atas, siapapun kamu yang memiliki ketertarikan dengan dunia sekolah beserta semua permasalahan di dalamnya, termasuk kamu yang berniat menjadi guru sekalipun, tidak ada alasan untuk tidak menonton drama ini.




-Shan-


November 23, 2015

,
Film yang bercerita tentang bencana besar selalu membuat saya tertarik, San Andreas salah satunya. Meski di imdb, film bergenre action drama ini hanya mampu mengumpulkan 6,2 dari 10 bintang. Tidak jauh berbeda dengan persentase rating di rottentomatoes dan metacritic yang hanya memberikan nilai 50 dan 43.




Directed by Brad Peyton
Distributed by Warner Bros. Pictures
Release Date May 27, 2015 (Los Angeles Premiere)
Running Time 114 minutes

===

Film ini seperti memiliki dua lapis cerita.

Adalah Raymond 'Ray' Gaines yang diperankan oleh Dwayne Johnson yang berprofesi sebagai pilot penyelamatan udara pemadam kebakaran (fire departement air rescue) yang tengah dilanda kisruh rumah tangganya bersama Emma yang diperankan oleh Carla Gugino dan rencana perjalanannya bersama si anak tunggal bernama Blake yang diperankan oleh Alexandra Daddario.




Dan dua orang seismolog bernama Lawrence Hayes yang diperankan oleh Paul Giamatti dan rekannya dr. Kim Park yang diperankan oleh Will Yun Lee. Keduanya sudah meramalkan tentang bencana besar yang akan melanda San Francisco namun tidak banyak dipercaya oleh orang.

Masalah yang terkait dengan tema besar terjadi ketika Hayes menemukan bahwa gempa-gempa kecil yang terjadi di beberapa tempat akan menyebabkan pergeseran di sepanjang lempengan San Andreas. Lempengan ini, jika terusik maka akan menimbulkan gempa sebesar 9,1 SR dan menimbulkan tsunami.

Drama dalam film ini tampak pada usaha Ray menyelamatkan satu persatu anggota keluarganya, yaitu Emma dan Blake. Ray melakukan usaha penyelamatannya dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan helikopter sampai speedboat.

Bencana yang digambarkan sangat keren. Saya suka visualisasinya. Bagaimana gempa terjadi, kerusakan di sepanjang jalan San Francisco, tsunami, proses menyelamatkan diri Blake.

Daebak.

Saya bukan kritikus film. Saya hanya penikmat yang kadang tidak ambil pusing dengan hal lain yang menjadi kekurangan film ini. Film ini cukup keren buat saya.


[last line]

Emma : What now?
Ray : [embracing Emma] Now, we rebuild.




-shan-
,


Love Sparks in Korea
oleh Asma Nadia
Editor: Isa Alamsyah
diterbitkan oleh Asma Nadia Publishing House
ISBN: 987-602-9055-39-9
viii+978 hlm; 20.5 x 14 cm

=====

'Kamu mencuri mimpi-mimpiku dan aku suka."

"If you're happy, then it's twice. If you're sad, then it's half"

====


Tahun ini bukan tahunnya saya. Banyak sekali rencana yang keteteran. Dimulai dari draft novel yang terbengkalai sampai jadwal baca yang berantakan. 2015 adalah tahun terburuk untuk dua hal itu. Saya tidak ingin menyalahkan program KKN di pertengahan tahun yang cukup menguras budget dan waktu, pun akhir tahun ini dengan banyaknya tugas khas mahasiswa tingkat akhir.

Tapi bersyukurlah, saya sempat membeli empat novel baru akhir tahun ini. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah buku Jilbab Traveler, Love Sparks in Korea tulisan Asma Nadia. Meski ada tedeng-tedeng jilbab traveler dan novel ini menjadi terlalu berkesan feminin tapi saya membelinya juga karena penasaran.

Pertama, bilang saja novel ini semacam adiknya novel Assalamualaikum Beijing! yang sama-sama membuat saya tertarik.

Dua, novel ini akan segera difilmkan dan, kenapa tidak membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya?

Saya suka tulisan-tulisan Asma Nadia, dari sejak saya duduk di kelas satu sekolah dasar. Serius. Waktu itu saya membaca beberapa cerpennya di majalah Annida. Saya juga sempat membaca novel Pesantren Impian dan Aisyah Putri versi lawas milik kakak saya. Semenjak itu, saya mulai menjadi pengagum Asma Nadia -plus, Helvy Tiana Rosa.

Novel Love Sparks In Korea berkisah tentang si jilbab traveler, Rania, yang tiga puluh persen kehidupan Rania merupakan true story Asma Nadia. Anyway kalau kamu belum tahu, nama lahir Asma Nadia adalah Asmarani Rosalba. which is... Asma menjadi tokoh utama di novel Assalamualaikum Beijing dan Rania di dalam novel ini. Keren.

Rania adalah seorang penulis terkenal -bayangkan saja Asma Nadia- yang berprestasi dan sangat senang sekali terbang. Dijodohkan oleh takdir bersama seorang lelaki muslim Korea bernama Hyun Geun. Kedua tokoh utama itu pertama kali bertemu di Nepal, dalam sebuah tragedi perampokan yang diderita oleh Rania. Setelah kejadian itu, takdir seolah senang sekali mempertemukan mereka di berbagai kesempatan.

Sampai pada akhirnya mereka bertemu di negara kelahiran Hyun Geun ketika Rania mengikuti sebuah acara kepenulisan. Di sinilah inti cerita terjadi. Di sinilah cinta Rania dan Hyun Geun berpendar seperti kembang api. Tentu sebelum meledak di udara, kembang api itu menemui berbagai hambatan di darat. Maka kamu akan berkenalan dengan beberapa karakter lain seperti...

Ilhan, si pengagum Rania yang takut terbang naik pesawat.
Tia dan Eron, kakak-kakak Rania yang ngocol dan heboh abis.
Jeong Hwa, perempuan cantik penguntit Hyun Geun
Alvin, sahabat Indonesia Hyun Geun yang ngaku Islam tapi sebatas KTP

dan yang paling juara adalah....

Chin Sun, si karakter penuh kejutan.

Kamu pasti akan berdecak kaget sekaligus kagum ketika mengetahui siapa Chin Sun sebenarnya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat istimewa. Saya tidak bisa berhenti membaca setelah membuka lembar pertama, dan semacam... hey, sudah selesai? ketika membaca endingnya. Sejujurnya, saya masih ingin mengetahui kehidupan Rania dan Hyun Geun setelah mereka saling mengikat janji. Setidaknya setelah film yang diangkat dari novel ini keluar, penasaran saya tersebut tampaknya akan segera terobati.

Minim celah, tulisan Asma Nadia sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Meski seperti ada perulangan dengan karakter utama wanita yang penyakitan. Tapi saya suka, jadi mau bagaimana?

Semoga suatu hari saya bisa bertemu dengan Asma Nadia.



-Shan-
,
blog baru


So, rasanya sudah lama sekali tidak mengisi blog ini dengan postingan. April, Mei, ... November. Wah, hampir delapan bulan. Sebenarnya sudah lama ingin kembali mengisi blog ini dengan postingan apapun tapi kesibukan akademik dan rasa malas yang akhir-akhir ini mendera seperti membuat saya semakin jauh dengan keinginan tersebut. Padahal setiap hari nongkrong di depan laptop dan penuh dengan koneksi internet.

Dan kejadian tadi pagi menghapus rasa malas itu. Saya yang sedang selancaran tidak jelas di facebook menemukan blog teman yang masih dirawat meski kami sama-sama sedang disibukkan dengan hal yang sama dan pemikirian semacam, hey, dia aja masih bisa nulis di blog dan lo nggak bisa? menggerakkan hari saya untuk login.

Sebenarnya ini bukan blog lama yang awal tahun ini saya isi dengan berbagai macam postingan. Entahlah, saya tipe orang yang mudah bosan dengan sesuatu. Seringkali saya merasa perlu untuk mengulang proses -membuat blog, memilih template yang sreg dan mengutak-atik html- tapi di sisi lain itu malah membuat blog saya tidak 'tumbuh' dengan cepat. Tapi, yasudahlah ya... Haha

Ini blog baru, saya buat beberapa minggu yang lalu namun beberapa postingan merupakan tulisan-tulisan yang saya impor dari blog lama.

Alhamdulillahnya, ketika tadi asyik mencari template di btemplates.com saya langung jatuh cinta dengan template yang sedang saya gunakan ini. Placingnya rapih dan warnanya kalem.

Sebenarnya, ngeblog di minggu-minggu ini adalah dosa -dosa yang nikmat- sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan, terutama PROPOSAL SKRIPSI yang harus saya bereskan sesegera mungkin.

Dulu saya sempat berpikir, apa sih susahnya bikin proposal skripsi atau skripsi? Berasa lebai liat kakak tingkat seperti kebakaran jenggot setiap berbicara tentang dua subjek tersebut. Sekarang ketika saya berada di posisi mereka, saya mulai merasa bahwa bersikap seperti mereka itu tidak berlebihan. Membuat proposal skripsi maupun skripsi sendiri tampaknya bukan hal yang mudah, ah memang tidak mudah.

Skripsi seperti buah tangan dari empat tahun menuntut ilmu di universitas. Jadi, jika skripsinya nol besar sama dengan lo-belajar-apa-aja-selama-empat-tahun-kuliah-kemarin? 

JEDER!

Semester tujuh memang bebannya warbiasyak.

Eh, selain perihal skripsi, jodoh juga pembahasan yang telak bagi saya.

Jangan tanya kenapa.

mumpung lagi semangat post tulisan di blog, saya juga berniat berbagi cerita tentang masa-masa KKN dan pengalaman mengikuti seminar LAMAS V beberapa bulan lalu.


Selamat siang! Dont forget to take a lunch! ^^



-shan-

June 09, 2015

,
Lasa yang Lain


Aku kelelahan dan tertidur di kursi tunggu stasiun kereta. Lasa dalam rupa yang berbayang-bayang menghampiriku setengah berlari, tangannya terentang lebar. Kusunggingkan segaris senyum dan berusaha dengan keras untuk menyambut rentangan tangannya tapi rasa kantuk itu semakin menjadi. Setelah mataku benar-benar tertutup, tak ada lagi yang kudengar selain suara Lasa memanggil-manggil namaku dengan khawatir.

Lasa, aku hanya mengantuk!

Lamat suara-suara bising memecah keheninganku. Mataku terbuka ketika tubuhku berguncang-guncang. Ada suara kereta berdecit dan hampir saja aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi andai seorang bapak tua berjanggut uban mengatakan bahwa perjalanan kereta sembilan jam dari Bandung sudah sampai di Tugu yang basah karena diguyur hujan.

Jadi tadi aku hanya bermimpi!

Tak ada Lasa di ujung lorong halaman depan stasiun yang cukup lowong. Suara hujan semakin terdengar berisik. Aku terdampar di lantai stasiun sambil berharap cemas Lasa tak menjemputku sebelum gelap tiba. Namun perempuan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai kantuk menyerangku dengan brutal, dari jauh kutemukan tubuh kurus Lasa berjalan.

De Javu!

Tapi tak ada senyum manis Lasa. Tangannya tergantung kaku di samping tubuhnya sementara jalannya seperti pengemis ringkih yang kelaparan.

Kantukku menguap.

“Lasaaaa!” Aku menyerangnya dengan pelukan terlebih dahulu. Tak ada rindu yang bisa kusembunyikan untuknya setiap kali bertemu. “Kok lama sih? Kan tadi janji jemput jam setengah lima!”

Hujan hampir selesai tapi tidak kebungkaman Lasa.

“Aku kangen Bude. Aku kangen nasi kucing di angkringkan Mas Garin!” Aku meracau sendiri meski kediaman Lasa sempat membungkam kerianganku bertemu dengannya setelah hampir tiga semester berpisah. “Dari rumahmu ke Solo jauh gak, sih, Sa? Pengen hunting foto di royal wedding-nya putra presiden!” kutenteng kameraku dengan bangga.

Lasa menyahut sangat pendek. Mirip lenguhan sebenarnya. Tapi senyumnya kulihat terpasang meski tak seindah biasanya. Matanya basah seperti trotoar Malioboro yang kami jelajahi.

“Selfie, yuk!” Aku berinisiatif memecah kekakuan ini. Keadaan seperti ini membuatku tidak nyaman. Ada hal-hal seperti perselisihan kami di masa lalu yang kembali mengambang di dalam otakku.

Lasa seperti sedikit terganggu ketika kupeluk bahunya. Rambutnya yang hitam panjang menyentuh kulit pipiku dan terasa begitu lepek.  Tubuh kami berdempetan sampai kuangkat kameraku ke atas dan memberinya aba-aba untuk tersenyum.

“Cheese!”

Kali ini Lasa terkekeh, “Cheese!” Wajah datarnya mulai tampak berekspresi meski terasa minim sekali.

“Sekali lagi?”

Aku berniat meraih bahunya tapi Lasa cepat berkelit.

Lama kami terdiam. Lasa kembali seperti mengabaikan kehadiranku, dingin dan tidak sehangat tadi pagi. Mungkin karena tadi pagi kami bercakap-cakap lewat telepon jadi aku tak bisa melihat ekspresi yang sebenar-benarnya. Aku menyerah. Ini pasti berhubungan dengan Mas Garin.

“Sa, aku kangen sama kamu!” kutarik pergelangan tangannya. “Kamu masih berpikir kalau aku suka sama Mas Garin-mu? Demi Allah, Sa, aku cuma suka... sama masakannya aja. Kamu tahu sendiri aku punya pacar di Bandung.”

Lasa menatapku lekat, matanya merah dan basah.

“Kita langsung pergi ke rumahmu, yuk! Udah mau magrib!”

Lasa masih bergeming di depan sebuah butik batik. Aku merengkuh bahunya dan menggiringnya ke tepi jalan setelah mendapatkan taksi. Kami duduk terdiam di dalam. Aku mulai tidak menikmati perjalanan karena hari sudah begitu gelap.

Ponselku bergetar. Nama Mas Garin muncul di layar panggilan. Aku menoleh pada Lasa yang tahu-tahu sedang menatapku dengan ekspresi yang sulit kupahami. Jadi kudiamkan saja panggilan itu sampai mati sendiri.

Begitu juga untuk yang kedua kalinya.

Ketiga kalinya.

... kali ini hanya sebuah pesan di bbm.

Rissa, maaf Mas nggak bisa jemput kamu di stasiun. Kalau sudah sampai langsung mampir ke Bathesda(1), ya. Lasa koma, kecelakaan waktu mau jemput kamu tadi.

Deg! Jantungku shock. Pernapasanku seperti gagal bekerja. Kulirik seseorang menyerupai Lasa dengan ekor mataku dan dia tampak nyata. Aku ingin tertawa tapi tertahan, Mas Garin pasti sedang mengerjaiku. Tapi ketika kulihat beberapa foto kami yang kuambil di trotoar Malioboro beberapa saat yang lalu, hanya ada fotoku sendiri di sana.

Tersenyum seperti orang tidak waras sambil merengkuh udara.


***



(1) nama rumah sakit

June 06, 2015

,
Menahun


Ruangan itu sunyi.

Anehnya, Ardhe tetap tidak bisa mendengar suara yang muncul dari piringan hitam yang dulu dibelinya bersama Shati di Lokananta itu. Entah stylus di phonograph-nya mungkin sudah menumpul sebab piringannya ia yakini masih mulus. Lelaki itu kini memandang gelisah gerak jarum jam yang berwarna hitam kemerahan sambil menggumam tak jelas, menyenandungkan tembang Guruh Gipsy yang harus dihafalnya untuk menarik perhatian orang tua Shati yang akan berkunjung nanti malam. Mereka adalah kerabat jauh keluarga Nasution.

Berurutan Nanda dan Rindra mendekati Ardhe sambil menawarkan sesuatu.

Nanda tiba dengan segelas susu di atas nampannya. Wajahnya memerengut tidak sedap dipandang. Sudah tentu ketibaannya adalah suruhan Rindra yang kini pasti dengan sibuk mencari baju hangat di kamar Ardhe. Kedua perempuan itu—Rindra saja maksudnya—memang teramat perhatian, kadang sampai Ardhe merasa khawatir Shati akan mempertanyakan kesetiaannya suatu hari.

Nanda menekuk lututnya lalu meletakkan mug di depan Ardhe dengan takut-takut. Ketika matanya hendak menyilakan untuk mencicipi, Ardhe menatapnya lekat seperti telah lama menunggu mata mereka bertemu.

“Untuk Shati?” tanyanya pelan sekali, meminta satu mug lagi.

Nanda menggigit bibirnya frustrasi sambil melirik ke arah pintu kamar Ardhe yang terbuka. “Tidak ada. Kau ingin membuat Rindra marah? Lagi pula Shati entah kapan akan kembali.”

"Lalu aku menghafal lirik-lirik lagu ini untuk apa? Dia akan datang nanti malam bersama orang tuanya!" ujar Ardhe sengit. "Dan aku akan melamarnya malam ini juga!"

"Ardhe!!!"

Ardhe meracau. Hafalannya menjadi kacau. Diangkatnya mug susu itu lalu disimpannya kembali di atas nampan. “Simpanlah untuk Shati!”

“Susunya akan cepat basi.”

“Aku tidak peduli.”

“Kau mau Shati meminum susu basi dan membiarkannya keracunan dan mati?”

Mulut Ardhe membungkam. Masih tidak ada tanda-tanda Rindra muncul dari kamarnya jadi lelaki itu kembali menatap Nanda, memintanya sekali lagi dengan ratapan. Namun Rindra nyatanya sudah berdiri di belakang kursi dan mengetahui semuanya. Tangan Rindra mengalungkan syal di leher Ardhe lalu mengecup pipinya dengan hangat seolah tidak mendengar percakapan mereka.

“Ardhe tak mau meminum susunya!” Nanda mengaku. “Katanya simpanlah untuk Shati!”

Mata Ardhe seperti hendak meloncat keluar. Kepalanya gelagapan mencari emosi di wajah Rindra yang rautnya tak sama sekali berubah. Ardhe ingin membungkam mulut Nanda dengan syalnya jika saja tangannya lebih cekatan seperti dulu. Tahun-tahun ini memang sungguh berat bagi Ardhe, Shati tak sesering dulu mengunjungi rumahnya dan itu seolah membuat tubuhnya lebih cepat menua.

“Saatnya tidur siang!” sahutan Rindra selalu penuh misteri sebab siapa pun sudah tahu ia adalah pemendam yang ulung, mungkin saja kini hatinya sudah terbakar cemburu. “Aku tidak apa-apa!” bibirnya tersenyum seraya menarik tubuh Ardhe untuk bangun. Memapahnya dengan sabar menuju kamar.

Selalu ada sihir di wajah Rindra, itu yang dipahami Ardhe setiap melihat wajah perempuan itu. Semacam sihir yang mengingatkannya pada masa dulu, masa-masa yang terasa asing di ingatannya tapi begitu akrab di dalam batinnya. Wajah Rindra selalu mengantarkan Ardhe pada perasaan nyaman dan menemukan, perasaan yang sama setiap ia mengingat Shati.

Kain gorden di jendela Ardhe tertiup angin. Sinar matahari yang terik menyeruak masuk meski hawa tetap seperti habis diguyur hujan. Hawa yang membuat Shati dulu pernah berkata ingin menghabiskan waktunya sampai tiada di tanah kelahiran Ardhe, di sisi Ardhe, di dalam hati Ardhe.

Ardhe menatap cemas jarum jam berwarna biru tua di dinding kamarnya. Ardhe menatap cemas bayangan pagar rumahnya di kaca jendela. Ardhe menatap dengan cemas wajah Rindra yang membuatnya sangat merindukan Shati.

“Ia akan kembali!” Rindra menarikkan selimut untuk Ardhe. “Sha-ti.”

Ketika itu terjadi, suara tembang Guruh Gipsy terdengar—gamelan yang berpadu dengan harmonisasi musik klasik Eropa. Ardhe menarik senyumnya, tahu bahwa Shati benar-benar akan kembali. Sayangnya Ardhe tidak benar-benar tahu bahwa perempuan itu hanya mampu kembali dalam halusinasi dan mimpi-mimpinya saja.

Di luar pintu kamar Ardhe, Rindra menangis hebat.

Nanda menawarkannya tisu dan segelas air. “Aku lelah mengurusi kenangan-kenangan yang bajingan itu, Rindra!” sungut Nanda tak tahan. “Apa yang ada di otak Ardhe? Shati! Shati! Shati! Dia sudah pergi!”

“Hentikan, Nanda! Hentikan!”

"Aku lelah mengurus Ardhe! Aku lelah berpura-pura bahwa Shati masih ada!"

"Kita darah daging mereka!" Rindra melayu.

Nanda terhenyak. "Aku hanya lelah menjadi orang lain, Rindra." Ia termenung di samping tubuh Rindra yang melorot ke lantai.

Mereka duduk lama dalam diam, menatap beberapa botol obat depresan milik Ardhe, buket bunga kering bertuliskan nama Shati dan sebuah figura tempat potret mereka berdua terpasang, bersama dua gadis kecil bernama Rindra dan Nanda.

Di atas kabinet, sejak bertahun-tahun yang lalu.


***




May 07, 2015

,

Kami sekelas dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari data penelitian tentang bahasa yang digunakan secara spesifik di desa Sawarna. Pemilihan desa ini sebagai basis penelitian bisa dibilang karena ‘kecelakaan’ karena awalnya kami akan pergi ke Karimun Jawa namun karena berbagai pertimbangan ditambah keterbatasan informasi akhirnya kami memilih desa ini. Sekalian traveling.

Kelompok saya terdiri dari lima orang. Empat perempuan dan sisa satu laki-laki, yaitu saya. Mereka adalah Dina Rosdiana, Dina Manda Putri, Prifta Alina dan Marjan Risnayanti. Sayang, saya tidak sempat mengambil foto kami berlima sebab perbedaan tempat menginap dan jalur penelitian. Saya beserta Dina Rosdiana mengambil dua kriteria informan yang berbeda dengan Prifta, Manda dan Marjan. Ya, kami memecah kembali kelompok kami menjadi dua untuk mengefektifkan waktu penelitian.

Saya masih ingat ketika saya dan Dina Rosdiana mulai keluar dari daerah penginapan dan melangkahkan kaki di jalan setapak yang hampir tiap sisinya dibangun homestay untuk pengunjung. Mencari informan. Kami langsung bingung karena tidak tahu medan dan tidak begitu bisa membedakan mana masyarakat asli dan pendatang karena mereka membaur. Pada akhirnya, kami mengambil arah menuju pantai Sawarna. Tak seberapa jauh dari gerbang—sederhana—menuju pantai, kami berhenti di sebuah warung yang kami yakini adalah milik masyarakat pribumi.

Benar! Ada seorang bapak tua yang sedang menunggu warung beserta cucunya. Sayang, kami ditolak melakukan serangkaian penelitian—observasi dan wawancara langsung. Karena tidak ingin rugi, akhirnya kami meminta tolong untuk menunjukkan masyarakat pribumi yang sesuai dengan kriteria informan yang kami cari.

Dapat!

Beliau adalah seorang Bapak tua. Saya lupa namanya tapi Dina Rosdiana masih menyimpan arsip penelitian kami jika kamu penasaran. Hehe. Beliau seorang kepala keluarga, memiliki cukup banyak anak dari dua istri—istri pertama sudah meninggal. Tinggal di sebuah rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari bilik kayu dan atap daun-daunan entah apa. Tapi halaman rumah Bapak ini cukup luas. Sebagian menjadi kebun singkong. Ada dua buah balai menuju rumah Bapak tua ini serta bangunan khusus yang dipergunakan sebagai dapur, terpisah dari tempat tinggal utama.

Kesan pertama yang saya dapat, Bapak ini sangat ramah, bahkan beliau berusaha untuk menggunakan bahasa yang halus meski bahasa Sunda yang digunakan di daerah Banten terbilang cukup kasar jika dibandingkan dengan bahasa Sunda Periangan yang mengadopsi speech level dari bahasa Jawa.

Penelitian kami diawali dengan bertanya tentang informasi pribadi. Wawancara tentang berbagai hal yang menyangkut bahasa dan hubungannya dengan kondisi sosial di Sawarna—karena kajian utama kami adalah Sosiolinguistik—seperti penggunaan bahasa yang dominan, sikap bahasa serta bagaimana bahasa Sunda berkembang di dalam rumahnya.

Menyenangkan sebenarnya bisa bertemu dengan orang baru yang meski memiliki akar budaya yang sama tapi dibumbui oleh perbedaan. Dialek.

Selepas berwawancara dengan informan pertama, kami beristirahat untuk salat zuhur lalu kembali mencari informan kedua yang kriterianya cukup menyulitkan pencarian kami. Singkatnya, untuk mencari informan kedua ini kami sampai berjalan lumayan jauh dan yang paling hectic adalah harus melewati jembatan gantung sebanyak tiga kali! Errr, apalagi ketika menyeberang kami harus berbagi lebar jalan yang tidak seberapa itu dengan pengguna motor.

Informan kedua kami dapat. Seorang Kepsek di salah satu sekolah dasar negeri di desa Sawarna. Memang tidak sesuai dengan kriteria yang kami cari. Namun begitulah pencarian, kadang kita dipertemukan dengan orang yang tidak sesuai keinginan tapi cukup meringankan beban. Halah. Beruntungnya, ketika melakukan penelitian dengan Bapak Kepala Sekolah ini, kami diajak masuk ke pekarangan belakang rumahnya yang adem.

Sekujur tubuh kami yang basah dan lengket oleh keringat—saya tidak bisa membayangkan bagaimana penampilan saya yang begitu berantakannya saat itu—langsung meleleh ketika mendapat embusan hawa yang segar dan adem.

Huahhh.

Setelah mendapat informan sebagai subjek penelitian kami, kami kembali ke homestay untuk istirahat dan makan siang. Menunggu sore lalu inilah bagian yang paling saya suka. Jadi anak pantai! Yeay!!!

Ada dua pantai yang terbentang, kami menyusurinya satu-satu.


Mula-mula kami tiba di pantai pasir putih. Lumayan cukup jauh letaknya dari homestay kami. Untuk sampai di pantai ini, kami berjalan kaki. Mulai mendekati pantai, tanah yang kami injak berubah menjadi pasir. Putih sekali tapi tidak seperti air putih. Lol. Di pantai ini, kami sempat bermain air dan sesekali mengambil swafoto maupun foto bersama.

Pasirnya putih. Bagus. Sejauh pengamatan saya sih tidak ada sampah kecuali beberapa ranting dan dedaunan pohon. Ombaknya tidak terlalu besar, air sedang surut. Sensasi menggelitik tiba di kaki saya ketika ombak itu masuk ke tepian. Sudah lama tidak ke pantai, saya sendiri lupa kapan terakhir ke pantai. Empat belas tahun lalu?

Puas dengan si pantai putih. Belum begitu puas juga sih. Kami berjalan menyusuri pantai menuju pantai Tanjung Layar. Menyusuri jalanan berpasir yang dihiasi karang-karang. Semakin dekat ke pantai Tanjung Layar, semakin banyak karang yang kami jumpai. Dan voila, kami sampai sebelum matahari terbenam dan air masih surut.

karang... karang... karang everywhere
Pantai Tanjung Layar jaraknya sekitar satu kilometer dari Pantai Pasir Putih. Terletak di tanjung—bagian daratan yang menjorok ke laut. Ada sebuah karang tinggi, dua jumlahnya, berdiri seperti layar perahu. Karena kedua hal itu akhirnya pantai ini dinamai Tanjung Layar.

Dari tepian pantai sampai ke Karang yang berbentuk layar itu kami harus berjalan melewati air laut yang surut. Sebenarnya alas yang kami injak lebih menyerupai lantai karena terbentuk dari karang-karang datar meski ada beberapa titik yang berbeda ketinggian seperti lubang. Begitu juga di daratan yang terhampar di sekitar Karang Layar, di tempat ini bentuknya menyerupai lantai semen yang sengaja dibuat.

Di tempat ini pun selain menikmati keindahan, kami menunggu momen sunset untuk mendapat swafoto dan foto bersama terbaik. Yah, apalagi yang bisa kami lakukan selain foto selfie pakai tongsis. Hahaha.


Menjelang maghrib, kami terpaksa harus kembali menyeberang lautan menuju pantai atau daratan. Cukup menyulitkan karena air pasang cukup tinggi. Ketika kami pergi, air hanya setinggi mata kaki tapi ketika kami pulang, air sudah pasang setinggi pinggang. Waw!

Ketika menyeberang, kami harus meraba-raba alas dengan kaki karena tidak tahu bagaimana kondisi di bawah. Apakah ada lubang atau.... bulu babi? Hiiii! Akhirnya kami berpegangan seperti kereta... atau seperti anak kecil menyeberangi jalan besar. Hahaha.

Ternyata tidak mudah menyeberang pulang ke darat dengan kondisi air pasang. Celana saya basah sampai pinggang dan dompet saya juga basah kuyup di dalam saku. Beruntungnya ponsel saya lebih dulu diselamatkan dan dititipkan pada tas tangan teman.

Fyuhhh!

Sesampainya di daratan, kami kembali menyusuri pesisir hingga kembali ke titik pantai pertama, Pantai Pasir Putih. Langit mulai gelap dan sungguh, matahari terbenamnya keren sekali. Saya pulang dengan tiga orang teman, Annisa Dwi Septiani, Susiani dan Dedah. Satu lagi teman yang astral dan tidak bisa dilihat; tertawaan. Ya, kami tertawa sepanjang jalan pulang karena hal-hal konyol yang kami perbincangkan. Ah, kangen suasana itu.


Sesampainya di homestay, saya langsung membasuh kaki dan mandi lalu salat magrib. Tiduran sampai sekitar selepas Isya ketika di halaman homestay ada keramaian yang cukup memekakan telinga. Ngantuk berat. Bahkan teman sekamar saya susah dibangunkan dan tidak ada yang bangun. Zainal, Fersil dan Reza.

Beberapa saat kemudian setelah berhasil mengumpulkan nyawa, dengan mata berkunang-kunang saya menyusul Reza yang lebih dulu ke luar kamar dan bergabung dengan yang lain. Bedanya saya tiduran lagi di lantai teras sambil menonton anak-anak perempuan yang sedang main UNO.

Semakin larut malah jadinya semakin susah tidur. Akhirnya saya ikutan main UNO yang banyak sekali diselingi tawa dan canda. Mungkin ini sebagai pelampiasan karena selama di Bandung hidup kami hanya diisi dengan tugas-observasi-bikin-makalah-dan-presentasi di dalam kelas. Sambil menyemil jagung bakar yang sudah disediakan pihak travel tentunya.

Menjelang pukul sebelas, saya pamit lebih dulu untuk tidur karena tidak ingin kesiangan untuk melihat matahari terbit. Berakhirlah hari yang penuh dengan keringat dan ketawa itu. Kami masih menyisakan satu hari lagi di Desa Sawarna sebelum kembali ke Bandung.

Hmmm.


***

April 21, 2015

,

Hal pertama yang muncul di benak saya ketika mendengar nama Banten adalah debus. Serius! Lantas, ketika mata kuliah Sosiolinguistik pada akhirnya menunjuk salah satu desa di provinsi itu sebagai tempat penelitian bahasa membuat saya sempat terpikir; apa mungkin sesampainya nanti kita di sana akan disambut dengan penampilan debus?

Tepatnya awal bulan ini saya beserta rombongan dua kelas dari Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melakukan penelitian di Banten, khususnya di desa Sawarna, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak. Pemilihan tempat ini tidak serta-merta ditunjuk dengan mudah. Sebelumnya, Karimun Jawa menjadi pilihan yang paling kuat.

Sawarna sebagai mana daerah tepi pantai memiliki suhu yang sangat panas bagi saya. Oke, cerita tentang desa ini akan saya buat dalam postingan yang berbeda nanti.

Kami berangkat menuju Sawarna dari Bandung pada hari Sabtu, tepatnya tanggal 4 April pukul setengah satu dini hari. Meeting Point terletak di pelataran depan Mesjid Al-Furqon, Universitas Pendidikan Indonesia. Saya berangkat dari indeks sekitar pukul setengah dua belas malam dengan beberapa teman yang kosannya tidak terlalu jauh. Beruntungnya, kami sampai berbarengan dengan kedatangan lima minibus yang akan mengantar kami ke Bayah.


Kondisi minibus yang kami tumpangi sangat nyaman; dari salah satu travel agen ternama di Bandung. Saya lupa namanya apa, tapi dari bisik-bisik yang saya dengar, pemiliknya adalah saudara jauh peserta Big Brother yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti tayangan tersebut.

Di awal perjalanan saya masih merasa cukup was-was. Saya belum terbiasa bepergian jauh, ini adalah kali ke dua. Kali pertama ketika harus mengikuti salah satu kegiatan kepenulisan yang diadakan oleh penerbit Diva Press di Jogjakarta. Selain itu, saya tidak yakin kondisi tubuh saya baik-baik saja.

Minibus yang kami tumpangi berhenti dua kali. Kali pertama untuk istirahat salat subuh di perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Ketika matahari terbit, mobil kami sedang melaju di atas jalanan berbukit yang kemiringannya mencapai empat puluh lima derajat bahkan lebih. Gila! Akan tetapi, pemandangan yang terlihat dari kaca mobil sangatlah menakjubkan. Tidak lama dari sarapan cahaya matahari, kami kembali turun untuk sarapan yang sebenarnya.

Pada pemberhentian kedua, saya kira kami sudah sampai. Kalkulasi waktu yang telah ditempuh dari titik pemberangkatan sudah melewati masa enam jam. Sayangnya, masih ada jarak dua jam lagi untuk bisa beristirahat dengan tenang di penginapan.

Mobil kembali berjalan. Jalanan yang sudah naik turun, tambah mengerikan hingga menyerupai jalur roller coaster. Selain tingkat kemiringannya yang ajib, ada beberapa meter jalan yang menyuguhkan kami pemandangan jurang-jurang nan ditutupi pepohonan lebat. Namun setelah melewati rintangan itu, mata saya tak lama kemudian menemukan rumah-rumah warga yang berderet tidak rapi dengan bau menyengat campuran laut, bau hutan, dan ikan asin.

Wuh, akhirnya sampai juga!

Sekitar pukul delapan pagi, informasi dari jam tangan saya. Saya turun dengan ragu karena begitu keluar terik matahari langsung terasa membakar tubuh saya. Padahal baru jam delapan! Akhirnya saya meneduh pada bayangan mobil, tapi tidak juga membantu. Mungkin karena Sawarna adalah desa pesisir, tepat di tepi laut, jadi suhu udaranya panas sekali. Padahal beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat menemukan prediksi cuaca hujan kecil di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Duh!

Penyiksaan panasnya Sawarna belum berakhir ketika seseorang menginformasikan bahwa kami salah parkir. Area homestay berada sekitar lima hingga enam menit di belakang. Terpaksa kami masuk kembali ke dalam mobil dengan tubuh lengket dan bersabar hingga akhirnya sampai tujuan.

Saya kira semua penyiksaan ini sudah berakhir. Namun, rintangan yang melelahkan kembali muncul. Jembatan gantung penghubung jalan raya dengan area homestay. Gila sih ini. Jembatannya dalam kondisi yang tidak cukup baik dan ramai pengguna. Selama melewati jembatan yang ekstrem ini, saya cuma bisa berharap tidak ada kaki-kaki nakal yang menggoyang-goyangkannya. Tetapi, kondisi yang berbeda saya rasakan ketika sudah sampai di tepian, perasaan ingin menjahili yang masih tertinggal dengan menggoyang-goyangkan jembatan itu. Haha.

Sesampainya di homestay, kami has menunggu tamu lain check out. Jadi walhasil, kami duduk-duduk terlebih dahulu di teras depan sambil brunch dan tukar makanan untuk mengganjal perut. Sebab waktu yang kami punya di tempat ini sebentar. Kami harus segera bergegas mempersiapkan diri untuk mencari data penelitian di lapangan.

fin

Follow Us @soratemplates