Selamat Tinggal, June!



- Narasi -


Selepas perpisahan kita kemarin, June, aku tahu kita tidak akan pernah bertemu lagi bahkan setelah berkali-kali kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak, June, aku tahu semuanya dan maafkan aku untuk tidak mau mengalah kali ini. Aku tahu semua hal termasuk ketika bagaimana untuk pertama kalinya kita bertemu sebelum kita benar-benar melakukannya dan bagaimana akhir dari kisah percintaan kita yang penuh dengan keraguan. Semuanya sudah kuhafal seperti alasan ketidaksukaan ibumu padaku, June, dan hidup menjadi terlalu menyebalkan setelah itu.
Kapal yang mengangkutku pergi entah sudah sampai di laut apa, aku tak benar-benar menghafalnya dan tak pernah ingin tahu. June, tapi di sini tak ada pagi seperti apa yang selalu kaupuja di daratan Manhattan. Aku juga tidak mengerti tapi begitulah keadaannya. Mungkin aku terlalu mabuk laut untuk tidak melewatkannya. Mungkin aku terlalu berharap bahwa kepergianku hanyalah bunga tidur yang tak perlu kurisaukan.
Tapi aku merasa sakit ketika menemukan surat yang kauselipkan di dalam ranselku, June. Surat perpisahan kita yang –lagi-lagi kau bilang— tak akan lama dan menyakitkan. June, sekali-kali percayalah kepadaku tentang masa depan yang selalu kau rancang begitu indah dan menawan. Semuanya tak akan terjadi, June, bahkan jika aku mempertaruhkan seluruh hidup di duniaku untuk duniamu yang semakin kacau.
Angin mulai berdesir kencang seperti ombak yang mengguncang-guncang kapal yang kutumpangi. Aku berani bertaruh untuk topan yang sebentar lagi akan tiba dan meluluhlantakkan kapal, June. Aku berani bertaruh untuk perpisahan kita yang tak lagi akan sebatas jeda waktu tapi juga ruang dan semesta.
Sebentar lagi, June, sebentar lagi.
Aku mendekap suratmu ketika riuh para penumpang seperti keramaian pasar malam yang kita kunjungi dan tingkah kapal seperti wahana yang terakhir kita naiki. June, haruskah aku berucap selamat tinggal?
Di tengah kekacauan duniamu, duniaku membuka tabir tentang kenyataan yang tak bisa kuelak; perbedaan. June, aku menembus semestaku—yang lain, tak mampu berpaling.

***

- Dialog -

Mata-jam-lima-pagiku terbuka ketika sinar matahari menyentuh dek kapal di mana aku terdampar. Mabuk laut yang sedari kemarin kutahan-tahan nyatanya berhasil membuatku tak paham apa hari baru pagi atau menggantung di senja.
“June, bahkan sekali pun ini pagi aku tak mendapati apa yang patut dipuja seperti pagi di Manhattanmu,” bisikku sambil mengintai laut yang bergemuruh ngeri. “Aku menyesal telah pergi dan takkan kembali.” Sekalipun kukatakan ini padamu, kau selalu punya jawaban yang membuat sebagian pengelakanku hanya kukulum di mulut.
“Semuanya akan baik-baik saja, Arthur, percayalah!” ucapmu ketika itu sebelum kita berpisah.
“June, meski beribu kali kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tahu apa yang akan terjadi nanti,” jelasku putus asa. “Kita takkan bertemu lagi.”
“Jangan meracau, Arthur!” Dan kau menyerahkan ranselku gusar. “Hanya satu bulan, setelah Ibuku menikahi suaminya yang baru, kau bisa kembali.”
“June...,” lenguhku putus asa.
“Arthur, kumohon!”
“June, percayalah sekali ini saja!” Aku memelas padamu seperti anak kecil. “Jika aku pergi hari ini, aku tidak akan pernah kembali lagi. Kita....”
Lalu wajahmu memucat pasi, matamu nanar menatapku, “ucapkan selamat tinggal kalau begitu!” dan kau masih menganggap pernyataanku sebagai lelucon.
Dermaga tempat kita berpisah menjadi mengerikan setelah kepergianmu yang tergesa-gesa menuju jalan pulang sementara aku tergugu di antara persimpangan menuju kapal.
“June!” Aku tak kuasa mengejamu. “Jika kutahu semuanya akan seperti ini, kukira dari awal aku tak perlu masuk ke dalam duniamu yang kacau sebab, sebab terlalu mencintaimu!” keluhku setengah berteriak.
Ingatanku tentangmu buyar kemudian ketika banyak orang berteriak ngeri. Angin bergemuruh, ombak membabi buta menerjang kapal. “Apa aku bilang, June!” gusarku sambil mendekap suratmu yang kutemukan terselip di dalam ransel.
Tapi tepat sebelum topan meluluhlantakkan kapalku, tabir semesta yang lain menyilakanku untuk masuk. Kenangan terakhir kita di pasar malam menjadi bekas ingatan yang sulit kuredam.
“June, haruskah aku berucap selamat tinggal kini?” bisikku.
—Lalu  lenyap.

***

Cerpen ini diikutsertakan dalam tantangan #NarasiVsDialog #KampusFiksi


Post a Comment

0 Comments