Jangan Tertawa Pada Malam Hari - Dar! Mizan

Tada!!! Akhirnya buku antologi ini sudah rilis. Buat yang belum tahu, buku ini adalah hasil dari lomba Fantasteen Hunt and Haunting akhir tahun kemarin dan ada satu cerpen saya yang nyempil di sana.

Check this out!




Nathalia - Fauzi - Geesha - Nurul - Arin - Febri - Alya - Ricky
Arul - Anisa - Ashan - Richa - Nuno - Sina - Medina
Agustus, 2014 - Dar! Mizan
172hal; 13,5x20,5cm
ISBN: 978-602-242-459-8
Harga: Rp.35000,-


===


Sinopsis

Ada alasan pasti mengapa kita tak boleh tertawa pada malam hari. Orangtua bilang, nanti nenek sebelah yang sedang tidur jadi terganggu. Ibu guru bilang, malam hari waktunya belajar, bukan untuk ketawa-ketiwi. Malah, pamanku bilang, malam hari tuh banyak setannya ... kalau tertawa, ya ... nanti setannya masuk ke mulut. Aku sih nggak percaya ....

... awalnya.

Karena pada satu malam, aku akhirnya tahu kenapa kita tak boleh tertawa pada malam hari. Ada yang mengutuk malam menjadi gelap, ada yang mengutuk malam menjadi sunyi. Maka ada pula yang mengutuk mereka ... yang tertawa, ketika makhluk tak kasat mata di belakangnya sedang memendam perih dan rasa sakit.

Kumohon. Jangan tertawa pada malam hari.

-------

Daaan, cerpen saya judulnya 'The Curse Of Butterfly', tentang kutukan dari seekor kupu-kupu milik Resa kepada sahabatnya, Nay. Apa yang terjadi? Kenapa kutukan itu bisa muncul?
Mari dibeli, dan dibaca tentunya. :)

Demikian Rindu yang Tabu




I

adalah sisa-sisa hujan yang
tersesat dari tubuh sungai menuju
garis-garis akar belukar yang langu,
memimpikan kuncup bunga yang akrab dengan madu.

padahal ia jatuh bukan tanpa sebab
selain untuk mencari tempat berlabuh
selain tanah dan tubuh sungai yang angkuh
selain laut yang meminangnya dalam larut.

tapi ia terlalu bebal bahkan untuk mengeja
kenyataan dan keadaan dan kesetaraan
bahwa layuh dirinya tak sepadan dengan singgasana
dalam mekar kelopak bunga.

tapi ia terus menunggu Tuhan mengutusnya
terpanggang menjadi uap dan sekarat dalam beku
menjadi hitam mendung yang ditunggu-tunggu
padahal tak tentu ia jatuh jua pada kuncup bunga
atau terberai di atas tanah
dan pecah menjadi
luka dan
saru.


Pada rindu yang bersisian dengan ragu
20 Juli 2014


Selamat Tinggal, June!



- Narasi -


Selepas perpisahan kita kemarin, June, aku tahu kita tidak akan pernah bertemu lagi bahkan setelah berkali-kali kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak, June, aku tahu semuanya dan maafkan aku untuk tidak mau mengalah kali ini. Aku tahu semua hal termasuk ketika bagaimana untuk pertama kalinya kita bertemu sebelum kita benar-benar melakukannya dan bagaimana akhir dari kisah percintaan kita yang penuh dengan keraguan. Semuanya sudah kuhafal seperti alasan ketidaksukaan ibumu padaku, June, dan hidup menjadi terlalu menyebalkan setelah itu.
Kapal yang mengangkutku pergi entah sudah sampai di laut apa, aku tak benar-benar menghafalnya dan tak pernah ingin tahu. June, tapi di sini tak ada pagi seperti apa yang selalu kaupuja di daratan Manhattan. Aku juga tidak mengerti tapi begitulah keadaannya. Mungkin aku terlalu mabuk laut untuk tidak melewatkannya. Mungkin aku terlalu berharap bahwa kepergianku hanyalah bunga tidur yang tak perlu kurisaukan.
Tapi aku merasa sakit ketika menemukan surat yang kauselipkan di dalam ranselku, June. Surat perpisahan kita yang –lagi-lagi kau bilang— tak akan lama dan menyakitkan. June, sekali-kali percayalah kepadaku tentang masa depan yang selalu kau rancang begitu indah dan menawan. Semuanya tak akan terjadi, June, bahkan jika aku mempertaruhkan seluruh hidup di duniaku untuk duniamu yang semakin kacau.
Angin mulai berdesir kencang seperti ombak yang mengguncang-guncang kapal yang kutumpangi. Aku berani bertaruh untuk topan yang sebentar lagi akan tiba dan meluluhlantakkan kapal, June. Aku berani bertaruh untuk perpisahan kita yang tak lagi akan sebatas jeda waktu tapi juga ruang dan semesta.
Sebentar lagi, June, sebentar lagi.
Aku mendekap suratmu ketika riuh para penumpang seperti keramaian pasar malam yang kita kunjungi dan tingkah kapal seperti wahana yang terakhir kita naiki. June, haruskah aku berucap selamat tinggal?
Di tengah kekacauan duniamu, duniaku membuka tabir tentang kenyataan yang tak bisa kuelak; perbedaan. June, aku menembus semestaku—yang lain, tak mampu berpaling.

***

- Dialog -

Mata-jam-lima-pagiku terbuka ketika sinar matahari menyentuh dek kapal di mana aku terdampar. Mabuk laut yang sedari kemarin kutahan-tahan nyatanya berhasil membuatku tak paham apa hari baru pagi atau menggantung di senja.
“June, bahkan sekali pun ini pagi aku tak mendapati apa yang patut dipuja seperti pagi di Manhattanmu,” bisikku sambil mengintai laut yang bergemuruh ngeri. “Aku menyesal telah pergi dan takkan kembali.” Sekalipun kukatakan ini padamu, kau selalu punya jawaban yang membuat sebagian pengelakanku hanya kukulum di mulut.
“Semuanya akan baik-baik saja, Arthur, percayalah!” ucapmu ketika itu sebelum kita berpisah.
“June, meski beribu kali kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tahu apa yang akan terjadi nanti,” jelasku putus asa. “Kita takkan bertemu lagi.”
“Jangan meracau, Arthur!” Dan kau menyerahkan ranselku gusar. “Hanya satu bulan, setelah Ibuku menikahi suaminya yang baru, kau bisa kembali.”
“June...,” lenguhku putus asa.
“Arthur, kumohon!”
“June, percayalah sekali ini saja!” Aku memelas padamu seperti anak kecil. “Jika aku pergi hari ini, aku tidak akan pernah kembali lagi. Kita....”
Lalu wajahmu memucat pasi, matamu nanar menatapku, “ucapkan selamat tinggal kalau begitu!” dan kau masih menganggap pernyataanku sebagai lelucon.
Dermaga tempat kita berpisah menjadi mengerikan setelah kepergianmu yang tergesa-gesa menuju jalan pulang sementara aku tergugu di antara persimpangan menuju kapal.
“June!” Aku tak kuasa mengejamu. “Jika kutahu semuanya akan seperti ini, kukira dari awal aku tak perlu masuk ke dalam duniamu yang kacau sebab, sebab terlalu mencintaimu!” keluhku setengah berteriak.
Ingatanku tentangmu buyar kemudian ketika banyak orang berteriak ngeri. Angin bergemuruh, ombak membabi buta menerjang kapal. “Apa aku bilang, June!” gusarku sambil mendekap suratmu yang kutemukan terselip di dalam ransel.
Tapi tepat sebelum topan meluluhlantakkan kapalku, tabir semesta yang lain menyilakanku untuk masuk. Kenangan terakhir kita di pasar malam menjadi bekas ingatan yang sulit kuredam.
“June, haruskah aku berucap selamat tinggal kini?” bisikku.
—Lalu  lenyap.

***

Cerpen ini diikutsertakan dalam tantangan #NarasiVsDialog #KampusFiksi