Ketika


Aku tak pernah sebelumnya berpikir bahwa kita akan berakhir seperti ini.

Tangismu yang runtuh sejak kita memulai pertemuan terakhir ini, membuatku tak bisa bergerak di balik pagarmu. Terkenang satu persatu percakapan yang kita mulai dalam sendu, dan penuh pasrah pada kenyataan. Bahkan tubuhku terpekur di sana, menyatu dengan ketidakrelaanku yang membatu. Menatap kosong kerikil-kerikil yang berserak serupa masa lalu kita yang tak lagi utuh. Aku belum bisa beranjak dari hatimu meski aku menuruti semua inginmu, perpisahan.

Terik langit membias menjadi warna kelabu.

Aku menahan keyakinanku beberapa saat sebelum akhirnya mendung menyelimuti tegarku. Melahap sadarku untuk segera pergi dari rumahmu. Meninggalkan seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lagi bagiku atau, –aku menelan ludah yang kering oleh pilu—justru aku yang bukan lagi siapa-siapa untuknya.


Kini semuanya sudah berakhir, tapi tidak benar-benar berakhir untukku.

Hujan turun deras dan aku yang bodoh masih berdiri di balik pagarmu. Berharap ada sebuah keputusan lain yang kauambil. Aku menatap nanar jendela kamarmu. Berharap kau juga menangis karena telah memintaku untuk meninggalkanmu. Dan benar saja, aku melihatmu menangis di balik jendela tapi aku tak bahagia dengan kebenaran itu. Bagaimanapun juga, sendumu adalah petakaku.

Ketika itu.

Aku merasa mata sayumu berlari menujuku, di balik pagar rumahmu. Memeluk ragaku yang kedinginan karenamu. Kau berbisik lagi, ‘maafkan aku!’ Ungkapmu sambil menyusut air mata yang telah menjadi hujan. Kau memelukku tambah erat tapi aku tak bisa lagi memeluk tubuhmu. Hujan telah membuat asaku lebur dalam kepahitan.

Kita merenggangkan tubuh.

Ketika itu aku hanya bisa menatap matamu dalam, di antara bisik hujan. Menanam benih di hatimu, yang merekam segalaku dan segalamu. Sebelum kemudian aku melangkah, meninggalkan pagarmu. Melepaskan tatapan, pelukan dan percakapan.

Ketika itu, tepat ketika itu. Andai kautahu bahwa lebih dari separuh hatiku hancur. Melebur bersama keraguan dan penyesalan yang kuundang untuk pulang bersama.



Berkas Lama, 2013



Post a Comment

0 Comments