(ken)Angan



Senja merapatkan gelap ketika kau berjalan menujuku, di antara banyak orang yang berlalu lalang, bisik roda andong dan jerit kendaraan bermotor. Aku menyambut mata sembabmu dengan senyuman tipis. Lalu sejenak mengajakmu menghirup udara basah di sepanjang trotoar Malioboro, mengamati rintik-rintik hujan yang mulai turun menjenguk bumi.

“Aku tak bisa lama.” Ucapmu sambil mencoba menyembunyikan kesedihan.

Aku hanya tersenyum lalu membelai rambutmu seperti yang dilakukan angin. Bertemu denganmu sekali ini saja sudah cukup membuatku bahagia.

“Aku merindukanmu.”

“Dan aku juga merindukanmu, sangat!”

Kau mengusap buliran bening yang tumbuh dari balik kelopak matamu. Sesaat menengadah pada langit, seolah memintanya untuk mengusap air matanya juga.

“Aku mencintaimu,” bisikku pelan di telingamu.

Kau tertunduk dalam sejuta bait doa, memejamkan mata sambil merapatkan tangan.

“Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.” Bisikmu kemudian, ditemani sebaris isak yang membuatku pilu.

“Aku tidak bisa lama, maaf!” ucapmu lagi.

Aku hanya tersenyum sambil mencoba menggenggam lenganmu tapi tak dapat. Kau beranjak, membuka tasmu lalu mengeluarkan satu buket bunga. “Ini untukmu, semoga hujan tidak cepat membuatnya layu.”

Aku mengangguk, dan sedikit menyesal karena hanya bisa mencium harumnya saja.

“Semoga kau tenang di sana, sayang!”

Debu Merapi dan tabrakan mobil di trotoar jalan ini tiga tahun silam berhasil membuatku bungkam.



August 2, 2013

Post a Comment

0 Comments