Flash Fiction

Saya mau berbagi tips dengan sobat yang hobby menulis tentang langkah-langkah menulis flash fiction. Tetapi sebelum langsung ke tips, saya akan sedikit memberikan gambaran kepada sobat tentang apa itu flash fiction.

Dari wikipedia.org;
Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.)
Beberapa karya di Indonesia sudah menyebut flash fiction dengan beberapa nama. Graffiti Imaji terbitan Yayasan Multimedia Sastra, sebagai contoh, adalah antologi "cerpen pendek". Flash! Flash! Flash! terbitan Gradien menyebut dirinya sebagai kumpulan "cerita sekilas". Sejumlah sastrawan juga menyebutnya sebagai "cerita mini", disingkat "cermin". Semua ini mengacu pada rupa flash fiction yang sepertinya dirancang untuk dibaca sekaligus.
Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. Secara ekstrem, prinsip ini dicontohkan oleh Ernest Hemingway dalam cerita enam katanya, "Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai."
Satu jenis flash fiction menggunakan jumlah kata yang spesifik. Contohnya cerita lima puluh lima kata atau cerita seratus kata.

Langsung ke tips; 
Tips ini saya kutip dari http://indonovel.com. semoga bermanfaat  buat sobat dan terimakasih kepada   http://indonovel.com. atas ilmunya. :)

Sontak seluruh penumpang menutup hidung.
“ Aaalamaaak.. “
“ Tolong, jendelanya dibuka.”
“ Tak tahu sopan santun “
“ Ayo, mengaku saja.“
“ Tanpa suara pula,” kata sopir. “ Itu pasti keluar dari lubang yang teramat longgar.“
Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang bersemu merah, mengingat semalam pasangannya kembali ‘lewat belakang’.

Berikut ini langkah-langkah penulisan flash fiction maksimal 100 kata berdasarkan pengalaman pribadi saya. Adapun mutu contoh flash fiction diatas tidak ada kaitannya dengan kepongahan saya membagi langkah-langkah penulisan ini:

1. Awali disaat krisis (puncak konflik)

Contoh diatas dimulai oleh sebuah insiden yang menghasut pembaca. Memantik pertanyaan tentang apa gerangan yang menyebabkan orang-orang menutup hidung.
Flash fiction 100 kata tidak menyisakan ruang untuk membuat latar belakang misalnya; Udara gerah. Matahari seolah memanggang bumi. Sebuah bus sedang melaju kencang dijalanan ibukota siang itu. Tiba-tiba suasana dalam bis berubah riuh, ketika seorang penumpang diam-diam buang angin..bla..bla…. Lupakan itu. Lansung sorot adegan terkuat yaitu, sebuah kejadian yang membuat situasi dalam bus tersebut pantas untuk diceritakan.
Awal cerita harus menanam benih-benih konflik. Menutup hidung menandakan adanya bau busuk, yang potensial menimbulkan konflik berbentuk kemarahan, kejengkelan, saling mencurigai sesama penumpang.
Awal sedapat mungkin juga lansung menghadirkan karakter & konteks (situasi lingkungan yang sedang dimasuki). Contoh diatas menyebutkan kata penumpang yang berarti karakter (orang-orang/jamak). Penumpang juga menunjukkan konteks (penumpang lazimnya ada didalam sebuah kendaraan). Cukup dengan 5 kata pada kalimat pertama, kita sudah menunjukkan banyak hal kepada pembaca. Tanpa deskripsi berlebihan -pembahasan lengkap hal ini bisa anda baca pada artikel Tiga Tahap Menulis Flash Fiction-

2. Show don’t tell

Tunjukkan, jangan katakan.
Versi mengatakan dari cerita diatas kurang lebih seperti ini; “ Seluruh penumpang sontak menutup hidung. Tampaknya ada penumpang buang angin dan menyebarkan bau busuk seantero bus. Dua orang penumpang terlihat mual-mual. Seorang penumpang meminta tolong agar jendela dibuka. Mendadak seluruh penumpang merindukan kehadiran udara segar didalam bus. ….bla..bla...” Hambar.
Salah satu trik menunjukkan adalah memakai dialog yang menayangkan interaksi sesama penumpang. Penulis hanya perlu menayangkan kejadian/adegan Biarkan pembaca mengalami sendiri situasi yang tengah berlansung. Sedangkan pada narasi diakhir cerita, penulis mengganti versi awal kata  ‘tersipu malu’, dengan melukiskan bentuk ‘malu’ dalam realitas, yaitu,‘wajah bersemu merah’.
Mengatakan berarti menggurui pembaca. Kadang penulis menganggap pembaca tidak mampu mengerti jalan cerita jika penulis tidak menjelaskan segala sesuatunya –Silahkan anda baca artikel Show Don’t Tell dalam Flash Fiction-

3. Ending yang jelas namun sukar ditebak

Flash fiction bukan puisi-prosa, bukan sketsa ide atau potongan cerita. Flash fiction mestilah sebuah cerita utuh, dalam satu jalinan benang merah, dari awal sampai akhir. Akhir yang jelas & tidak mengambang menjadi mutlak adanya.
Saya berasumsi pembaca bisa memahami cerita diatas meski tidak satupun kata ‘kentut’, ‘bau’, & ‘bus’, disebutkan dalam cerita. Hanya jika kata-kata tersebut dicantumkan, maka besar peluangnya ditebak pembaca sejak awal. (Bau – Kentut tanpa suara – Lubang teramat longgar – Kebiasaan ‘lewat belakang’ = Judul’)

4. Hindari kata keterangan

Keterangan biasanya royal dipakai disetiap akhir dialog seperti; …kata sopir sambil berpikir keras, atau ..ujar seorang ibu sambil membuka jendela, atau …keluh seorang penumpang yang merasa mual, atau ..umpat seorang bapak bersungut-sungut.. Anda butuh lebih dari 100 kata untuk menuliskan itu semua, Biarkan pembaca berimajinasi sendiri (pinjam kepala pembaca untuk meletakkan kalimat-kalimat yang berfungsi menerangkan itu).
Contoh diatas memperlihatkan 4 kalimat dialog tanpa menjelaskan siapa karakter yang mengucapkannya.
Penyebutan nama karakter tidak penting dalam mendukung cerita diatas (apakah itu si Amir, seorang karyawati, ibu hamil, orang bertopihaji, pengamen, wiraswasta, kenek, penulis, asongan, blogger, dan lain sebagainya). Yang ingin disampaikan hanya tentang suasana riuh dan kejengkelan orang-orang didalam bus. Pembaca tak perlu tahu siapa yang jengkel.
Sementara dua karakter yaitu, sopir dan seorang penumpang dibelakangnya, penting ditonjolkan demi memberikan referensi kepada pembaca tentang latar tempat (Bus).
Saya menolak terjebak pada stereotip golongan tertentu yang diasosiasikan gemar ‘lewat belakang’. Perilaku berhubungan badan ‘lewat belakang’ jamak dilakukan siapa saja, – jadi berhentilah memakai istilah jeruk makan jeruk-. Makanya saya tidak mencantumkan gender dan atau orientasi seksual (hetero, bi, atau homo).
Caranya dengan menganonimkan karaker pelaku lewat kalimat; ‘penumpang yang duduk dibelakang sopir’, Dalam hal ini, interpretasi anda diluar tanggungjawab saya. Terus terang, pada versi awal di blog pribadi, saya tergoda menulis kalimat terakhir seperti ini : “ Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang jurusan Taman Lawang bersemu merah ketika semua mata tiba-tiba tertuju kepadanya.” Tapi sekali lagi, ini soal pilihan.
 
Tetap Menulis, Tetap Rendah Hati
Tidak ada jaminan dua –atau lebih- orang memakai teknik yang sama akan berujung pada hasil yang sama. Temukan Muse anda sendiri. Teknik diatas bekerja pada saya namun boleh jadi, tidak bagi anda. Pembaca sekalian boleh mengikuti seluruh, sebagian atau tidak sama sekali.
Seperti saya tegaskan diawal, teknik yang saya pakai ini juga tidak bertanggungjawab pada mutu flash fiction yang saya jadikan contoh kasus –termasuk segala flash fiction di blog saya; antojournal.com-.
Tips ini juga tidak punya tendensi menggurui apalagi mengkritisi secara tidak lansung karya-karya fiksi berlabel flash fiction yang bertebaran didunia maya. Walaupun banyak fiksi didunia maya belum cukup memuaskan selera baca saya, tidak lantas memberi saya hak untuk meremehkan karya fiksi dimaksud.
Selalu ingat nasehat Nirwan Dewanto; Setiap tulisan selalu membuktikan mutunya sendiri sebelum dia membuktikan kelemahan tulisan lain.

Post a Comment

0 Comments