Ulang Tahun



Selamat ulang tahun! Happy birthday! Wilujeng milad! Wilujeng tepang taun! HBD!

Rasanya kata-kata itu yang hari ini banyak saya terima dari teman-teman dan keluarga. Dari semenjak dini hari tadi sampai kini, ucapan itu seakan tak berhenti mengalir dan sampai di gendang telinga saya.

Entah saya harus bahagia dengan moment satu kali setahun ini atau justru harus bersedih. Memang, yang pertama saya rasakan adalah keharuan. Ternyata begitu banyak orang yang peduli kepada saya.

Tetapi kemudian, saya merenung dan saya merasa bersedih. Sangat bersedih! Hari ini umur saya bertambah satu tahun itu berarti satu tahun bekal waktu saya hidup di dunia tak kekal ini telah berkurang. Tetapi apa hal baik yang telah saya lakukan? Saya mengingat perilaku saya di waktu yang lalu, dan saya meringis. Saya ingin berteriak dan mengatakan; Tuhan, ampuni hamba! Saya ingin menangis dan menyesali semuanya. Saya ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah saya lakukan. Entah itu kepada diri saya sendiri atau kepada orang lain. Saya merasa begitu lemah dan tak berdaya karena waktu tak bisa saya putar dan saya tak bisa membayangkan berapa lama lagi saya akan hidup dan berapa banyak lagi dosa yang akan saya lakukan.

Berapa lama lagi saya akan hidup? Andai tanya itu bisa terjawab.

Satu teman saya bertanya tadi siang, apa yang saya inginkan? Pikiran saya kosong, tak ada pesta ulang tahun yang meriah, tak ada acara makan-makan yang melimpah, tak ada kue ulang tahun dengan delapan belas lilin yang menyala di atasnya, tak ada sekotak kado dengan bungkus yang menarik hati. Yang kemudian hadir di benak saya adalah; saya ingin waktu saya yang hilang kembali dan saya akan menjalani semuanya dari awal dengan tanpa kesalahan. Saya tahu itu tak mungkin, karena waktu telah ditakdirkan Tuhan untuk bergerak maju. Hati saya kembali berbisik; saya ingin umur yang berkah dan penuh dengan kebaikan.

Delapan belas tahun, waktu yang cukup lama namun tak terasa begitu lama. Chairil Anwar pernah berkata dalam sajaknya bahwa ia ingin hidup seribu tahun lagi. Aku juga ingin, tapi tidak jika selama umur sepanjang itu saya gunakan hanya untuk mengukir dosa. Saya hanya ingin umur yang berkah.


Selamat ulang tahun dan tak perlu ada lilin yang ditiup. 


***

Post a Comment

0 Comments