Tentang kertas......



Kertas adalah sesuatu yang pada zaman ini merupakan hal yang sulit dihindari karena begitu banyaknya kegunaan dari kertas. Kertas atau dalam bahasa inggris dikenal dengan nama papper ini adalah salah satu bentuk alat tulis yang paling penting. Kertas selain digunakan sebagai media cetak dan tulis juga memiliki kegunaan lain. Adanya kertas merupakan revousi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia.
Sejarah kertas
Peradaban china mencatat bahwa kertas pertama kali ditemukan oleh seorang china bernama Tsai Lun. Pada tahun 101 masehi ia menemukan kertas dari bahan bambu yang kala itu mudah didapat di negeri China. Tak banyak catatan tentang tsai lun, namun beberapa referensi mengatakan bahwa tsai lun adalah seorang berkebangsaan tionghoa yang hidup di zaman dinasti han sekitar abad kesatu dan dua. Tsai lun bernama lengkap cai jingzhong itu lahir di Guiyang (provinsi Hunan). Atas jasa yang berharga itu, Michael heart memasukkan tsai lun kedalam 100 orang yang paling berpengaruh dalam bukunya menduduki peringkat ketujuh. Satu poin lebih tinggi dari Gutenberg sang penemu mesin cetak. Akhirnya kertas yang ia temukan menggeser hampir semua alat tulis tradisional seperti papyrus dan daun lontar.

Terdapat beberapa tahap yang dikerjajan Tsai lun dalam membuat kertas. Secara garis besar pembuatan kertas tersebut yakni; bagian dalam batang pohon atau bambu direndam dalam air lantas dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas. 
Kertas modern
Pada tahun 1799 Nicholas Louis robertberkebangsaan prancis menemukan proses untuk membuat lembaran-lembaran kertas dalam satu wire screen yang bergerak, dengan melalui perbaikan-perbaikan alat ini kini dikenal sebagai mesin Fourdrinier.
Pada tahun 1809 John Dickinson menemukan mesin silinder sehingga penggunaan mesin Fourdrinier meningkat dalam pembuatan kertas-kertas tipis setelah
Pada tahun 1826, steam cylinder untuk pertama kalinya digunakan dalam pengeringan.
Pada tahun 1927 amerika serikat mulai menggunakan mesin Fourdrinier. Peningkatan produksi oleh mesin Fourdrinier dan mesin silinder telah menyebabkan kebutuhan bahan baku kain bekas yang makin lama makin berkurang.
Tahun 1814 friedrich gottlob keller menemukan proses mekanik pembuatan pulp dari kayu tapikualitas kertas yang dihasilkan masih rendah.
Pada tahun 1853-1854 charles watt dan hugh burgess mengembangkan pembuatan kertas dengan mnggunakan proses soda.
Pada tahun 1857 benjamin chew tilghman seorang kimiawan dari amerika mendapatkan british patent untuk proses sulfit. Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit itu bagus dan siap diputihkan.
Pada tahun 1884 carl dahl bereksperimen yang menghasilkan proses kraft di danzig. Proses itu disebut proses sulfat karena Na2SO4 digunakan sebagai make-up kimia untuk sisa larutan pemasak.
Ukuran kertas
Secara internasional, ukuran kertas muncul seri A, B dan C kemudian muncul seri R san F yang mengikuti keinginan pasar.
Seri A biasa digunakan untuk cetakan umum dan perkantoran serta penerbitan. Dalam seri A terdapat sebelas jenis ukuran seperti A0 yang berukuran setara satu meter persegi. Setiap angka setelah huruf A menyatakan setengah ukuran dari angka sebelumnya. Jadi, A1 adalah setengah dari A0 demikian seterusnya. Ukuran yang paling banyak digunakan adalah ukuran A4.

Seri F biasa digunakan untuk perkantoran dan fotocopy, biasa disebut kertas HVS
  • F4 = 215x330
Kertas di Indonesia
Indonesia telah mengenal kertas sejak zaman prasejarah seperti halnya hampir semua Negara yang terletakdi kawasan samudera pasifik. Masyarakat Indonesia atau Nusantara kala itu telah memiliki kemampuan untuk  membuatnya dari sejenis pohon yang dihasilkan dengan cara dipukul-pukul. Sejenis pohon tersebut bernama Broussonetia papyrifera atau saeh dalam bahasa sunda dan glugu atau galugu dalam bahasa jawa. Pada masa pra-islam, hasil dari pengolahan serat itu digunakan sebagai bahan pakaian sampai kemudian para pemeluk islam mengalihfungsikannya menjadi bahan tulis. Kertas ini disebut kertas Daluwang.
Naskah tertua yang dikenal dalam Ilmu pengetahuan dengan bahan tulis dluwang atau daluwang dan memakai aksara Jawa, berasal dari akhir abad ke-16 serta isinya mengenai mistik Islam kini di simpan di Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda dengan nomor kode Lor.1928.
Selain menggunakan kertas daluwang sebagai alat tulis, Indonesia juag telah mengenal satu lagi jenis kertas yang berkembang di pulau jawa yakni kertas yang terbuat dari daun lontar.  Kertas ini tentu saja terbuat dari daun lontar (Borasus flabellifer) atau daun nipah (Nipa fruticans WURMB). Van Der Molen –seorang sejarawan Belanda- menyebutkan bahwa ada tiga jenis daun lontar yang digunakan sebagai alat tulis yakni; Lontarus domestica, Lontarus silvestris dan Lontarus silvestris altera. Dan Friederich, seorang pembantu Museum KBG dimasa Hindia Belanda (kini Museum Nasional, Jakarta) menambahkan bahwa huruf yang digunakan adalah huruf Kawi dengan jenis Kawi-Kwadraat (aksara Kawi tegak) dan Kawi curcief (aksara Kawi yang condong).
Cukup banyak naskah Nusantara kuno yang menggunakan daun lontar, dan menurut Friederich antara lain berisi ajaran Hindu-Buddha. Diantara naskah itu ada yang menggunakan candrasangkala sebagai identitas yang menunjukkan tahun saka dengan contoh naskah ber-kolofon : panca (5) warna (4) catur (4) bhumi (1) yang berarti 1445 saka atau 1523/1524 Masehi. Sebuah naskah tua dengan kolofon 1256 Saka atau 1334/5 Masehi adalah Arjunawiwaha yang merupakan naskah tertua yang ditemukan di daerah Jawa Barat.
Contoh naskah lain yang menggunakan daun nipah adalah Kunjarakarna yang disimpan di Universitas Leiden dengan kode Lor. 2266, kemudian Bujangga Manik yang disimpand di Perpustakaan Bodleian di Oxford, Inggris, Carita Parahyangan dengan Aksara Sunda Kuno dan Siksakanda ng Karesian yang berkolofon nora catur sagara wulan (1440 saka atau 1518 Masehi) yang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Catatan De-Clerq yang dilansir oleh Van der Molen juga menuliskan bahwa bahan nipah menjadi media tulis di Nusantara pada abad ke-20 dengan berita In het binnenland van Zuid-Sumatera dienden ze vroeger )en mischien nog wel) om er minnerbireven op to griffen.
Mengenai data literatur, kata yang dewasa ini digunakan di Bali untuk menunjukkan daun palma sebagai bahan tulis adalah ental atau lontar (bentuk metathesis dari rontal, yang berarti daun pohon tal yang diduga dari bahasa Jawa ), dalam puisi, kata-kata seperti siwala, sawala, suwala, suwalapattra, sewalapattra, siwalan, semuanya dipakai dalam arti surat, tetapi juga menunjuk pada daun pohon tal.

dari berbagai sumber

Post a Comment

0 Comments