Bumi, 15 Februari 2050


Kami adalah generasi manusia terakhir yang menjadi penduduk bumi. Meski pada zaman ini teknologi telah begitu pesat berkembang dan banyak membantu pekerjaan kami, tetapi apalah arti dari semuanya tanpa ada alam yang bersahabat di samping kami. Kini yang kami fikirkan bukan lagi mengenai bagaimana caranya membuat alat-alat tekhnologi yang kian canggih melainkan bagaimana caranya membuat senyum alam kembali tergores dalam wajahnya yang semakin buram. Dan kami meyadari telah begitu jauh kami membuat alam bersedih dan kami tak menemukan satu pun cara untuk membuatnya pulih. Oleh karena itulah kami mengirimkan surat ini pada masa lalu, karena kami tahu semua yang terjadi kini di zaman kami, cucu-cucumu- adalah akhir dari apa yang kalian mulai.

Presiden beserta jajarannya beberapa hari yang lalu telah memperbincangkan dalam rapat besarnya mengenai perubahan iklim yang tengah melanda dunia yang dirasa kian memburuk. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa perubahan ini merupakan sebuah siklus yang memang telah menjadi keniscayaan alam. Namun sebagian yang lain mengatakan bahwa perubahan yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan manusia di daratan bumi.

Meningkatnya gas-gas rumah kaca yang menganggu pemantulan sebagian sinar matahari seperti karbon dioksida akibat ulah manusia yang senang membakar bahan bakar fosil tetapi tidak diimbangi dengan penanaman pohon. Jumlah gas metana yang semakin meningkat karena produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi juga pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill). Nitrogen oksida, Hidrofluorokarbon, klorofluorokarbon, trifluorometil sulfur pentafluorida. Namun apapun spekulasi yang ada, pada kenyataanyaa ini merupakan sebuah peringatan pada umat manusia bahwa alam tak bias selamanya seiring sejalan dengan kemauan manusia yang tak pernah habis.

Daratan-daratan hijau bumi telah berganti menjadi savanna dan padang pasir, karena sebagian daerah yang lain telah manusia ratakan untuk mendirikan bangunan-bangunan demi kepentingan mereka. Gedung-gedung perkantoran dan  pusat-pusat perbelanjaan yang tidak ramah kepada alam, pabrik-pabrik yang mengeluarkan seribu satu masalah seperti polusi, limbah dan lain sebagainya, dan perumahan-perumahan penduduk yang tidak menurut pada aturan keseimbangan alam. Semuanya telah menimbulkan berbagai gangguan alam lantas di tahun ketika generasi kita tumbuhlah semuanya mencapai puncak.

Tak hanya perubahan iklim yang terjadi, tetapi kami juga kini mengalami krisis berbagai hal yang menjadi penunjang utama kehidupan kami sebagai manusia. Air, oksigen dan bahan pangan.

Air –terutama air tawar-  kini menjadi sesuatu yang sangat terbatas dan merupakan sebuah problema bagi manusia. Tanah kami kering dan tandus. Miris sekali, padahal para tetua kami dahulu kala pernah bercerita bahwa negeri kami adalah negerinya para dewa karena tanahnya yang remah lipah loh jinawi. Dimana-mana air selalu ada dan kita tak perlu mengoreh tanah untuk mendapatkannya, karena dimanapun kita berpijak sumber air selalu melimpah. Tapi sekarang? Bahkan untuk membersihkan tubuhpun kita harus berfikir seribu kali. Tubuh kita yang tujuh puluh persen komposisinya merupakan cairan tak boleh kering. Jantung kita memerlukan air, paru-paru kita memerlukan air juga otak kita. Tanpa mengkonsumsi air kita tak bisa bertahan hidup.

Maka dari itu, air merupakan salah satu hal yang bernilai sangat tinggi. Apabila kita memiliki sebuah sumur dengan isi beberapa ember air saja itu lebih berharga daripada sebongkah berlian. Oleh karena itulah, orang-orang rela mengorbankan nyawa mereka untuk setetes air saja. Mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkannya sekalipun itu perbuatan yang keji seperti mencuri. Hal itu telah lumrah terjadi kini.

Oksigen juga demikian, semenjak pepohonan hilang dibabat manusia, gas arang yang ada di udara tak bisa disintesa menjadi oksigen. Oleh karena itulah, ketersediaan oksigen semakin menipis di bumi. Bahkan untuk menyikapi keterbatasan itu, pemerintah mulai memberlakukan pajak pada setiap kepala keluarga untuk setiap tarikan nafas mereka. Dan setiap dana yang terkumpul akan digunakan oleh para ilmuwan Negara untuk membuat tekhnologi yang bisa memproduksi oksigen yang menyerupai pohon. Tetapi kami mendapati kebuntuan di proyek itu karena kami menyadari pula bahwa pohon yang selama ini memproduksi oksigen itu ciptaan Tuhan dan kita tak mungkin bisa  menandinginya.

Begitu juga dengan bahan pangan, kini kami tidak lagi mengenal apa itu makanan sehat dan bergizi seperti sayuran, buah-buahan dan daging segar karena keberadaan bahan pangan seperti itu telah menjadi barang langka. Meskipun ada, harganya selangit dan dengan keadaan seperti ini, kami tidak bisa membelinya. Selain itu, pemerintah juga telah memperingatkan kepada para petani dan peternak yang masih tersisa untuk tidak sesering mungkin memanen apa yang telah mereka tanam dan rawat. Gantinya, kami hanya bisa memakan apa yang kami temukan, daging-daging busuk dari hewan yang mati kelaparan serta kotoran-kotoran kami. Dengan kebiasaan seperti itu, lima dari enam penduduk bumi menjadi masyarakat yang kekurangan gizi dan berpenyakit serta mengalami keterbelakangan mental. Bahkan lebih dari delapan puluh juta orang kelaparan disebabkannya.

Setiap pagi dan menjelang sore, kami rutin berkumpul di lapangan tandus untuk menggerakan turbin demi memenuhi pasokan energy. Karena kini, tak ada lagi tenaga penghasil energy melainkan diri kami sendiri. Tak usah berharap kepada angin apalagi air yang perlahan-lahan lenyap, sedangkan nuklir telah membuat kami menderita dengan radiasi dan limbah yang dihasilkannya. Kami menggerakan turbin untuk menghasilkan energi yang kami gunakan hanya untuk semalam saja.

Apabila kami tidak melakukannya maka sepanjang malam, negeri kami akan gelap gulita. Dan itu juga artinya para ilmuwan negeri kami yang masih percaya akan teknologi tak dapat lagi bekerja. Kendaraan yang paling mewah pada abad kami adalah kendaraan surya namun kini suryapun tak bisa hadir setiap siang karena tertutupi kepulan gas-gas rumah kaca di angkasa. Minyak bumi habis dikuras, untuk mendapatkannya kembali membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun kedepan dan kami serta keturunan-keturunan kami selanjutnya tak memiliki harapan sepanjang itu.

Begitulah kehidupan kami, cucu-cucumu. Sebenarnya ini hanya sebagian dari begitu banyak masalah yang kami hadapi yang dikarenakan oleh ulah para pendahulu kami. Kami tak meminta ganti bumi yang baru, kami hanya menginginkan para pendahulu kami untuk lebih mencintai alam. Bukan hanya para pendahulu saja yang menginginkan untuk hidup lebih lama di muka bumi ini. Tetapi kami juga ingin. Kami, cucu-cucumu.

Salam dari kami, generasi manusia terakhir bumi!

============
updated, 20 besar Beatblog Writing Contest by VHRmedia.

http://4.bp.blogspot.com/-XtNSUXCvUJg/TYMtGZdxt8I/AAAAAAAAAWs/0Wjqod1w8Nk/s1600/untitled8.JPG

Post a Comment

2 Comments